
Malam itu Darto bersama kedua temannya melakukan hal yang sama seperti malam kemarin. Mereka bergantian berjaga sembari terus memegang tongkat bambu kuning di tangan mereka. Malam ini pun sama dengan malam terakhir, satu malam penuh tidak ada satupun ular yang masuk ke dalam rumah Asep. Mereka beristirahat dengan cukup hingga akhirnya kembali Darto berpamitan ketika pagi menyapa.
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Darto serta semuanya. Malam awal satu suro akan jatuh tepat hari ini. Darto tampak sibuk mempersiapkan diri dengan terus duduk bersila di rumah Ki Karta. Tidak ada yang berani menganggu Darto yang sama sekali tidak bergeming di ruang tamu setelah sarapan tadi pagi. Darto begitu fokus menenangkan diri di dalam bungkam, untuk menyusun mental dan pikiran miliknya, agar nanti malam dirinya siap dan tidak lagi dikalahkan oleh Gending untuk kedua kalinya.
Darto hanya bangkit dari duduk bersila ketika kumandang adzan terdengar, dia kembali ke rumah Ki Karta hanya untuk kembali duduk, juga kembali berdzikir dalam diamnya. Darto melakukan hal tersebut hampir satu hari penuh, hingga tidak terasa langit sudah menguning, pertarungan yang akan Darto hadapi sudah tinggal hitungan jam saja.
Saat ini Darto, Si Mbah, Ki Karta, Asep dan juga Ujang tengah berjalan beriringan menuju saung, mereka hendak melaksanakan shalat magrib juga isa setelahnya. Ketika dua ibadah itu sudah usai dilakukan, Darto pulang dengan sedikit berlari menuju rumah Ki Karta tempat semua barangnya di simpan.
Sama seperti saat melakukan ujian, dan juga waktu bertarung dengan Gending untuk pertama kalinya. Darto menggunakan pakaian peninggalan Darsa yang sengaja ia bawa. Tidak tau mengapa Darto menganggap bahwa baju yang tengah ia kenakan ini memang dipersiapkan untuk dirinya ketika berhadapan dengan mahluk sebelah.
Wangi dari kain yang Darto kenakan tidak pernah memudar, bahkan dari saat pertama kali dia menerima pakaian itu di tempat ujian. Darto sangat suka dengan aroma tersebut, seakan menambah ketenangan ketika dirinya tengah menghadapi hal berbahaya di depannya.
Setelah selesai mengenakan semua peninggalan Darsa. Darto berpamitan dengan Asep, Ujang serta Gayatri. Kemudian dia pergi bersama Si Mbah serta Ki Karta untuk menuju air terjun, yang memiliki jarak sekitar satu jam perjalanan. Mereka bertiga berjalan beriringan, dengan hati gelisah serta berdegup kencang karena merasa tegang. Tidak ada perbincangan sama sekali selama perjalanan, hingga akhirnya suara air terjun mulai terdengar jelas. Ki Karta mengucapkan sepatah kata untuk memberi semangat pada Darto yang tampak bimbang, "Kamu pasti bisa, Dar. Gending, Sastro, Wajana sangat percaya dengan kemampuan kamu."
__ADS_1
Mendengar kata itu Darto seketika menarik nafas panjang, dia menatap langit yang dipenuhi bintang, kemudian dia menatap Ki Karta dengan mata menyipit dan sudut bibir mengambang. Dalam senyum tulusnya dia mengucap kata "Aku akan berusaha sebisa mungkin."
Melihat Darto yang tersenyum begitu lugu, Si Mbah Turahmin langsung mendekap kepala Darto, dia mencium ubun-ubun cucunya itu di depan Ki Karta. Si Mbah langsung sesenggukan, dia menumpahkan rasa khawatir di dalam hatinya dalam bentuk bulir bening yang merambat di pipi keriputnya sembari berkata "Aku bangga masih hidup sampai sekarang. Malam ini aku akan melihat darah dagingku menjadi sosok yang layak untuk dikagumi."
