Bu Guru Itu... Istri Ku...

Bu Guru Itu... Istri Ku...
Bab.250


__ADS_3

Tok...tok...tok...


"Assalamualaikum..."


Andi mengetuk pintu rumah


"Wa'alaikum salam..."


Mila membuka pintu rumah dan melihat suaminya yang pulang ke rumah.


"bang...naik apa?"tanya Mila melihat tak ada mobil.


"naik sepeda motor ninja..."kata Andi menunjukkan motor mereka.


"oh... masukkan saja bang... lagian kita enggak ada rencana keluar."kata Mila


Mengikuti perintah dari istrinya memasukkan si ninja ke dalam rumah. Terlihat lah bertapa sempit rumah yang mereka tempati.


"betul kata Dafi... rumah ini sangat kecil...tapi kalau pindah dari sini... terlalu jauh dengan mama dan ayah."batin Andi berkata.


Melihat suaminya yang seperti memikirkan sesuatu,Mila jadi bertanya.


"bang...kok bengong gitu...ada apa?"tanya Mila


"ck... ternyata rumah kita terlalu kecil... sebaiknya besok kita lihat rumah yang di rekomendasikan Dafi."kata Andi.


"emangnya ada uang abang? trus kalau nyicil ada budget nya?"tanya Mila


"mmmhhh...ada nya itu...soal rumah...abang yang bertanggung jawab...kamu standby saja setiap saat saat di rumah."kata Andi.


Mila tentu saja merasa malu mendengar perkataan suaminya, wajah nya jadi merah merona.


"ya sudah... sekarang mandi dulu...biar magrib dan makan malam."kata Mila mengalihkan pembicaraan.


Melihat ke arah jam dinding yang memang setengah jam lagi mau masuk waktu magrib, jadi Andi pun langsung masuk ke kamar untuk mandi.


"Mila... minta tolong ambilkan handuk ya..."kata Andi.


Mila pun mengambil kan handuk dan memberikan pada suaminya,tapi tangan nya di tahan oleh Andi.


"eit... enggak boleh pergi..."langsung memeluk istrinya dari belakang.


"sudah mau magrib bang..."kata Mila


"masih setengah jam lagi...kamu sih... bajunya menggoda iman suami saja."kata Andi.


Setelah masak tadi Mila mandi dan memakai baju seksi untuk di rumah, lagian kalau ada tamu dia sudah menyediakan hijab yang panjang sampai bawah.


"kan di rumah...jadi enggak apa-apa pakai baju ini."jawab Mila.


Andi yang memang sudah melepaskan baju kantor,jadi terasa Mila bagian sensitif nya sudah onn. Sebagai seorang istri Mila pun pasrah dan menerima apa yang di lakukan oleh suami nya.


Kalau tinggal berdua memang tidak ada mengenal waktu,apa lagi belum ada anggota keluarga. Mau pagi,siang, sore atau malam...ya terserah saja.


***

__ADS_1


Sementara itu di kediaman Dafi yang sekarang lagi makan malam keluarga setelah melaksanakan sholat magrib.


Hanya Nadya yang tidak ikut makan karena lagi menyusui Arkan di kamar.


"ayah... setelah makan nanti... ajarin Nisa belajar ya..."kata Nisa.


"oke princess...tapi makannya yang banyak, setelah ini kita belajar."kata Dafi.


Setelah selesai makan masuk waktu isya dan mereka sholat berjamaah bersama. Saat mau Nisa mau belajar,tiba tiba Nadya keluar kamar sambil membawa arkan.


"bang...kok tiba tiba badan arkan panas..."kata Nadya.


"mana...sini abang coba pegang kepalanya."kata Dafi.


Memang kepala anaknya yang memang panas dan Bu Nani ada di sana.


"kenapa arkan?"melihat cucu di gendongan menantu nya


"tiba tiba demam ma..."jawab Nadya


Bu Nani yang juga khawatir melihat keadaan cucu,jadi Dafi dengan cepat masuk ke dalam kamar mengganti baju dan memakai celana karena tadi dia memakai sarung.


