Bu Guru Itu... Istri Ku...

Bu Guru Itu... Istri Ku...
Bab.216


__ADS_3

Setelah melaksanakan shalat magrib berjamaah, Bu Nani membaca Al-Qur'an menunggu ke waktu shalat isya.


Nadya pun langsung ke dapur untuk melihat apakah untuk makan malam sudah di siapkan oleh mba marni.


Nisa yang juga mau mengaji iqra enam yang sebentar lagi Al-Qur'an, jadi Dafi yang mengajarkan ada Nisa untuk kali ini, dia mau tau sudah sampai mana kajian si princess.


"Alhamdulillah... sebentar lagi princess mau Al-Qur'an."


"iya ayah... aturan nya sudah Al-Qur'an tapi di ulang lagi sama oma."menjelaskan dengan wajah sedih.


"kenapa di ulang?"mencari penjelasan dari Nisa.


"kata oma...belum lulus, karena belum pas bacaan nya"Nisa menjelaskan pada ayah.


Dafi hanya tersenyum karena apa yang di katakan mamanya benar adanya, Nisa sudah mengenal huruf tapi untuk tajwid,panjang dan pendek huruf masih banyak yang keliru.


"memang harus seperti princess... harus bisa mengerti panjang dan pendek, tajwid dan lain sebagainya."


"o....macam gitu...tak apa apa kok..kita makan dulu ya...Nisa sudah lapar."


"ya sudah...Nisa minta tolong sama mba marni karena ayah isya dulu, sebentar lagi masuk waktu nya."


Nisa tidak mau berdiri,dia mau bersama sang ayah karena sudah lama bisa bermanja seperti ini, bahkan makan malam bersama jarang di lakukan bersama sang ayah.


"enggak mau... kalau begitu... sebentar lagi saja sama ayah makannya."


"ya sudah... kalau begitu...biar sekalian makan bersama oma."


Memasuki waktu isya mereka pun sholat berjamaah kembali,tak lupa Nadya juga ikut shalat berjamaah bersama. Bu Nani senang sekali karena bisa melakukan bersama.


Setelah shalat maka mereka pun makan malam bersama, Nadya yang memeriksa lalu mengajak makan bersama.


"Princess... panggil ayah dan Oma...kita makan malam bersama."


"baik mama..."


Nisa memanggil Oma dan ayah nya, kembali ke meja makan di ikuti oleh Dafi dan Bu Nani.


Mengambilkan nasi untuk Dafi terlebih dahulu, baru untuk Nisa. Kalau Bu Nani biasanya ambil sendiri,dan biasanya dia hanya makan sayur atau roti saja.


"terima kasih..."kata Dafi


Nadya hanya mengangguk dan tersenyum setelah itu dia melayani Nisa.


"makan sendiri ya..." kata Nadya setelah mengambilkan nasi beserta lauk di piring Nisa.


"ya ma...kan Nisa sudah bisa makan sendiri,kan sudah besar juga..."


"iya... jangan lupa baca doa mau makan"


"baik ma..."jawab Nisa dan mulai makan bersama.


Setelah itu baru Nadya mengambilkan untuk dirinya sendiri, sementara Bu Nani malam ini makan sayur yang tersedia. Pas waktu makan begini semua sibuk dengan piring sendiri sampai selesai memakan nya.


Makan malam bersama selesai, mereka ngumpul bersama di ruang keluarga. Nadya bersama Arkan ikut juga.

__ADS_1


"bang...mama sudah di beri tau tentang bang Andi?"


Belum sempat di jawab Dafi...Bu Nani yang bertanya terlebih dahulu.


"kenapa dengan Andi?" tanya Bu Nani pada anak dan menantu nya.


"Besok Andi mau nikah ma..."


"apa...? dengan siapa?"


Bu Nani yang sedikit terkejut dengan berita yang dia terima, tidak nyangka kalau Andi mau menikah. Seperti nya baru saja dia mau menjodohkan Andi pada Mila.


"dengan teman Nadya..." jawab Dafi yang tidak menjelaskan secara rinci.


"teman Nadya yang mana? seingat mama teman Nadya itu guru nya si Nisa di TK." sambil mengingat ingat teman manantunya yang ada di sekolah Nisa.


"itu ma...Mila...yang waktu acara arkan bantuin nadya...ingat mama..."


