
...Hidup manusia itu tak selamanya ada di atas. Akan ada masa dimana kamu diuji untuk berada di bawah. Mencoba menjalani kehidupan yang benar-benar berbeda dari kehidupan sebelumnya. Namun, percayalah apa yang kamu lakukan akan menjadi sebuah pelajaran untuk masa depan yang lebih indah....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Sayang, tolong ambilkan popoknya Jen! " Teriak seorang wanita yang tengah memegang kedua kaki putri kecilnya.
"Iya, Sayang, " Sahut pria yang tengah berada di ruang ganti.
Dia lekas berjalan dengan cepat lalu segera menyerahkan apa yang diminta istrinya itu. Dengan pelan, pria itu merebahkan dirinya di samping sangat putri dan mencuri satu kecupan di pipinya yang montok.
"Jen kamu bau, " Bisik Syakir yang bersamaan dengan anak itu merengek seperti ingin menangis.
"Kak, " Seru Humai memperingati.
Dia mencubit kaki suaminya dan membuat Syakir mengaduh kesakitan.
"Lihatlah Ibumu, Nak. Dia bahkan sering mencubit Ayah sekarang, " Adu Syakir pada Jen yang mulai bermain dengan jari jemarinya sendiri.
"Mangkanya suka banget sih, usil sama anak sendiri, " Kata Humai dengan cemberut.
Syakir terkekeh. Namun, apa yang dikatakan oleh istrinya memang benar. Semenjak kelahiran Maisya hidupnya semakin berwarna. Keberadaan Humai dan kedua anaknya benar-benar membuat hidupnya teramat sempurna.
Tak ada lagi kesedihan dalam hidupnya. Hanya ada canda dan kebersamaan di rumah besar ini. Berbeda keluarga tapi semuanya bisa berkumpul bersama.
"Apa hari ini kita jadi pergi? " Tanya Humai sambil beranjak turun dari ranjang.
"Jadi, Sayang, " Sahut Syakir lalu menatap putrinya yang sudah berubah tempat.
Maisya, bayi kecil itu sudah bisa tengkurap dengan mengangkat kepalanya. Usia bayi manis itu sudah berjalan dua bulan.
Tak terasa waktu beradaptasi terlewat kan dengan sempurna oleh Syakir. Begadang, bergantian menjaga Maisya lalu menjadi sosok pria yang belajar banyak hal mengurus bayi dilakukan oleh Syakir dengan begitu tulusnya.
"Kamu mau ikut pergi, hmm? " Tanya Syakir pada Maisya yang sudah hendak mengemut jempol kecilnya. "Mau ngempeng tangan kamu kan? "
Syakir lekas meraih putrinya itu dan membawanya beranjak dari ranjang. Dia menggendong putrinya dengan menatap ke depan tepat di depan cermin.
__ADS_1
Ayah dan anak itu saling menatap pantulan diri mereka. Berpose ke kanan dan ke kiri lalu Syakir menyukai rambutnya ke belakang dengan gaya keren.
"Ayah masih kelihatan muda, 'kan, Jen?" Tanya Syakir sok keren.
"Muda apanya? Rambutnya?" Celetuk Humai dari ruang ganti.
Syakir terkekeh. Istrinya selalu menjawab seperti itu jika dirinya negitu pede mengatakan bahwa ia masih sangat muda.
"Ibuku itu memang iri sama Ayah. Dia takut kalau Ayah kelihatan muda nanti banyak yang suka sama Ayah! " Bisik Syakir lalu mencuri satu kecupan di pipi putrinya.
Maisya yang masih tak tahu apapun hanya bisa menggerakkan tangan dan kakinya dengan mulut mengoceh. Syakir lekas membawa putrinya keluar kamar dan berjalan menuju lantai pertama.
Saat keduanya sampai di tangga terakhir. Suara tangisan bayi terdengar sangat kencang. Hal itu tentu membuat Syakir yang hendak ke ruang tamu memutar tubuhnya menuju kamar dimana adik perempuannya berada.
Syakir mengetuk pintu terlebih dahulu karena dirinya takut mengganggu adik dan adik iparnya.
"Masuk! " Seru suara dari dalam.
Syakir membuka pintu kamar itu dan melihat adiknya yang sedang kerepotan menggendong bayi mungil yang usianya berbeda satu bulan dengan Maisya.
Dia melihat adiknya kesusahan menenangkan bayi mungil tampan itu. Ya, anak pertama pasangan Sefira Jeno berjenis kelamin laki-laki. Keduanya menamai bocah tampan dengan perpaduan Jeno yang melekat dengan nama Fino Shankara.
