
...Percayalah tak selamanya orang jahat itu akan berbuat jahat. Pasti ada sedikit perbuatan baik dalam dirinya yang masih tertutupi dengan sebuah rasa sakit hati....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Suara teriakan Syakir tanpa sadar membuat Papa Hermansyah menoleh. Dia mendengar dengan jelas suara pria yang sangat familiar di telinganya. Apalagi ketika dia menatap ke arah pintu, sekilas dia melihat sosok Syakir sebelum pria itu berlari.
"Syakir," lirihnya yang membuat perasaan Papa Hermansyah tak enak. "Sebentar ya, Dokter. Saya permisi."Â
Papa Hermansyah segera keluar. Dia juga menyusul ayah kandung cucunya itu saat Syakir masih bisa dijangkau oleh langkah kakinya.Â
Perasaannya mulai tak tenang. Pikirannya langsung tertuju pada putri tunggalnya itu. Apa Humaira melihat semuanya. Apa putrinya itu datang melihat bagaimana sosok Rachel sekarang.
"Sayang!" panggil Syakir tak menyerah.
Dia sendiri tak tahu jika mertuanya itu mengejar dari belakangnya juga. Sekarang yang ada dalam fokusnya hanya Humai. Hanya mantan istrinya yang terlihat begitu terluka setelah melihat semuanya.Â
"Sebenci itu Rachel padaku," lirih Hunai dengan berlari tak tahu arah.Â
Dia tak peduli jika beberapa suster melihatnya. Bahkan banyak orang yang sama memiliki gangguan jiwa berkeliaran di sana dan melihat ke arahnya.Â
"Sayang." Akhirnya Syakir bisa meraih tangan wanita yang dicintai itu.Â
TanPa kata dia menarik tangan Humai dalam pelukannya. Syakir memeluk tubuh yang terlihat lemah itu. Dia bahkan membiarkan mantan istrinya menangis dalam pelukannya.
"Rachel, Kak. Rachel…" lirih Humai dengan memegang kedua sisi pinggang Syakir.
Dia menangis lebih hebat dari tadi. Dirinya bisa melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana keadaan Rachel sekarang.
Bahkan teriakan teman kampusnya itu terngiang jelas di kedua telinganya. Benar-benar perasaan Humai tak bisa dijabarkan ketika Rachel menunjukkan kebenciannya yang begitu mendalam.
"Sebenci itu dia padaku, Kak!"Â
Jujur apa yang dirasakan oleh Humai membuat Syakir sakit juga. Dia tak tega melihat wanita yang dicintai menangis seperti ini. Namun, Syakir juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Humai. Kebencian Rachel sangat tergambar jelas dari teriakannya.Â
Bahkan kebencian itu begitu menggetarkan siapapun yang mendengarnya.Â
__ADS_1
"Humai!" lirih Papa Hermansyah yang membuat pelukan itu terlepas.Â
Syakir membalikkan tubuhnya dan hal itu membuat Humai bisa melihat sosok ayahnya yang berdiri di dekatnya. Dia juga bisa melihat ekspresi papanya yang mengandung kesedihan.
Dia juga bisa merasakan papanya yang menyayangi Rachel. Namun, cara penyampaiannya saja yang berbeda menurutnya.Â
"Sejak kapan Humai disini?"Â
"Sejak tadi. Sejak Papa berdiri di depan pintu kamar Rachel lalu masuk ke kamarnya," ujarnya yang membuat tubuh Papa Hermansyah menegang.Â
"Jadi…"Â
"Ya. Humai mendengar semuanya, Pa. Humai mendengar semuanya!" serunya yang membuat Syakir mengusap punggung Humai.Â
Dia tahu pasti ada perasaan marah dalam diri Humai. Marah pada papanya yang tak jujur dengannya. Marah karena kelalaian papanya yang membuat kehidupan salah satu anak hancur oleh tingkahnya.
"Kita cari tempat lain, Sayang. Disini lihatlah, banyak orang," bujuk Syakir yang membuat Humai menatap sekeliling.
Apa yang dikatakan oleh mantan suaminya benar. Dia menahan semua yang ingin ia katakan. Humaira menarik nafasnya begitu dalam dan menghembuskannya agar emosinya menurun dan dirinya sedikit tenang.Â
"Kita bicara di depan saja, Pa. Ada sebuah cafe di sana," ajak Syakir pada papa mertuanya.
...🌴🌴🌴...
