
...Setelah melewati banyak hal dalam hidup, hal itu pasti akan mengubah pandangan kita dalam menyelesaikan sebuah masalah dan menikmati hidup kita. ...
...~JBlack...
...π΄π΄π΄...
Hari ini, untuk pertama kalinya setelah pertemuan dengannya dan Rachel waktu itu. Kini Humaira akan ikut kedua orang tuanya lagi untuk menemui wanita itu. Ya, menurut Papa Hermansyah dan Mama Emili, Rachel yang meminta ingin dipertemukan sendiri dengannya.
Keadaan wanita itu sudah jauh lebih baik dari terakhir kali mereka bertemu. Ya, saran dari dokter dan atas kelapangan hati Humaira. Benar saja, ketika dirawat oleh kedua orang tuanya. Kesehatan Rach jauh lebih pesat.
Wanita itu bahkan tak pernah lagi mengamuk. Bahkan mengontrol emosi dan juga permintaan maaf dari keduanya yang langsung disampaikan pada Rachel membuat gadis itu benar-benar bisa melawan pikiran yang selalu membuatnya marah.
"Sayang! " Panggil Syakir dari dalam ruang ganti.
Humaira yang tengah mengganti pakaian Jay di dalam kamar spontan mendongak.
"Ada apa, Kak? "
"Baju kaos ku yang putih, dimana yah? " Tanya Syakir dengan suaranya yang terdengar jelas.
Humaira mengernyit bingung. Dia mengerutkan keningnya seakan dirinya juga belum paham kaos mana yang diinginkan oleh suaminya itu.
"Di lemari, Kak. Gak ada? " Tanya Humai yang memberikan minyak rambut untuk sentuhan terakhir pada tubuh anaknya itu.
"Iya gak ada. "
Jika sudah begini. Akhirnya Humai harus turun tangan. Jujur pernikahan mereka sudah berjalan selama empat hari. Dan ya, Humai merasakan perbedaan pada suaminya ini.
Syakir benar-benar berubah. Dirinya benar-benar manja pada Humai. Apapun itu, Syakir selalu bertanya pada istrinya. Meski itu penting atau tidak. Dibutuhkan atau tidak, Syakir selalu ingin istrinya yang melayaninya sendiri.
"Jay tunggu sini dulu ya. Ibu mau lihat Ayah, " Ucap Humai setelah penampilan anaknya selesai.
"Iya, Bu. "
Jay naik ke atas sofa yang ada disana. Di tangannya dia memegang dua mobil yang menjadi mainannya sejak tadi. Bocah itu tentu akan lupa dengan sekitarnya jika sudah mainan seperti ini.
Sedangkan Humai, wanita itu langsung berjalan menuju ruang ganti. Baru saja dia membuka pintu itu, tangannya langsung ditarik dari dalam dan pintu ruang ganti di tutup.
"Kakak! " Pekik Humai dengan membulatkan matanya.
Dia menatap suaminya yang hanya memakai handuk di bagian bawah dan tak memakai apapun atasannya. Dan yang membuat Humai terkejut bukan itu melainkan suaminya ini belum mandi..
__ADS_1
"Kak, kenapa belum mandi? Mama sama Papa pasti nungguin di bawah loh! " Kata Humai mengoceh. "Kita juga harus gantian mandinya, Kak. Ayo sana mandi! "
Humaira belum peka. Tubuh wanita itu masih disandarkan pada balik pintu yang sudah tertutup agar putra mereka tak melihat apa yang terjadi di dalam sana.
"Kak! "
Humaira yang tadi menunduk dan belum melihat mata suaminya itu akhirnya mendongak. Tatapan keduanya bertemu dan ya dirinya baru menyadari sesuatu.
Mata suaminya itu menatapnya dengan lekat. Tatapan penuh cinta itu bahkan jauh sangat terlihat sekarang dan juga jangan lupakan wajah penuh minat pada dirinya membuat Humai kesulitan menelan keduanya sendiri.
Ya dirinya baru menyadari sesuatu. Dia baru paham akan apa yang diinginkan suaminya itu.
"Kakak? "
"Sebentar saja ya, Sayang. Boleh? " Ucap Syakir dengan pandangan penuh harap.
Ah jika mode begini bagaimana Humai mau menolak. Keinginan Syakir sekarang mungkin efek semalam saat keduanya ingin melakukan itu. Jay menangis meminta tidur dengan keduanya.
Dan pada saat itu Syakir sudah konek. Tapi mau tak mau, dia harus menahannya dan melakukan solo karir di kamar mandi. Hal itu membuat kepalanya sakit tapi mau bagaimana lagi.
Putranya itu lebih dari segalanya dan dia rela mengalah untuk Jay. Dia rela menjadi kedua jika masalah putranya. Dia rela menjadi pilihan yang terakhir oleh istrinya jika itu menyangkut putranya.
