Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Jay, Merusak Momen


__ADS_3

...Jika dulu kebersamaan kita seperti sebuah petaka. Maka sekarang kebersamaan ini adalah sebuah hadiah indah dari Tuhan untuk kita berdua. ...


...~Guntur Syakir Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


"Kakak juga menyayangimu, Reyn, " Ujar Humai dengan menghapus air matanya itu.


Dia menatap empat stel baju dinas malam itu dengan perpaduan warna hitam dan merah. Humaira terkekeh pelan tak bisa membayangkan bagaimana adiknya mencari tahu hadiah ini dan memilihnya.


Namun, tanpa Humai sadari. Dari arah pembatas balkon kamar, terlihat Syakir tengah menyandar disana dengan tangan terlipat di depan dada. Bibirnya tersenyum saat melihat Humai mengangkat baju itu dan mulai meneliti desain yang ada pada baju dinas itu.


"Ini kenapa seksi sekali? " Gerutu Humai dengan buku kuduk merinding.


Dia meletakkan baju itu dan mengambil baju yang lain. Ekspresinya tetap sama. Geli dan memalukan. Sampai tangannya memegang baju paling akhir, perlahan, sebuah tiupan di lehernya membuat tubuh Humai menegang kaku. Sebuah lilitan tangan melingkar indah di perutnya dan membuatnya semakin susah menelan ludahnya sendiri.


Humai tahu siapa yang berada di belakangnya ini. Tanpa melihat dan merabanya, aroma tubuhnya saja membuat Humai menyadari jika sosok itu adalah pria yang sangat ia cintai.


"Sayang, " Bisik Syakir pelan dan membuat Humai membuka matanya.


"Hmm? " Sahut Humai dengan pipi mulai bersemu merah.


Jujur berada dalam keadaan intim ini dengan kondisi keduanya yang sudah halal ternyata lebih membuatnya merasa canggung. Humaira merasa seperti kembali ke masa remaja. Padahal jik dilihat, keduanya bukan anak remaja lagi.


Ada Jay di antara mereka berdua. Ada hasil anak yang membuktikan bahwa keduanya bukan anak muda yang sedang dilanda kebucinan.


"Kado dari siapa? " Tanya Syakir dengan pelan.


Tangan pria itu tak tinggal diam. Dia menyelipkan tangannya sampai akhirnya masuk ke dalam baju yang dipakai oleh Humai. Dia mengusap perut Humai dengan pelan. Tempat dimana anak ynag dulu pernah ia sia-siakan tumbuh kembangnya. Tempat dimana ada benih keturunannya yang ia caci maki begitu besar.


"Kak, " Lirih Humai yang semakin gemetaran.


Jujur kulit Syakir yang menyentuh kulit perutnya seakan mengantarkan aliran listrik yang membuatnya begitu tegang. Tubuhnya benar-benar terasa tak karuan hingga pejaman mata hanya bisa diberikan olehnya.


"Jawab dulu pertanyaanku, Istriku, " Bisik Syakir semakin menjadi.


Humaira menahan nafas. Ah ternyata kebucinan suaminya seperti ini. Jika Syakir bertingkah macam ini maka siap tak siap. Humai harus bisa membiasakan dirinya.


Biasa akan tingkah manja Syakir. Biasa akan tingkah Syakir yang super penuh kejutan dan juga bagaimana pria itu yang menunjukkan cinta dan sayangnya kepada dirinya.


"Reyn, Kak. "

__ADS_1


"Waw! " Syakir terpekik terkejut.


Matanya membulat dan dia juga memegang perkataannya. Syakir melepas lilitan tangannya dari perut sang istri hingga membuat Humai bisa bernafas lebih lega.


"Bagaimana dia tahu tentang ini? " Tanya Syakir dan duduk di hadapan istrinya. "Jangan-jangan… Aw! "


Syakir mengelus lengannya dipukul oleh istrinya itu. Dia mengaduh pura-pura sakit agar Humaira merasa bersalah. Dan benar saja. Perempuan itu beranjak berdiri dan dengan pelan menarik lengan Syakir dan mengusapnya.


"Sakit ya, Kak. Maafin Humai, Humai… "


Tanpa diduga, Syakir menarik lengan istrinya balik hingga Humai jatuh dalam pangkuan Syakir.


"Kak! "


"Diamlah, Sayang, " Kata Syakir dengan pelan.


Humai yang berontak akhirnya perlahan diam. Dia tak tahu harus melakukan apa. Namun, merasa Syakir yang mulai memeluknya membuat Humai dengan pelan meletakkan kepalanya di dada Syakir.


"Nah seperti ini lebih baik, " Kata Syakir dengan menikmati momen seperti ini.


