
...Aku masih sangat memahami bagaimana kodratnya seorang istri. Menjaga aib suamiku dan menutup segala keburukannya....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Syakir segera keluar dari rumah dan menyiapkan mobil untuk mengantar Humai ke puskesmas. Sedangkan Bara, dia mengabaikan rasa tak nyaman saat menggendong wanita lain dalam dekapannya. Saat ini posisi Humai sangat mengkhawatirkan.Â
Wajah gadis itu terlihat begitu lemah dan hal itu membuat Almeera menangis tanpa henti karena takut. Takut jika terjadi sesuatu pada gadis baik yang baru saja mereka kenal.
"Anak-anak, Mas!" kata Almeera saat mereka sudah ada di dalam mobil.
Bara segera meminta putranya duduk di dekat mamanya. Sedangkan Abraham memangku anak keduanya yang terus menatap ke arah Almeera dan Humai.
"Apa Tante itu sakit, Ma?" tanya Bia menatap Humaira kasihan.
"Ya, Sayang. Tante Humai sakit," sahut Almeera mengusap wajah Humai yang pucat. "Doain Tante baik-baik aja, yah?"Â
"Pasti. Bia juga selalu berdoa supaya Mama dan Papa berumur panjang dan nemenin Bia dan Abang."Â
Akhirnya karena jarak puskesmas dengan rumah berdekatan membuat mereka segera sampai dengan cepat. Mereka segera turun dari mobil. Lalu Humaira segera diletakkan di brankar pasien dan mereka mulai mengikuti para suster yang membawa tubuh Humai yang masih tak sadarkan diri.
Mereka semua mulai menunggu di depan ruang pemeriksaan. Almeera bahkan sampai memeluk putrinya yang kedinginan karena hanya memakai celana panjang dan kaos panjang tanpa jaket dan topi. Sedangkan dua pria kesayangannya terlihat duduk dengan tenang meski hanya memakai kaos pendek yang membalut tubuh mereka.
Almeera benar-benar yakin dengan dugaannya. Pasti Humaira sedang mengandung. Namun, ia juga mencurigai hubungan Humai dan Syakir. Keduanya tak ada kemiripan apapun hingga tak mungkin jika ada ikatan saudara.Â
Apalagi saat melihat raut mencurigakan dari keduanya semakin membuat Almeera yakin bila tebakannya benar.
"Apa ada suami pasien?" tanya Dokter yang keluar dari ruang dimana Humai di periksa.Â
"Saya, Dok," sahut Syakir terbata.Â
Dia tak bisa menyembunyikan apapun lagi. Wajahnya begitu serius menunggu penjelasan dokter di depannya ini. Dia bahkan sampai tak mau menatap ke arah Almeera dan Syakir yang terkejut atas pengakuannya.Â
"Istri dan calon anak Anda, baik-baik saja, Pak. Istri Anda kekurangan nutrisi yang masuk. Mungkin efek dari muntah-muntah hebat. Apa betul?"Â
"Saya…"
Jujur Syakir tak bisa menjawab apapun. Dirinya saja tak pernah tahu bagaimana keseharian Humai. Apa yang dia makan, apa yang perempuan itu lakukan. Syakir tak pernah tahu dan lebih tepatnya tidak mau tahu.
__ADS_1
"Ini lumrah tapi usahakan cari makanan pengganti ketika ibu hamil tak mau makan nasi."
Dokter mulai menjelaskan kondisi Humai dan anak yang dikandung. Hal itu tak membuat Almeera dan Bara terkejut. Mereka yang berpengalaman dalam hal mengandung membuat keduanya sangat amat mengerti.
Hingga saat dokter mulai beranjak pergi. Syakir menatap sahabat dan istri sahabatnya secara bergantian.Â
"Jangan menjadi Bara yang kedua. Menyakiti wanita yang sangat amat mencintai kita dengan tulus," kata Bara menepuk pundak sahabatnya. "Tak selamanya kita mendapatkan kesempatan sepertiku. Diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan, itu satu dari ribuan keajaiban. Bisa saja kamu akan merasa kehilangan ketika dia sudah pergi meninggalkanmu."Â
Bersamaan dengan itu, tubuh Humairah yang lemah dan terbaring di atas brankar mulai didorong keluar. Mereka semua mengikuti wanita berpakaian putih itu menuju ruang rawat yang akan menjadi tempat Humairah untuk sementara waktu.Â
"Kenapa gak dibawa ke rumah sakit saja, Kir?" tanya Almeera yang sejak tadi penasaran.
