Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Menentukan Tanggal Pernikahan JenFira


__ADS_3

...Mengingat semua kesalahan yang pernah aku lakukan di masa lalu. Hal seperti ini seakan mimpi bagiku tapi atas kebaikan Tuhan. Apa yang aku harapkan dan impikan bisa menjadi nyata. ...


...~Guntur Syakir Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Suasana restoran terlihat sangat amat ramai. Meja panjang dengan berbagai makanan dan minuman tertata begitu rapi disana. Ruangan yang berada di samping kiri luar restoran menjadi tempat pilihan Syakir untuk makan malam bersama.


Dia juga melakukan semuanya demi istri dan anaknya. Atas ide bocah kecil duplikatnya itu dia memiliki ide untuk mengumpulkan semua orang.


"Kemana Giska, Ma? " Tanya Syakir yang baru menyadari bahwa adiknya itu tak ada.


"Giska masih dijalan, Syakir. Dia berangkat bersama Jeno dan keluarganya kesini, " Kata Papa Haidar pada putranya.


"Wah. Kelurga Jeno sudah sampai? " Tanya Syakir menatap tak percaya.


"Ya. Keluarga Jeno sudah ada disini, Nak. Mereka menginap di hotel dan malam ini, Jeno ingin mereka ikut untuk membahas tentang hubungan mereka, " Kata Pala Haidar lalu menatap kedua besannya.


"Maafkan kami. Mungkin acara kalian… "


"Jangan sungkan," Kata Papa Hermansyah pada keduanya. "Kita sudah menjadi keluarga besar. Syakir bukan menantuku tapi dia sudah menjadi putra kita. "


Papa Haidar tersenyum. Dia merasa bahagia akan takdir putranya itu. Mengingat masa lalu anak pertamanya. Dia berpikir, Syakir tak akan pernah mendapatkan kesempatan kembali dengan wanita sebaik Humai. Namun, ternyata pemikirannya salah.


Tuhan masih memberikan kesempatan. Tuhan masih berbaik hati pada putranya itu. Keburukan yang terjadi di masa lalunya, masih Allah berikan maaf dan memberikan pengampunan.


"Apa keluarga Jeno ingin melamar secara resmi, Mbak? " Tanya Mama Emili pada Mama Ayna.


"Ya sepertinya. Tapi kami tak pernah memaksa Jeno untuk melakukan semuanya dengan cepat. Mungkin mereka ingin mengenalkan kami berdua pada keluarga Jeno. Bisa saja kan? "


Mama Emili mengangguk. Apa yang dikatakan oleh besannya memang benar. Tak selamanya yang diajak dan kumpul bersama hanya akan membahas tentang kapan keduanya menikah.


Tak lama, beberapa pesanan yang baru saja selesai mulai berdatangan. Semua pelayan mengatur meja yang dipenuhi dengan berbagai macam makanan khas dengan aroma yang begitu menggiurkan.


"Wah, Ibu! " Pekik Jay menunjuk ke arah piring besar yang berisi seafood kesukaannya.


"Kepiting? " Tanya Humai yang membuat kepala Jay mengangguk.


"Oke. Ntar lagi Ibu ambilin yah. "


Bersamaan dengan itu. Tak lama, suara langkah kaki sepatu yang bertemu dengan keramik restoran membuat semua orang mendongak.


Disana, Sefira berjalan dengan Jeno bergandengan tangan dan diikuti oleh dua orang paruh baya yang berjalan di belakangnya dan seorang gadis muda.


"Assalamu'alaikum, " Sapa Sefira yang mulai mencium punggung tangan orang tuanya dan orang tua Syakir.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, " Sahut semua orang.


Namun, tidak dengan ayah kandung Syakir. Pria paruh baya itu menatap sosok yang sangat ia kenal. Sosok yang seusianya dan berdiri di depannya ini.


Keduanya saling menatap dengan lekat. Seakan keduanya tengah saling mengingat satu dengan yang lain.


"Zein? "


"Haidar? "


Sapa kedua orang itu bersamaan. Hal itu tentu membuat Jeno dan Sefira saling mengerutkan keningnya saat melihat orang tua mereka saling mengenal.


"Hai. Wah aku gak nyangka kita bakalan ketemu disini, " Kata Papa Haidar yang langsung memeluk ayah kandung Jeno dengan akrab.


Wajah keduanya tentu sangat amat terlihat saling nyaman. Hal begini saja membuat semua orang menebak jika di antara ayah Sefira dan Jeno saling kenal.


"Kau benar, Haidar. Aku tak menyangka bahwa kita akan bertemu disini, " Kata Papa Zein dengan akrab.


"Apa kabar? " Tanya Papa Haidar pada pria yang seusia dengannya.


"Baik. Kamu sendiri? "


"Seperti yang kau lihat, " Kata Papa Haidar dengan bangganya.


