
...Entah perasaan apa ini tapi ada sesuatu yang hangat dan berkesan ketika melihat wajah seseorang yang membuatnya dejavu di masa lalu....
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Dia yang juga ingin buang air kecil dan kamar mandi khusus crew ada orang, membuatnya datang kesini. Namun, entah nasib baik atau buruk membuatnya melihat sosok anak yang membuatnya penasaran sedang kesulitan membuka celananya.
"Kemarilah. Ayo Om bantu!" ajak Syakir pada Jay.
Putra Humaira itu belum bergerak. Namun, saat dia sudah tak bisa menahan rasa ingin buang kecil. Akhirnya dia bergerak dengan pelan mendekati sosok Syakir.
"Terima kasih, Om," kata Jay pada Syakir.
Tak lama salah satu pintu terbuka dan membuat Jay hendak masuk kesana. Namun, ternyata siapa sangka. Lantai kamar mandi yang licin membuat tubuhnya oleng.
Syakir yang ada di dekatnya, tak jauh dari Jay, lekas menangkap tubuh mungil itu sampai ada dalam pelukannya.Â
Dari dekat, dengan jarak seperti ini. Syakir mampu menatap wajah Jay dengan begitu teliti. Garis wajahnya, bagaimana hidung, mata, dahi, pipi dan bibirnya. Pipinya yang gembul dan menggemaskan. Lalu matanya yang membuatnya ingat akan masa kecilnya.
"Kamu baik-baik aja, 'kan?" tanya Syakir saat sadar akan pikirannya.Â
Dia lekas membantu Jay berdiri lalu mengecek apa ada yang terluka atau tidak. Anak Humaira yang masih terkejut itu menggeleng. Dia juga merasa shock karena kejadian yang begitu cepat tadi.
"Bagaimana kalau Om bantu ke kamar mandinya?"Â
Jay menatap mata Syakir dengan lekat. Seakan anak itu masih ragu pada kebaikan Syakir.Â
"Hanya bantu saja. Setelah itu Om pergi," kata Syakir yang langsung mendapatkan anggukan kepala kecil dari Jay.Â
Dua pria dengan wajah yang benar-benar begitu duplikat. Perbedaannya hanya Syakir versi dewasa dan kecil saja segera masuk ke dalam kamar mandi yang sama.Â
"Udah bisa?" tanya Syakir yang takjub saat melihat Jay pandai membuang air kecilnya sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya.Â
"Iya. Ibu selalu ajarin Jay buang air kecil di kamar mandi," sahut anak itu mulai bisa diajak bicara.
Entah kenapa perasaan Syakir menjadi hangat saat Jay menjawab pertanyaannya. Ada perasaan yang seakan tak bisa dijabarkan olehnya ketika bisa berkomunikasi dengan anak yang baru dikenalnya.
"Sudah?"Â
Kepala mungil Jay mengangguk. Syakir lekas membantu membersihkannya setelah itu dia membantu memakaikan celana Jay lagi. Entah kenapa ia merasa senang melakukan ini.
Seakan hal ini membuatnya mengingat anaknya. Anak yang pernah ia doakan mati. Anak yang pernah ia harapkan keguguran dan sekarang ia kehilangannya. Kehilangan dua orang penting dalam hidupnya.
"Terima kasih, Om…" kata Jay menjeda karena tak tahu nama Syakir.
"Syakir."
"Om Syakir," lanjut Jay dengan tersenyum.
Tanpa sadar senyuman Jay menular di bibir Syakir. Pria itu ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia mengangkat kepalanya dan mengusap kepala Jay dengan pelan.
"Aku Jay, Om," kata Jay mengenalkan dirinya.Â
Syakir tersenyum. Dia mengangguk saat anak lucu itu menyebutkan namanya.Â
"Ayo keluar. Om bantu!"
Kedua pria itu lekas membuka pintu. Saat mereka baru saja keluar, di depan pintu langsung dihadang oleh seorang pria yang tak lain adalah Jeno.Â
Wajah pria itu terlihat panik dan gelisah. Syakir yang melihatnya pasti mengerti jika pria di depannya ini ketakutan.
__ADS_1
"Om Jeno!" pekik Jay melepaskan tangan Syakir lalu berlari ke arah Jano.
"Kamu dari mana, Jay? Kenapa gak pamit sama Om? Om khawatir sama kamu?" tanya Jeno dengan jantungnya yang masih berpacu cepat.Â
"Maaf ya, Om. Jay tadi kebelet buang air kecil," kata Jay yang ada dalam gendongan Jeno dan memeluk lehernya. "Terus lihat Om telepon, Jay takut ganggu."Â
"Maafin Om yah. Om ada panggilan dari kampus tadi," ujar Jeno dengan wajah penuh penyesalan.
Kepala mungil itu mengangguk. Dia menatap Syakir yang membuat Jeno ikut menatapnya.
"Udah ada Om Syakir yang bantuin Jay, Om. Om Syakir baik," katanya yang membuat Syakir tersenyum tak enak hati.
"Terima kasih ya. Sudah membantu Jay," kata Jeno dengan perasaan leganya.
"Sama-sama. Kebetulan saja kita bertemu tadi," sahut Syakir pada Jeno.
"Ya sudah. Jay mau pulang?"Â
"Iya, Om. Jay mau ketemu Ibu," katanya dengan semangat.
