
...Percayalah aku sedang memperbaiki hatiku sebelum mencoba memulai semuanya dari awal. Aku tak mau menyakiti wanita sebaik itu dan menjadikannya sebuah pelampiasan karena hatinya yang sedang tak baik-baik saja. ...
...~Jeno...
...🌴🌴🌴...
Jujur perkataan Syakir seakan mengganggu pikiran Jeno. Pria itu hanya diam dan berjalan di samping Syakir mengikuti dua wanita dan satu putra Syakir yang berjalan lebih dulu di depan mereka.
Pikirannya seakan terusik oleh ucapan ayah dari satu anak itu. Jeno menjadi berpikir bahwa dia baru saja diberikan restu oleh Syakir. Ya, dia diberikan restu untuk mendekati adiknya itu.
Mendekati wanita yang baru dua kali ia temui. Wanita yang memiliki kepribadian berbeda dari wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta.
Cinta pertamanya jatuh pada Humaira. Sosok pendiam dan pemalu. Namun, entah kenapa dia merasa kepribadian Sefira sekarang mampu membuatnya tertarik. Tertarik akan sifatnya yang berbeda dari yang lain.
Sefira lebih bebas mengapresiasikan dirinya. Sefira lebih aktif menyatakan apa yang sedang kurasakan. Hal itulah yang membuat Jeno bisa melihat bagaimana perasaan wanita itu dengan bebas. Bagaimana Sefira yang melakukan semuanya tanpa bebas. Tanpa keterdiaman. Apa yang ia suka maka ia lakukan. Apa yang tidak ia suka maka dia akan diam.
Jeno menatap punggung itu dengan lezat. Punggung wanita yang membuatnya tertarik secara instan. Jujur dulu saya menyukai Humaira dia tak secepat ini. Masih ada jeda waktu dirinya menaruh hati pada Humaira. Namun, sekarang berbeda sekali.
Ketika bersama Sefira. Jeno merasa ada sesuatu dari diri Sefira yang membuatnya penasaran dan tertarik untuk mendekatinya. Namun, Jeno hanya takut. Takut jika hatinya hanya mencari pelampiasan. Dia ingin menyembuhkan dan membuat hatinya yakin bahwa ia tak berharap lagi pada Humaira.
Dia tak mau menyakiti hati wanita yang tak pernah berpacaran. Dia tak mau menjadi pria jahat yang menyembuhkan luka hatinya dengan menyakiti hati yang lain.
"Tak perlu dipikirkan, Jen!" kata Syakir menepuk pundak Jeno yang membuat pria itu terkejut. "Pasrahkan saja semuanya pada takdir Tuhan. Kemana hatimu membawamu. Maka percayalah itu yang terbaik untukmu."
Pengalaman yang besar adalah hal yang membuat Syakir bisa sedewasa sekarang. Pengalamannya yang buruk di masa lalu, membuatnya tahu bagaimana menyikapi segala hal sekarang. Bagaimana dia bisa lebih peka oleh orang sekitarnya dan bisa menjadi pria yang lebih bisa menurunkan egonya sendiri.
"Ayo kita main. Kita habiskan waktu kita bersama putraku. Bukankah kau juga ingin melihat Jay bahagia?"
Jeno mengangguk. Apa yang dikatakan oleh Syakir memang benar. Dia begitu menyayangi bocah kecil yang sedang bergandengan tangan dengan ibunya. Dia menyayangi Jay tanpa melihat bahwa dia adalah putra dari Humaira.
Dirinya tulus menyayangi Jay. Dia tulus menerima anak itu dengan hatinya.
"Ayo!"
...🌴🌴🌴...
Syakir segera membayar uang untuk mengisi kartu bermain yang akan dipakai oleh mereka berlima. Entah umur keempatnya tak membuat mereka sadar bahwa ini adalah permainan anak kecil. Humaira, Sefira, Syakir dan Jeno tak kalah antusias dari Jay.
"Oke. Makasih ya, Mbak!" kata Syakir setelah dia menerima kembalian dirinya.
"Aku…"
__ADS_1
"Gak perlu bayar, Jen. Biarkan aku yang mentraktirmu malam ini!" kata Syakir yang tak mau membuat Jeno tak enak hati kepadanya. "Lain kali, kau yang mentraktirku. Oke?"
"Oke!"
Akhirnya mereka kini mulai berjalan bersama. Jay, bocah kecil itu meminta Syakir menggendongnya. Seperti bocah itu sedang kebingungan mencari permainan apa yang ingin dimainkan.
"Jay mau itu!" tunjuk bocah kecil umur 3 tahun ke sebuah permainan mobil yang bergerak di tempatnya.
