
Dafi yang masih lupa sama orang yang di depan matanya."siapa ya...Novi ini?... besok ku tanyakan pada Andi."batin Dafi berkata.
"yang sakit anak mu? sudah berapa anggota mu ? tanya dokter dengan Dafi yang lagi bengong.
"iya...anak saya...jadi bagaimana keadaan anak saya Bu dokter?"tanya Dafi.
"enggak ada yang di khawatirkan, dia panas dalam dan ada demam nya...insha Allah nanti sembuh, jangan lupa obat penurun panas nya di minum kan."kata dokter novi.
"baik dokter... kalau begitu kami permisi dulu."kata Dafi.
"hei... panggil Novi saja...kita kan teman..."kata dokter novi pada Dafi.
"iya...Novi...kami permisi.... istri ku sudah gelisah...mau meminumkan obat."kata Dafi.
"silahkan... Bu... jangan lupa obat nya di perhatikan cara minum untuk baby arkan."kata dokter pada Nadya.
"baik dokter...kami permisi dulu..."kata Nadya keluar di ikuti oleh Dafi.
"Dafi... titip salam sama Andi... bilang salam kangen..."kata dokter novi.
"baik...insha Allah besok saya ada sampaikan."jawab Andi.
Nadya yang sudah duluan menunggu Dafi, tapi belum juga kelihatan batang hidungnya.
"bang... Dafi... kelamaan reuni nya."kata Nadya
"itu bapak Bu..."kata baby sitter.
Dan yang di tunggu pun keluar dari ruangan dokter, melihat istrinya cemberut ke arah nya.
"aduh... pasti jadi masalah ini..."kata batin Dafi.
Apa yang di pikirnya memang betul, terbukti Nadya melihat dia datang dengan senyuman yang sinis.
"enak nih yang lagi reuni an."kata Nadya.
Tidak menanggapi perkataan istrinya karena percuma juga, kalau di lawan pasti akan berantam akhirnya.
"masuk sweet heart...kita ke apotik beli obat arkan."kata Dafi.
Nadya mengikuti perkataan suaminya, karena sekarang ini prioritas adalah dengan kesehatan anak mereka. Lagian ngapain juga Nadya marah...Dafi juga lupa pada dokter novi."ngapain aku marah sama bang Dafi... lagian dia juga lupa.... dokter novi malah ingat sama bang Dafi dan Andi."kata Nadya dalam hati.
Menyusuri jalan menuju apotik langganan mereka, sampai di depan apotik Dafi meminta resep dari istri nya untuk di tebus.
"mana resep tadi? biar abang tebus."kata Dafi.
__ADS_1
"ini... jangan lupa belikan minyak angin untuk princess... sudah habis punya dia."
"cap jago kampung itu?"tanya Dafi memastikan, dulu dia yang beli perlengkapan anaknya... takut salah... ternyata merk minyak kayu putih tak pernah di ganti Nadya.
"iya...dia kan suka itu... percaya yang lain... nanti dia tidak pakai."kata Nadya.
"baik Bu... yang sabar menunggu di mobil...jadi kunci saja dari dalam."kata Dafi.
Beli obat di apotik langganan mereka memang lama...di tempat lain takut nya enggak lengkap,jadi yang sabar untuk menunggu... pasti akan di panggil.
Menunggu waktu sepuluh menit baru lah obat untuk Dafi selesai, membayar obat langsung kembali ke mobil.
"kalau menunggu lama kenapa enggak mba sister saja yang nungguin...abang di sini saja."kata Nadya yang bosan di dalam mobil.
Dafi sengaja lama menunggu di apotik karena kalau menunggu di mobil akan banyak pertanyaan dan interogasi dari Nadya.
"nanggung sweet heart...tadi di dalam enggak banyak antrian... dasar apoteker nya saja yang lelet membuat nya."kata Dafi.
Nadya melihat ke arah Dafi...mau mencari jawaban, apakah berkata benar atau hanya alasan saja. Tidak mendapatkan jawaban dan Nadya juga tidak mau berantem di depan baby sitter.
