Bu Guru Itu... Istri Ku...

Bu Guru Itu... Istri Ku...
Bab.42


__ADS_3

Seperti sudah jam 11, maka Dafi ke ruangan dokter Ilham. Dokter bagian ortopedi yang menangani penyembuhan Nadya. Menuju ruangan dokter, Dafi kelihatan seperti cemas, takut kalau terjadi apa apa dengan kekasih hati nya. Tapi itu harus di hadapi biar tau bagaimana cara penyembuhan yang terbaik.


tok


tok


tok


Dafi mengetuk ruangan dokter Ilham.


"masuk"terdengar suara dari dalam untuk mempersilahkan masuk.


Yang mengetuk pintu langsung masuk ke dalam ruangan.


"siang dokter"kata Dafi menyapa dokter Ilham.


"siang, silahkan duduk" jawab dokter Ilham.


Dafi pun duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter.


"Dokter saya mau tanya perkembangan Nadya Salsabila" tanya Dafi pada dokter.


"oh...iya, bapak yang jumpa tadi di ruangan VVIP ?" jawab dokter


"iya dokter", jawab Dafi


Dokter Ilham melihat berkas yang sudah ada di meja, lalu membuka komputer yang ada di ruangan.


"orang tua pasien mana? Sebenarnya saya mau menjelaskan kepada orang tua pasien pak"kata dokter.


"tapi dokter saya calon suami pasien, saya yang bertanggung jawab atas kejadian ini" kata Dafi


Melihat nyali Dafi yang bertanggung jawab, dokter Ilham salut juga."bapak sangat bertanggung jawab, salut saya sama bapak. Biasanya kalau ada kejadian ini, korban nya pasti di tinggal begitu saja."kata dokter Ilham


"tidak sama semua orang dokter"kata Dafi.


"ya...bapak betul", kata dokter.


Akhirnya dokter Ilham membuka file di komputer atas nama Nadya, setelah di cari terbuka lah gambar rontgen. Di sana dokter menunjukkan bagian pinggang ke bawah Nadya."pak Dafi,ini adalah foto Rontgen bagian pinggang ke bawah. ini terlihat bermasalah di sini"kata dokter menjelaskan. Sementara Dafi dengan serius memperhatikan dan menyimak penjelasan dokter.


"jadi pak untuk sementara Bu Nadya akan lumpuh. Tapi itu untuk sementara saja tidak permanen kok, jad jangan khawatir"


"kira kira berapa lama dokter"tanya Dafi


"tergantung pada pasien untuk sembuh dan tentunya dukungan dari keluarga"jawab dokter


"kira kira kapan pengobatan itu"


"kondisi pasien masih belum pulih, jadi kita sembuhkan dulu luka akibat kecelakaan"jelas dokter.


Dokter menjelaskan pada Dafi dengan sabar, penjelasannya bertahap supaya bisa di cerna keluarga pasien.


"jadi dokter setelah sembuh baru bisa terapi penyembuhan kakinya"tanya Dafi

__ADS_1


"betul pak, setelah sembuh semua baru kita mulai terapi penyembuhan kaki. Berdoa saja biar cepat pulih, paling utama kita harus beri dukungan dan semangat pada pasien", dokter menjelaskan.


"ya dokter, terima kasih banyak atas penjelasannya"kata Dafi


",sama sama pak"jawab dokter.


"dokter boleh saya minta tolong"tanya Dafi


"apa itu ? kalau tidak menggangu kode etik tentu bisa saya bantu"jawab dokter.


Dengan berhati hati Dafi pun menjelaskan keinginan nya pada dokter.


"dokter, kalau orang tua Nadya menanyakan ini.saya minta tolong jangan kasi tau pada mereka kalau saya menanyakan ini pada mereka, jadi rahasia kan dokter"kata Dafi


Dokter berpikir sejenak. kenapa harus di rahasiakan? sehari orang tua Nadya tau, kalau calon suami anaknya bertanggung jawab. Tidak meninggalkan anaknya dalam terpuruk."boleh saya tau, kenapa harus di rahasiakan? tanya dokter.


Dengan ragu ragu akhirnya Dafi menjawab pertanyaan dokter. "saya enggak mau aja orang tua Nadya tau kalau saya sudah mengetahui nya dokter. Tapi setelah sehat saya jadi tau planning ke depan"kata Dafi


"oh... begitu, saya yakin pasti planning yang terbaik"kata dokter sambil tersenyum melihat Dafi.


