
...Percayalah akan ada masa dimana semua kesedihanmu tertepis, kehadiran orang yang mampu menghargaimu akan membuatmu berani melepas segala sakit yang kau rasakan....
...~JBlack ...
...🌴🌴🌴...
Saat suasana mulai terasa panas. Seorang wanita yang baru pertama kali Humai jumpai perlahan mendekat. Dia mengulurkan tangannya dengan senyuman begitu tulus di bibirnya.
"Assalamualaikum. Namaku Almeera. Salam kenal!" kata Almeera yang membuat Humai memandang ke arahnya.
Melihat bagaimana tatapan wanita itu yang ramah, senyumannya yang tulus, membuat Humai balas tersenyum. Dia bisa merasakan jika wanita di depannya ini adalah wanita yang ramah.
"Waalaikumsalam, Mbak Meera. Namaku Humaira," kata Humai yang membuat Almeera tersenyum begitu lebar.
"Namanya cantik, sepertinya orangnya," ucap Almeera memuji.
Pipi Humai bersemu merah. Ini adalah untuk pertama kalinya orang asing mengatakan dirinya cantik. Selama ini Humai tak pernah menerima pujian selain dari sahabatnya sendiri.
Humai juga sadar diri, bahwa dia tak cantik. Wajahnya terdapat jerawat dan bekasnya yang pasti membuat siapapun yang melihat merasa risih.
"Mbak Meera juga cantik. Seperti sikapnya," ujar Humaira dengan jujur.
"Yaudah ayo kalian masuk! Pasti keponakanku udah capek banget," kata Syakir lalu menggendong tubuh anak kedua dari pasangan Bara dan Almeera.
Syakir lekas memimpin jalan. Dia mengajak teman-temannya memasuki rumah milik Humai. Dia sebenarnya tak nyaman mengajak Bara tinggal disini. Namun, tak mungkin juga mengajak mereka tinggal di apartemen karena takut jika Rachel kesana.
Mereka semua segera duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Duduk berlingkar seakan hendak menyampaikan sesuatu.
"Maaf kalau rumah ini gak sebagus rumah kalian di Jakarta," kata Syakir dengan pandangan tak enak hati.
"Lo kayak sama siapa aja, Kir. Gue sama Almeera juga seneng di rumah ini. Dingin banget lagi," kata Bara apa adanya.
Tentang cuaca dan suhu di Tumpang. Ternyata lumayan dingin memang. Bahkan ketika jaket yang membalut tubuh mereka dibuka, udara tersebut langsung menyentuh kulit yang biasanya kepanasan saat di kota.
"Ayo, Mbak. Saya antar ke kamar. Biar Mbak bisa istirahat," kata Humaira saat melihat Almeera dan Bia terlihat kecapekan.
Jujur Humai bisa melihat jika wanita dengan dua anak tersebut merasa lelah. Matanya yang sayu dan bibirnya menguap membuat Humai yakin jika Almeera pasti mengantuk karena perjalanan mereka.
Sebelum menerima ajakan Humaira. Almeera menoleh menatap sang suami yang membuat Bara menghentikan perbincangannya dengan Syakir.
"Aku sama Bia dan Abraham ke kamar dulu ya, Mas. Anak-anak kita sudah kelelahan tuh," kata Almeera menunjuk kedua anaknya yang sedang menyandarkan punggung di sofa ruang tamu.
"Ayo aku bantu mengangkat Bia dulu."
Tanpa menunggu jawaban sang istri. Bara segera menggendong Bia yang terlihat mulai berat dengan matanya sendiri. Bocah tersebut kelelahan karena memang selama perjalanan tak ada yang tidur.
__ADS_1
Humai menatap kebersamaan Bara dan Almeera dengan doa yang sama dalam hatinya. Dia berharap jika Allah mengizinkan, semoga dia bisa merasakan bagaimana dicintai oleh pria yang mencintainya.
Humaira akhirnya memimpin jalan mereka. Gadis itu membantu membawakan satu koper dan mulai menaiki tangga. Dia membawa Humai dan Bara ke kamar di lantai dua.
Kamar yang berbeda dengan kamar yang ditiduri oleh Syakir.
"Ini kamar, Mbak Meera. Lalu sebelahnya kamar putranya," kata Humaira sambil membukakan pintunya.
"Oh kamar yang bersih dan rapi," puji Almeera dengan mata menatap berbinar.
Ruangan kamar ini benar-benar rapi sekali. Penataan satu buah tempat tidur, satu buah lemari pakaian dan satu buah meja rias begitu tertata dengan apik. Humaira meletakkan koper itu di dekat pintu lalu meminta para tamunya masuk.
"Semoga Mbak Meera dan suami serta anak-anak bisa istirahat dengan nyaman disini. Nanti kita bisa jalan-jalan keliling Malang," kata Humaira dengan tersenyum.