Humaira tak mengatakan apapun. Perempuan itu juga malah memejamkan matanya menikmati aroma tubuh Syakir yang menenangkan.


"Apa yang Reyn katakan, Sayang? " Tanya Syakir setelah beberapa menit keduanya diam.


Ada rasa yang tak bisa dijabarkan oleh Humai. Jujur dia ingin adiknya ada disini. Bersamanya dan ikut perayaan pernikahan keduanya. Namun, semua itu hanyalah angan. Sekolah dan apa yang dia cita-citakan semuanya sedang diperjuangkan dan Humai tak mau menghancurkannya.


"Ah memang Reyn sangat mengerti aku, Sayang, " Kata Syakir dengan ambigu.


Dahi Humai berkerut. Dia tak paham akan maksud suaminya hingga membuatnya mendongakkan kepala.


"Maksud kamu apa, Kak? " Tanya Humai dengan menatap kedua mata Syakir.


"Di ingin keponakan yang banyak, 'kan? " Tanya Syakir yang membuat Humai mengangguk. "Jadi…"


Syakir menjeda kalimatnya. Sampai akhirnya Humai menyadari sesuatu. Ya sesuatu yang membuat pipinya bersemu merah saat tahu maksud suaminya itu.


"Ini masih siang, Kak."


"Kenapa kalau siang? " Tanya Syakir dengan sikap jahilnya yang kembali.


"Ya ya. Belum waktunya. "

__ADS_1


"Jadi kamu sudah mikir waktu yang tepat yah?" Kata Syakir semakin membuat Humai malu bukan kepalang.


Saat perempuan itu hampir bersuara. Tiba-tiba Syakir langsung memajukan wajahnya. Tujuannya hanya satu yaitu bibir istrinya yang begitu menawan sejak tadi.


Tanpa kata, Syakir menyesap bibir manis itu. Bibir yang telah halal untuknya dan dia boleh jamah sebanyak mungkin. Tak ada dosa lagi di antara mereka. Semuanya telah menjadi pahala untuk keduanya.


Keduanya benar-benar menikmati ciuman halal mereka. Ciuman pertama mereka dalam ikatan yang begitu suci. Tak ada lagi ketakutan dalam diri Syakir. Dia sudah menghalalkan wanita yang ia cintai ini.


Sampai akhirnya saat tangan Syakir hendak menjelajah. Tiba-tiba suara anak kecil yang terdengar mengejutkan keduanya.


"Ayah, Ibu! "


"Jay! " Pekik keduanya bersamaan dengan ciuman terlepas dan Humaira lekas beranjak berdiri.


"Ups! " Kata Secara yang sama terkejutnya dan lekas menutup mata Jay dengan kedua tangannya.


"Oh astaga adegan live yang sangat panas! " Kata Sefira dengan mengedipkan matanya berulang kali.


Sedangkan kedua pelaku yang terpergok tentu merasa malu. Humaira menunduk dan tak berani menatap wajah sahabatnya.


"Kamu gak bisa ketuk pintu dulu, Giska? " Seru Syakir dengan menahan rasa kesalnya.


Ah aska kalian tahu, adik Syakir telah terkoneksi. Pria itu sudah siap untuk terbang ke atas kenikmatan di siang hari. Namun, ternyata halangan dan halangan kembali muncul.


"Sorry, Kak. Aku mau ketuk pintu dulu tapi dia… " Kata Sefira tak enak hati.


Dia menunjuk bocil kecil yang mulai meronta minta dibuka matanya.


"Ante buka! " Seru Jay memukul tangan Sefira yang di kedua matanya.


Sefira lekas menutupnya dan membuat Jay akhirnya bisa melihat ibu dan ayahnya lagi.


"Apa yang Ibu lakukan? Kenapa Ibu dan Ayah ninggalin Jay? Terus kenapa Ibu barusan duduk di pangkuan Ayah? "


"Ahhh itu… " Jawab Humai yang tak bisa berkata apa-apa lagi.


Ah dia bingung harus menjawab apa. Anaknya juga tak salah. Dia bertanya tentang apa yang dia lihat tapi hal itu memang tak baik untuknya.


"Aku gak ikut-ikut oke! " Kata Sefira beranjak dari posisinya. "Aku keluar dulu! "


~Bersambung

__ADS_1


Ada yang pernah kek Syakir? Udah ubun-ubun eh bocil nya dateng haha.


BTW maaf baru update yah. Aku habis ditabrak orang minggu kemarin dan baru bab ini bisa ngetik sendiri. yang biasanya bantuin aku ngetik, lagi siap-siap besok otw Kalimantan huhu. Jadi aku agak lamban ngetiknya karena tanganku masih sering sakit.


__ADS_2