Karena sudah malam suasana jalan pun sudah sepi jadi dua puluh menit mereka sampai ke rumah. Nadya membawa arkan ke kamar anak, memberikan ASI dan obat yang dari dokter.
Setelah arkan tidur maka dia pun ke kamar dan berpesan pada baby sitter.
"mba... tolong arkan di jaga... tidak boleh di tinggal."pesan Nadya pada baby sitter.
Nadya keluar kamar mencari keberadaan Nisa."Princess...kamu di mana?"
"saya mama... lagi bersama ayah."jawab Nisa.
"oh... setelah belajar... tidur... bersihkan diri..."pesan Nadya.
"iya mama... nanti di bantu mba marni."jawab Nisa.
Nadya pun ke kamar untuk mengganti baju dan membersihkan wajah. Setelah selesai semua dia pun meluruskan diri untuk beristirahat sejenak, karena sebelum tidur dia mau melihat keadaan anaknya dan di bawa tidur bersama.
Setengah jam kemudian masuk lah Dafi ke dalam kamar, melihat istrinya yang sudah tertidur. Dia pun mematikan lampu kamar karena dia juga sudah mengantuk.
Cahaya kamar sudah tidak kelihatan membuat Nadya terbangun.
"lho... sudah masuk bang?"
"iya...abang ngantuk..."jawab Dafi sambil memeluk istrinya.
Nadya yang dari tadi mau bertanya, banyak yang harus di pertanyakan.
__ADS_1
"Bang... dokter novi itu cantik ya..."kata Nadya.
Dafi yang mengerti maksud dari istri, akan mengarah pada pertanyaan tentang Novi, sementara dia juga lupa dengan sosok Novi.
"mmmhhh seperti nya cantikan kamu..."kata Dafi.
"gombal...tadi itu abang berpura lupa kan? padahal besok jumpa dengan bang Andi... nostalgia tentang dia lah itu."kata Nadya.
"Astaghfirullah hal'azim... sweet heart...kok berpikir seperti itu? kamu cemburu?"tanya Dafi.
"siapa juga yang cemburu?"kata Nadya.
Padahal Nadya memang cemburu,apa lagi teman suami nya itu seorang dokter...bisa bisa...
"aduh... kenapa saat bertemu dengan dokter novi aku jadi enggak percaya diri begini...apa karena dia cantik dan dokter pula."kata Nadya dalam hati.
"sweet heart...di hati ini...kamu seorang...mana tangan mu..."kata Dafi mengambil tangan kanan istrinya.
Nadya hanya mengikuti perintah dari istrinya, tangan nya di letakkan di dada bidang suaminya.
"dengar kan suara detak jantung ku...apa lagi dekat dengan mu saat ini..."kata Dafi.
Dug...dug...dug...
"dengar kan..."kata Dafi.
"mmmhhh... kalau seperti ini...ya normal bang..."kata Nadya.
Dafi tersenyum mendengar perkataan orang yang ada di depan mata nya tapi dia berusaha untuk membuat istrinya tidak marah pada nya.
"beda... kalau berdua dan dekat begini...abang jadi berdebar...apa lagi bagian sini."kata Dafi sambil memindahkan tangan Nadya ke bagian sensitif Dafi paling bawah.
Ternyata sudah on di sana bagian sensitif suaminya."benar kan...jadi kamu harus tanggung jawab untuk menidurkan nya."kata Dafi.
"ih...itu mau nya abang...itu namanya mesum."
"mesum dengan istri sendiri itu... lebih baik...atau kamu mau kalau abang..."
"jangan... jangan...baik lah...akan aku pertanggung jawabkan."kata Nadya
Seperti mendapat durian runtuh mendengar jawaban dari istrinya.
"asyik...abang seperti ini aja... tugas mu merayu suami mu ini...dan buat dia tertidur pulas."kata Dafi.
Nadya mengikuti apa yang di inginkan suami nya, padahal rencana mau membawa arkan ke kamar...jadi untuk itu Nadya harus membuat bayi besar nya untuk tidur terlebih dahulu.
__ADS_1
BERSAMBUNG
****