Jeno dan Sefira saling menatap keduanya tanpa kedip. Seakan keduanya juga masih tak menyangka jika orang tua mereka saling mengenal.


"Ah ya, " Jawab Papa Haidar hampir lupa karena asyik berbincang dengan temannya itu. "Kenalin ini, Zein. Dia teman Papa waktu kuliah dulu. "


Semua orang beroh ria. Mereka ikut senang saat Papa Haidar dan Zein sangat amat akrab. Begitupun dengan Jeno, bibir pria itu tersenyum lebar.


Dia tak menyangka jika papanya mengenal calon mertuanya. Ah jika begini, dia bisa membayangkan jika semuanya akan berjalan dengan lancar.


"Senyum terus. Lagi bayangin kalau restu kalian makin lancar kan? " Goda Syakir sedikit berbisik ke telinga Jeno.


Pria itu spontan menoleh. dia menatap calon kakak iparnya dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Takut kesaing kan? " Ejek Jeno pada Syakir. "Restuku mah cepet. Sat set sat set. "


Syakir memutar bola matanya malas. Ah jika dibilang begitu mah. Dia tentu kalah.


"Tapi liat, nikahnya masih sat set aku, " Kata Syakir membanggakan dirinya.


"Aku juga akan menyusulmu! " Kata Jeni tak mau kalah.


Para wanita yang berdiri di samping pria pujaan mereka. Akhirnya menarik lengan keduanya dan berpindah di samping istri dan kekasih mereka.

__ADS_1


"Kalian kali kumpul udah kayak tom and jerry. Kalau kek gini aman, " Kata Sefira dengan menatap kakak dan kekasihnya itu bergantian.


"Tapi dia dulu yang mulai, Sayang, " Kata Jeno mengadu.


"Heh. Kamu juga! " Seru Syakir membela diri tapi keburu Humai menutup bibirnya dengan


"Udah!"


"Sayang tapi," Rengek Syakir dengan manja.


"Oh sini, Nak. Udah biarkan mereka ngebucin, Sayang. Mereka kan belum nikah, jadi wajar, " Kata Humai yang membuat Sefira menoleh.


"Ya. Karena udah nikah. Sindir-sindir. "


"Ya biarin? " Ujar Humai menggoda lalu menjulurkan lidah mereka.


Suasana seperti ini membuat kekeluargaan mereka semakin erat. Semua orang akhirnya mulai duduk dengan nyaman. Mereka bahkan makan malam dengan diiringi canda tawa, bercerita dan segala hal yang saling dicurahkan.


Keluarga Syakir, Humai dan Jeno yang begitu terbuka dan friendly. Membuat merek dengan mudah akrab dan terlihat kebersamaan mereka. Sampai akhirnya semua makan malam yang tadinya berjejer rapi mulai habis.


Makan malam yang dinikmati dengan begitu santai sudah habis dan mulai dirapikan oleh para pelayan. Sebagai penutupan, makanan penutup juga mulai dihidangkan.


"Ah sambil kita menikmati makanan penutup, " Kata Papa Zein memulai pembicaraan. "Sebenarnya kedatangan kami kesini, ingin membicarakan perihal putraku dan Sefira. "


Papa Haidar mengangguk. Dia juga seorang ayah yang menunggu keputusan keduanya.


"Melihat keseriusan putraku. Dia juga tak mau main-main lagi. Kami hanya ingin membahas tentang kapan pernikahan mereka, " Ujarnya memulai membuka pembicaraan. "


"Kalian benar. Melihat mereka berdua, sepertinya baik putramu atau putriku juga sudah tak sabar. Sepertinya mereka ingin segera menyusul kakaknya."


Sefira menunduk. Dia merasa malu saat mata Humai menggoda dirinya.


"Nah betul, " Sahut Papa Zein dengan mengangguk. "Bagaimana jika pernikahan mereka dilakukan minggu depan? "


"Jeno mengatakan pada kami, bahwa tinggal dua minggu lagi, Sefira akan ke Korea, " Kata Papa Zein yang sudah diberitahu oleh putranya.


"Kami tak mau memisahkan mereka berdua atau meminta mereka pergi bersama dalam keadaan status yang belum halal, " Lanjut Mama Mei menambahi.


"Kalau itu…" Jeda Papa Haidar menatap ke arah putrinya. "Semua jawaban kami serahkan pada Sefira. Bagaimana, Nak? Minggu depan pernikahan kalian. Setuju? "


Sefira belum menjawab. Namun, dia menoleh ke arah Jeno dulu dan langsung dibalas senyuman oleh pria itu.


"Ya. Sefira mau, Pa. "


~Bersambung

__ADS_1


Awww ini otw satu set sat set. Hahaha. Mau bab ketiga lagi gak? adegan ninu ninu haha.


__ADS_2