Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Makan Malam Bersama


__ADS_3

...Tak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan ketika bersama sekalipun itu harta yang berlimpah....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Jarum jam perlahan terus memutar. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Semua orang mulai terbangun dari tidur siangnya. Begitupun dengan Jay. Bocah kecil itu sudah melompat-lompat di atas ranjang dan membuat Syakir yang baru saja terlelap mulai terbangun.


Matanya terbuka dan bibirnya tersenyum melihat tingkah laku putranya yang sangat amat menggemaskan. Apalagi semua tingkahnya itu membuat Syakir selalu merasa hidupnya lebih berwarna.


"Jay, " Panggil Syakir yang membuat bocah kecil itu menoleh. "Jangan lompat-lompat. Lihat Ibu masih tidur. "


Jay terkekeh kecil. Dia hormat dengan tangan diletakkan di pelipis sebagai tanda setuju untuk diam. Bocah kecil itu memilih duduk di samping ayahnya dengan nafas naik turun.


"Ayah, nanti malam kita jadi keluar, 'kan? " Tanya Jay penuh harap.


Syakir tersenyum. Putranya ini adalah salah satu tipikal anak yang mudah mengingat apa yang dibicarakan padanya. Jay selalu mengingat semua janji dan ajakan seseorang kepadanya.


"Jadi. Ayo kita turun! Kita bilang ke Nenek, kalau nanti malam kita makan diluar aja. Oke? "


"Oke."


Syakir turun dari ranjang. Lalu dia meraih putranya dalam gendongan dan segera berjalan meninggalkan ruang kamar. Kedua pria dengan kemiripan begitu sangat amat persis berjalan ke lantai dasar.


Mereka mencari keberadaan Mama Emili atau Mama Ayna untuk mengatakan keinginannya. Hingga akhirnya, benar saja bukan. Ibu mertua yang sangat menyayangi dirinya tengah berada di dapur.


Hal itu tentu membuat Jay dan Syakir segera berjalan ke arah ruangan yang mulai dipenuhi beberapa pelayan yang sepertinya tengah membantu Mama Emili mengerjakan sesuatu.


"Ah, kalian sudah bangun? " Tanya Mama Emili pada keduanya dengan ramah.


"Sudah, Ma, " Sahut Syakir dengan mendudukkan Jay di kursi meja makan.


"Nenek! " Panggil Jay sambil melambaikan tangannya.


"Ya. Ada apa, Cucu Nenek? "


"Hmm, nanti kita makan di luar yah. Jadi Nenek jangan masak, " Kata Jay memberitahu.


"Eh." Mama Emili kebingungan.


Dia menatap cucunya dengan lekat lalu bergantian menatap ke arah Syakir untuk meminta penjelasan.


"Iya, Ma. Nanti malam kita makan di luar aja yah. Kita makan malam bersama."


"Kamu sudah diapain semuanya, Syakir? "

__ADS_1


"Belum, Ma. Tapi Syakir bakalan telepon restoran tempat kerja Syakir, " Ujar Syakir menjelaskan dengan jujur.


"Baiklah. Kalau begitu Mama gak masak. Kalian siapin aja semuanya, " Ungkap Mama Emili setuju.


"Yey… Yey kita makan diluar! " Pekik Jay dengan tepuk tangan.


Anak itu benar-benar ingin keluar bersama orang tuanya. Jay merasa bahagia. Dia adalah salah satu dari sekian banyak orang yang menginginkan kebersamaan orang tuanya lagi.


Bagaimanapun anak sekecil itu hanya ingin mamma dan papanya bersatu. Anak sekecil itu belum tau permasalahan yang intens. Yang mereka harapkan hanyalah Mama dan papanya bersama. Dalam satu atap dan bisa berada di sekitarnya.


"Ibumu kemana, Jay? "


"Ibu sedang tidur, Nenek, " Sahut Jay yang kemudian ingin turun dari kursinya.


"Yaudah. Kalian siap-siap aja okey. Ibu mau beresin dapur kalau gitu, " Pamit Mama Emili yang kemudian meninggalkan keduanya


Sepeninggal ibu kandung istrinya. Syakir menatap ke arah putranya. Dia melihat Jay yang mulai melangkah dan meninggalkan dirinya.


"Jay, mau kemana? " Teriak Syakir dengan suara yang masih batas wajar.


"Mau ke depan dulu, Yah."


Akhirnya Syakir membiarkan putranya. Dia lebih memilih mencari ponselnya sebentar untuk mengabari bahwa dia akan menyewa restoran tempat dia bekerja untuk makan malam bersama keluarga besar mereka.