"insha Allah dokter"jawab Dafi mantap


"saya yakin itu"


"terima kasih dokter atas waktu nya, saya ada keperluan lain"Dafi berpamitan pada dokter Ilham sambil bersalaman.


"sama sama"jawab dokter Ilham


Setelah itu Dafi keluar dari ruangan dan mau kembali ke tempat Nadya. Tetapi tanpa sengaja dia bertemu dengan pak Arif. Lalu dia mendatangi pak Arif, ada sesuatu yang mau di omongkan dengan ayah Nadya itu.


Melihat Dafi pak Arif bingung juga, kenapa tiba tiba mau ngobrol saat berdua pula. Kenapa tidak di ruangan kamar Nadya saja."kenapa enggak di kamar aja"tanya pak Arif penasaran dan menatap Dafi.


"saya enggak mau mengganggu istirahat Nadya"jawab Dafi


",oh... seperti itu? dimana kita ngobrol nya?"


"di kantin aja pak sambil makan siang"jawab Dafi.


"Ternyata sudah jam 12, sebentar lagi Zuhur. bagaimana kalau setelah Zuhur aja"usul pak Arif.


Dari pada nanti enggak tenang, lebih baik Zuhur dulu.maka mereka pun menuju musholla rumah sakit. pas menuju musholla, terdengar suara azan dari HP pak Arif. Dia sengaja membuat alarm pengingat sholat lima waktu.


Di musholla sudah ada beberapa orang untuk melaksanakan sholat, karena ada beberapa orang pak Arif Rahman berinisiatif untuk jadi imam."Dafi iqomah" perintah pak Arif


"ya pak"jawab Dafi


Maka Dafi pun iqomah dan mereka melaksanakan sholat Zuhur berjamaah yang di pimpin sebagai imam pak Arif. Setelah selesai sholat, pak Arif duduk di sebelah pinggir."pak apakah kita di sini saja? tanya Dafi pada oak Arif.


"jangan nanti mengganggu orang yang sholat" jawab pak Arif


"oh...iya di kantin aja pak sambil makan siang" ajak Dafi


Dua pria beda zaman itu pun pergi ke kantin untuk makan siang. Sampai di kantin Dafi bingung mau pesan apa, akhirnya dia minta di hidangkan seperti rumah makan Padang. Semua di hidangkan saja.

__ADS_1


Melihat semua di hidangkan pak Arif bingung, 'kenapa banyak kali ini? pasti Dafi pesan semua' pak Arif berkata dalam hati.


"Dafi...kenapa banyak yang di hidangkan?", tanya pak Arif


"ya pak, pilih aja yang bapak suka"jawab Dafi


Akhirnya pak Arif hanya memilih dua macam aja, yaitu rendang Padang dan rebusan daun ubi tak lupa sambal belacan."kamu belum makan ?" tanya pak Arif


"ini saya juga ambil untuk di makan"jawab Dafi


Menu yang Dafi ambil gulai ayam kampung pakai rebusan dan sambal belacan.


Akhirnya mereka makan siang berdua, setelah makan mereka pun berbincang tentang Nadya.


"apa yang mau di bicarakan!" tanya pak Arif


"sebelum nya saya minta maaf atas kejadian ini, kalau boleh di putar ulang. lebih baik saya yang tertabrak"kata Dafi dengan wajah serius.


"sudah lah namanya juga musibah, pertama dengar berita ini saya juga marah...kecewa... Tapi namanya juga musibah, siapa yang mau? mungkin sudah takdir"pak Arif menjelaskan


"maka untuk itu pak, saya mau bertanggung jawab"kata Dafi


"maksudnya? bukan kah selama ini kamu sudah bertanggung jawab ?" kata pak Arif dengan penuh tanda tanya.


"iya pak, itu betul. maksud saya...mmhh..."kata Dafi karena dia bingung untuk menjelaskan pada pak Arif.


"maksud apa? saya jadi bingung"kata Pak Arif


"maksud saya ,mau bertanggung jawab sepenuhnya untuk pengobatan Nadya"jawab


"ya" kata pak Arif


"maksud nya saya mau pernikahan kami di percepat saja,biar saya bisa langsung ikut mengurusi Nadya. Karena kalau sekarang ini, saya enggak bisa terlalu banyak mengurus nya pak,kan kita bukan muhrim"kata Dafi


"oh... maksudnya seperti itu?" jawab pak Arif


Bagaimana pendapat pak Arif ???


BERSAMBUNG


*****


jangan lupa


like...


komentar...


vote...


add favorit...


Terima kasih

__ADS_1


🙏🙏🙏


__ADS_2