Dia pernah memaki anaknya dalam kandungan. Mencaci maki Jay yang tak memiliki kesalahan padanya itu.
"Tapi jangan lama-lama ya, Mas. Jay kasihan dia nungguin di luar, " Kata Humai dengan pasrah.
Wajah yang tadinya penuh harap akhirnya mulai melebarkan senyumannya. Istrinya ini memang sangat pengertian. Secapek apapun dirinya, selelah apapun Humai.
Ketika Syakir meminta, Humai tak pernah menolaknya sedikitpun. Hal itulah yang membuat Syakir tak pernah memaksa. Apalagi jika melihat istrinya kelelahan menjaga Jay. Maka dia tak akan memintanya.
Wajar saja. Syakir merasa dirinya seperti merasakan masa remaja kembali. Jatuh cinta, dimanja, dilayani dengan baik dan disayang oleh dua orang yang begitu menghargainya.
Kehadiran Humai dan Jay benar-benar membuat hidup Syakir berubah. Dirinya merasa jauh lebih baik menjadi seorang manusia dan jauh lebih semangat melakukan segalanya.
Dengan pelan, Syakir akhirnya mulai menyesap bibir istrinya itu. Keduanya tak memiliki waktu yang banyak untuk melakukan ini. Mereka juga ditunggu oleh Mama Emili dan Papa Hermansyah hingga membuat Syakir harus melakukan segalanya dengan cepat.
...π΄π΄π΄...
Akhirnya setelah melakukan hal gila yang super cepat. Kelimanya mulai berada di gedung tempat dimana Rachel berada. Ya, setelah drama manja dan super cepat hingga Papa Hermansyah yang geleng-geleng kepala melihat kepala anaknya basah.
Membuat keduanya menjadi bahan bully orang tua Humai sendiri. Keduanya lupa jika Mama Emili dan Papa Hermansyah jauh lebih paham masalah seperti ini. Ingin mengelak pun tak akan bisa.
__ADS_1
"Sayang, " Rengek Syakir yang memegang tangan istrinya.
Humai sejak tadi memang diam. Bukan karena dia marah pada Syakir. Tapi jujur dirinya malu pada kedua orang tuanya. Kejadian tadi membuat pipi Humai memerah ketika mengingatnya.
Dia merasa bersalah juga membuat orang tuanya menunggu hampir sejam lebih. Tapi mau bagaimana lagi. Daripada dia kasihan pada suaminya. Kepala Syakir yang sakit. Lebih baik diam mengalah.
"Diem, Kak! " Kata Humai menggenggam tangan Syakir.
"Kamu marah sama aku? " Tanya Syakir dengan pelan.
Kedua orang tua Humai ada di depan mereka dengan Jay dalam gendongan papanya. Sedangkan Humai dan Syakir ada di belakang.
"Nggak! " Balas Humai tanpa menoleh.
"Tapi⦠"
"Aku hanya malu, Sayang," Ucap Humai yang akhirnya memilih jujur.
Ya, Humai sadar dirinya akan terus ditanya jika tak mengatakan alasannya. Dia tak mau Syakir berpikir dirinya tak rela melayaninya. Padahal sebenarnya dia hanya merasa malu.
"Lain kali jangan seperti tadi oke! " Kata Humai pada suaminya itu. "Kasihan Mama sama Papa harus nunggu, Sayang. "
Syakir sepemikiran dengan istrinya. Dia juga merasa bersalah saat turun ke lantai pertama, kedua mertuanya sudah siap.
Akhirnya langkah kaki mereka mulai berhenti tepat di depan ruangan Rachel. Entah kenapa jantung ibu satu anak itu berdetak kencang. Humai merasa gugup.
Bukan takut, hanya saja dia takut kehadirannya membuat Rachel tak nyaman. Dia takut dengan adanya dia membuat Rachel mengamuk lagi.
Bagaimanapun kenyamanan Rachel yang utama menurut Humai. Dia tak mau membuat gadis itu lebih tertekan karena kehadiran dirinya.
"Ayo! "
Perlahan Papa Hermansyah mulai membuka pintu rumah rawat Rachel. Dan saat pintu itu terbuka sempurna. Akhirnya Humai bisa melihat wanita itu. Melihat wanita yang berdiri di dekat jendela. Tanpa ikatan tangan, tanpa ikatan kaki dan juga penampilannya jauh lebih manusiawi sebelum terakhir dirinya datang kesini.
Mama Emili berjalan lebih dekat. Sedangkan Humai, menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar. Dirinya masih takut jika Rachel akan kembali kambuh ketika melihat dirinya.
"Assalamu'alaikum, " Sapa Mama Emili yang membuat Rachel membalikkan tubuhnya.
~Bersambung
Ah akhirnya otw selesai yekan. Hihi otw ketemu Sumber masalah yakan. Bismillah 3 bab lagi hari ini.
__ADS_1