
...Aku merasa memiliki seorang keluarga baru yang menerima kekuranganku dan akhirnya aku mengerti dibalik sebuah musibah pasti ada hikmah manis di dalamnya. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Hari-hari Humaira benar-benar tak kesepian selama kedatangan keluarga Almeera. Pasangan suami istri itu memperlakukannya dengan baik. Berbeda sekali dengan sang suami yang 180° tak menginginkan kehadirannya.
Seperti pagi ini, Almeera mulai merecoki Humaira yang sedang menyiapkan bahan masakan untuk sarapan paginya. Ibu dengan dua anak yang saling menyayanginya merebut pisau yang ada di tangan Humai.
"Eh, Mbak. Gapapa biar Humai aja," kata Humai mencoba mengambil pisaunya lagi.
Almeera menggeleng. Dia malah menarik tangan Humai dan membawanya duduk di kursi meja makan.
"Ingat kata dokter, Mai. Kamu harus banyak duduk dan istirahat," kata Almeera penuh perhatian. "Seharusnya kamu gak perlu masak gini. Syakir harus menyewa seorang asisten rumah tangga."
Almeera mengomel tanpa henti. Dia benar-benar tak habis pikir dengan sahabat suaminya. Menurutnya Syakir tak memiliki hati nurani sedikitpun.
Meski pernikahan mereka karena paksaan atau kecelakaan, sikap Syakir harusnya tak begini. Biarpun dia tak menerima kehadiran Humai. Seharusnya dia menerima kehadiran anak yang dikandung.
Bagaimanapun anak itu adalah anak kandungnya. Anak yang lahir karena perbuatan mereka berdua. Dia adalah sosok yang tak bersalah. Dia adalah anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya.
Bukan malah menjadi korban keegoisan seorang ayah. Bukan kena dampak dari kebencian karena sebuah kecelakaan di antara kedua orang tuanya.
Dia tak bersalah. Bahkan anak itu tak pernah meminta untuk dihadirkan oleh mereka. Dia hadir karena kedua orang tuanya. Sengaja atau tidak. Kecelakaan atau tidak tapi hadirnya adalah sebuah anugerah dan mukjizat
"Kamu jangan sampai ngelakuin semuanya sendiri dan langsung, Mai. Istirahat dulu kalau capek. Jangan maksain keadaan. Ingat kamu memang kuat tapi anak kamu…" jeda Almeera dengan pelan.
"Belum tentu kuat sepertimu. Dia masih kecil dan berkembang. Jadi jagalah selagi Tuhan memberikan rejeki ini kepadamu."
Humaira seperti memiliki seorang kakak kandung yang sang menyayanginya. Dia seperti memiliki ibu baru dalam sosok Almeera. Wanita itu benar-benar menyayanginya melalui cara memperlakukan dirinya dengan baik dan penuh perhatian.
Tak mendapatkan jawaban, Almeera berbalik. Dia menatap Humaira yang tengah menatapnya dengan mengusap kedua matanya.
"Apa aku menyakitimu?" tanya Almeera penuh penyesalan.
Humai menggeleng. Dia menghembuskan nafas berat lalu menarik kedua sudut bibirnya melengkung ke atas.
"Humai merasa memiliki ibu baru, Mbak. Perhatian yang gak pernah Humai dapat, ternyata bisa Humai rasain sekarang," katanya dengan jujur.
__ADS_1
Almeera tersentuh. Dia memeluk tubuh Humai dengan pelukan hangat.
"Tenang aja. Mulai sekarang kamu gak bakal sendiri, Mai. Ada Mbak yang bakal bantuin kamu sebisa mungkin," ujar Almeera dengan nada yakin.
"Terima kasih, Mbak. Terima kasih banyak."
"Sama-sama."
...🌴🌴🌴...
Di tempat lain, hari ini adalah hari terakhir mereka berada di kota dingin ini. Liburan ke wisata Kota Malang sudah berakhir dan itu tandanya mereka akan melanjutkan menuju Kota Yogyakarta.
Sejak pagi, Almeera sudah merapikan semua pakaian miliknya, suami dan anak-anak. Semua itu ia lakukan dengan bantuan Humaira. Beberapa pernak pernik oleh-oleh khas malang, makanan keringnya juga seperti kripik apel, nangka dan beberapa makanan khas lainnya tentu memenuhi satu koper kosong yang disiapkan oleh ibu dua anak tersebut.
"Oleh-olehnya banyak banget, Mbak," celetuk Humaira saat koper itu sudah tertutup rapat.
Almeera terkekeh. Kepalanya mengangguk membenarkan. "Keluargaku dan Mas Bara banyak. Terus sahabat-sahabatku juga."