Syakir tak menolak. Namun, sebelum dia pergi. Dia menatap mantan istri, adik dan Jeno.
"Kalian mainlah sepuasnya. Aku menemani putraku dulu. Oke!"
Syakir yang membeli dua kartu tentu membuatnya lebih mudah berpencar dengan adiknya itu.
"Ini dihabisin boleh beneran?" tanya Sefira mengangkat kartu yang ada di tangannya.
"Boleh!" balas Syakir lalu beranjak pergi menuju mainan yang diinginkan putranya itu.
Akhirnya ketiga orang itu mulai berjalan bersama. Sefira berhenti di permainan yang bisa membuatnya berjoget ke kanan dan ke kiri.
"Main ini. Gimana, Mai?"
"Boleh. Siapa takut!"
"Pak Jeno, mau nunggu disini. Saya…"
"Gak usah terlalu kaku, Mai. Mainlah bersamanya. Saya akan menunggu disini!"
Humaira mengangguk. Dia mengikuti apa yang sahabatnya itu lakukan. Dia melepaskan sepatunya sebelum naik ke permainan itu.
Sefira mulai bersiap. Begitupun dengan Humai. Sepasang sahabat itu saling bertos ria saat permainan hendak dimulai.
"Yang kalah traktiran. Oke?"
"Oke!"
Akhirnya dua wanita yang umurnya sama itu mulai bergerak. Mereka bergerak dengan bebas bahkan diringin dengan canda tawa yang tanpa sadar membuat Jeno iku menerbitkan sebuah senyuman. Senyuman tipis yang entah kenapa bukan ia tujukan untuk Humai.
Melainkan sejak tadi dia melihat sosok Sefira di matanya. Bagaimana wanita itu yang bergerak dengan bebas. Bergerak sesuai dengan acuan yang telah layar permainan itu berikan.
Tanpa sadar perhatian dan tatapan yang sejam tadi tertuju pada Sefira membuat Jeno menikmati pemandangan ini. Membuatnya lupa bahwa dua sahabat itu sudah bergerak dan bermain sebanyak lima kali.
__ADS_1
Humaira yang kelelahan dia mulai turun dari sana. Namun, berbeda dengan sahabatnya yang aktif. Sefira menggerutu karena Humaira menyerah.
"Ayo, Mai. Ih masak udah nyerah!" kata Sefira merayu.
"Aku udah capek loh!" balas Humai dengan nafas yang ngos-ngosan
Tenaganya berbeda dengan yang dulu. Mungkin karena ia telah melahirkan satu anak membuat tenaganya tak sekuat dulu.
"Ya. Padahal aku masih mau main!" kata Sefira yang terlihat bersedih.
"Kamu masih bisa main kok. Beneran!" kata Humaira yang membuat pandangan sedih Sefira lekas berubah.
"Gimana caranya!"
Humaira lekas menoleh ke arah dosen killernya itu. Dia tersenyum kecil saat Jeno menunjuk dirinya sendiri.
"Boleh ya, Pak. Temani sahabat saya main. Dia…"
"Mai. Astaga" pekik Sefira tak percaya.
"Udah gapapa. Pak Jeno orangnya santai. Mau ya, Pak?"
Humaira menatap penuh harap. Namun, entah kenapa dia tak mampu untuk menolaknya. Pria itu bahkan dengan sadarnya menganggukkan kepalanya.
"Iya."
"Nah. Ayo, Fir!" pekik Humaira menaikkan salah satu alisnya. "Kamu bisa mengalahkan Pak Jeno. Aku traktir apapun yang kamu mau. Deal!"
Mendengar syarat dari Humaira tentu membuat mata Sefira berbinar. Seakan dia mendapatkan harta karun. Seakan dia melupakan siapa lawan mainnya.
"Deal!"
Akhirnya Jeno kini mulai melepaskan sepatunya. Di berdiri di samping Sefira yang terlihat bertenaga kembali.
"Kalahkan Sefira, Pak. Aku yakin Pak Jeno menang!" pekik Humaira sambil menahan tawa saat rencananya berhasil.
Dia hampir meledakkan tawanya saat melihat sahabatnya itu mulai mengabaikan jika sosok yang disampingnya itu adalah dosen killernya. Sefira selalu begitu, jika mendengar traktiran maka dia lupa segalanya.
"Gak bakal bisa. Sefira yang akan jadi pemenangnya!"
~Bersambung
__ADS_1
Nah kan nah kan. Sefira dengan traktiran lupa diri. Gimana dosen killer main sama si bar bar. Bakalan mulai cair gak ya tu hati haha.
Kalau ada typo komen ya. Pasti kurevisi.