Jeno mengangguk lalu dia kembali menatap Syakir yang masih berdiri disana.Â
"Saya pamit dulu yah. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya."
"Sama-sama."Â
...🌴🌴🌴...
Syakir segera kembali ke rumahnya. Ke rumah yang ia beli dengan uangnya sendiri. Sederhana, kecil tapi cukup untuk tempat tinggalnya.Â
Dia ingin mengecek sesuatu. Dia ingin melihat sesuatu yang mengusik hatinya sejak tadi. Rasanya ia ingin percaya pada tebakannya tapi takut salah.Â
Syakir hanya ingin tahu. Dia ingin melihat apakah dugaannya benar atau tidak.
"Dimana foto itu?" gumamnya mulai membuka album yang ia punya.
Dia buka satu per satu dengan tak sabaran. Hingga apa yang dia cari akhirnya bertemu. Syakir lekas mengambil potret itu dan mengangkatnya dengan mata berkaca-kaca.Â
"Ketemu," lirihnya dengan meneteskan air mata.Â
Jantung Syakir bergetar. Seakan dia tak menyangka jika apa yang dia lihat, dia coba ingat benar adanya. Anak yang tadi dia temui benar-benar duplikatnya saat masih kecil.Â
Benar-benar mirip dengannya dan membuat Syakir menerawang ke depan. Dia mencoba berfikir apakah anak itu adalah anak yang selama ini ia cari.
"Apa mereka ada di kota ini?" gumam Syakir saat pikirannya mulai kemana-mana.
"Apa anak tadi adalah anakku?" lanjutnya sambil mencoba berpikiran positif.
Dia yakin jika ada sesuatu dalam diri Jay. Seakan ada ikatan yang membuatnya sangat yakin jika anak itu adalah anak yang ia cari selama ini.Â
Tak mungkin mereka memiliki kemiripan jika tak ada hubungan darah. Bahkan tak ada yang bisa disangkal. Wajah anak itu sama persis dengan dirinya.
Tak mau dibuat penasaran. Akhirnya Syakir lekas mengambil ponselnya. Dia mencari nomor kontak yang pasti tahu dengan apa yang dipikirannya.
Syakir lekas menghubunginya. Deringan pertama, kedua tak diangkat. Namun, Syakir tak menyerah. Dia kembali menghubungi nomor itu lagi dan berhasil.
"Halo?"
"Halo, Pa," sapa Syakir dengan cepat.
"Ada apa, Syakir?" tanya Papa Haidar dari seberang telepon.
__ADS_1
Syakir berusaha menenangkan pikirannya. Dia berusaha berdamai dengan otaknya yang berperang.
"Tolong katakan pada Syakir, Pa. Kemana Humai dan anak Syakir pergi?"Â
Tak ada jawaban apapun. Papa Haidar seakan bungkam yang membuat Syakir menutup matanya merasa lelah. Lelah karena keluarganya tak ada yang membantunya untuk bertemu Humai dan anaknya.Â
"Katakan pada Syakir, Pa. Apa Humai dan anak Syakir ada di Jakarta? Syakir baru saja bertemu dengan anak kecil yang wajahnya sama persis dengan Syakir saat masih kecil."Â
~Bersambung
Ah makin deg degan kan. OTW ketemu Humaira gak yah?
Mampir juga ke karya temanku yah
Judul : MAKMUM PILIHAN MICHAEL EMERSON
Penulis :SkySal
Cuplikan
"Sayang, kok kamu cantik banget sih kalau pakai daster begini?" Micheal berkata sembari bergelenyut manja di punggung Zenwa yang saat ini sedang membuat roti panggang.
Zenwa memang hanya memakai daster saat ini, rambutnya di cepol asal dan ia tidak memakai apapun di balik daster itu di karenakan tadi ia terburu-buru, perutnya sudah keroncongan dan cacingnya itu sudah demo minta makan.
"Cantiknya buat kamu," ucap Zenwa yang sedikit kesulitan bergerak karena Micheal yang terus menempel seperti anak ayam yang baru menetes. "Sayang, kamu tunggu di meja makan ya, aku mau buat susu dulu," tukas Zenwa kemudian.
"Tapi masih kangen, masih mau hirup aroma kamu," rengek Micheal manja dan ia pun mencium tengkuk Zenwa, seluruh tubuh Zenwa meremang, dan ia menggeliat geli.
"Kangen bagaimana? Kita selalu bersama," kata Zenwa dan ia mengambil dua gelas untuk membuat susu.
"Ya kangen, tadi pas aku bangun tidur, kamu tidak ada, kita sudah berpisah tadi karena kamu sibuk di dapur." Zenwa terkekeh mendengar aduan suaminya itu.
"Kamu nyenyak sekali tidurnya, aku tidak tega yang mau bangunin, Sayang."
"Tapi kan bisa pamit dulu, cium dulu gitu, sebelum pergi ke dapur."
"Sudah, tadi aku sudah cium kamu."
"Bohong! Nggak kerasa."
"Ya kan kamu tidur, gimana mau terasa?"
"Seharusnya terasa kalau kamu ciumnya di bibir, tadi kamu ciumnya dimana?"
"Di tangan."
"Yah, di tangan itu kalau aku mau berangkat kerja.
"Okey okey. Sekarang, ayo kita makan, setelah ini aku cium di bibir."
"Janji?"
"Iya."
"Mau bikin bayi lagi?"
"Pabriknya masih capek, Sayang."
Tbc....
__ADS_1