"Wah. Pasti keluarga Mbak sangat ramai."
"Tentu saja, Hum. Bahkan kalau semuanya berkumpul, suara mereka seperti pasar malam," kata Meera membayangkan aksi kedua kakak dan orang tuanya yang sama-sama bobrok ketika bersama.
Hingga tanpa sadar, terlalu banyak mengingat kenangan bersama ibu dan adiknya membuat air mata Humaira mengalir.
"Kamu kenapa, Hum?" tanya Almeera yang tak mendengar suara gadis hamil itu.
"Eh gakpapa, Mbak," sahut Humai dengan cepat. "Aku cuma inget mama dan adikku."
"Temui mereka, Hum."
"Mamaku sudah tiada, Mbak. Sedangkan Adikku sedang sakit keras," ucapnya dengan menundukkan pandangannya.
"Innalillahi wainna ilaihi raji'un. Maafkan aku, Hum."
"Gakpapa, Mbak. Itu sudah lama."
Almeera menatap iba. Ia tak tahu sekuat apa hati wanita di depannya ini. Ditelantarkan Syakir, tak dianggap dan sekarang Almeera baru tahu bahwa Humaira tak memiliki orang tua.
Sungguh kehidupan yang jauh dari dirinya. Namun, melihat bagaimana Humaira menjalani hidup. Tak melawan takdir dan putus asa. Hal itu sudah menjadi poin luar biasa Humaira di mata Almeera.
__ADS_1
"Kamu adalah wanita pilihan. Istri pilihan sekaligus ibu pilihan untuk anakmu," kata Almeera dengan yakin. "Jangan pernah putus asa menjadi baik. Selagi kamu sanggup teruslah bersikap baik tapi jika kamu lelah maka tinggalkan."
Akhirnya pembicaraan mereka berakhir saat Bara mulai memasuki kamar dan mengatakan bahwa mobilnya sudah siap. Humaira membantu wanita yang menjadi sosok temannya beberapa minggu disini.
Mereka mulai turun ke bawah dengan Humaira yang merasa sedih. Entah kenapa dia merasa kebersamaannya dengan Almeera membuat rumah ini sedikit lebih hidup. Jika mereka pulang maka ia akan kembali ke kehidupan semula.
Tangisan, sakit dan penyiksaan yang membuat dirinya begitu tertekan!
"Ayo, Hum. Kamu ikut mengantar kami, 'kan?"
"Itu, Ra. Dia…"
"Kumohon, Kir. Bukankah ini hari terakhir aku disini," ujar Almeera penuh permohonan.
Syakir membuang wajahnya lalu tiba-tiba tatapannya langsung bertatapan dengan Bara. Pria itu mendelik seakan Syakir harus menyetujui permintaan istrinya.
"Boleh. Ajaklah dia, Ra!"
Wajah Almeera begitu sumringah. Akhirnya mereka segera berangkat menuju Bandara Abdurrahman Shaleh karena waktu terus mengalir.
Setelah hampir empat puluh lima menit perjalanan dari tumpang ke pakis. Akhirnya mereka telah sampai di bandara. Almeera, Bara, Bia dan Abraham segera keluar diikuti Syakir dan Humaira.
Dua orang itu mengantar sampai ke dalam hingga bersamaan suara pengumuman pesawat yang akan dinaiki Almeera.
"Baiklah. Akhirnya kita akan berpisah sampai disini," kata Almeera menatap wajah Humaira dengan perasaan sedih. "Aku sangat bahagia mengenalmu. Bolehkah aku menganggapmu sebagai adikku?"
"Tentu saja boleh, Mbak," sahut Humaira mengangguk.
Dua wanita itu akhirnya berpelukan. Momen seperti inilah yang paling ditakutkan. Perpisahan ketika pertemuan sudah hadir di antara keduanya. Hal yang paling tidak mereka sukai.
"Jika terjadi sesuatu, segera hubungi aku," bisik Almeera yang mendapatkan anggukan kepala Humaira. "Aku akan menunggumu di Jakarta jika kamu sudah mengambil keputusan yang tepat."
~Bersambung
Akhirnya aku bisa bersama kalian di hari yang fitri ini lagi. Alhamdulillah dua kali lebaran bareng kalian dan aku merasa bersyukur sekaligus bahagia.
Disini aku memiliki teman dan keluarga baru. Je mau ucapin Taqaballahu minna wa minkum. Kalau ada salah kata dan ketika sengaja atau tidak yang menyakiti hati kalian. Je minta maaf sebesar-besarnya.
__ADS_1