Nama yang diberikan oleh Jeno sendiri atas penggabungan namanya dengan sang istri. Nama yang dia ambil dan dia harapkan semoga menjadi jadi anak yang sukses di masa depan.
"Gak tau, Kak. Dari tadi dia nangis terus, " Kata Jeno dengan mengusap keringat di dahi istrinya.
Syakir yang tak tega tentu perlahan mendekat.
"Tolong pegang Baby Jen dulu. Aku akan membantu istrimu, " Ujar Syakir yang membuat Jeno segera meraih Baby Jen dan mengangkatnya hingga anak itu terkekeh seakan tau jika diajak bercanda.
"Kemarikan, Giska. Biarkan Kakak yang menggendong Fino, " Ucap Syakir dengan pelan.
Sefira yang tak tahu harus melakukan apa akhirnya menyerahkan putranya pada kakaknya itu. Syakir dengan pelan menggendong Fino dan mulai mengayun tubuhnya serta membawanya keluar dari kamar.
"Ada apa, Syakir? Kenapa sama Fino? "
"Gapapa, Ma. Mungkin dia hanya bosan di rumah, " Ujar Syakir dengan berusaha menenangkan bayi itu.
__ADS_1
Tak lama tangisan itu reda. Fino, bayi mungil itu mulai tenang dalam gendongan Syakir. Bahkan matanya mulai terpejam dan menandakan dia sepertinya mengantuk.
"Sepertinya dia mau tidur tapi bosan di dalam kamar, " Kata Syakir yang masih mengayun Fino yang mulai terlelap.
Sefira merasa lega dalam hatinya. Dia sejak tadi sudah berusaha menenangkan bayi itu. Maklum saja, orang tua baru dan masih butuh banyak belajar membuat semua orang tak menyalahkan. Mereka memahami bagaimana di posisi Sefira dan Jeno.
"Kalian sudah berkemas? " Tanya Mama Ayna pada putrinya.
"Sudah, Ma. Tinggal ganti baju aja, " Jawab Sefira dengan jujur.
"Yaudah. Ayo cepat siap-siap. Setelah itu kita segera pergi sebelum semakin siang. "
...🌴🌴🌴...
Suasana pantai yang sejuk dan segar menjadi pemandangan pertama untuk keluarga besar Humai, Syakir dan Jeno. Semua orang akhirnya memilih berkumpul di pantai ini.
Pantai Sokcho adalah salah satu pantai yang paling terkenal di Korea Selatan. Dipredikat sebagai pantai cantik dan bisa dinikmati dengan pemandangan hutan pinus yang menghiasi pesisir pantai.
Pantai Sokcho yang terletak di Sokcho-si, Gangwon-do, Korea Selatan ini menawarkan berbagai macam fasilitas menarik sehingga pantai ini cocok untuk dijadikan spot wisata bersama teman, keluarga, maupun kekasih. Lokasinya yang strategis dengan tempat-tempat wisata lain membuat Pantai Sokcho selalu dipadati wisatawan.
Hal itulah yang membuat Reyn merekomendasikan pantai ini pada kakaknya. Ya, pria muda itu juga ikut serta dengan liburan kali ini. Reyn sudah tak kembali ke asrama lamanya. Dia akan direkrut oleh Asrama baru dalam ikatan internasional karena lomba yang dia menangkan membuat Korea bangga padanya.
"Kak, " Panggil Reyn pada Humai yang saat itu tengah menggendong Maisya sambil menatap Syakir dan Jay yang sedang bermain pasir pantai.
"Ya, Dek? " Sahut Humai dan menatap adiknya yang sudah dewasa duduk di dekatnya.
"Kapan Kakak kembali ke Indonesia? " Tanya Reyn dengan mengusap kepala Baby Jen dengan lembut.
"Kakak belum tau tapi mungkin Kakak akan menunggu Mbak Merra sama Mas Bara yang ingin menyusul kita kesini untuk menengok Jen dan Fino, " Ujar Humai menjelaskan. "Kenapa kamu tanya itu? Apa kamu ingin pulang ke Indonesia? "
Terlihat wajah Reyn seakan ragu untuk menjawab. Namun, Humai yang sangat mengenal adiknya tentu tahu gelagat aneh tersebut.
"Apa kamu masih ingin berada disini? " Tanya Humai pelan dan membuat kepala Reyn terangkat.
~Bersambung
Cie aku yakin ada yang kepo apa kisah Reyn, haha. Kaburrr
__ADS_1