
...Ketika hubungan telah berubah menjadi halal. Maka saling menggoda antara satu dengan yang lain telah menghasilkan sebuah pahala. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Syakir benar-benar dibuat merinding. Dia bahkan sampai menelan ludahnya meski kesulitan. Wajahnya memerah menahan sesuatu yang sudah tegak menantang dibawah sana.
Ini benar-benar mendebarkan. Syakir bahkan merasa susah payah menelan ludahnya sendiri. Dia juga dibuat panas dingin akan tingkah istrinya itu.
Syakir benar-benar terkejut dengan aksi istrinya itu. Dia tahu, Humai tak pernah merasakan kenikmatan dunia. Karena bagaimanapun, wanita itu dia perkosa dalam keadaan tak sadar.
Namun, tingkah Humai beberapa menit yang lalu. Membuat Syakir paham jika istrinya sepertinya tahu apa yang dia maksud. Dia juga mengerti jika dirinya dan Humai bukan anak perawan dan bujang. Bagaimanapun keduanya sudah memiliki seorang anak di antara mereka.
Mau tak mau. Sadar tak sadar, tubuh keduanya bisa merasakan keinginan akan kenikmatan dunia.
"Ayo kita pulang. Lihat, cucuku sudah mengantuk! " Kata Papa Haidar menatap Jay yang mulai menunduk dan menahan matanya untuk tetap terbuka.
Humai lekas menjauh. Dia segera meraih putranya dalam gendongan. Sedangkan Syakir, pria itu berdehem sejenak. Dia berusaha mengatur nafasnya agar bisa menjadi tenang.Tingkah istrinya itu benar-benar membuatnya tak bisa fokus.
"Kalian pulanglah dulu, " Kata Papa Hermansyah pada menantu dan putrinya.
"Yaudah. Humai sama Kak Syakir pulang ya, Pa, " Pamit Humai lalu segera mencium punggung tangan semua orang.
Syakir pun tak kalah. Dia juga ikut pamit dan bersalaman sambil menggendong putranya yang mulai terlelap.
"Tidurkan Jay di kamar Mama ya, Nak. Biarkan malam ini dia tidur bersama kami, " Kata Mama Emili pada Syakir.
Mata pria itu membulat penuh. Kedua matanya mengandung sinar cerah yang begitu menawan. Syakir spontan mengangguk dan memeluk ibu mertuanya itu.
"Terima kasih, Ma. Mama selalu mengerti kebiasaan pengantin baru, " Kata Syakir yang membuat Mama Emili tertawa.
Dia juga pernah muda. Dia juga pernah menikah. Kebiasaan pengantin baru tentu wanita paruh baya itu sangat tahu. Tingkah menggemaskan keduanya dan tingkah cucunya membuat Mama Emili ingin memiliki cucu lagi.
Dia ingin putrinya itu memberikan cucu yang banyak selagi putranya, Reyn tengah belajar mengejar cita-citanya.
__ADS_1
"Syakir pulang ya, Ma. Mari, assalamualaikum, " Ucapnya bersamaan dengan Humai lalu keduanya mulai pergi.
Suami istri baru itu segera meletakkan putra mereka di kursi bangku tengah. Lalu Humai, dia juga duduk disana dengan kepala putranya yang ada di pangkuannya.
"Kamu ngobrol apa sama Mama tadi, Sayang? Kok kamu seneng banget? " Tanya Humai penasaran.
Jujur dia juga melihat tingkah suami dan mamanya. Namun, dia tak bisa mendengar pembicaraan keduanya karena suara mereka terlalu kecil.
"Gak ada. Mama cuma bilang, kita gak usah nunggu mereka buat tidur. Mama sama Papa takut lama karena masih mengobrol, " Ujar Syakir beralasan.
Humai hanya bisa ber oh ria. Lalu Syakir mulai fokus ke depan dan menjalankan mobil. Otaknya mulai memikirkan apa yang sebentar lagi terjadi.
Ah rasanya Syakir ingin segera terbang ke rumah istrinya. Dia ingin segera meneruskan apa yang tadi sudah terjadi di restoran. Dirinya benar-benar tak sabar dengan tingkah istrinya tadi.
Humai telah berubah menjadi kucing manis. Kucing lucu yang membuatnya ingin segera menerkamnya. Dengan begitu lihai, Syakir mengemudikan mobilnya lumayan kencang. Dia ingin segera sampai di rumah. Ya, malam ini dia tetap tinggal di rumah Humai karena keduanya belum tahu akan tinggal dimana.
