Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Tanggal Pernikahan


__ADS_3

...Tak pernah terbayang dalam kepalaku jika hari yang dulu ingin ku ulangi kini tinggal menghitung hari untuk kembali merasakannya lagi. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Ternyata kesempatan itu bisa datang untuk kedua kalinya pada orang yang mau berubah. Ternyata hal yang dulu pernah ada dalam bayangan, pernah kita impikan bisa saja terwujud meski harus melalui banyak hal.


Kesakitan, luka dan rasa kecewa terus bermunculan. Namun, ternyata untuk orang yang hebat dan kuat menjalaninya. Tak ada kata menyerah dia akan terus belajar untuk menerima takdirnya.


Hingga apa 8yang tak ada dalam pikirannya kini terwujud. Apa yang dulu dia inginkan, kini sudah ada di depan mata.


Wajah seorang wanita tersenyum manis tatkala dia melihat penampilannya di depan cermin. Sebuah riasan sederhana menempel di wajahnya dengan sempurna. Bibirnya terus tersenyum begitu lebar saat mengingat apa yang akan dia lakukan nanti.


"Terima kasih, Tuhan. Sudah memberikan kesempatan untuk Kak Syakir berubah dan memperbaiki semuanya, " Lirih Humai sambil memutar tubuhnya ke samping kanan dan kiri.


Tak lama, suara teriakan seorang anak kecil dan bersamaan dengan pintu kamar yang dibuka membuat Humai menoleh. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis saat melihat penampilan putranya yang sudah tampan dengan baju terbaiknya.


"Ibu, Jay punya baju baru," Teriak anak itu dengan menunjukkan pakaiannya.


"Wahh. Siapa yang beliin? " Tanya Humai dengan beranjak mendekati putranya dan dia berjongkok.


"Ante Fira, Ibu."


Humaira mengacungkan dia jempolnya. Celana pendek jeans dengan kemeja membuat penampilan Jay sangat terlihat formal. Namun, wajahnya yang tampan dan perpaduan Syakir sangat membuat anak itu terlihat begitu menggemaskan.


"Bajunya bagus. Jay makin tampan," Puji Humai yang membuat Jay menepuk dadanya pelan.


"Kata Ante Fira juga. Jay tampan, Bu. Katanya kalau sudah besar. Jay banyak disukai cewek, " Celoteh nya yang membuat Humai membulatkan kedua matanya.


Astaga ternyata mulut sahabatnya itu masih sama. Sama-sama membuat otak anaknya terus berpikiran semakin dewasa. Rasanya Humai ingin memukul bibir adik mantan suaminya itu.


"Iya tapi nanti. Kalau Jay sudah besar, " Kata Humai menjelaskan. "Sekarang Jay masih kecil. Jadi hanya Ibu, Nenek, Oma dan Ante yang sayang sama Jay. Okey? "


"Oke, Ibu. "


Tak lama pembicaraan keduanya terhenti saat Mama Emili datang dengan pakaiannya yang terbaik juga. Wajahnya tak bisa menutup rasa bahagia saat melihat anaknya kini akan mengulang kisah kehidupannya lagi.


Mungkin dulu dia tak ada. Mungkin dulu masalah telah membuatnya gila. Namun, sekarang dirinya merasa bersyukur ketika Tuhan memberikan kesembuhan padanya.

__ADS_1


"Sudah siap? " Tanya Mama Emili yang membuat Humai beranjak berdiri.


"Sudah, Bu. "


Mama Emili mengusap pipi putrinya. Tanpa sadar air matanya menetea di sudut matanya. Dia tak menyangka jika kini akan menemani putrinya menempuh kehidupan barunya lagi. Dia tak menyangka bisa membuat jadi saksi hidup putrinya untuk menikah kembali.


"Ibu berdoa semoga semuanya lancar dan kamu akan terus bahagia, Nak, " Lirih Mama Emili yang membuat mata Humai berkaca-kaca.


Dia selalu seperti ini ketika membahas hal ini. Entah kenapa ucapan mamanya membuat Humai sadar bahwa sebentar lagi mereka akan berpisah. Bahwa sebentar lagi mereka tak akan tinggal bersama.


"Ibu, " Lirih Humai memeluk ibunya dengan pelan. "Aku sayang, Ibu. Ibu sehat terus yah. "


Mama Emili tersenyum. Dia menepuk punggung putrinya yang mulai bergetar.


"Jangan nangis. Nanti riasan kamu ilang loh! " Goda Mama Emili yang membuat Humai melepaskan pelukannya.


Dia meraih tisu yang ada di meja rias lalu mentap-tap beberapa bagian yang terkena air mata.