Mendengar ucapan dari Si Mbah, Darto juga mengalirkan bulir bening dari kantung matanya. Darto hanyut dalam kata yang Si Mbah ucapkan, meski dia tau jika kata-kata itu hanyalah sebuah kalimat penyemangat yang Si Mbah ucapkan.
Setelah cukup lama terhenti, secara bergantian Darto menatap dua lelaki tua di depannya dengan tatapan yang sungguh tajam. Dilanjut menganggukkan kepala, sebagai isyarat untuk mereka melanjutkan langkah kakinya kembali. Selangkah demi selangkah, pertarungan yang akan Darto hadapi semakin mendekat. Berbeda dengan ketika meninggalkan rumah Ki Karta, mereka bertiga kini memasang wajah dan sikap waspada karena air terjun tempat perkawinan dua ular itu sudah tampak di kejauhan.
Tiba-tiba Darto yang berjalan paling depan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dia memberi isyarat agar Si Mbah dan Ki Karta berhenti, sebelum akhirnya dia memejamkan mata dan membuat sebuah busur di tangannya. Seketika tempat gelap itu menjadi terang, semuanya tampak jelas, karena energi di tangan Darto benar-benar bisa membuat siapa saja yang menatap busur miliknya langsung silau dibuatnya.
Ki Karta dan Mbah turahmin tertegun melihat hal tersebut. Baru kali ini mereka menyaksikan energi yang begitu pekat, hingga bisa berbentuk sebuah busur yang begitu panjang di tangan Darto. Mereka tidak bisa mengucap sepatah kata pun, terus bungkam dengan mata yang terus terbelalak menyaksikan kejadian itu.
Seketika Darto menghela nafas panjang, dia menahan nafas di dadanya, dilanjut menarik benang busur semampu cakupan tangannya. Mata Darto fokus menatap satu titik, tidak berkedip sama sekali hingga kedua matanya mulai berair. Perlahan sebuah anak panah bercahaya tercipta di tangannya. Untuk sejenak Darto tidak bergeming, dia begitu lurus menatap sosok ular yang akan dia jadikan sasaran. Ketika hati Darto merasa yakin, dia melepas anak panah itu sembari menghembuskan nafas yang sudah cukup lama dirinya tahan di dalam dada.
__ADS_1
Spashhh! Duar! Aaaaaaaa! Anak panah yang Darto lepaskan melesat begitu cepat! Setiap tempat gelap yang dilewati anak panah tersebut seketika menjadi terang, dan ketika anak panah tersebut sampai di bawah air terjun, suara dentuman serta teriakan seorang lelaki yang begitu menggema memecah kesunyian malam kala itu.
Mata Si Mbah serta Ki Karta seakan dipaksa membulat. Mereka bahkan sampai berkeringat, setelah menyaksikan apa yang sudah Darto perbuat. Mereka benar-benar tidak bisa percaya, bahkan setelah melihat dengan mata kepala sendiri.
Sedangkan di sisi lain suara menjadi semakin gaduh. Suara petir mulai menggelegar ketika energi Darto menyentuh tubuh ular jantan yang kini tengah terbakar di atas air. Ditambah lagi suara teriakan dari sosok ular yang sudah merasuki gending ratusan tahun lamanya, terdengar begitu melengking seakan ikut meramaikan kebisingan di tempat tersebut.
Kilat tidak henti terus saja muncul hingga malam serasa siang di tempat itu. Melihat sasaran dengan jelas, Darto langsung menarik kembali busur panah di tangannya. Dia mengarahkan anak panah yang sudah kembali terbentuk di tangannya, menuju sosok ular raksasa yang tersisa.
Ketika Darto hendak melepas anak panah yang kedua, dalam satu kedipan mata ular itu sudah sampai tepat di belakang Darto. Dengan mulut yang menganga, siap melahap Darto saat itu juga.
Bersambung
...mana nih kopinya? Sudah aku kasih dua bab ini 😆😆😆...
__ADS_1