Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Ancaman Syakir


__ADS_3

...Pernikahan bukan sebuah permainan yang bisa dimainkan tetapi bersatunya sepasang manusia menjadi halal dan merupakan jalan utama memulai sebuah kehidupan baru yang akan mereka jejaki....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya Syakir tetap tidak bisa merubah semua keputusan. Dia akan menikah dengan Humai besok pagi. Semua dekorasi sederhana sudah mulai berdatangan di rumahnya. Dia hanya bisa pasrah dan menerima semuanya.


Dirinya juga berpikir semua akan bisa ditangani jika dia telah menikah. Dia bisa melakukan apapun pada Humai. Karena setelah ini, Syakir akan mengajak Humai tinggal di rumah mereka sendiri.


Rumah impian yang sudah Syakir siapkan untuk menikah dengan Rachel, mau tak mau akan digunakan. Rumah yang seharusnya penuh cinta, akan ia buat menjadi neraka. 


Neraka kehidupan sebenarnya yang akan ia kuasai jalan permainannya. Syakir benar-benar membenci Humaira. Melihat wajahnya dan semua kemunafikan yang ada dalam dirinya sangat amat membuatnya ingin segera menjauh dari gadis cupu tersebut.


Hari ini, Syakir mulai berjalan keluar dari kamarnya. Dia memiliki jadwal meeting di kantor dan membuatnya terlihat terburu-buru. 


Sambil memakai jam tangan di pergelangan tangannya. Tiba-tiba saat Syakir sampai di depan rumahnya. Tanpa sengaja dia bertemu wanita yang akan menjadi istrinya besok sedang jalan-jalan di halaman rumahnya.  


Syakir memandang Humai dengan tatapan jijik sekaligus merendahkan. Dia melihat pakaian yang dipakai Humai sangat amat kampungan. Entah tanpa sadar, langkah kaki Syakir mendekati sosok wanita yang katanya mengandung darah dagingnya tersebut.


Syakir langsung berdiri di belakang Humai. Saat gadis itu berbalik, Humai terkejut sampai dahinya menabrak dada bidang Syakir.


"Kalau jalan pakai mata!" seru Syakir yang membuat Humai hanya diam. 


"Apa setelah kau merebut semuanya, sekarang kau berubah menjadi tuli dan bisu?" serunya penuh sindiran.


Spontan Humai mendongak. Hingga tatapan keduanya saling pandang dan membuat Syakir membuang wajahnya.


"Jangan pernah menatapku seperti tadi atau matamu akan kutusuk dengan tanganku," ancamnya yang membuat Humai lekas menundukkan pandangannya.


"Maaf," kata Humai dengan pelan. 


Syakir tak menjawab permintaan maaf itu tapi dia malah mengatakan hal yang terduga.


"Kau boleh bahagia sekarang. Kau boleh puas sudah bisa menikah denganku," seru Syakir pelan penuh penekanan.

__ADS_1


Dia menatap wajah Humai dengan tags. Matanya benar-benar tak ada binar bahagia. Hanya ada kebencian yang begitu dalam di sana.  


 


"Tapi jangan harap setelah menikah, kehidupanmu akan bisa bahagia denganku. Kau bahkan sampai tak bisa membayangkan jika menikah denganku, adalah hal terkejam yang sudah kau ambil," seru Syakir dengan tatapan tajamnya.


"BahKan untuk memikirkan bahagia saja, kau tak akan bisa. Kau sendiri yang akan menyesal sudah mengganggu kehidupanku dan kebahagiaanku, Gadis Rendahan!" 


Setelah mengatakan itu, Syakir lekas melangkah menjauhi Humai. Meninggalkan gadis yang mengikuti punggungnya sampai lenyap di dalam mobil.


Syakir tak peduli jika gadis bodoh itu mengatakan semuanya pada orang tuanya. Dia sudah pasrah dengan apa yang akan dilakukan dan diperankan oleh Humai.  


Dia sudah tak peduli akan hal itu dan tak akan pernah peduli!


...🌴🌴🌴...


Setelah kepergian Syakir. Humai hanya bisa menghela nafas berat. Dia sudah terlatih oleh omongan orang yang menyakitinya. Mentalnya sejak dulu sudah tak baik-baik saja. Dia selalu menjadi korban perundungan dan menghadapi Syakir sudah seperti makanan sehari-hari untuknya. 


Dia hanya bisa diam. Dia hanya bisa melihat bagaimana kemarahan Syakir yang terpendam kepadanya tadi. Sebenarnya Humai tak mau ada di posisi ini. Dia ingin tinggal di kehidupan lamanya dengan calon anak yang sedang ia kandung. 


