
...Kekuatan seorang ibu adalah anaknya. Meski sakit di hatinya begitu besar tapi demi sang anak dia mampu mengalah....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Panggilan itu langsung diputus oleh Papa Haidar. Pria paruh baya dengan wajah yang masih tampan meski usianya tak lagi muda itu mulai membuka ponselnya. Dia mengotak-atik benda pipih itu hingga akhirnya menemukan apa yang dia cari.
"Pa. Ada apa?" tanya Sefira yang terkejut dengan tingkah papanya.Â
"Papa," panggil Mama Ayna yang juga menunggu penjelasan suaminya.Â
Papa Haidar terlihat menutup kedua matanya sebentar. Sepertinya pria itu berusaha mengatur nafasnya karena terkejut dengan kabar yang ia dengar.Â
Dengan pelan, pria paruh baya itu langsung menyerahkan ponselnya pada istri dan anaknya yang menunggu. Tentu dua perempuan kesayangan Keluarga Alhusyn itu segera melihat berita apa yang papanya katakan.
"Papa, ini?" Wajah Sefira dan Mama Ayna terkejut.
Keduanya menatap suaminya dengan pandangan penuh tanya. Kemudian Sefira menatap sosok Hermansyah yang ternyata juga sedang menatapnya.
"Papa bagaimana bisa foto Kak Syakir dan Humai tersebar?"Â
Hermansyah yang sudah curiga lekas merampas ponsel yang dipegang oleh Sefira. Pria paruh baya itu mengentatkan rahang ketika gambar tak senonoh putrinya dengan calon mantan suaminya ada disana.
Tangannya bahkan sampai mencengkram ponsel Papa Haidar dengan erat karena emosinya yang mulai naik.
"Apa-apaan ini? Siapa yang melakukan semua ini pada putriku?" seru Hermansyah menatap Keluarga Syakir.
"Pasti ini perbuatan Adam," lirih Papa Haidar yang membuat Hermansyah mengerutkan keningnya merasa asing dengan nama itu. "Adam adalah asisten putraku sekaligus sahabat masa kecilnya. Dia bekerja pada putraku hanya untuk membalas dendam karena perilaku papanya."Â
Hermansyah berusaha menahan emosinya. Ternyata musibah yang terjadi pada anaknya tak lebih ubahnya karena kejadian di masa lalu. Rentetan banyaknya kejadian yang terjadi ternyata mampu memasuki masa depan mereka. Meracuni segala hal dan menjadikan luka untuk anak-anaknya.Â
"Lalu bagaimana dengan kabar itu, Pa? Berita ini bahkan sudah menyebar luas," kata Sefira dengan menangis.
Kabar itu pastinya sudah menyebar dengan cepat. Syakir yang merupakan keturunan keluarga Alhusyn dan metupakan seorang pembisnis tentu menjadikan berita itu kabar empuk banyaknya wartawan yang berdatangan.Â
__ADS_1
Ditambah sosok Humaira yang merupakan murid pandai di salah satu Universitas di Malang, membuatnya langsung menjadi bualan-bualan banyak mahasiswa yang melihat beritanya.Â
"Papa akan pulang ke Malang. Kakakmu juga sedang terluka, Giska!"Â
Kabar itu membuat tubuh Mama Ayna oleng. Perempuan paruh baya itu terasa lemas mendengar kondisi putranya. Sebenci dan semarah apapun dirinya pada sang putra tapi Mama Ayna masih memiliki hati untuk Syakir.
Dia sangat tahu putranya hanya sedang salah arah. Cinta yang salah diberikan pada wanita yang salah tentu membuatnya buta arah. Mama Ayna tentu tak menyalahkan segalanya pada putranya. Namun, dia juga tak membenarkan sikap Syakir pada anak dan istrinya.Â
"Giska ikut, Pa."Â
"Mama juga!"Â
Papa Haidar menggeleng. Dia menarik istrinya ke dalam pelukan karena tahu jika beberapa hari ini masalah terus datang di keluarga mereka. Dia bahkan sangat khawatir pada istrinya itu. Kesehatan Mama Ayna juga beberapa hari ini terganggu karena masalah yang terjadi.
