
...Aku tak berharap adanya pertemuan kedua tapi pertemuan yang pertama yang berkesan mampu membuat diriku menginginkan pertemuan yang lain. ...
...~Sefira Giska Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
"Om Jeno baru datang juga?" Tanya Jay dengan mengulurkan tangannya dan meminta pria muda itu menggendong.
Jeno yang mulanya menatap Sefira kini beralih. Dia menundukkan wajahnya lalu meraih Jay ke dalam gendongannya.
"Iya. Om baru dateng. Kamu juga?"
Kepala mungil itu mengangguk. Dia melingkarkan tangannya di leher Jeno dengan bibir tersenyum begitu cerah.
"Iya. Tadi macet. Jadi Ante Fira pelan-pelan," celotehnya yang membuat Jeno menatap Sefira lagi.
Jujur rasanya Adik Syakir itu ingin menenggelamkan dirinya ke dasar air. Rasanya dia malu berdiri di hadapan pria yang sudah dia omelin karena tingkahnya.
Tanpa tahu siapa dirinya, siapa sosok yang menyerobot parkirnya, yang terpenting dia mengeluarkan segala unek-uneknya yang memang benar.
Apa yang dilakukan Jeno memang salah. Pria itu bisa mencelakai orang lain jika memarkirkan mobilnya seperti itu.
"Maafkan saya. Saya mengaku salah telah mengambil area parkir Anda," Kata Jeno memuliakan pembicaraan dan membuat jantung Sefira berdetak kencang.
Entah kenapa suara dingin itu terasa menusuk sampai hati. Apalagi ketika Humai memberanikan diri mendongak. Tatapan tajam tanpa sengaja terlihat oleh Sefira.
Kedua mata itu saling menatap dalam diam. Seakan keduanya saling menikmati dan menyelami satu dengan yang lain.
"Saya sedang terburu-buru," Lanjut Jeno yang membuat Sefira mulai tahu bahwa pria di depannya ini menyesal dan mengakui bahwa dia salah.
"Lain kali kalau bawa mobil hati-hati. Untung saya tekan rem cepat. Kalau nggak? Pasti terjadi sesuatu sama kami bertiga!" Entah keberanian dari mana, Sefira mengeluarkan pendapatnya.
Mungkin karena Jeno bukan pria yang berkilah dari masalahnya. Pria itu adalah satu di antara seribu lelaki yang mau mengakui akan kesalahan yang dia perbuat. Hal itu adalah perbuatan yang langkah. Biasanya para lelaki akan egois tapi berbeda dengan Jeno.
Dan itu menjadi sesuatu nilai spesial dimata Sefira.
"Saya mengerti. Saya berjanji akan hati-hati dan tak akan mengulanginya lagi," Kata Jeno dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Jay yang ada dalam gendongan Jeno hanya mampu melihat percakapan keduanya. Sedangkan Humai, wanita itu sejak tadi rasanya ingin menahan tawa.
Menurutnya Sefira adalah wanita yang bar-bar memang. Dia selalu berani jika dirinya benar. Tak pandang bulu dia melawan siapa, berhadapan dengan siapa. Jika menyangkut keamanan dia akan maju di garda terdepan.
"Jangan berjanji pada saya. Saya bukan siapa-siapa Anda. Lebih baik Anda mengingat dengan sungguh agar hal seperti ini tak terulang lagi!" Ujar Secara dengan tegas dan tak main-main.
Jeno menganggukkan kepalanya. Entah apa yang dia rasakan. Namun, melihat bagaimana Sefira yang mengomel. Bagaimana wanita itu yang tegas melawan dirinya.
__ADS_1
"Saya pamit pergi dulu," Ujar Jeno yang memang sedang terburu-buru. "Om pergi ya, Jay!"
Jay turun dari gendongan dosen killer itu. Bocah kecil itu mengangguk dan melambaikan tangannya.
"Hati-hati ya, Om."
"Iya."
"Saya pergi dulu, Mai!" Kata Jeno menatap sosok wanita yang masih ada dalam hatinya. "Dan buat Anda, Ante Firanya Jay. Semoga kita bisa bertemu lagi dengan pertemuan yang lebih baik dari ini."
Tanpa menunggu jawaban Secara. Jeno sudah berjalan meninggalkan mereka dengan tas ditenteng di tangan kirinya. Pria itu memang terlihat begitu tergesa dan membuatnya secara kilat langsung tak terlihat oleh mereka.
"Wah wah. Sahabatku emang paling gila! Badas banget nih!" Goda Humai sambil mencubit kedua pipi Sefira yang terlihat cemberut.
Sefira menggerutu. Dia menepis tangan sahabatnya itu dari pipinya dan mendelik kesal. Rasanya seperti karma karena dia banyak menggoda kakak kandungnya dan sahabatnya ini. Namun, kenapa balasannya cepat sekali.
"Sana berangkat! Gak usah banyak bantah ntar aku semprot juga. Mau?" Seru Sefira yang sebenarnya sedang menutupi rasa malunya.