Syakir berjanji tak ada lagi malam esok atau menunda. Dia sudah menahan selama ini hanya untuk kembali dengan wanita yang ia cintai ini. Dirinya juga tak meminta jajan di luar saja karena Syakir telah berjanji untuk menjaga miliknya hanya untuk Humai.
"Tidurlah dulu, Sayang. Jika sampai rumah aku akan membangunkanmu, " Ujar Syakir saat melihat istrinya menahan rasa kantuknya.
"Benerin bangunin ya, Sayang, " Ujar Humai yang akhirnya mulai memejamkan matanya.
"Tidurlah yang nyenyak karena sebentar lagi tak akan ada tidur nyenyak untukmu sampai pagi, Sayang, " Kata Syakir dengan senyuman miring yang mengandung banyak makna di dalamnya.
...🌴🌴🌴...
"Sayang, bangun, " Kata Syakir dengan pelan membangunkan istrinya.
Dia menepuk pipi Humai sampai perempuan itu mulai membuka matanya.
"Udah nyampe, Kak? " Tanay Humai mengusap kedua matanya sebelum dia menatap ke sekelilingnya.
"Iya, Sayang, " Jawab Syakir lalu mencium dahi Humai sampai membuat istrinya itu tercengang.
"Ayo keluar. Aku akan menggendong putra kita, " Kata Syakir yang menyadarkan Humai.
__ADS_1
Gadis itu menahan senyum. Jujur kecupan singkat di dahinya membuat jantung Humai tak baik-baik saja. Perempuan itu merasa jantungnya berdegup kencang dan rasa kantuknya menjadi hilang.
Akhirnya Humai mulai bergeser dan diganti suaminya yang hendak menggendong putranya itu. Ibu satu anak itu melupakan kecupan itu karena ingat dia harus menyiapkan ranjang untuk putranya.
Dengan pelan, Humai berjalan lebih dulu. Dia menuju kamarnya sendiri dan meninggalkan Syakir yang mulai menggendong putranya.
Bibir pria itu tersenyum. Dia sengaja berjalan dengan pelan dan melihat istrinya mulai berjalan ke lantai dua. Bukannya ikut naik, Syakir ikut berbelok dan berjalan menuju kamar mertuanya.
"Mbak, " Panggil Syakir pada kepala pelayan yang ternyata belum tidur.
"Ya, Tuan Syakir? "
"Mama bilang untuk meletakkan Jay di kamar mereka, " Kata Syakir menjelaskan.
Bagaimanapun dia tak mau disebut lancang. Rumah ini milik mertuanya begitupun dengan kamar. Syakir tak mau masuk sendiri karena takut terjadi salah paham.
"Tidurkan disini, Tuan, " Ujar kepala pelayan yang membantu Syakir menyiapkan ranjang tidur untuk Jay.
"Jay selalu tidur disini? "
"Ya. Tuan muda selalu tidur disini setiap kali bersama Tuan dan Nyonya besar, " Jawab kepala pelayan yang membuat Syakir mengangguk.
Dia tak mau bertanya lebih jauh lagi. Pria itu segera pamit kembali ke kamarnya dan menitipkan putranya pada kepala pelayannya itu.
Syakir mulai melangkah menuju kamarnya. Jantungnya tak kalah terkejut. Di segera menekan pintu itu sampai akhirnya Syakir mulai masuk.
"Tidurkan Jay disini, Kak, " Kata Humai sebelum dia berbalik.
Perempuan itu terlihat membereskan tempat tidur. Dia sedang menyiapkan posisi anaknya agar bisa tidur dengan nyenyak. Namun, tak mendapatkan jawaban membuat Humai mengerutkan keningnya.
Dengan rasa penasaran yang tinggi. Humai tentu langsung berbalik. Dia ingin melihat apa yang terjadi pada suaminya itu. Namun, saat Humai baru saja berbalik. Tiba-tiba, Syakir sudah menyerangnya dengan dadakan.
Pria itu memagut bibir Humai. Menyesapnya dengan pelan dan menekan tubuh Humai sampai menyandar di dinding pembatas antara kamar dan balkon.
"Kak! " pekik Humai dengan mata terbelalak saat Syakir menyerang dirinya dengan mencium bibirnya tak sabaran.
__ADS_1
~Bersambung
Udah siap gak? Ini udah final gak mundur lagi haha. Otw Kebrutalan ya gak? janji harus vote poin koin woy lah. Kita lihat, kalau vote sama komennya banyak, aku janji nambah adegannya haha.