
...Ternyata semua mimpi itu benar-benar nyata. Ketika kamu mengatakan kata sakral di antara kita berdua. Maka semenjak itu diriku adalah milikmu seutuhnya. ...
...~Sefira Giska Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
"Ayo kita ke keluargaku, Sayang. Mereka akan kembali ke hotel, " Ajak Jeno pada istrinya.
Jujur pria itu tahu Sefira tak nyaman dengan keluarganya. Keluarga papanya sejak tadi memang sangat ingin mengobrol dengan istrinya itu. Namun, Jeno tahu jika Sefira benar-benar tak nyaman dengan mereka dan membuatnya tak mau memaksa istrinya untuk mendekat.
Jangan kan pujaan hatinya. Dirinya saja sejak dulu tak mau tinggal di rumah utama ya karena ini alasannya. Keluarga papanya yang mudah meremehkan selalu menghinanya sesuka hati.
Maka dari itu Jeno memilih keluar. Dia tak mau tinggal bersama ataupun bekerja dibawah naungan nama keluarga. Karena bagaimanapun suksesnya dia. Jika itu dibawah nama keluarga. Maka tak ada artinya bagi mereka.
"Sayang? " Kata Jeno saya melihat istrinya masih diam.
"Maaf, Kak. Ayo! " sahut Sefira dengan kepala mengangguk.
Tolong ingatkan. Sefira dan Humai adalah dua wanita yang berbeda. Mungkin jika Humai merupakan wanita yang sabar. Dia rela diperlakukan bagaimanapun oleh orang lain.
Perempuan dengan sejuta pemikiran dewasa itu selalu memandang sebuah masalah dari sudut pandang yang berbeda. Namun, tidak dengan Sefira. Perempuan baru baru dan tak pernah bisa menutupi ekspresi mukanya.
Jika adik Syakir itu sudah tak mau dan tak suka. Wajahnya akan langsung menunjukkannya. Bahkan dengan sangat amat jelas, mimik muka Sefira akan langsung tak nyaman. seakan tertekan, terpaksa dan malas. Itulah yang dirasakan olehnya.
"Jeno, Tante pulang dulu yah, " Pamit seorang perempuan yang mulutnya sangat pedas.
Ah lebih tepatnya Sefira ingat jika wanita itu yang menghinanya saya pertama kali datang ke rumah utama.
"Iya, Tante, " Balas Jeno dengan tersenyum.
"Tante pulang ya, Fira. Nanti kalau kalian sudah di Jakarta. Pulang ke rumah utama. Biar kita bisa tinggal bersama, " Ujarnya tanpa malu.
Sefira hanya tersenyum tak jelas. Namun, kepalanya tetap mengangguk.
"Biar kita bisa jalan-jalan, Fira. Okey. " Lanjut Tantenya yang lain.
Sefira tak bisa mengatakan apapun. Dia hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Jujur dirinya tak suka penjilat. Namun, mau bagaimana lagi. Menolak pun tak bisa. Jadi suka tak suka. Mau tak mau, dia harus menerimanya keburukan keluarga suaminya itu.
"Yaudah. Mama sama Papa kembali ke hotel dulu, yah. Nanti kalian kalau kau ke hotel. Bisa kabarin Mama atau Papa, " Kata Mama Mei pada menantu dan putranya.
__ADS_1
Sefira mengambil tangan ibu mertuanya itu dan menciumnya dengan hangat.
"Iya, Ma. Nanti Sefira bakalan jemput Mama yah. Kita belanja dan cari oleh-oleh sama-sama, " Kata Sefira yang diacungi jempol oleh mama dari Jeno, suaminya.
"Okey. Mama tunggu! "
...🌴🌴🌴...
Setelah semua rangkaian acara selesai. Semua tempat yang tadinya kotor menjadi bersih. Akhirnya semua orang mulai berkumpul di meja makan. Ya, untuk pertama kalinya. Jeno, sosok suami dari Sefira ikut makan malam bersama dengan status yang berbeda.
Ya, kini akhirnya sebagai seorang suami dia bisa duduk disini. Di samping istrinya dengan Sefira yang melayaninya dengan baik.
Bukan hanya ada Sefira Jeno saja. Di sisi kursi yang lain. Ada Humai, Syakir dan Jay juga. Semua keluarga Mama Ayna dan Papa Haidar berkumpul menjadi satu. Ditambah dua menantunya membuat suasana meja makan begitu damai dan tentram.
