
...Aku hanya percaya dengan sebuah keajaiban dan keberuntungan. Jika Allah masih memberikan kesempatan maka akan datang masa itu kepadaku....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Setelah kejadian itu, Sefira benar-benar tak meninggalkan Humaira sendirian. Gadis itu ikut tinggal di Tumpang meski perjalanannya semakin jauh antara kampus dan rumah.Â
Sefira sudah tak percaya pada kakaknya. Apalagi saat dia mengetahui tak ada satupun pelayan yang disewa kakaknya disana semakin membuat perasaannya hancur berkeping-keping.Â
Dia tak menyangka jika Syakir sejahat itu. Kakak yang terkenal lembut kepadanya, ternyata memiliki sikap lain yang membuatnya terkejut bukan main. Tak ada kelembutan dan keramahan dalam diri kakak kandungnya. Yang dia lihat hanya emosi, amarah dan kebencian pada sahabatnya di mata Syakir.Â
Namun, Sefira sudah tak mau memaksa apapun. Dia sudah amat merasa bersyukur karena semenjak dirinya tinggal disini, Humaira jauh terlihat lebih bahagia.Â
Berat tubuhnya mulai naik. Bahkan perutnya mulai membuncit karena usia kandungannya sudah memasuki minggu ke dua puluh empat.
Enam bulan dia melewati masa kehamilannya tanpa perhatian suami. Enam bulan dia bertahan sekuat mungkin dan menjalani hari-harinya tanpa cinta dari sang suami. Namun, kembali lagi Humai masih bisa berbahagia karena mertua dan sahabatnya tak pernah absen untuk menghubungi dan menemaninya.
Mereka selalu ada untuk Humaira. Menanyakan kabar dirinya dan sang anak yang sangat mereka sayangi. Hal yang sudah cukup membuat Humaira bersyukur. Dibalik suami yang dingin, ada keluarga yang hangat mau memeluknya.Â
"Bagaimana? Kamu jadi, 'kan, periksa hari ini?" tanya Sefira pada Humai.
Saat ini keduanya sedang melaksanakan sarapan pagi. Keduanya juga memiliki rencana untuk melakukan pemeriksaan ibu hamil karena memang sudah waktunya. Sefira juga yang memaksa untuk ikut mengantar karena ia sudah tak peduli dengan apa yang dilakukan kakaknya.Â
Sefira benar-benar menepati janjinya. Dia tak pernah meninggalkan Humai sendirian kecuali dirinya memiliki jadwal kuliah. Gadis itu bahkan akan keluar selain jam kuliah jika bersama Humai. Keduanya benar-benar tak pernah terpisahkan dan saling menguatkan.Â
"Jadi, Fir. Aku udah gak sabar pengen ketemu sama dia," ujar Humai dengan pandangan antusias.
Tangannya mengusap perutnya yang menonjol. Dia tak hentinya tersenyum setiap kali tangannya merasakan tendangan kuat dari dalam perutnya. Anaknya benar-benar sangat aktif. Dia selalu bergerak kesana kemari tanpa henti.Â
"Aku juga. Aku pengen tahu dia bakalan versi kamu atau versi…" jeda Sefira saat dia menyadari ucapannya.
Humai tersenyum. Sebenarnya dia merasa bersalah karena demi dirinya, hubungan antara adik dan kakak itu semakin dingin. Sefira tak pernah menyapa Syakir sedikitpun. Bahkan gadis itu tak peduli lagi pada kakaknya.Â
__ADS_1
"Pasti akan ada versi aku dan Kak Syakir, Fir. Anak ini buah cinta kami berdua. Maka akan ada perpaduan gen antara aku dan Kak Syakir," mata Humai memberikan pengertian.
"Tapi aku berharap dia seperti versi kamu, Mai. Dia memiliki hati yang lembut dan kuat. Aku tak mau ponakanku seperti dia yang kasar dan kejam."Â
Humaira hanya bisa mengangguk. Dia tak tahu harus mengatakan apa lagi. Sefira benar-benar tak mau memanggil kakaknya dengan sebutan kakak. Gadis itu benar-benar diliputi rasa marah dan kekecewaan yang mendalam.Â
"Aamiin. Versi apapun itu, yang penting dia sehat, selamat dan lahir di dunia dengan lancar."Â
"Aamiin," sahut Sefira dengan mengangguk.
Keduanya lekas menyelesaikan acara sarapannya. Setelah itu, Sefira dan Humai segera keluar dari rumah dan memasuki salah satu kendaraan milik adik iparnya itu.Â
Sefira membawa tiga mobil disini. Kali ini dia memakai mobil yang lebih besar agar kaki Humai lebih leluasa bergerak. Keduanya segera meninggalkan rumah dan mulai berada dijalan yang membawanya ke kota.