Humaira benar-benar tak tahan. Dia meledakkan tawanya dengan puas. Rasanya melihat wajah sahabatnya yang mengomel pada pria yang ternyata adalah dosen dirinya sangat amat lucu dan keren.
"Hahaha kabur aja saya, Neng!" Kata Humai lalu mencium kedua pipi anaknya dengan sayang.
"Ibu berangkat yah. Jay jangan nakal sama Nenek dan Ante," Kata Humai yang langsung mendapat acungan jempol dari Jay.
Setelah itu Humai lekas beranjak berdiri. Dia menatap sahabatnya yang masih berdiri dengan ekspresi wajah kesal.
"Humai!" Teriak Sefira yang langsung membuat ibu satu anak itu kabur.
Dengan tawa bahagia dan cekikikan masih didengar di telinga Sefira. Gadis itu tahu jika sahabatnya merasa puas. Puas karena dia salah orang ketika memarahi orang asing yang tak ia kenal.
Orang yang ia anggap orang biasa.. Tanpa sadar ternyata dosen kampus yang dia tahu dari keponakannya.
"Semoga gak ada pertemuan kedua atau yang lain. Rasanya mukaku masih malu udah marah-marah sama dosen di pagi hari!"
...🌴🌴🌴...
Tak terasa waktu terus beranjak naik. Di sebuah taman bermain, terlihat dua orang manusia berbeda sumur menikmati permainan tanpa rasa lelah.
Mereka saling bersenda gurau, melompat ke sana kemari dan akhirnya berujung dengan berlari ke arah dua orang yang menunggu kegiatan keduanya.
Sebuah momen yang sangat membahagiakan. Akhirnya setelah jarak yang memisahkan mereka dengan seorang cucu kesayangan bisa adiak tebus dengan sebuah pertemuan.
Mereka bisa bertemu dan bermain bersama lagi. Bisa jalan-jalan dan menikmati hidup dengan begitu tenangnya.
"Kakek Nenek, Jay haus," Kata Jay setelah berlari ke arah pasangan paruh baya yang sangat ia sayangi itu.
__ADS_1
"Ayo minum. Sini!" Mama Ayna dengan telaten mengambilkan minum untuk cucunya.
Dia membantunya minum dari botol sampai hampir setengah botol tandas ditenggak oleh cucu satu-satunya.
"Jay lapar?" Tawar Mama Ayna pada cucunya yang terlihat begitu lelah.
Sefira yang baru saja menyusul mereka juga meminta minum. Dia juga ikut merasa lelah karena lari kesana kemari mengejar keponakannya.
"Iya, Nek!" Sahutnya menyentuh perut kecilnya itu.
Waktu memang sudah beranjak siang. Tentu saja perut mereka sudah meronta meminta diisi.
"Makan di tempat Jay biasanya aja ya, Nek?" Bujuk anak itu saat kedua orang tua Syakir setuju untuk mencari makan.
"Di resto yang kata Ibumu tadi itu tah?" Tanya Sefira yang ingat saat mengantar sahabatnya ke kuliah dan bercerita tempat makan enak.
"Iya, Ante."
"Kamu tahu tempatnya, nak?" Tanya Papa Haidar pada putrinya.
Kepala Sefira mengangguk. "Ayo berangkat!"
Akhirnya mobil mereka langsung melesat dengan cepat. Keadaan perut yang lapar membuat keempatnya tak sabar untuk segera mengisinya. Tanpa kata, tak sampai setengah jam. Akhirnya mereka sampai ditempat yang dituju.
Pandangan mata Papa Haidar langsung membelalak saat membaca nama restoran di depannya ini. Dia hendak berbicara pada istri dan anaknya ternyata keduanya telah turun.
"Restoran ini banyak memiliki cabang. Mungkin ini bukan tempat putraku bekerja," Katanya mencoba percaya diri.
Jujur Papa Haidar memang belum menceritakan kerja dimana putranya dan ia takut jika istrinya semakin merasa bersalah karena tahu soal kerjaan anaknya.
Sampai setelah beberapa lama menunggu. Asyik berbincang dengan cucu mereka. Keempatnya tak menyadari sepasang langkah kaki mendekat dan mulai memberikan buku menu.
"Selamat datang. Silahkan buku menunya!" Kata suara yang sangat familiar membuat tubuh ketiga manusia dewasa itu menegang.
Sedangkan bocah kecil yang sangat tahu dan kenal spontan berteriak heboh.
"Ayah!"
Panggilan itu membuat Mama Ayna, Sefira dan Papa Haidar menoleh. Sedangkan Syakir juga tak kalah kaget. Dia yang berjalan dengan tak menatap ke depan tak tahu jika meja yang ia dekati adalah meja keluarganya.
"Syakir!" Lirih Mama Ayna yang menatap putranya dengan pandangan rasa bersalah.
~Bersambung
Gimana part Sefira Jeno? percaya diri banget Pak Dosen bisa ketemu lagi.
__ADS_1
Perasaan Mama Ayna juga bakaln kaget lihat putranya kerja begini.
Semalam aku update sebab aja yah.. Hiks utang udah dua bab. Semalam aku ketiduran dari sore. Maaf yah.