
...Kelahiran seorang anak terkadang menjadi tali ikatan yang paling kuat untuk kedua orang tuanya....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Rachel kau…" ucap Syakir yang perlahan lemah dan mulai memejamkan matanya tak sadarkan diri.Â
Rachel mulai ketakutan. Apalagi ketika melihat darah segar keluar dari kepala Syakir dan membuat wanita itu segera melemparkan pot yang dia gunakan untuk memukul Syakir ke lantai.
"Sayang, tenanglah!" kata Adam mencoba menenangkan kekasihnya.Â
"Aku tak membunuh dia, 'kan, Sayang? Syakir baik-baik aja, 'kan?" tanya Rachel sambil menutup mulutnya takut melihat darah itu semakin banyak.Â
"Ya dia baik-baik saja. Syakir hanya pingsan," kata pria itu menenangkan.
Rachel menatap kekasihnya itu dengan ketakutan yang besar. Dia segera memeluk Adam saat tubuhnya tak henti bergetar.Â
"Ayo kita pergi!" ajak Adam setelah dia melepas pelukan Rachel sebentar untuk memakai pakaiannya.Â
Dua orang itu lekas berganti pakaian dan membawa beberapa baju untuk dibawanya kabur. Keduanya sangat tahu jika akan ada masalah sebentar lagi. Maka dari itu keduanya akan lari duluan sebelum semuanya terungkap.
"Tunggu!" kata Adam saat Rachel mulai menarik tangannya untuk keluar.
"Apa lagi, Sayang?" tanya perempuan itu dengan kesal. "Kita harus pergi sekarang sebelum ada orang yang memergoki kita!"Â
Rachel benar-benar marah pada Adam. Bisa-bisanya pria itu masih terlihat tenang disaat suasana mencekam seperti ini. Dirinya saja mulai takut dan gelisah serta ingin segera pergi. Namun, Adam dengan santainya mengambil ponsel di saku celananya.
"Kau mau apa, Dam?" tanya Rachel mulai tak sabaran.Â
"Menghancurkan Syakir sebelum kita pergi!"Â
"Dengan?"Â
Adam mulai mengotak atik ponselnya. Dia bahkan tersenyum miring saat tangannya dengan lihai mengetikkan sesuatu di layar ponselnya itu.Â
Rachel yang penasaran akhirnya mendekat. Dia memajukan wajahnya untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh kekasihnya.
"Sayang, kau…" ucap Rachel terkejut dan tak bisa berkata apa-apa.Â
"Dia sudah jatuh maka kita harus semakin menjatuhkannya, Sayang," kata Adam dengan senyum puas saat dia berhasil mengirim gambar yang sudah ia rencanakan sejak awal.
"Idemu sangat bagus!"Â
"Tentu. Berita ini akan menyebar dengan cepat dan Keluarga Syakir akan jatuh sejatuh-jatuhnya."Â
__ADS_1
Setelah mengirim postingan panas itu ke media. Adam segera menerima uluran tangan Rachel lalu keduanya segera keluar. Namun, saat keduanya hendak mencapai pintu apartemen.
Tiba-tiba pintu itu terbuka dan muncullah beberapa orang yang membuat Rachel dan Adam lekas mengangkat tangannya.Â
"Angkat tangan!"
"Sayang," lirih Rachel dengan menelan ludahnya takut.
"Tangkap mereka, Pak!" seru seorang pria yang tak pernah Rachel lihat.
Namun, tiba-tiba mata Rachel tertuju pada jas yang dipakai pria itu. Tangannya terkepal kuat dan dia menyerah saat logo keluarga Alhusyn tercetak jelas di sana.
Tak ada yang bisa Rachel dan Adam lakukan. Pria itu membawa beberapa belas polisi yang membuat keduanya tak mampu berkutik lagi.
...🌴🌴🌴...
Rein segera keluar dari musholla setelah hampir satu jam dia berdiam diri disana. Matanya bengkak saat dia menguntai banyak doa yang ditujukan pada calon keponakan dan kakak perempuannya itu.
Meski fakta yang terjadi telah dia dengar. Meski kenyataan bahwa mereka bukanlah saudara kandung. Tak membuat Rein berubah sedikitpun.
Dia tetap menyayangi Humaira. Dia tetap mencintai kakaknya itu. Tak akan ada yang mampu menggantikan sosok kakak seperti Humaira di mata Rein.
Saat remaja itu hendak berbelok menuju ruang operasi. Tiba-tiba sebuah suara memanggilnya dan membuatnya menoleh.
"Om, Tante," pekik Rein dengan air matanya yang kembali merebak.
Dia tak tahu harus mengatakan apa pada Rein. Semua fakta yang muncul dan terjadi tentu menyakiti hati Humaira dan Rein secara bersama.