"sekarang kita ke dokter anak, ganti baju mu."kata Dafi pada istrinya.


Baby sitter langsung memegang arkan karena Nadya yang mau ganti baju , dalam waktu lima menit Nadya sudah siap.


"Princess...di rumah sama Oma dan mba marni ya..."pesan Nadya


"tapi Nisa mau ikut ma..."


Oma yang dari mobil melihat arkan mendekati cucu nya.


"princess...sama Oma... karena ini juga adek arkan mau berobat."kata Oma


Nisa yang pasrah tidak boleh ikutan, dengan wajah cemberut dia menjawab pertanyaan Oma nya.


"baik oma... sekarang Nisa mau kerjakan PR."


"ayo...kita lihat PR Nisa..."ajak Bu Nani pada cucunya.


Dafi dan Nadya menuju praktek dokter anak, walaupun ada baby sitter tapi Nadya yang menggendong bayi mereka dan duduk di depan.


"bang... cepat..."


"iya... sebentar lagi juga sampai."


"suster... perlengkapan arkan sudah di bawa kan... enggak ada yang ketinggalan."


"sudah Bu... semua ada di dalam tas."


"nanti pas turun...bawa saja semua, mana tau parkiran nya jauh...kita sedia saja."


"baik Bu."


Tak berapa lama mobil yang membawa mereka sampai di praktek klinik anak. Jadi Dafi langsung mendaftar ke bagian administrasi sementara Nadya duduk di kursi para pasien yang lagi menunggu.

__ADS_1


Dafi juga ikut menunggu setelah selesai mendaftar.


"dapat antrian ke berapa? masih lama?"tanya Nadya dengan cemas


"ssssttt sabar... nanti juga di panggil..."kata Dafi mengabarkan istrinya.


"iya...tapi jangan lama kali...aku jadi cemas, nomor berapa antrian?"kata Nadya.


Dafi tidak mau menunjukkan nomor yang ada di tangan, nanti bisa jadi heboh, nomor antrian di tangan Dafi ada beberapa orang lagi.


jalan mondar mandir menunggu antrian yang di lakukan oleh Nadya, sementara Dafi berusaha untuk tenang, duduk di kursi dengan pasien lagi.


Tak berapa lama kemudian mereka pun di panggil,masuk ke dalam dengan cepat.


Dokter anak yang di datangi melihat Mila yang menggendong anak.


"anaknya letakkan saja Bu..."kata dokter.


Mengikuti perintah dari dokter lalu berdiri di samping anaknya.


"adek kenapa... sehat kan...?"kata dokter pada arkan sambil memeriksa.


Dafi masuk ke dalam dan melihat anaknya di periksa langsung duduk saja.


"badan nya panas..."lalu memeriksa mulut arkan.


"oh...panas dalam ini..."kata dokter lagi.


Setelah selesai di periksa semua nya maka dokter duduk untuk menulis resep tanpa melihat ada beberapa orang di dalam.


"ibu silahkan duduk... seperti nya anak ibu panas dalam...ini obat di oles dan kalau ada madu di rumah?


"ada Bu dokter..."jawab Nadya melihat dokter.


"boleh di berikan juga...pagi dan malam."kata dokter memberikan resep tersebut.


Bu dokter pun melihat pada orang tua anak, melihat sesosok orang yang dia kenal.


"Dafi..."kata dokter..


Dafi yang juga melihat orang yang dia kenal yaitu belasan tahun yang lalu.


"iya... siapa ya..."tanya Dafi yang memang sudah lupa.


"kamu dulu yang sama XX...teman akrab nya Andi, yang selalu sama dengan nya."kata dokter.


Dafi hanya melihat saja tapi tidak menjawab dan mengingat siapa sosok dokter tersebut.


"Novi...kita dulu satu kelas di SMA XX, coba tanya sama Andi...eh... masih bareng dengan Andi kan?"tanya dokter lagi.


"masih..."


"yang sakit anak mu? sudah berapa anggota mu ? tanya dokter dengan Dafi yang lagi bengong.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2