"Udah daftar, 'kan, Fir?" tanya Humai yang melihat nomor kartu kunjungannya.
Sefira mengangguk dengan kepala yang fokus menatap ke depan. "Udah kok. Aku pengen kita gak nunggu lama-lama disana mangkanya daftar duluan."Â
Sefira menoleh sekilas. Dia hanya bisa menghembuskan nafas berat melihat sahabatnya yang sangat menghargai Syakir sebagai seorang suami. Walau pria itu tak perhatian, Humai dengan ikhlas menyiapkan makanan untuk Syakir, membereskan keranjang kotor pria itu dan membersihkan kamarnya.Â
Walau Syakir sering bilang jangan sentuh barangnya. Humai dengan ikhlas tetap melakukannya sendiri. Memasuki kamar Syakir, membereskan ranjang yang berantakan, barang-barang yang berserakan seperti laptop dan cas-casannya. Lalu bungkus cemilan dan terakhir adalah pakaian kotor yang dicuci dan setrika lalu dia memasukkan ke dalam lemari.Â
Sefira benar-benar takjub dengan keikhlasan hati sahabatnya. Bahkan patuh dan menurutnya Humai sangat amat membuat dirinya merasa iri. Sahabatnya itu meski disia-siakan tapi dia tak pernah membalas. Segala kesabarannya Sefira yakin akan mendapatkan balasan yang baik juga.
"Nyonya Syakir?" ucap perawat saat Sefira menanyakan pada perawat di depan ruang obgyn.
"Ya, Suster. Benar," sahut Sefira dengan cepat.
"Silahkan masuk. Anda sudah ditunggu oleh dokter," kata perawat dengan ramah.
Sefira dan Humai tak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu keduanya segera memasuki ruangan yang terasa lebih dingin. Mereka berdua duduk di depan seorang perempuan paruh baya yang memakai jas putih terlihat begitu berwibawa.
"Selamat pagi, ada keluhan, Nyonya Syakir?" tanya dokter dengan ramah.Â
__ADS_1
"Hanya pinggang saya yang sering merasa sakit," sahut Humai dengan jujur.
"Mari berbaring. Kita akan melihat sejauh apa bayi mungil ini berkembang dan bergerak di dalam perut Anda," kata dokter yang menangani kehamilan Humai sejak hamil muda.
Sensasi dingin mulai terasa di perut Humai saat dokter menuang gel di atas sana. Tak lama, alat usg itu mulai bergerak dan membuat layar yang mulainya kosong kini ikut bergerak.
Mata Humai tak lepas dari layar itu. Dia menunggu untuk melihat sosok anaknya dari dia dan Syakir.Â
"Alhamdulillah. Ini dia," kata Dokter menunjukkan sosok bayi mereka. "Ukuran kepala dan tubuhnya sudah sesuai dengan umur kehamilannya. Anda berhasil mengikuti saran saya, Nyonya Syakir. Anda pasti makan dengan baik dan menjaga mood agar selalu bahagia."Â
Humaira tersenyum. Dia bahagia karena usahanya berhasil. Terakhir dia kesini, dokter mengatakan berat bayi mereka kurang dan Humai diminta minum vitamin rutin dan makan dengan gizi yang baik.Â
"Alhamdulillah, Dok."
"Lalu apa bisa kita melihat jenis kelaminnya, Dokter?" tanya Sefira yang tak kalah antusias dari Humai.
"Bisa dong," sahut dokter lalu mulai menggerakkan tangannya lagi.
Keduanya tak sabar menunggu. Mereka sama-sama menanti jawaban apa dari dokter. Sefira berharap semoga jenis kelamin yang dikatakan oleh dokter adalah jenis kelamin yang pernah menjadi harapan kakaknya.
Saat akur dulu, Syakir pernah bercerita bahwa dia memiliki keinginan jenis kelamin untuk anak pertama mereka.Â
"Jenis kelamin bayi anda yaitu…" jeda dokter dengan masih fokus menatap layar di depannya. "Laki-laki."Â
Mata Sefira terpejam. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Akhirnya doanya terkabul. Apa yang pernah diharapkan oleh kakaknya Syakir ternyata Allah kabulkan.
Aku yakin kali ini penyesalanmu akan bertambah. Kau akan menangis saat tahu jika jenis kelamin anak pertamamu adalah harapan yang selalu kau panjatkan, batin Sefira dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
~Bersambung
Sebenarnya mau speak up tapi yaudah lah. Yang penting aku udah bilang dari awal kalau alur ini beda sama alur sebelah. Dah itu aja hehe.
Jenis kelamin ini salah satu printilan otewe penyesalan haha.
__ADS_1