"Kakak, Tante."Â
"Tenanglah. Putriku Humaira akan selamat," kata Mama Ayna dengan percaya.
Tak lama, pandangan Rein tertuju pada pasangan suami istri yang berada di belakang orang tua Syakir. Pria dengan wajah tegap dan gagah meski usianya sudah tak lagi muda. Namun, tiba-tiba sekelebat ada sesuatu yang tak asing di mata Rein saat menatap perempuan yang duduk di kursi roda dengan tenang.
"Oh, Rein. Kenalkan mereka…"Â
"Orang tua Kak Humai?" tebak Rein yang membuat orang tua Syakir, Papa Hermansyah dan Sefira terkejut.Â
"Jadi kamu sudah tahu, Nak?" tanya Papa Haidar hati-hati.
Kepala Rein mengangguk. Dia menatap sendu ke arah orang tua Humaira. Dengan pelan remaja itu berjalan melangkah mendekati orang tua kakaknya itu dan mengatupkan kedua tangannya di depan.
"Tolong jangan jauhkan kami berdua, Om. Jangan bawa pergi Kak Humai dari Rein. Rein sangat menyayangi Kak Humai meski faktanya kami bukan saudara kandung," pinta Rein dengan memohon.
Mama Ayna sampai menutup mulutnya menahan tangisan. Dia tak menyangka Rein sampai mengatakan hal itu karena takut jika dia dipisahkan dari Humaira.
__ADS_1
Dengan cepat Papa Hermansya melepaskan tangan tautan tangan remaja di depannya. Dia mengusap bahu pria muda itu dan mengangguk.
"Kami bukan saja bahagia telah menemukan Humaira tapi kami juga senang karena anak kami bertambah satu yaitu kamu," kata Papa Hermansyah yang sangat tahu siapa sosok Rein.Â
Akhirnya percakapan mereka berhenti saat Sefira mulai mengajak ke ruang operasi. Mereka segera berjalan bersama-sama sampai akhirnya keduanya melihat dua orang manusia dewasa tengah mengerubungi seorang perawat yang tengah mendorong ranjang bayi.
Mereka lekas mendekat. Hingga kedatangannya tentu membuat Almeera dan Bara yang tengah menatap sosok kecil di depannya ini menoleh.Â
"Ini?" tanya Rein menatap bayi kecil yang terlihat sangat lucu.
"Ya. Ini keponakanmu, Rein. Putra kecilnya Humaira telah lahir."Â
Mereka semua tentu mengucap syukur. Bahkan semua orang segera melihat ke arah ranjang kecil yang terdapat bayi mungil dengan kulit memerah tengah menggeliat.Â
"Papa, lihat!" pekik Mama Ayna pada suaminya. "Cucu kita, Pa."Â
Papa Haidar mengangguk. Dia juga merasa bahagia dengan kehadiran bayi mungil itu di keluarga mereka. Cucu pertama keluarga Alhusyn yang sangat mereka nanti kelahirannya.Â
"Maaf, Tuan, Nyonya. Bayi harus segera dibawa ke kamar bayi," kata Perawat dengan sopan.
Mereka mengangguk. Semua orang memberikan jalan dan membuat mereka saling tersenyum dengan bahagia. Sampai akhirnya pertanyaan dari seorang ayah yang sangat merindukan putrinya membuat tawa semua orang menyurut.Â
"Dimana putriku sekarang? Dimana Humaira?"Â
Almeera dan Bara saling menatap. Mereka melihat Hermansyah dengan pandangan yang tak bisa diartikan.Â
"Humaira masih di dalam, Om. Dokter belum keluar sama sekali."Â
"Papa mana anak kita?" tanya seorang perempuan yang tangannya diikat di pegangan kursi roda kanan kirinya.
Hal itu tentu membuat Almeera dan Bara saling pandang penuh tanya.Â
"Ema masih di dalam, Ma. Ema baru saja melahirkan," kata Papa Hermansyah menenangkan.
"Mama mau Ema sekarang, Pa. Mama mau Ema!" teriak Emili yang membuat Hermansyah lekas memeluk istrinya.
Almeera sampai meneteskan air matanya melihat kondisi ibu dari Humaira. Menjadi seorang ibu, membuat dia sangat tahu bagaimana perasaan Emili sekarang.
"Suntik saja, Sus," kata Hermansyah yang langsung dituruti oleh suster yang disewa untuk merawat Emili selama di Jakarta.Â
Sampai saat Emili mulai tenang. Bunyi ponsel dari saku celana Papa Haidar membuat pria itu segera mengambilnya. Nama mata-mata yang dia tahu membuat ayah Syakir itu lekas mengangkat panggilan itu.
"Apa!"Â
~Bersambung
__ADS_1
Ah bayi mungil udah lahir geng. Yuhuu ada yang mau kasih nama gak? hahaha.
Aku belum siapin nama soalnya haha.