"Rumah sakit ibu dan anak ada tapi lumayan jauh. Sementara kita disini dulu," kata Syakir yang membuat Almeera geram bukan main.Â
"Terserah kamu, tapi perlu diingat! Jangan sampai kamu menyesal atas apa yang sudah kamu lakukan saat ini!"Â
Akhirnya tak mau membuat suasana semakin memanas. Bara pamit pada Syakir membawa istri dan anak-anaknya untuk pulang. Dia juga mengerti jika sahabatnya itu memiliki temperamental yang lumayan tinggi.
...🌴🌴🌴...
Entah sudah berapa lama dirinya tertidur. Saat kesadarannya mulai kembali. Dia hanya mendengar bunyi detak jam dinding yang terdengar memenuhi ruangan tersebut. Disertai bau obat-obatan yang tercium di hidungnya.
Tubuhnya lemah dan dia merasa kepalanya berdenyut sakit. Perlahan dia berusaha untuk duduk hingga pergerakannya membuat seorang pria yang sedang berdiri di dekat jendela sambil menelfon lekas berbalik.Â
"Akhirnya kau sudah sadar!" seru Syakir dengan suara tak enak. "Apa hidupmu isinya selalu menyusahkan orang lain?"Â
Humai menunduk. Dia bahkan belum bernafas lega. Sakitnya masih terasa di tubuhnya. Namun, perkataan sang suami semakin membuat luka hatinya mendalam.
"Maaf," lirih Humai dengan air mata mulai menetes.
"Apa bisamu cuma nangis, hah?" seru Syakir dengan mata melotot. "Apa tak ada lagi yang bisa kau lakukan selain menangis?"Â
Syakir mengepalkan kedua tangannya. Sungguh rasanya dia sangat muak dengan Humai. Tingkah gadis itu yang sok kuat tapi menjadi lemah jika ada orang lain di antara mereka.
Benar-benar aktris terbaik menurut Syakir.
"Aku…"Â
"Diam!" sembur Syakir dengan emosi yang memuncak.Â
__ADS_1
Saat suasana di antara mereka semakin memanas. Suara panggilan dari saku milik Syakir membuat pria itu lekas menghembuskan nafas berat. Dia segera meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera di sana.
Senyumannya mengembang saat nama sang adik terlihat disana. Tanpa kata dia segera menggeser layar itu dan mendekatkan di telinganya.
"Hal…"Â
"Mana Humai?" tanya Sefira secara langsung tanpa basa basi.
"Ini Kak Syakir, Fir. Kakak…"Â
"Aku ingin bicara dengan Humai. Mana dia?" ujarnya dengan nada dingin.
Syakir mengepalkan tangannya yang lain. Dia menatap Humai dengan sorot mata tajam. Jujur dia rindu adiknya. Rindu kebersamaan mereka.Â
"Apa kau tak merindukan Kakak?"Â
"Nggak!" kata Humai dengan tegas. "Aku tak mau memiliki kakak yang tak memiliki hati pada seorang perempuan."Â
Jantung Syakir mencelos. Dia tak menyangka jika kebencian ini semakin berlanjut hanya karena masalah tentang dirinya dan Humai.Â
Apa Sefira lebih mementingkan Humai?
Apa dia lebih sayang pada gadis cupu itu daripada dirinya yang notabene kakak kandungnya sendiri?
"Kakak…"Â
"Cepat berikan pada Humai!"Â
Syakir tak bisa memaksa. Dia segera mendekati ranjang Humai dan membuat perempuan yang sejak tadi menepis air matanya yang mengalir segera mendongak.
Syakir menjauhkan ponselnya. Dia menunjuk wajah Humai dengan sorot mata tajam.
"Jangan berani mengadu pada Sefira!" seru Syakir lalu tangannya mencengkram paha Humai dengan erat. "Atau aku akan membuat anakmu seperti ini sampai dia keluar dengan sendirinya dari tubuhmu!"
~Bersambung
Tahan ye tahan. Umpatnya boleh kalau malam hari haha.
Nanti di bab selanjutnya gak bakal ada part liburan Almeera Bara. Bakalan langsung yang Almeera kasih petuah sama Humai oke.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.