Nadya yang mencoba mengingatkan mama mertua.


Sementara Bu Nani mengingat sosok Mila dan tak berapa lama dia akhirnya ingat juga.


"oh... ingat lah... yang waktu itu mau mama jodohkan dengan Andi."


"oh... begitu ceritanya.... Alhamdulillah... terkabul doa mama... mereka berdua mau nikah."kata Bu Nani antusias.


Bu Nani memang yang berencana untuk menjodohkan mereka berdua tapi ternyata mereka sudah dekat duluan.


"Nikah nya di mana? kok enggak ada undangan nya?"tanya Bu Nani


"itu Andi ya... kalau pun enggak pesta, setidaknya datang ke rumah... ngabarin saja pun jadi."


Dafi berusaha membela sahabatnya dari kemarahan mamanya.


"mungkin enggak sempat atau masih sibuk urusan yang lain dan setiap hari dia masuk kerja, bisa saja lupa atau enggak sempat..."


"kamu itu...membela Andi terus... kalau jumpa sama mama...awas dia ya..."


Tidak ada bantahan lagi dari Dafi karena takutnya mama akan marah pada nya."lebih baik aku masuk kamar saja...biar aman"kata Dafi dalam hati.


Sudah jam sepuluh malam jadi semua masuk ke dalam kamar masing masing, hanya tinggal Bu Nani dan mba marni menemani menonton TV.


Nadya sengaja malam ini membawa arkan tidur bersama karena takut pada suaminya yang akan bertanya macam macam."tadi bang Dafi sudah menghitung sudah empat puluh hari, Arkan malam ini tidur bersama kami saja...biar aman."kata Nadya dalam hati.


Masuk ke dalam kamar dan ternyata Dafi lagi membuka laptop, seperti mengerjakan sesuatu. Nadya sengaja tidak bertanya , fokus memberikan ASI pada Arkan.


Setelah selesai dia pun berencana untuk tidur di sebelah anaknya itu, tapi Dafi mendekati istrinya itu.


"Arkan sudah tidur?"


"iya...baru saja... abang mau tidur juga?"


"sebentar lagi...kamu capek?"


Nadya bingung dengan pertanyaan suaminya yang tiba tiba bertanya seperti itu karena tidak biasanya seperti itu.

__ADS_1


"sedikit sih... kenapa bang?


"kalau capek...biar abang pijit kaki, tangan, badan."


Nadya menelan Slavina karena kalau urusan pijat memijat pasti... ujung ujungnya...


"enggak usah aja bang...aku ngantuk nih..."


"kenapa arkan malam ini tidur di sini...?"


"dari tadi rewel...minta sama mamanya."


Dengan sedikit kecewa Dafi hanya menghembuskan nafas.


"huh... padahal mau unboxing setelah empat puluh hari..."kata Dafi pada Nadya...lalu dia kembali ke laptop yang masih terbuka.


Nadya yang mendengar suaminya yang mau unboxing merasa kasihan, karena sebagai seorang istri dia tidak boleh memperlama dengan alasan anak.


"bang...mau unboxing apa?"


"enggak... sudah lewat... masih ada yang mau di kerjakan besok, Andi juga enggak masuk."


"jam berapa kita ke tempat Mila? malah belum beli kado..."


"pagi saja...mau lihat Andi ijab kabul."


"ya sudah...aku ikut saja, tapi arkan bagaimana?"


"bawa saja...baby sitter kan ada."


"baik lah kalau begitu... pakai baju apa ya besok?"


"yang kita beli kemarin kan belum di pakai..."


"oh...iya..ya...aku kok bisa lupa..."


"itu akibat sudah lama enggak di unboxing... makanya jadi pelupa."Dafi bersiasat dengan mencari alasan.


"ih... abang... belum enam puluh hari...sabar napa...."


"ya...tapi icip icip boleh ya..."


Nadya sebenarnya ragu untuk menjawab tapi kasihan juga melihat suaminya yang seperti uring-uringan.


"mmmhhh... boleh lah... tapi icip icip saja ya..."


Dengan senang hati seperti mendapat durian runtuh Dafi mendekati istrinya untuk melakukan icip-icip.


"seperti orang pacaran saja..." kata Dafi yang mau melakukan icip-icip...


BERSAMBUNG


*****


Jangan lupa

__ADS_1


__ADS_2