
Sementara itu di rumah Dafi...
Dari tadi siang Bu Nani menganjurkan Nadya ke dokter kandungan yang di temani oleh suaminya.
"Dafi... masih jam tujuh malam...kamu bawa Nadya untuk periksa ke dokter kandungan... mumpung arkan masih tidur."kata bua Nani.
Dafi yang sudah capek mendengar repetan dari mamanya, akhirnya ke kamar mau mengajak istrinya.
"sweet heart...kita ke dokter kandungan malam ini."ajak Dafi.
"tapi bang... arkan masih mau bersama ku..."kata Nadya.
"ck...abang juga bingung...mama dari tadi menganjurkan agar kita periksa ke dokter kandungan...ayo lah... sebentar saja."kata Dafi
Nadya yang lagi menidurkan anak nya arkan,
berpikir sejenak karena melihat Dafi yang sepertinya stres dengan mama nya sendiri.
"arakan sudah tidur...abang siap siap saja, aku mau meletakkan dia ke kamar nya.",kata Nadya
Mendengar Nadya yang mau di bawa ke dokter, Dafi pun langsung berganti pakaian yang sebelumnya bersarung.
Selesai itu dia pun keluar kamar mau menghidupkan mobil, menunggu di dalam mobil. Tapi tiba tiba Nisa mendekati ayahnya.
"ayah...mau kemana? pergi sama mama ya ..?"tanya Nisa
.
"iya princess...ada yang mau di periksa."jawab Dafi.
"boleh Nisa ikut?"
Dafi belum mendaftarkan di praktek dokter,jadi bisa kemungkinan tengah malam baru selesai.
"enggak boleh... karena mama belum daftar...jadi bisa saja lama ngantri nya."kata Dafi
Tak berapa lama Nadya keluar dari rumah dengan pakaian rapi, melihat anak gadis nya di luar membuat Nadya bertanya.
"lho... princess...kenapa di sini?"tanya Nadya.
"lagi ngobrol dengan ayah...mama mau pergi ya..."tanya Nisa
"iya...ada pesan?"
"enggak ada... pesan nya jangan lama lama..."
"oke princess...ayah dan mama pergi ya... jangan lupa pintu rumah di tutup."pesan Nadya
Nisa pun masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu bagian bawah saja karena dia tidak sampe kalau di atas.
Di dalam perjalanan Nadya dan Dafi masih tenggelam dalam pikiran masing masing.
"kasian arkan kalau aku memang hamil"kata Nadya dalam hati.
"mudah mudahan hasilnya nanti negatif..."kata Nadya dalam hati
__ADS_1
Sementara Dafi yang juga dengan pikiran nya sendiri."kalau sempat Nadya hamil? wih...tak bisa ku bayangkan dengan reaksi mama"kata Dafi dalam hati
Dafi yang sudah enggak kuat dengan pemikiran nya sendiri,jadi dia ajak Nadya untuk bicara.
"Sweet heart... misalnya kalau kamu hamil bagaimana?"tanya Dafi.
"aku enggak masalah kalau hamil lagi...kan aku punya suami...apa yang ku takutkan."kata Nadya.
Dafi tersenyum dengan jawaban istri nya, tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.
"jadi kamu siap kalau kita sebentar lagi tambah anggota keluarga..."
"siap lah... jangan... jangan...abang yang enggak siap?"kata Nadya.
Menarik nafas panjang mendengar kata dari Nadya.
"bukan enggak siap... abang lebih kasian kalau melihat arkan."kata Dafi.
"lho...kok sama dengan pemikiran ku?"kata Nadya.
"ya sudah... kalau begitu..kita lihat saja hasil pemeriksaan dokter nanti."kata Dafi
Tak terasa akhirnya mereka sampai juga di praktek dokter kandungan, Nadya mengambil nomor antrian.
Setelah mendaftar dan mendapatkan nomor antrian,dia duduk dekat suaminya. Banyak yang periksa kandungan malam ini,jadi harus sabar untuk menunggu.
