
...Kebahagiaan itu sangat sederhana untuk didapatkan. Dengan cara bersyukur atas nikmat Tuhan yang diberikan pada kita hari ini adalah salah satu cara bahagia paling mujarab. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Setelah memastikan keluarga Reno dan Bara tenang dan nyaman di rumah lama Humai. Akhirnya calon pengantin baru itu segera pamit untuk pulang. Keduanya memiliki jadwal untuk mencari cincin pernikahan yang baru untuk mereka berdua.
Ya, Syakir tak mau memakai cincin yang lama. Dia ingin membeli perhiasan yang baru dan berharap jika hubungan mereka akan dimulai dengan hal baru yang indah. Mereka tak mau sesuatu yang buruk di masa lalu kembali terjadi.
Keduanya berharap semuanya akan menjadi awal mulai dengan goresan yang indah diantara mereka berdua.
"Kalau ingin sesuatu telefon kami ya, Mbak, " Pamit Humai memeluk Almeera saat mereka mulai pamit pulang.
"Tenanglah. Kami pernah tinggal disini meski sebentar. Jadi sedikit banyak aku dan Mas Bara sudah sedikit paham, " Kata Almeera menenangkan.
"Ingat jangan bersih-bersih. Sudah ada tiga pelayan disana yang siap bantuin kalian, " Kata Syakir mengingatkan.
Almeera terkekeh. Dia tahu jika Syakir sangat hafal dengan dirinya. Syakir yang dekat dengan Bara dan sering ke rumah mereka di Jakarta pasti sangat tahu tabiat Almeera yang selalu membersihkan rumah meski tak diizinkan.
"Yaudah. Kami berangkat dulu ya, Mbak. "
Humaira segera masuk ke dalam mobil setelah berpamitan dengan Adeeva juga. Perlahan Syakir mulai mengemudikan mobilnya dan meninggalkan pelataran rumah calon istrinya itu.
Pasangan calon suami istri itu mulai merasa tenang. Dengan manja, Humaira menempel di lengan Syakir dan meletakkan kepalanya di lengan calon suaminya itu.
"Kamu mau mahar apa, Sayang? " Tanya Syakir dengan serius.
Humaira spontan menegakkan tubuhnya. Dia menatap ke arah Syakir dengan pandangan lekat.
"Aku gak minta apapun, Kak. Aku menerima semua yang mau kasih ke aku."
Syakir tersenyum. Lihatlah calon istrinya ini. Humaira tak pernah menuntut apapun darinya. Wanita yang ia cintai ini begitu sederhana. Meski dia sudah menemukan orang tuanya yang asli. Namun, jiwa sederhana dan rendah hatinya masih menancap kuat dalam diri Humaira.
"Tapi aku ingin kamu minta dariku, " Kata Syakir dengan serius.
"Nanti. Kalau kita sudah halal. Aku akan minta banyak hal dari kamu, " Ujar Humai yang membuat Syakir menatap wanitanya serius.
"Bener? "
"Ya. Dan jangan sampai kapok yah. Kalau dengar permintaanku yang banyak. "
"Siap, Tuan Putri, " Balas Syakir yang membuat Humaira tertawa.
Akhirnya pembicaraan mereka mulai berakhir saat kendaraan Syakir mulai menyatu dengan kendaraan yang lain. Jalanan yang sedikit macet membuat Syakir dan Humai harus lebih bersabar.
__ADS_1
Mata Humai tentu menatap ke luar. Dia bisa melihat tempat makan yang sering didatangi dengan Sefira dulu. Tempat dimana dia sering membelikan makanan untuk Reyn juga membuatnya mengulang kenangan indah dimasa lagunya.
Humaira sadar jika masa lalunya banyak hal buruk. Namun, dia juga ingat dibalik banyak hal yang terjadi, masih terselip kenangan indah dalam hidupnya.
Tak lama, setelah hampir tiga puluh menit perjalanan dari Tumpang ke kota. Akhirnya mereka telah sampai di salah satu toko perhiasan yang menjadi tempat pilihan Syakir.
Keduanya segera turun dan berjalan sambil bergandengan tangan memasuki toko yang lumayan ramai itu. Pria yang memiliki satu anak itu tak melepas genggamannya. Dia berjalan ke arah etalase dimana banyak cincin disana.
"Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?"
"Kami sedang mencari cincin nikah. Ada?" Tanya Syakir sambil menatap deretan cincin indah dan cantik disana.
"Ada, Tuan. Sebentar kami ambilkan."
Pelayan itu segera meninggalkan Humai dan Syakir. Pasangan manusia yang saling mencintai itu sedang menikmati dan meneliti banyak model yang ditata rapi disana.
"Ini bagus, Kak, " Kata Humai menunjuk sebuah liontin yang kotaknya berada di samping cincin.