Dia hanya ingin semua orang berkumpul dalam rangka kembalinya mereka berdua. Syakir ingin menikmati waktu mereka bersama-sama sebelum kembali ke kesibukan yang seharusnya mereka jalani.


...🌴🌴🌴...


Saat ini ketiganya sedang bersiap untuk melakukan makan malam. Humaira menyiapkan dua bayi besar mereka dengan baik. Dia mengambilkan pakaian untuk Jay dan Syakir lalu membantu putranya itu berganti pakain.


"Ibu, nanti Jay makan es krim. Boleh? " Tanya Jay yang sangat menyukai es krim.


Ah makanan satu itu memang favorit anak kecil. Dimanapun, kapanpun, es krim adalah salah satu makanan yang selalu dicari oleh mereka.


"Boleh tapi ingat, jangan banyak-banyak, " Kata Humai menasehati.


Jay mengangguk bersamaan dengan Humai yang selesai memakaikan pakaian putranya.


"Jay duduk dulu okey. Ibu bantu Ayah pakai baju, " Kata Humai mulai beranjak berdiri.


Bergantian, dia mendekati suaminya itu. Pria yang menjadi pasangan halalnya beberapa jam yang lalu. Humaira membantu memasangkan kancing baju yang sejak tadi dibiarkan terbuka seperti ini.


Humai mampu melihat jika suaminya itu memang sengaja. Sengaja menunggu dirinya agar sama seperti Jay. Dipasangkan dan dibantu memakainya.


"Udah. Cakep banget sih! " Kata Humai dengan sedikit berbisik.

__ADS_1


Syakir tersenyum kecil. Tanpa kata, dia mencuri satu kecupan di bibir Humai yang membuat wanita itu membulatkan matanya terkejut.


"Kak."


"Bibir kamu manis. Apalagi kalau lagi muji aku, " Kata Syakir dengan memberikan kedipan manja.


Humaira merasa pipinya panas. Namun, dia juga takut putranya melihat adegan gila itu. Ah Humai baru paham dan mengerti. Bagaimana sikap bucinnya suaminya itu kepadanya sekarang.


"Mau aku cium lagi? "


Humai menepuk lengan suaminya. Ah pikiran pria di depannya ini. Pria yang sangat ia cintai kenapa omes melulu.


"Gak usah aneh-aneh. Ada Jay. "


"Berarti kalau gak ada Jay. Boleh aneh-aneh? " Tanya Syakir menggoda.


Pipi Humaira semakin memerah. Ah suaminya ini benar-benar berhasil membuatnya malu bukan kepalang.


"Udah ah. Terserah. Humai mau ganti baju dulu, " Kata Humai mengalihkan perhatiannya pada Syakir agar suaminya itu tak terus mengganggunya.


Akhirnya semua persiapan selesai. Penampilan satu keluarga kecil itu sudah siap dan rapi. Jay dan Syakir berjalan lebih dulu keluar dari kamar. Lalu dibelakangnya disusul Humai yang sudah cantik dengan riasannya sendiri.


"Semua sudah siap, Ma? " Tanya Syakir pada kedua mertuanya.


"Sudah, " Jawab Mama Emili yang sudah siap dengan dress cantik yang membalut tubuhnya.


"Mama cantik, " Bisik Humai memeluk ibunya itu.


"Gombal. Anak sama Ayah gak beda jauh. Kalau mau gombalin Mama. Bisa aja, " Kata Mama Emili yang membuat Humaira terkekeh.


"Humai sama Papa, kan, sedarah, Ma. Jadi tingkah kita sama. "


Akhirnya pembicaraan keduanya berakhir saat supir keluarga Papa Hermansyah mengatakan bahwa mobil sudah siap. Keduanya segera masuk ke dalam mobil dan mulai meninggalkan pelataran rumah.


Kebahagiaan tentu sangat amat terasa malam ini. Humaira sendiri merasa bahagia ketika orang tuanya dan dirinya telah bisa kembali bersama.


"Ah iya. Kak, " Panggil Humai yang membuat Syakir menoleh sekilas dan kembali menatap kedepan.


"Ada apa, Sayang? "


"Bagaimana perkembangan Rachel? Kenapa Mama sama Papa belum cerita apapun? " Tanya Humai yang hampir melupakan hal itu.


Pernikahannya kemarin membuatnya lupa jika ada satu urusan yang belum selesai.


"Nanti kamu tanyakan pada mereka yah? Pasti Mama dan Papa juga belum sempat menceritakan pada kita. "

__ADS_1


~Bersambung


Wehh yang gak sabaran sama MP. Mbok sabar guys. Aku juga lagi mikir haha. Semoga part MP insya Allah nanti malam ye. Do'ain hari ini bisa 3 bab lagi.


__ADS_2