"Kalian cepatlah pergi bulan madu. Berikan adik dan ponakan untuk cucu pertama Mama dan Papa. Jay pasti senang dapat dua adik dari kalian, " Kata Mama Ayna yang membuat pipi Humai ataupun Sefira bersemu merah.
Namun, jantung Sefira lebih berdetak kencang. Dia merasa takut dan gugup. Gugup dengan apa yang akan dia lakukan sebentar lagi. Apa yang harus dilakukan ketika sudah berduaan dengan suaminya.
Sepanjang hidup dirinya tak pernah merasakan hal seperti ini. Wanita yang sangat dijaga oleh Papa dan kakak laki-lakinya itu tetap menjaga kesuciannya sampai detik ini.
Wanita yang tak pernah aneh-aneh itu merasa bingung.
"Sayang, " Panggil Jeno mengusap tangan istrinya yang sejak tadi diam.
"Ada apa, Kak? "
"Kamu mikirin apa, hm?" Tanya Jeno dengan khawatir.
Dia mengusap keringat dingin yang ada di dahi Sefira. Hal itu juga membuat Humai dan Mama Ayna khawatir. Khawatir pada kondisi Sefira yang sepertinya sedang tak baik-baik saja.
"Aku… "
"Kamu capek, Nak? " Tanya Mama Ayna yang juga khawatir.
"Nggak kok, Ma. Aku… "
"Istirahat saja kalau capek. Mama akan membawakan makan malam kalian ke kamar, " Kata Mama Ayna yang melihat wajah putrinya itu seperti sangat amat kelelahan.
Akhirnya Sefira tak menolak. Tubuhnya memang sepertinya butuh istirahat dan dia harus melakukannya. Meski sebenarnya jantungnya semakin tak terkendali. Namun, dia sudah pasrah akan apa yang terjadi sebentar lagi.
__ADS_1
"Mama siapin yah! "
"Iya, Ma, " Balas Jeno yang langsung membuat keduanya berjalan meninggalkan meja makan.
Selangkah demi selangkah Sefira semakin gugup. Bahkan tangannya sampai berkeringat dingin dan membuat Jeno yang menggenggam tangan Sefira menoleh.
"Kamu baik-baik aja, 'kan? " Tanya Jeno khawatir.
"Iya, Kak. Aku baik-baik aja. Ayo! "
Keduanya lekas masuk ke dalam kamar. Suasana kamar yang biasanya tenang dan nyaman entah kenapa sekarang menjadi berbeda.
Sefira merasa kamarnya terasa panas dan…
"Kak! " Pekik Sefira terkejut.
Tanpa diduga, Jeno memeluknya dari belakang, meletakkan dagunya di pundaknya dan melihat wajah Sefira dari samping. Pria itu sepertinya tahu apa yang dirasakan oleh istrinya sekarang dan membuat Jeno tersenyum kecil.
Betapa lucunya istri bar-barnya ini ketika seperti ini.
"Apa yang kamu takutkan, Sayang? " Tanya Jeno lalu dengan pelan membalikkan tubuh istrinya itu.
Dia menarik rambut istrinya pelan dan meletakkan di belakang telinganya. Jeno tersenyum melihat istrinya yang malu-malu padanya.
Apalagi wajah itu terus menunduk dan tak berani melihatnya.
"Tatap aku sebentar, hmm, " Pinta Jeno dengan begitu perhatiannya.
Akhirnya Sefira memberanikan diri mengangkat kepalanya. Dia juga membuka kedua matanya dan membuatnya bisa melihat wajah suaminya itu dari dekat. Jeno tersenyum tulus. Pria itu perlahan memangkas jarak keduanya sampai tubuh mereka saling berdekatan.
Jeno meletakkan kedua tangannya di pinggang sang istri hingga mereka bisa saling tatap dengan begitu dekat. Sangat dekat sampai tak ada celah di antara keduanya.
"Aku tak akan memaksamu jika kamu tak siap, Sayang. Jangan merasa terbebani. Kita bisa melakukannya kapanpun, " Kata Jeno dengan sebutan pengertian yang begitu dalam.
"Tapi… "
"Percayalah padaku. Aku tak mau membuatmu tak nyaman. Dimana senyuman Sefiraku yang biasanya ceria? "
Hati adik Syakir berbunga. Dia merasa bahagia saat melihat Jeno yang begitu paham akan kegugupannya. Bahkan dengan sangat amat pengertian, pria itu tak pernah memaksa untuk melakukan hubungan badan.
__ADS_1
"Makasih banyak, Kak. Makasih udah ngertiin aku. Aku mencintaimu, " Kata Sefira yang langsung memeluk tubuh Jeno dengan hangat.
~Bersambung.