
...Aku tak menyangka jika kegilaan wanita cupu itu semakin melebar dan dia mendapatkan semuanya....
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Syakir lekas berjalan menuju pintu ruangan kerjanya. Saat dia membuka pintu, sebuah dorongan dari luar membuatnya masuk kembali.Â
"Rachel!" pekik Syakir yang terkejut dengan keberanian Rachel disini.
"Aku merindukanmu. Kau tak pernah menemuiku lagi di apartemen, Sayang," kata Rachel yang mendekatkan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya di leher Syakir.
Pria itu berusaha melepaskan lilitan tangan itu tapi Rachel tak mau melepaskannya.
"Lepaskan aku, Chel. Aku mau pulang," kata Syakir yang sudah sangat penasaran dengan sesuatu yang diletakkan oleh Sefira di kamarnya.Â
"Nggak!" seru Rachel tak mau kalah. "Kau mengabaikanku, Syakir. Kau tak mau mengabariku. Apa kau sudah tak mencintaiku hah?"Â
Rachel berteriak. Dia mengeluarkan segala keluh kesahnya. Memang setelah acara pengusiran itu, Syakir belum menemui Rachel sedikitpun. Pria itu seakan takut dengan ancaman sang adik kepadanya.
Syakir menuruti semua perintah Sefira. Dia rela tak menemui Rachel demi Sefira tak semakin membencinya.Â
"Mengertilah sedikit, Chel!" pinta Syakir berusaha mengalah.
Dia melingkarkan tangannya di pinggang Rachel hingga tubuh keduanya begitu berdekatan.Â
"Sefira masih marah kepadaku. Aku harus menjaga jarak darimu untuk mendapatkan maafnya. Jadi bantulah aku sedikit, Sayang," kata Syakir dengan penuh pengertian.
Dia tahu bagaimana sifat dan watak Rachel. Wanita itu akan semakin marah jika dilawan dengan sama-sama emosi. Dia bisa dinasehati jika Syakir yang mengalah dan berbicara dari hati ke hati.
"Tapi berilah aku kabar. Kau bahkan menghilang sampai membuatku gila," rengek Rachel manja.Â
Dia mendorong tubuh Syakir ke kursi yang ada disana. Kemudian tanpa malu dia duduk di pangkuan Syakir dengan posisi berhadapan. Perempuan itu memang penuh muslihat. Selain dia ingin mengambil simpati Syakir, dia juga ingin menggoda kekasihnya tersebut.Â
__ADS_1
"Maafkan aku yah. Aku janji tak akan mengulanginya lagi," pinta Syakir dengan wajahnya yang bersungguh-sungguh.
Rachel mengangguk. Lalu tangannya bergerak menyusuri rahang tegas Syakir. Dengan sekali gerakan dia menarik kepala belakang pria itu hingga bibir keduanya bertemu.
Kerinduan yang tercipta di antara keduanya membuat Syakir juga rindu dengan momen berdua mereka. Mereka mulai menyesap dan saling melilit lidah keduanya yang begitu ganas dan liar.
Syakir seakan kehausan dengan padang panas dan dia menginginkan hal lebih. Apalagi ketika tangan Rachel mulai mengusap dadanya yang membuat hasratnya naik. Namun, Syakir sadar akan sesuatu.
Kenapa miliknya belum mengeras. Apalagi saat dia berusaha memegang gundukan milik Rachel. Tiba-tiba bayangan wajah Humai terbayang. Apalagi ketika air mata berderai di wajah istrinya membuat hasrat Syakir semakin menurun.Â
Hingga tiba-tiba suara ketukan pintu yang tak sabaran membuat Syakir melepaskan ciumannya.
"Kenapa dilepas? Aku merindukanmu," rengek Rachel manja dengan menciumi leher Syakir.Â
"Nanti dulu, Sayang. Kau masuk ke kamar. Ada seseorang yang mengetuk pintu," pinta Syakir lalu menggendong tubuh kekasihnya.Â
Rachel hanya bisa menjepit pinggang Syakir dengan kedua kakinya. Kedua tangannya dikalungkan ke leher Syakir dengan gerakan menggoda Rachel menciumi leher Syakir agar pria itu konek.Â
Setelah mengatakan itu Syakir lekas meninggalkan Rachel yang mulai melebarkan senyumannya. Gadis itu ternyata berhasil membuat Syakir selalu mengeluarkan uang kepadanya. Hanya dengan modal marah dan merajuk, kekasihnya itu selalu menyanggupi apapun yang dia minta.Â
^^^🌴🌴🌴^^^
Sedangkan Syakir, pria itu lekas duduk di kursi kerjanya kembali. Dia merapikan kemejanya yang sedikit berantakan karena ulah Rachel.Â
"Masuk, Adam!" kata Syakir pada asistennya yang setia menunggu di depan pintu.