"Humai!" panggil suara yang sangat familiar dan membuatnya menoleh.


"Hai," sapa Humai pada sosok Sefira yang berjalan ke arahnya. 


"Sedang apa Kakakku tadi?" tanya Sefira mengintrogasi.


Sejujurnya sejak tadi gadis itu ingin menghampiri sahabatnya yang ada di halaman rumah. Namun, saat Sefira baru saja sampai di pintu utama. Dia melihat kakak dan sahabatnya sedang berbicara. 


Jika dilihat melalui gestur keduanya. Sefira yakin jika Syakir sedang marah-marah pada Humai. Apalagi ketika Syakir menunjuk wajah Humai dengan nafas naik turun, membuat Sefira semakin yakin jika Syakir tadi marah-marah pada sahabatnya.


"Gak ada, Fir. Hanya pembicaraan biasa," kata humai menutupi. 


"Jangan berbohong padaku, Mai. Dia adalah kakakku. Aku bisa melihat ekspresinya dari gestur tubuhnya saja," kata Sefira dengan jujur. "Aku yakin kakakku tadi marah padamu dan mengancammu, 'kan?"


Humai seperti kesulitan bernafas. Dia menelan ludahnya paksa saat tebakan sahabatnya benar. Namun, Humai tak mau semakin memperpanjang masalah ini dan membuat Syakir semakin membencinya.

__ADS_1


"Nggak, Fir. Bang Syakir baik kok sama aku," kata Humai dengan kekeh. 


Akhirnya Sefira tak memaksanya lagi. Dia hanya mengangguk seakan percaya pada perkataan sahabatnya itu. Dirinya tak mau membuat sahabatnya merasa tertekan untuk bercerita. Dia ingin Humai selalu menstabilkan emosinya agar tak membahayakan keponakannya ini.


"Halo, Ponakan Tante yang masih kecil banget," kata Sefira sambil mengusap perut Humai.


Entah kenapa kegiatan ini menjadi kegiatan yang akan sangat ia sukai beberapa bulan ke depan. Kegiatan yang sangat sederhana tapi membuat hatinya menghangat. 


"Hai, Tante Fira," sapa balik Humai dengan suara khas anak-anak.


"Kamu baik-baik disana yah. Jangan pernah menyakiti mamamu yang selalu berjuang untuk hakmu seorang." 


Humai hanya bisa tersenyum pedih. Dia juga tak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini. Semua hal yang terjadi dari perilaku pemerkosaan itu ternyata membuat kehidupan berbeda dalam kehidupannya. 


Kehidupannya yang tenang mulai terusik. Kehidupannya yang terlalu banyak ujian saat bersama mama dan teman masa kampusnya kini akan ditambah dengan kehadiran sosok suami yang tak pernah ada dalam bayangannya.


Semua harus mampu ia lewati setelah ini. Entah kejutan apa lagi yang akan Tuhan berikan kepadanya. Humaira hanya bisa berdoa semoga Tuhan semakin mengokohkan pundaknya, semakin melapangkan hatinya agar tak memiliki dendam pada siapapun. 


Dia hanya ingin menjadi sosok yang mandiri dan kuat. Sosok yang mau menerima semua yang terjadi padanya dengan ikhlas. Dia tak bisa memilih jalan takdir apa yang akan Tuhan berikan kepadanya. 


Namun, manusia masih bisa berusaha untuk merubah semuanya. Entah jalannya yang curam, bergerigi atau begitu mulus sampai semuanya berjalan dengan lancar. 


"Siap, Tante. Dedek bayi bakalan selalu jagain Mama," kata Humai yang membuat Sefira tertawa. 


Keduanya terkekeh dengan tingkah absurd mereka. Namun, di dasar hati Sefira yang terdalam dia bersyukur melihat sahabatnya masih bisa tertawa dengan cerianya. 


"Perlu kamu ingat, Mai! Jika suatu hari nanti kakakku menyakitimu, memukulmu atau dia berselingkuh. Kau tak boleh menutupinya seorang diri. Kau harus mengatakannya pada kami agar Kak Syakir tak semakin semena-mena. Paham?" 


"Iya, fir. Aku paham dan aku tak akan menyimpan semuanya sendiri." 


~Bersambung


Bang Syakir dah ngancem segala huft. Dasar suami dajjal. Tunggu aje pembalasan emak.


BTW ternyata bab nikah besok. Langsung bab pagi yah. Siapin koin poin biar emak semangat geng.

__ADS_1


__ADS_2