Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Jeno Diterima atau Ditolak?


__ADS_3

...Aku tak mau menyakiti siapapun. Namun, mengatakan sebuah kebohongan jauh lebih sakit daripada menyatakan sebuah kenyataan. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


"Saya tak bisa, Pak," jawab Humai dengan suaranya yang begitu pelan. "Saya tak bisa menerima perasaan Anda." 


Jeno merasa hatinya sakit mendengar perkataan Humaira. Seakan segala hal yang dia bangun sejak dulu, segala hal yang ia impikan bersama Jay ternyata hanyalah sebuah angan.


"Bapak terlalu sempurna untuk Humai," lanjut Humai sambil memberanikan diri menatap dosen killernya itu.


"Saya tak sesempurna apa yang kamu lihat, Mai. Saya banyak kekurangan," jawab Jeno dengan pandangannya yang terluka.


Humaira mampu melihat kesedihan itu di mata dosen killernya ini. Dia bisa melihat bagaimana tatapan hancur dari seorang Jeno.


Humai merasa dirinya sejahat ini. Humai merasa dirinya terlalu tega pada Jeno. Namun, percayalah, sebuah perasaan tak bisa dipaksakan. 


Dia tak mungkin mengatakan kebohongan tentang hatinya. Dia tak mungkin berpura-pura mencintai Jeno demi membahagiakan pria itu. Sebuah hati jika ditolak mungkin sakitnya akan terasa di awal. Namun, percayalah. Waktu bisa menyembuhkannya. 


"Saya benar-benar mencintai kamu, Mai," ujar Jeno dengan memberanikan diri memegang tangan Humai.


Mantan istri Syakir itu menatap tangannya yang dipegang Jeno. Dia tak melepaskan. Dia tak menghindari. Namun, dengan perasaannya yang sebagai seorang perempuan lemah lembut, Humai malah semakin berani menatap kedua mata dosen killernya ini.


"Saya tahu, Pak. Saya bisa merasakannya," jawab Humai dengan tersenyum. "Tapi, tak seharusnya perasaan Bapak diberikan pada saya." 


"Saya adalah seorang perempuan janda, Pak. Saya ibu dari satu anak. Anak yang harus saya perjuangkan kebahagiaannya," kata Humai pada Jeno. "Saya tak bisa menjanjikan apapun. Perasaan saya juga tak bisa dipaksakan." 


"Apa kamu tak mencintai saya?" 


Humaira merasa hatinya semakin sesak. Apalagi melihat bagaimana hancurnya Jeno di hadapannya ini. Namun, percayalah. Biarkan hati ini melebur hari ini dan semoga esok Tuhan menyembuhkannya. 


"Saya belum sanggup membuka hati saya untuk orang baru, Pak. Saya juga masih trauma dengan pengalaman masa lalu saya," kata Humai dengan jujur. "Anda baik, siapapun pasti bisa mencintai Anda. Tapi sayang, Anda datang di masa saat saya menutup hati dari siapapun." 


Humaira membalas genggaman tangan Jeno. Biarlah kali ini dia membiarkan dosen killernya itu menggenggam tangannya. Setidaknya kehangatan tangan keduanya membuat Jeno yang merasakan hatinya sakit mampu mengerti akan ucapan dirinya. 


"Saya yakin Bapak mampu mendapatkan yang lebih dari saya. Diluar sana banyak wanita yang siap dimiliki oleh Pak Jeno," lanjut Humai dengan yakin. 


"Tapi perasaan saya sudah jatuh sama kamu, Mai," kata Jeno masih kekeh dengan hatinya. 


"Saya tahu, Pak. Tapi hati saya masih kokoh. Saya tak mencintai Anda," kata Humai semakin berani dan tegas.


"Saya tak mau munafik mengatakan mencintai Anda, agar Bapak bahagia. Saya tak mau Anda merasa terbohongi," lanjutnya semakin membuat Jeno merasa terbuka hatinya. 

__ADS_1


"Tapi dengan kamu mengatakan seperti ini. Perasaan saya sakit, Mai. Saya menunggu selama satu tahun untuk berani mendekatimu dan Jay tapi…" jeda Jeno dengan suara yang tertahan. "Perasaan saya tak terbalas." 


"Pak," panggil Humai pelan yang membuat Jeno menatap Humai kembali. "Jika saya bisa membuka hati saya, membuat hati saya mencintai Anda. Akan saya lakukan."


Apa yang dikatakannya memang benar. Siapa yang mau menolak pria sempurna seperti Jeno? Pria tampan, pandai, bertanggung jawab, perhatian dan menyayangi putranya.


Pria yang tak pernah lelah memberikan waktunya untuk dirinya dan Jay. Pria yang selalu meluangkan waktu menjaga dan menemani Jay bermain tentu pria yang sangat idaman. Namun, itu akan terjadi jika Humai telah sembuh akan traumanya.


"Tapi saya hanyalah manusia biasa, Pak. Saya tak mungkin memaksa perasaan saya menerima orang baru. Bapak pasti mengerti maksud saya, 'bukan?" 


"Apa Bapak mau hubungan palsu, perasaan palsu dan kebahagiaan palsu?" tanya Humai dengan pikiran dewasanya. "Gak mau, 'kan?"


"Saya sendiri juga gak mau, Pak. Saya mau melewati sebuah hubungan dengan kejujuran. Saya mau menikmati hubungan itu tanpa kepalsuan," kata Humai dengan pelan penuh hati-hati.