Adam adalah orang yang memiliki aturan. Meski dia tahu pintunya tak terkunci, meski tujuannya sangat amat terburu-buru. Dia akan tetap menunggu di depan pintu sampai Syakir mempersilahkannya masuk.Â
"Ada apa?" tanya Syakir menatap sosok asistennya yang memegang sebuah berkas.
"Ini, Tuan," kata Adam memberikan sebuah berkas pada Syakir yang duduk di kursi kerjanya.
"Apa ini, Adam?" tanya Syakir mulai membuka berkas itu.
__ADS_1
Tubuhnya menegang kaku. Dia bahkan sampai tanpa sadar mencengkram pinggiran berkas dengan amarah yang mulai mengumpul. Dadanya kembang kempis menahan amarah saat matanya mulai membaca satu per satu kata yang tertulis di sana. Matanya yang tajam semakin menusuk dan rasanya Syakir ingin menyobek kertas yang ada di tangannya ini.
Dia tak percaya dengan apa yang Mamanya lakukan. Bahkan pria itu sampai mengambil ponsel mewahnya dan mencari nomor sang mama. Tanpa menunda pria itu mulai menelpon Mama Ayna untuk menanyakan semua ini. Namun, sampai dering ketiga dan panggilan ketiga kalinya, panggilan itu tak diangkat.
"Apa maksud dari semua ini, Dam? Apa?" seru Syakir menahan amarahnya yang hampir meledak.
"Nyonya Ayla telah memberikan sepuluh persen sahamnya untuk calon cucunya, Tuan," kata Adam pada Syakir. "Nyonya mengatakan bahwa saham ini akan menjadi kado kelahiran cucu pertamanya."
"Bulshit!" seru Syakir membanting berkas itu. "Kenapa Mama melakukan semuanya tanpa sepengetahuanku?"
Pria itu mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Dia semakin merasa marah dan emosinya naik ketika mengingat wajah Humai yang terus melintas di kepalanya.
Dirinya tak menyangka jika pengaruh gadis cupu itu besar pada keluarganya. Bahkan Humai bisa membuat hubungannya dengan sang adik yang sangat dekat kini menjauh sejauh mungkin.Â
"Maaf, Tuan. Saya tak tahu apapun. Saya hanya menjalankan apa yang Nyonya besar inginkan," kata Adam yang tak mau membuat Syakir salah paham kepadanya.Â
"Siapkan mobil, Adam. Aku ingin pulang!" kata Syakir yang tak menunda lagi keinginannya.Â
Dia seakan melupakan sosok Rachel yang ada di kamarnya. Dia sudah diliputi oleh amarah yang besar. Dia benar-benar rasanya ingin mencaci maki Humai yang sudah terwujud atas keinginannya melempar tubuhnya ke ranjang Syakir.
"Batalkan semua pertemuan. Aku ingin membereskan masalah ini!" kata Syakir yang sudah bergerak ke arah sofa dan memakai kemeja yang tadi ia letakkan di sana.
Tanpa sepengetahuan Syakir. Jika Rachel mendengar semuanya. Tangan gadis itu terkepal kuat saat melihat gadis cupu itu mendapatkan apa yang dia mau.Â
"Dia benar-benar penghalang terbesar. Aku harus menyingkirkan gadis itu sebelum harta Alhusyn semakin dikeruk olehnya!" kata Rachel dengan wajah memerah menahan amarah.
Dia membiarkan Syakir keluar dari ruangannya. Di yakin jika kekasihnya itu akan langsung melabrak Humai dan membuat perhitungan dengan gadis cupu tersebut. Rachel yakin jika Syakir tak akan terima dengan apa yang dilakukan mamanya tersebut.
"Jika Syakir tak bisa membuatmu pergi. Maka aku yang akan membuatmu mati dan membunuh bayi itu dari dunia ini!" ucap Rachel dengan kebencian yang mendalam.Â
~Bersambung
Sekali ketemu ciuman, 10% saham melayang. Entar apa lagi yah haha. Makin kismin gak dapet apa-apa si Syakir, haha.
__ADS_1