Bu Guru Itu... Istri Ku...

Bu Guru Itu... Istri Ku...
Bab.142


__ADS_3

Setelah sholat magrib berjamaah yang jadi imam adalah Dedy, setelah itu mereka mengaji dan membaca Al Qur'an. Siska yang sudah lebih dari seminggu membaca iqro, dan dengan cepat Siska mempelajari. Jadi dia mau naik Al-Qur'an, sehingga Dedy meminta mamak untuk menyimak bacaan iqro Siska.


"Mak... tolong simak Siska baca iqro, sepertinya sudah bisa naik Qur'an"kata Dedy.


"ya sudah... sekarang saja biar cepat naik Al-Qur'an"jawab mamak


Lalu Siska hari ini baca iqro dengan Bu Zubaidah, sementara Dedy hanya menyimak dari jauh karena takutnya Siska enggak konsen.


Selama 30 menit mertua dan menantu itu mengaji, dan Bu Zubaidah seperti nya juga senang melihat Siska sudah bisa lancar membaca iqro dan naik Al Qur'an.


"Siska...malam Jum'at depan kamu sudah bisa naik Al Qur'an, jadi untuk sementara kamu ulang kaji aja dan baca surah pendek untuk bacaan sholat"kata Bu Zubaidah.


"iya Mak..."jawab Siska.


Setelah semua selesai mengaji maka mereka pun mau makan malam bersama tapi sebelum nya mereka sholat isya berjamaah terlebih dahulu.


Makan malam bersama anggota keluarga dengan menu yang sederhana, karena sudah seminggu lebih Siska menginap di rumah Bu Zubaidah jadi dia sudah mulai terbiasa makanan yang ada di rumah, tapi seperti biasa dia hanya makan sedikit saja.


Di rumah Bu Zubaidah untuk sarapan di pagi hari Siska selalu menyediakan roti selalu karena bila sarapan atau makan malam kurang dia suka maka ada alternatif pengganti yaitu roti.


Makan malam seperti biasa semua makan lesehan gelar tikar di bawah. Rahma dan Siska mengambil dan menyusun hidangan sementara Bu Zubaidah mengambil atau meletakkan di piring untuk di hidangkan."kalau di rumah biasanya aqu selalu terima bersih, tapi di sini... harus saling membantu satu dan lainnya."kata Siska dalam hati sambil bolak balik mengambil perlengkapan untuk makan.


Makan malam kali ini khidmat, semua menikmati walaupun sederhana. Tito dan Rahma sangat lahap memakannya, maklumlah mereka masih pelajar jadi nutrisi di pakai untuk berpikir. Dan biasanya setelah belajar mereka makan lagi dan biasanya Bu Zubaidah menyiapkan telur untuk lauk dadakan di malam hari.


Setelah makan malam bersama kembali para perempuan menyimpan kembali ke tempat nya, setelah itu Rahma dan Tito belajar. Bu Zubaidah ke ruang keluarga untuk menonton TV sementara Dedy dan Siska malam ini mau jalan ke luar rumah untuk mencari udara malam.


"Mak... kami keluar sebentar ya..."kata Dedy permisi.


"oh...iya... jangan malam malam pulang nya, enggak baik udara malam."kata Bu Zubaidah


"baik Mak..."jawab Dedy


Dedy dan Siska pun pergi dengan membawa mobil ke taman desa untuk menikmati udara malam."banyak juga ternyata orang di taman ini kalau malam hari"kata Siska.


"iya...di mana lagi mereka mau cari tempat untuk hiburan, kalau tidak di taman ya di pasar malam"kata Dedy.

__ADS_1


"pasar malam maksudnya tempat orang jualan sayur di malam hari"tanya Siska dengan serius karena mana ada malam hari jualan sayur.


"tidak seperti itu... seperti hiburan untuk anak anak dan orang dewasa serta banyak jualan makanan di sana"kata Dedy.


"oh... seperti itu... lain kali kita ke sana ya...aqu jadi penasaran saja"kata Siska.


"malam ini juga boleh..."kata Dedy.