"Jangan paksa saya, Pak. Saya yakin Bapak bisa menemukan pengganti saya," kata Humai dengan pelan melepaskan genggaman tangan Jeno. 


"Saya…" 


"Jangan paksa sebuah perasaan. Humai yakin Bapak orang baik. Bapak juga gak bakal mampu merusak kebahagiaan Jay, bukan?" 


"Saya bahagia bukan untuk egois, Pak. Tapi kebahagiaan utama saya melihat Jay bahagia," lanjut Humai dengan tatapan memohonnya.


Dari sini, Jeno mulai paham bahwa dia tak boleh egois. Dia teringat wajah kecil Jay. Bagaimana anak laki-laki itu sangat menyayanginya dengan tulus. Bagaimana anak itu yang cukup menjadi kebahagiaannya selama ini. 


"Saya doakan Bapak menemukan wanita yang baik untuk Anda. Wanita yang bisa membuat hidup Bapak lebih bahagia dan sempurna." 


Ucapan kata itu membuat Humai menatap dosennya dengan lekat. 


"Bukankah sebuah doa baik harus diaminkan?" kata Jeno yang membuat Humai mengangguk. "Mungkin perasaan saya sekarang sakit tapi saya lega telah mengutarakan perasaan saya, Mai." 


"Tak ada lagi beban untuk saya. Menyatakan semua perasaan ini benar-benar sebuah penyakit hati untuk saya. Namun, sekarang kamu mengajarkan bagaimana tahta tertinggi dalam mencintai seseorang."


"Melihatnya bahagia meski bukan bersama kita," lanjut Jeno yang membuat Humai tersenyum dengan kepala mengangguk.


"Level tertinggi itu, Pak. Merelakannya bahagia meski perasaan kita sakit. Saya pernah merasakannya dulu!" 


Humai meneteskan air matanya. Tanpa sadar dia mengingat saat dirinya dipaksa oleh keadaan. Bercerai, meninggalkan rumah dan pergi dari hidup suami yang sangat ia cintai. 


Semua itu sangat menyakitkan. Tapi percayalah semua itu bisa kita lewati setelah waktu berputar dan menyembuhkannya. 


"Setelah ini apa aku masih boleh bertemu dengan Jay?" tanya Jeno berpamitan.


"Tentu, Pak. Tak akan ada yang bisa memisahkan Bapak dengan Jay. Hubungan kalian masih tetap sama apapun kejadian yang terjadi di antara kita berdua."

__ADS_1


...🌴🌴🌴...


Di sebuah rumah, terlihat sepasang ayah dan anak sedang bermain di teras rumah. Waktu memang sudah menjelang sore hari tapi dirinya masih setia bermain disini. 


"Ayah, kenapa Ibu lama sekali?" teriak bocah laki-laki yang tak lain adalah Jay.


"Iya. Om Jeno lagi pinjam Ibu sebentar. Katanya mau ngobrolin sesuatu," kata Syakir dengan jujur.


Ya, Jeno telah mengirimkan pesan pada Syakir. Pria itu hanya pamit untuk memastikan perasaan Humai. Meski awalnya Syakir merasa takut dan cemburu tapi melihat kebaikan Jeno, dia yakin pria itu tak berniat curang kepadanya.


Syakir juga yakin jika namanya jodoh tak akan pernah pergi dan berpaling darinya. 


"Oh. Ibu sama Om Jeno. Kalau gitu ya gak papa," sahut Jay lalu kembali bermain dengan kucing pemberian Jeno. 


Tak lama suara mobil yang berhenti di depan pagar membuat keduanya menoleh. Syakir duduk di atas rumput bersama Jay menatap sosok wanita kesayangannya turun dari sana.


Dia juga melihat bagaimana Humai yang melambaikan tangan pada mobil yang ia yakini adalah Jeno. Setelah itu, wanita itu berbalik dan perlahan memasuki pekarangan rumah.


Semakin dekat, Syakir mampu melihat mata mantan istrinya yang membengkak.


"Apa terjadi sesuatu disana? Apa Humai menerima perasaan Jeno?" 


Begitupun dengan Humai. Dia mengangkat wajahnya perlahan sampai akhirnya tatapannya bertemu pandang dengan Syakir.


"Apa kedatangannya adalah pertanda bahwa kami berdua berjodoh, Tuhan?" 


~Bersambung


Hayo ngaku siapa yang lega woy? akhirnya Pak Jeno mundur alon-alon kan hiks!


Btw mampir di karya temenku juga



Salahkah aku apabila jatuh cinta pada gadis yang usianya sebaya dengan anakku ?


Dia bernama Karin Shalina, pesona lugunya membuatku jatuh kedalam pesonanya.


Rumah tanggaku yang sudah berada diujung tanduk membuat ku berani bermain api dibelakang istriku.. Aku tak takut di cap pengkhianat atau pria bajingan, nyatanya Istriku yang telah membuat aku bertindak mengkhianati nya. Dialah yang membuatku dari setia menjadi pria pengkhianat...


* Antoni Conte..


Salahkah aku bila mencintai dia yang ternyata suami orang ?

__ADS_1


Cap pelakor melekat padaku, bukankah hati tak bisa dipaksa kepada siapa akan berlabuh. Aku yang tak pernah jatuh cinta, tak ku sangka sekali jatuh cinta langsung pada suami orang..


* Karin Shalina.


__ADS_2