"Kamu mau? "
Mata Humai membulat sempurna. Dia memukul tangan Syakir yang dengan mudahnya mengatakan itu.
"Aku cuma muji doang, Kak. Bukan mau, " Kata Humai menegaskan.
"Tapi aku serius, Sayang. Kalau kamu mau bisa buat mahar kita. "
"Ini, Tuan."
Syakir menerima liontin itu. Perlahan dia mendekatkan mainan kalung itu ke leher Humaira.
"Bagus."
"Tapi, Kak. Harganya, " Kata Humai dengan wakha yang tak enak.
Jujur dia tak mau minta apapun. Dia menunjuk mainan kalung itu karena memang modelnya bagus. Namun, sepertinya calon suaminya ini terlalu peka dan membuat apapun yang ditunjuk Humai dia pikir jika ibu satu anak itu menginginkannya.
"Sayang."
Syakir mengusap pipi Humai dengan pelan. "Jangan memikirkan harga jika bersamaku. Untukmu dan Jay, aku rela melakukan apapun. "
Ah begini saja membuat mata Humai berkaca-kaca. Dia menatap Syakir dengan pandangan harunya. Diratukan seperti ini membuat Humai merasa dihargai begitu dalam oleh Syakir.
"Mbak aku ambil ini dan ya, sekalian dengan kalungnya juga oke. "
"Baik, Tuan. "
__ADS_1
Humaira tak mau berkata apapun lagi. Akhirnya dia menurut semua yang dipilihkan oleh Syakir. Kalung, liontin, gelang tangan, gelang kaki, anting dan cincin nikah. Ya satu set perhiasan Syakir belikan untuk mahar wanitanya itu.
Dia benar-benar ingin menebus kesalahannya di pernikahan mereka yang sebelumnya. Dia ingin kenangan masa lalu itu ia ganti dengan kenangan indah.
Setelah semuanya selesai. Mereka segera kembali ke dalam mobil.
"Terima kasih banyak, Kak. Semua ini, benar-benar membuatku yakin jika aku berharga untukmu. "
"Jangan katakan itu lagi. Kamu berharga untukku melebihi emas ini."
...🌴🌴🌴...
Akhirnya setelah mengantarkan Humaira pulang. Syakir segera kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan, Papa Haidar menelpon dan meminta dirinya segera kembali ke rumah utama.
Niatan Syakir yang hendak ke apartemen akhirnya tertunda. Dia segera mengemudikan mobilnya menuju rumah dimana dia memiliki banyak kenangan indah disana.
Jalanan yang mulai lenggang membuat Syakir sampai dengan cepat. Dia segera keluar dari dalam mobil dan memberikan kuncinya ke arah supir. Dengan langkah cepat, dia mulai masuk ke dalam rumah.
Sampai suara beberapa orang di ruang tamu membuat kepalanya menoleh.
"Assalamu'alaikum," Salam Syakir saat matanya melihat ada orang yang sangat dia tahu siapa mereka.
"Waalaikumsalam, " Sahut mereka yang ada di ruang tamu.
"Ada apa, Pa? " Tanya Syakir yang terkejut.
Di ruang tamu, bukan hanya ada mama dan papanya sana. Namun, ada pengacara papanya dan orang kepercayaan papanya juga.
"Begini, Nak, " Kata Papa Haidar memulai.
Dia menatap putra pertamanya ini dengan lekat. Menurutnya sudah saat Syakir kembali ke posisinya. Semua yang dilakukan oleh putranya itu membuat Syakir menjadi sosok yang lebih baik.
Membuat putranya lebih bijaksana dan jauh bertanggung jawab. Sikap menghargai yang tinggi membuat Papa Haidar yakin jika putrinya telah siap kembali memegang apa yang seharusnya menjadi miliknya.
"Papa rasa kamu… " Jeda Papa Haidar yang membuat Syakir menunggu dengan perasaan tak karuan. "Sudah siap kembali memegang perusahaan, Nak."
Syakir membelalakkan matanya. Dia menatap papanya tak percaya.
"Tapi, Pa… "
"Kamu sudah mau menikah. Tanggung jawab kamu makin besar, Nak. Ada Jay dan Humai yang harus kamu cukupi kebutuhannya. Keadaan Papa juga sudah tak sanggup seperti dulu. Jadi, kembalilah ke perusahaan."
Papa Haidar menatap anaknya dengan penuh harap. Ya dia juga sudah lelah mengurus semuanya. Meski dengan bantuan orang kepercayaannya. Papa Haidar hanya ingin hidup tenang dengan istri, anak dan cucunya.
"Kembalilah, Nak. Itu perusahaan milikmu. Bantu Papa untuk meneruskan perjuangan keluarga kita."
__ADS_1
~Bersambung
Aku juga mau, Bang. Perhiasannya haha. Maharnya lebih banyak ye. Daripada dulu cincin aja dikasih Mama Ayna haha.