"Nanti Humai bisa pasang lagi, " Jawab Humai yang membuat Mama Emili menggeleng.


"Ini hari bahagia kamu, Sayang. Jangan menangis biar Mama gak sedih buat ngelepasin kamu. "


Namun, percayalah darah lebih kental dengan air. Sejauh apapun mereka dipisahkan. Pasti akan bertemu jika Tuhan sudah berkehendak. Sesulit apapun musibah yang mereka jalani, semua pasti mudah teratasi ketika para hambanya yakin pada takdir Tuhan yang direncanakan.


"Ini tangisan bahagia, Bu. "


"Baiklah. Ayo kita turun! " Ajak Mama Emili yang membuat Humai mengangguk.


Ibu dan Anak itu saling bergandengan tangan. Sedangkan Jay, pria kecil itu berjalan di depan ibu dan neneknya. Ketiga orang itu mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar.


Wajah bahagia terus tersemat di wajah tiga orang itu. Senyuman lebar terlihat begitu nyata.


"Apa Keluarga Kak Syakir sudah datang, Ma? "


"Ya, Sayang. Mereka pasti sudah sampai. "


Satu per satu anak tangga mulai Humai, Jay dan Mama Emili lewati. Dari lantai yang Humai pijaki, matanya langsung tertuju pada pemandangan di ruang tamu.


Keluarga inti Syakir telah datang kesana. Mata Humai semakin menatap ke sekeliling hingga pandangannya terfokus pada kedua manik mata Syakir.

__ADS_1


Wajah bahagia dan cinta yang begitu besar saling mereka gambarkan dalam pandangan. Bahkan Humai sampai berjalan tanpa melihat langkah kakinya lagi. Seakan tatapan mata Syakir sangat membuatnya terhipnotis hingga diringa berhasil turun dan mulai mendekati keluarga calon suaminya.


"Mama, Papa, " sapa Humai lalu mencium punggung tangan Mama Ayna dan Papa Haidar.


"Kamu sangat cantik, Sayang, " Puji Mama Ayna yang membuat pipi Humai bersemu merah.


Dia yakin wajah malunya tak akan terlihat karena dia menutupinya dengan baik menggunakan bedak. Bergantian dia juga memeluk dan menciun kedua pipi Sefira serta terkahir bergantian bersamaan dengan dosen killer nya itu. Yang tak lain dan tak bukan adalah Jeno.


"Kemarilah, Nak! " Kata Papa Hermansyah yang membuat Humai mengangguk.


Akhirnya dua keluarga itu kini duduk berhadapan. Dengan Jay, bocah kecil itu duduk di samping papanya. Wajah keduanya yang sangat sama dengan jarak usia yang berbeda jauh seperti pinang dibelah dua.


Jay benar-benar Syakir dua. Tak ad ayang berbeda dari keduanya. Hanya bedanya Syakir versi dewasa dan putranya versi kecil.


"Sayang, " Kata Papa Hermansyah memulai. "Syakir dan keluarganya datang kesini untuk menentukan tanggal pernikahan kalian."


Humai mengangguk. Dia menatap wajah Syakir yang terus menatap ke arahnya dan membuat Humai menunduk malu.


"Iya, Pa. "


"Apa kamu siap. Jika pernikahan kalian akan dilaksanakan tiga hari lagi? "


Humaira spontan mendongak. Dia terkejut luar biasa. Tak menyangka jika Syakir melakukan semuanya dengan cepat.


"Humai… " Jeda ibu satu anak itu yang masih bingung.


"Apa kamu masih ragu padaku, hmm? " Tanya Syakir menatap wajah calon istrinya dengan lekat. "Aku tak mau menunda terlalu lama, Sayang. Aku ingin kita segera kembali melakukan ijab kabul dan mungkin untuk resepsi besarnya. Kita cari waktu setelah acaramu di Korea selesai. "


Humaira tak menyangka jika Syakir telah menyiapkan semuanya. Namun, hatinya tak bisa berbohong. Dirinya juga ingin segera kembali bersama dengan Syakir. Dirinya ingin mereka segera halal sebelum sesuatu terjadi di antara merek berdua.


"Bagaimana, Nak? "


Humaira menarik nafasnya begitu dalam sebelum menjawab. Dia berdoa semoga apa yang dia putuskan sekarang akan menjadi hal baik untuk keduanya.


"Ya. Humaira siap, Pa. Tiga hari lagi Humai siap melakukan pernikahan kembali dengan Kak Syakir."


~Bersambung


Aww next bab halal gak nih? haha. Nikahnya gak barengan takutnya entar pada sesak nafas kalau dua duanya bucin barengan.

__ADS_1


__ADS_2