
...Tak ada yang mampu menandingi kekuasaan Tuhan. Seberat apapun mereka membenci dan hendak mencelakaimu. Jika Tuhan tak berkehendak maka kau berada dalam lindungannya....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Siapa dia, Fir?" tanya Humai yang mulai merasa curiga.Â
Ibu hamil itu menatap ke belakang. Melihat sebuah mobil yang terus mengikuti mobil mereka. Sejak tadi keduanya belum menyadari jika ada mobil yang mengikuti dari belakang. Hingga bunyi klakson yang mengganggu membuat keduanya mulai tak nyaman.
"Aku tak tahu, Mai!" seru Sefira yang mencengkram setir kemudinya dengan kuat. "Kau percaya padaku, 'kan?"Â
Sefira bertanya dengan menatap Humaira sekilas lalu kembali fokus ke depan. Kendalinya saat ini hanya ada di tangan Sefira dan kuasa Tuhan. Adik Syakir itu berusaha tetap fokus agar keselamatan mereka terjaga.Â
Humaira ketakutan. Namun, dia tak pernah meragukan kepercayaan sahabatnya. Ibu hamil itu mengangguk dengan tangan mencengkram kuat seatbelt yang melindungi tubuhnya.Â
"Ambil bantal yang selalu aku bawa di kursi belakang, Mai," kata Sefira menunjuk benda yang selalu ia bawa kemanapun di dalam mobil.
Humaira menoleh ke belakang. Dia meraih bantal itu lalu meletakkan di pangkuannya.
Tin tin.
"Oh Ya Tuhan!" pekik Humaira semakin gemetaran.Â
"Taruh bantal itu di perutmu. Pegang sabuk pengaman dengan kuat dan tahan tubuhmu biar gak kepental, oke?" ujar Sefira dengan tatapan yakin. "Aku pasti bawa kamu ke tempat senam dengan selamat, Mai. Aku janji itu."Â
Humaira menangis. Dia takut terjadi sesuatu pada mereka. Namun, dia percaya pada kuasa tuhan dan sahabatnya. Dia yakin Sefira akan membawa mereka dengan selamat.
"Aku percaya sama kamu. Apapun yang terjadi sama kita, aku berharap Tuhan masih berbaik hati."Â
"Aamiin!"Â
Akhirnya Sefira menginjak pedal gas dengan kuat. Dia begitu fokus dengan tatapan depan. Dirinya bahkan dengan lihai membawa mobil itu. Namun, saat kendaraan mereka mulai memasuki area jalan utama menuju kota.
Jalanan mulai sedikit padat. Hingga saat mereka menurunkan laju kendaraan tiba-tiba.
Brak!
"Aghh!" teriak Humai dengan mata terpejam.
Dia tak mau menatap kemana-mana. Dia menunduk dengan tangan mencengkram kuat bantal yang ada di perutnya. Dia takut anaknya kenapa-napa. Dia takut sahabatnya juga terjadi sesuatu hingga bibirnya terus menaburkan untaian doa.
Dia tak pernah ada di posisi seperti ini. Saat ini adalah momen pertama kalinya dia ada di keadaan yang benar-benar menakutkan. Seakan nyawanya sedang dipertaruhkan saat ini.
"Pegang kuat ya, Mai. Aku yakin kita bisa!" kata Sefira dengan tatapan tajam melihat ke arah depan.
__ADS_1
Dia mulai bersiap menaikkan laju mobilnya. Di akan menyalip. Namun, dari arah depan sana dia melihat sebuah truk besar yang berlawan arah.Â
Dengan keberanian dan tekad yang kuat, dia harus menjebak mobil di belakangnya. Sefira memberikan send kanan, kemudian dia segera menekan gas mobil itu dengan cepat.
Aksi ini benar-benar nekat. Bunyi klakson truk terdengar di telinga keduanya. Hingga hanya takdir Tuhan lah yang mampu menyelamatkan mereka sampai suara benturan begitu kuat terdengar dan membuat semua orang yang ada disana berteriak.
"Aghjj!"Â
Brak Bluarrrr.
...🌴🌴🌴...
New York.Â
"Semangat Anda sangat luar biasa," kata dokter yang merupakan teman Papa Haidar.
Rein yang baru saja didudukkan di kursi roda dengan nafas tak beraturan itu tersenyum. Dia sendiri tak tahu mendapatkan kekuatan dari mana. Meski kakinya sakit, ia mencoba melawannya.
"Saya hanya ingin bertemu dengan kakak saya, Dok. Saya ingin segera pulang," kata Rein dengan wajah sendu akan isyarat rindu yang mendalam.
"Saya yakin kalau Anda terus berlatih, tak perlu waktu seminggu Anda bisa jalan dengan lancar," kata Dokter menyemangati.