"enggak usah...malam ini di sini saja",kata Siska.


Mereka berdua pun duduk di taman sambil memesan minuman yang ada di jual di sana,tiba tiba ada yang menghampiri mereka."nak...Dedy lagi di sini..."tanya bapak tersebut.


"iya...pak...bapak sehat...?"tanya Dedy kembali


"Alhamdulillah...saya sehat, kamu sudah lama pulang?"


"ada 10 hari pak"jawab Dedy.


"wah... sudah lama ternyata... kenapa tidak main ke rumah? Siti di rumah saja kok, sebentar lagi dia selesai kuliah nya"kata pak Anto yang ternyata adalah ayahnya Siti.


Dedy tidak menjawab pertanyaan dari pak Anto karena mana mungkin dia menemui Siti. Dia sudah menikah dengan Siska dan juga dia tidak punya hubungan apapun dengan Siska.


"kenalkan pak...ini Siska... istri saya"kata Dedy dengan lantang karena dia tidak mau memberikan harapan pada pak Anto dan Siti.


Mendengar perkataan Dedy pak Anto sedikit tak percaya,dia berusaha untuk berpura tidak mendengar."maksudnya... istri kamu? kapan menikah nya?"tanya pak Anto kembali.


"saya menikah di kota pak, makanya kami pulang untuk memberi kabar mamak"jawab Dedy.


Pak Anto yang tak percaya akhirnya dia pergi"bapak enggak percaya...ini pasti akal akalan kamu saja untuk menghindari Siti, sekarang bapak mau menemui Bu Zubaidah dulu untuk menanyakan hal ini"kata pak Anto yang langsung pergi dengan kendaraan sepeda motor.


Dedy hanya diam mendengar perkataan dari pak Anto sementara Siska yang mendengar mereka bicara mendekati Dedy .


"mas...kok bapak itu marah marah, sekarang kita pulang saja."kata Siska.


"iya... kasian mamak di rumah... pasti kaget karena pak Anto"kata Dedy.

__ADS_1


Lalu Dedy membayar minuman yang di pesan tadi dan kembali ke rumah menyusul pak Anto.


Dalam waktu lima belas menit mereka pun sampai di rumah.


Tampak dari halaman pak Anto sudah datang duluan dengan membawa beberapa orang yang ternyata satpam di lingkungan mereka.


"Bu Zubaidah... bagaimana ini... dengan nasib anak saya Siti...dulu ibu yang berusaha menjodohkan Siti dan Dedy, sehingga Siti selalu menolak orang yang mendekati nya"kata pak Anto dengan suara kuat dan lantang sehingga membuat Bu Zubaidah seperti ketakutan yang di temani tito.


Mendengar itu Dedy berlari sambil menarik Siska masuk ke rumah dan dengan cepat mendekati mamak."apa maksud perkataan dari pak Anto? saya tidak pernah dekat dengan Siti,lagian dia teman Rahma. jadi Siti itu saya anggap sebagai adik saja tidak lebih dari itu"kata Dedy pada pak Anto yang juga marah.


"kamu itu berarti tidak tau...coba kamu tanyakan sama Bu Zubaidah...saya bisa tuntut mamak mu karena memberikan harapan palsu pada anak saya"kata pak Anto.


Bu Zubaidah yang bingung dan takut karena ada keributan di rumah nya, dia pun ikut bicara biar tidak berlarut ke arah mana pembicaraan antara Dedy dan pak Anto.


"pak Anto... mungkin Siti dan Dedy tidak berjodoh,saya pun tidak tau kalau anak saya sudah menikah di kota. Sampai pulang ke rumah dia sudah bawa istri nya"kata Bu Zubaidah sehingga orang yang ada di sana melihat ke arah ibu tersebut yang biasanya hanya diam saja.


BERSAMBUNG


*****


Jangan lupa


Like....like....like...


add favorit...


komentar yang membangun


bunga mawar yang bermekaran


secangkir kopi hangat


serta


vote... vote... vote...

__ADS_1


terima kasih


🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2