Almeera mengangguk. Dia meraih tangan Humaira dan membalas senyumannya.
"Makasih banyak, Humaira."
"Panggil Humai aja, Mbak. Gapapa," ujarnya kepada Meera.
"Ah, bagus." Almeera menganggukkan kepalanya. "Makasih banyak ya, Humai. Mbak pasti betah disini karena dingin."
"Syukurlah. Kalau begitu Humai turun dulu. Selamat istirahat."
...🌴🌴🌴...
Keduanya berada di ruang tamu dengan saling berhadapan. Wajah Syakir terlihat sangat amat marah dan mampu dirasakan oleh Humai.
"Perlu kau ingat! Jauhi sahabatku dan anak-anaknya. Jangan pura-pura sok baik karena kau adalah wanita busuk!" seru Syakir dengan kejamnya.
Humaira tak membalas. Wanita itu hanya menunduk dengan tubuh gemetaran. Terlihat sekali jika wanita itu sangat amat ketakutan pada kemarahan Syakir kali ini.
"Iya, Kak. Aku…"
"Aku bukan kakakmu!" sembur Syakir dengan tatapan tajamnya. "Meski aku sudah menikahimu dan kau menjadi istriku. Tetap saja, aku tak akan menyentuhmu sedikitpun! Kau itu perempuan pembawa sial!"
Jantung Humai mencelos. Wanita itu shock bukan main. Dirinya sampai mematung tak percaya menatap suaminya yang mengatakan perkataan kasar itu tanpa memikirkan perasaannya
"Kau itu tak berarti apa-apa untukku. Kau juga jangan mencari perhatian dan simpati teman-temanku. Aku sangat muak padamu, Humai!"
Humai tak mampu berkata-kata lagi. Hanya air matanya yang menetes dan mewakilkan bagaimana perasaannya sekarang. Sakit, hancur, kecewa dan marah menjadi satu.
"Keluar, Lo! Gue benci liat muka Lo terus-terusan!"
Akhirnya tanpa kata, Humai lekas ke kamarnya. Dia tak jadi keluar karena tak mungkin dalam keadaan seperti ini dia belanja. Hingga saat tak ada suara apapun. Humai telah masuk. Sebuah suara mengejutkan Syakir.
__ADS_1
"Kir!"
"Hah!" Syakir lekas menoleh.
Wajahnya langsung tegang saat melihat sahabatnya sudah berdiri di depannya.
"Kenapa Lo kesini? Bukannya istirahat kek," kata Syakir memaksakan tersenyum.
"Istri gue masih mandi. Mangkanya gue keluar," sahut Bara ikut duduk di depan Syakir.
"Tumben gak ikut, Lo!" sindir Syakir pada sahabatnya.
"Gue takut nanti jeritan gue sama istri gue bikin Lo berdiri," jawab Bara dengan raut muka menyebalkan.
"Sialan, Lo!" Syakir melempar bantal sofa itu di muka sahabatnya.
Bara menatap Syakir dengan intens. Hal itulah yang membuat dia mulai merasa tak nyaman dan gugup.
"Kemana aja Lo selama ini, Kir. Lo belum jelasin apapun sama gue!" ujar Bar menatap lekat sahabatnya itu.
"Gue gak kemana-mana. Gue disini aja," sahut Syakir berusaha setenang mungkin.
"Lo yakin?" tuding Bara menatap sahabatnya tajam. "Gue tau bener Lo gak punya saudara di Malang, Kir."
"Sok tau, Lo! Mama, Papa dan Adik gue udah disini semua!"
"Apa?" Mata Syakir membulat. "Bisa-bisanya Lo gak cerita sama gue!"
"Lo gak tanya. Ya gue gak jawab!"
"Asyuuu!"
Pria itu benar-benar membuka aib mereka. Perkataan Bara memang benar adanya. Ketiganya pernah mandi bersama ketika dulu ikut serta kegiatan pramuka di SMA. Bahkan mengukur milik ketiganya saja, mereka juga pernah.
Jadi jangan katakan sok tau untuk hubungan persahabatan macam mereka. Ini bukan hanya 1 bulan atau 1 tahun. Tapi sudah bertahun-tahun.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bara mendesak Syakir.
Syakir menghela nafas berat. Dia tahu sekali bagaimana sahabatnya ini. Bara selalu mampu melihat ekspresinya sebelum dia bercerita.
"Gue belum siap nyeritain ini sama Lo, Bar! Beri gue waktu dulu buat mikir," kata Syakir menatap sahabatnya. "Gue bener-bener masih terkejut sama semuanya. Gue belum bisa berdamai sama diri gue sendiri."
~Bersambung
Makin gedeg makin pen ngumpat ku Kir, Syakir Dajjal.
__ADS_1
Aku udah gak punya hutang yah geng. Pas 3 bab yey.
Jangan lupa klik like dan komen yang banyak. Vote juga biar authornya bisa update terus yey.