Rein mengangguk. Dia tersenyum bahagia saat apa yang ia inginkan akan tercapai. Rein tak sabar dimana dia akan bertemu kakaknya. Dia berjanji tak akan meninggalkan Humai sendirian lagi.
"Terima kasih, Dokter."
"Apa terapinya selesai?" tanya Mama Ayna yang sejak tadi melihat bagaimana perkembangan Rein.
"Ya. Pasien boleh kembali ke ruang rawatnya," ucap dokter itu dengan ramah.Â
"Sekali lagi, terima kasih, Jay. Aku berhutang budi padamu," ucap Papa Haidar menepuk bahu temannya.
"Sama-sama. Secangkir kopi mungkin cukup untuk membayarku. Bagaimana?"Â
Haidar terkekeh. Namun, dia tak bisa menolak.
"Kutunggu di ruang rawat Rein yah. Jemput aku jika jam kerjamu selesai," kata Papa Haidar sebelum perawat mendorong kursi roda Rein keluar.
"Oke."Â
Akhirnya orang tua Syakir mengikuti langkah perawat. Mereka segera memasuki ruangan VIP itu dan mulai mendekati ranjang dimana Papa Haidar yang membantu adik Humai untuk naik ke atas ranjang.
"Terima kasih banyak, Om. Rein banyak ngerepotin Om dan Tante," ucap remaja itu dengan pandangan yakin.
Dia tak tahu harus membalas seperti ini. Kebaikan mertua kakaknya sangat amat banyak. Bahkan Mama Ayna sampai membantunya makan dan Papa Haidar yang menggendong dirinya dari ranjang ke kursi roda dengan ikhlas.
__ADS_1
Mereka merawat Rein tanpa pamrih. Membantu dengan ikhlas dan memberikan kata semangat sampai anak muda itu bisa sampai di titik ini.
"Mau minum?" tawar Mama Ayna mengambil sebotol air putih untuk adik menantunya itu.Â
"Iya, Tante. Rein haus."Â
Mama Ayna memberikan botol itu dan membantu Rein. Bahkan dengan penuh perhatian juga, dia menyiapkan pakaian ganti dan memakaikan pada Rein.
Sikap seperti ini sudah seperti perilaku ibu pada anaknya. Mama Ayna benar-benar tulis merawat Rein dan menganggap seperti anaknya sendiri.Â
"Tante," panggil Rein dengan sopan.
"Ya?" sahut Mama Ayna yang baru saja membereskan sisa makan Rein.
"Boleh aku pinjam ponsel Tante untuk menghubungi Kak Humai?" pinta Rein dengan penuh hati-hati.
Entah kenapa sejak tadi perasaannya tak enak. Dia merasa terjadi sesuatu pada kakaknya.
"Boleh. Tante hubungi yah," kata Mama Ayna membantu mencari nomor menantunya.
Di lekas memanggil. Namun, tak ada sahutan dari seberang sana. Sampai deringan terakhir dan panggilan ketiga tetap tak ada jawaban.
"Kemana Kak Humai?" tanya Rein dengan khawatir.Â
Mama Ayna yang melihat kepanikan dalam diri Rien ikut panik. Dia segera mencoba menghubungi nomor ponsel putrinya dan sama saja. Tak ada jawaban apapun.
"Kemana kamu, Nak?" ucap Mama Ayna yang terus berusaha menghubungi anak perempuannya.
Dia sangat tahu bagaimana Sefira. Anaknya itu tak pernah mengabaikan panggilannya. Walau dalam kampus pun, Sefira akan lekas memberikan pesan singkat jika memang sedang kuliah.Â
Sampai akhirnya, Mama Ayna tak menyerah. Dia segera mencari nomor suruhan mata-matanya. Saat dia hendak menelpon, ternyata nomor yang hendak dia hubungi telah menghubungi dia dulu.Â
Tanpa menunda, dia segera mengangkat panggilan itu dan mendekatkan di telinganya.Â
"Halo? Kau dimana?" tanya Mama Ayna dengan nada khawatir. "Apa kau tahu, dimana Giska sekarang? Dimana Humaira juga? Kenapa anak-anakku itu tak bisa dihubungi?"Â
Mama Ayna benar-benar bertanya dengan beruntun. Dia tak memberikan jeda untuk lawan bicaranya menjawab pertanyaannya.Â
"Kenapa kau diam?"Â
"Maaf, Nyonya," ujar suara pria dari seberang sana. "Nona Giska dan Nona Humai mengalami kecelakaan. Mobil mereka hancur…"Â
"Apa!"Â
~Bersambung
__ADS_1
Hmm anu geng, maaf. Aku mau izin kabur aja dulu. Aku yakin isi komen nanti banyak yang suudzon eh. hehehe. Tapi aku seneng ngetik Syakir Humai, seneng juga bacain komen kalian.