Ya, ketiganya kini duduk saling berhadapan. Tak ada yang berbicara sejak tadi. Seakan antara Humai ataupun Papa Hermansyah masih diam sampai pelayan itu mengantarkan pesanan mereka.Â
"Syakir akan pindah di sebelah agar Om dan…"Â
"Kakak disini," pinta Humai menahan tangan Syakir.Â
Dia menatap pria itu penuh harap dan Syakir bisa merasakan perasaan wanita yang dicintai itu sedang rapuh. Syakir menghentikan niatnya. Dia membalas genggaman tangan Humai dan kembali duduk.Â
Dia tahu mantan istrinya ini butuh kekuatan. Dia tahu perasaan Humai saat ini bimbang.Â
"Papa sudah melihatnya, 'kan? Bagaimana akibat dari perbuatan, Papa?" tanya Humai menatap papanya dengan terluka.
Jujur sebelumnya dia sangat bahagia. Bahagia bisa dipertemukan oleh orang tuanya lagi. Bahkan dia begitu senang saat menemukan bahwa dia masih memiliki sosok orang tua lengkap.Â
__ADS_1
Kehidupannya sempurna. Bahkan meski masalah dengan Syakir menerjangnya dia bisa berdiri kokoh atas support mama dan papanya. Namun, tanpa ibu satu anak itu tahu. Ada satu hati yang ia sakiti. Ada kehidupan seorang anak yang direnggut kebahagiaannya.Â
"Papa melihat semuanya, Sayang. Papa menyesal," lirih Papa Hermansyah menunduk.Â
"Apa yang harus Papa lakukan sekarang? Apa yang akan Papa perbuat?" tanya Humai pada Papanya.
Dia tak tahu apa yang saat ini ada dalam pikiran papanya. Namun, Humai berpikir semua pertanggungjawaban ada dalam diri papanya ini.Â
Papa Hermansyah menarik nafasnya begitu dalam. Dia tahu apa yang dimaksud putrinya ini.
"Papa akan diam di Malang untuk beberapa waktu. Papa akan menemani Rachel disini," kata Papa Hermansyah menjawab dengan menatap ekspresi wajah anaknya.Â
Dia tahu ada hati anaknya yang terluka. Anak yang baru bertemu dengannya harus mendapatkan luka baru darinya.Â
"Itu pilihan yang bagus, Papa," sahut Humai dengan tersenyum. "Papa harus bertanggung jawab."Â
"Lalu bagaimana dengan Humai?" tanya Papa Hermansyah yang membuat senyum Humai perlahan luntur.
"Humai akan menunggu kedatangan keluarga baru. Humai juga berharap Mama ada disini dan membantu, Papa. Mungkin dengan kehadiran Mama dan Papa, Rachel bisa sembuh total."Â
Lihatlah anak yang dulu dia serahkan pada orang lain. Anak yang dulu dengan berat dia dapatkan dan harus menanggung semuanya. Â
Papa Hermansyah tahu jika jawaban itu dari hati Humai. Dia tahu anaknya pernah merasakan bagaimana kekurangan kasih sayang orang tua. Papa Hermansyah yakin Humai memposisikan dirinya pada sosok Rachel.
"Humai bukannya sok baik, Papa. Tapi Humai pernah ada di posisi Rachel. Bahkan dengan nyata kami berdua dibandingkan," ujar Humai membuka luka lama.Â
Mungkin sebagian orang menganggap Humai terlalu baik tapi percayalah. Seorang anak broken home memiliki perasaan yang sensitif. Dia juga bisa merasakan bagaimana ada di posisi anak broken home yang lain.Â
"Hubungan Rein denganku memang baik, Papa. Tapi aku juga ingin hubungan kami berdua tak sembunyi di hadapan Almarhum Ibu Shadiva," lirih Humai melanjutkan. "Humai dulu ingin disayang. Humai bahkan ingin merasakan diberi uang lebih oleh Ibu. Tapi ternyata itu cuma angan-angan. Humai harus mencarinya sendiri setelah ayah meninggal."
Humai menunduk. Dia menepis air mata yang mengalir tanpa permisi. Luka lama itu memang menyakitkan. Namun, bisa Humai buat pelajaran agar dia tak mengulangi kesalahan kedua.Â
Dia tak mau anaknya mengalami hak yang sama. Dan sekarang dia juga tak mau membuat orang tuanya bersikap jahat seperti orang tua angkatnya dulu.Â
Dengan pelan dia mengulurkan tangannya. Meraih tangan papanya yang ada di atas meja.Â
"Bantu Rachel sembuh, Pa. Humai yakin ada kebaikan dalam dirinya meski itu sedikit," ujar Humai dengan penuh harap. "Dan Mama, aku akan menghubunginya untuk datang kesini menemani, Papa."Â
__ADS_1
~Bersambung
Kalau anak broken home, pasti tahu perasaan Humai. Dan ya, sebelum aku nulis kisah ini. Karakter Humai aku ambil dari teman aku sendiri. Jadi sikap baiknya sama orang itu bukan karakter fiksi yang aku ngada-ngada. Tapi emang sikap baik orang itu ada dan tak semua orang bisa melakukannya.