"Kalian harus tetap disini. Jaga Humai dan cucu Papa. Jangan sampai dia melihat berita di televisi atau ponsel siapapun. Mengerti?"Â
Semua orang mengangguk. Mereka sepakat untuk menyembunyikan berita panas itu dari Humaira. Mereka tak mau membuat istri Syakir itu yang pasca melahirkan menjadi banyak beban pikiran.Â
Mereka juga tak mau membuat Humaira menjadi stress dan akan berpengaruh pada kesehatan dan asi untuk anaknya.Â
"Ada apa sus?"Â
"Bayi dari Bunda Humaira sudah dibersihkan. Siapa yang akan mengadzaninya?"Â
Jantung semua orang mencelos. Mereka saling menatap seakan bingung hendak menjawab. Semua orang sangat tahu tugas siapa sebenarnya ini tapi takdir berkata lain.
Tak ada Syakir disana. Tak ada ayah dari bayi mungil lucu dan menggemaskan itu. Hingga akhirnya Papa Haidar menatap sosok Hermansyah yang juga sedang menatapnya.
"Ayo! Kita adzani cucu kita yang pertama, Hermansyah!" ajak Haidar dengan memberikan uluran tangan pada besannya tersebut.
...🌴🌴🌴...
"Ayah ayo bangun. Kenapa Ayah tidur terus!" panggil sebuah suara khas anak laki-laki kecil.
Seorang pria yang sedang memejamkan matanya itu mulai membuka mata. Dia menatap ke samping dan melihat seorang bocah kecil tengah menatapnya dengan tersenyum.
__ADS_1
"Ayo, Ayah! Kita pergi," ajak anak itu dengan mengulurkan tangannya.
Pria itu perlahan beranjak duduk. Dia menatap sekelilingnya yang terlihat serba putih. Dirinya juga menatap ke dirinya sendiri yang memakai pakaian serba putih juga. Tak ada siapapun disana, hanya ada dirinya dan anak kecil itu.
"Kita mau kemana?" tanya pria itu dengan bingung.Â
Dirinya tak tahu sedang ada dimana. Dirinya juga tak tahu harus bertanya pada siapa kecuali pada bocah yang ada di dekatnya ini.
"Kita menyusul Ibu, Ayah. Ibu sudah menunggu kita. Tempat Ayah bukan disini!"Â
Entah kenapa hati pria itu menghangat. Dia bahkan menatap bocah itu dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan. Wajahnya yang mungil dan imut tiba-tiba mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang sangat dia rindukan. Seseorang yang sangat ingin ia temui.
Dia juga bisa melihat beberapa duplikat dirinya afa pada wajah bocah laki-laki tersebut. Perpaduan tentang dirinya dan seorang wanita yang mulai membuat hatinya resah.
Meski tak mengerti. Akhirnya pria itu mengikuti bocah kecil tersebut. Kedua anak dan ayah itu saling bergandengan tangan dengan wajah bahagia.Â
"Naikkan tekanannya!" kata Dokter dengan keringat mulai membasahi dahinya.
Suasana di ruang operasi ini terasa mencekam. Suara detak jantung yang menandakan tak ada kehidupan itu memenuhi ruangan tersebut.
Semua dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa orang yang berpengaruh di kotanya. Mereka sedang mencoba mencari satu kesempatan lagi untuk membuat pria yang merupakan keturuan dari keluarga terpandang itu kembali bisa menatap dunia.Â
"Oke. Siap!" kata dokter itu mulai menggesekkan mesin kejut jantung itu setelah dinaikam tekanannya.
Semua dokter saling memanjatkan doa. Mereka mulai menarik nafasnya begitu dalam sebelum akhirnya dokter itu mulai mendekatkan mesin kejut jantung di dada pria dengan kepala terluka.
"1…2…3!" ucap dokter itu dengan banyak menguntai doa untuk pasiennya.
Alat pengejut jantung itu kembali diletakkan di dada pria yang tengah bertaruh nyawa itu. Hingga bunyi mesin detak jantung itu kembali terdengar dan membuat semua dokter disana bernafas lega.
"Ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan pada Tuan Syakir. Dia masih bisa diselamatkan!"Â
~Bersambung
Kan udah degdegan kan baca judulnya? Hayoo ngaku?
__ADS_1
Latihan aja dulu siapin hati hahaha.