Menunggu adalah pelajaran yang paling membosankan, jadi mereka berdua kembali bercerita berdua.
Dari pintu keluar setelah di periksa ada sepasang suami istri yang keluar, yang ternyata orang tersebut tak asing di mata Dafi.
"Pak Dafi...apa kabar? lama tak bersua."kata Dedy dan Siska di sebelah yang menggandeng tangan suaminya.
"Alhamdulillah... sehat... periksa di sini juga... lagi periksakah..."jawab Dafi yang tak menyangka akan bertemu dengan Siska dan Deddy.
"lagi kontrol kehamilan Siska..."kata Deddy
Terlihat kalau perut Siska yang sudah menonjol, Nadya yang senang melihat orang kalau lagi hamil.
"wah... sudah kelihatan hamil nya... sudah tau jenis kelamin nya?"tanya Nadya
"sudah mau enam bulan... surprise saja kalau jenis kelamin... yang penting sehat... sehat..."jawab Siska.
"a...min..."kata Nadya
Melihat Nadya yang hanya berdua dengan Dafi... membuat penasaran Siska karena Arkan yang bayi tidak ikut .
"berdua saja? baby nya enggak ikut?"tanya Siska
"iya...kami hanya berdua saja, anak anak di rumah."jawab Nadya.
Karena sudah selesai maka Siska pun mau segera pulang, jadi mereka keluar dari tempat praktek dokter.
"kami duluan ya... masih ada yang mau di cari."kata Siska
"oh...iya Bu..."jawab Nadya.
__ADS_1
Dafi mendekati istrinya jadi mereka berdua melihat Siska dan Dedy keluar.
"enggak nyangka ya... nasib pak Deddy, padahal dia dulu hanya orang kerja di tempat Siska...tapi sekarang dia malah jadi suami Siska."kata Dafi.
"itu namanya jodoh bang dan rezeki Deddy... rezeki, jodoh dan maut tidak ada yang tau "kata Nadya.
"iya...sama seperti kita... siapa tau kalau jodoh ku adalah guru dari anak sendiri."kata Dafi.
"mmmhhh itu ada juga campur tangan dari orang tua kita."kata Nadya.
Tak berapa lama ternyata Nadya pun di panggil untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Masuk ke dalam bersama dengan Dafi sebagai seorang suami.
Dokter Lukman melihat pasien nya yang datang ternyata yang baru beberapa bulan selesai di tangani.
"lho...ibu...ada masalah apa ? kan kemarin kita sudah pakai IUD?"kata dokter
Dafi dan Nadya saling pandang dan menceritakan maksud kedatangan ke tempat praktek dokter.
"dokter... istri saya... seperti nya mau di periksa."kata Dafi.
Dokter melihat ke arah Nadya dan menanyakan nya langsung.
"dokter...saya sudah dua bulan telat, jadi mohon di periksa saja."kata Nadya.
"oh... begitu...coba silahkan berbaring di atas."kata dokter
Nadya mengikuti saran dari dokter, naik ke atas tempat tidur. Sementara perawat yang ada di dalam membantu membetulkan posisi pakaian Nadya.
"suster... berikan jell di atas perut Nadya..."kata dokter sambil memegang alat USG untuk memeriksa pasien.
Dokter pun meletakkan alat USG di perut Nadya untuk di periksa, dokter melihat dengan serius. Dafi yang memperhatikan layar monitor dan hatinya campur aduk, harap harap cemas untuk mengetahui hasil nya.
Sebagai orang awam Nadya dan Dafi tidak begitu mengerti, mereka memperhatikan layar monitor dan melihat ke arah dokter tapi tidak tau maksud.
Sementara dokter seperti nya sudah mengetahui hasilnya, dia pun mengembalikan alat USG ke tempat semula. Dokter pun duduk di kursinya, dia seperti menulis catatan untuk dokumen pertinggal. Lalu mencatat resep untuk pasien.
BERSAMBUNG
***
Jangan lupa
like...
subscribe
komentar yang membangun
serta
bintang lima
terima kasih
🙏🙏🙏
__ADS_1