
...Menyesal ketika semua yang kau sesali telah hilang adalah hal terbodoh yang kau lakukan. Berubah dan mulai berpijak untuk menjadi pribadi yang lebih baik adalah satu langkah yang lebih baik daripada tak berubah sama sekali....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Setelah membaca surat penuh makna itu. Tanpa sadar air mata Syakir mengalir. Pria itu menangis dengan hebat. Dia juga memeluk potret USG anaknya di atas dadanya.
Apa yang ditulis oleh adiknya semua menyentuh hati Syakir. Ya saat ini dia sudah tahu semuanya. Saat istri dan anaknya pergi, kebenaran tentang siapa pengkhianat dan siapa yang setia padanya mulai terbongkar.
Semua yang terjadi telah terlambat. Ya dia sudah menuai apa yang selama ini ia tanam. Apa yang ia katakan semua telah dikabulkan oleh mantan istrinya.
Dia kembali sendirian, berdiri sendiri tanpa seorang pun yang mau bersamanya. Bahkan mama dan adik perempuannya saja tak ada yang datang menjenguknya.Â
Sesakit itukah luka yang ia berikan. Sebenci itukah mama dan adik perempuannya kepadanya. Menyakitkan memang ketika orang yang paling penting dihidup kalian sudah tak peduli lagi pada kita. Namun, mau kecewa pun percuma karena semua alasan yang menjadi masalah karena dirinya sendiri.
"Maafkan, Ayah, Nak. Maafkan Ayah yang pernah memintamu pergi dari dunia, Ayah," lirih Syakir tergugu.
Pria itu memeluk foto USG anaknya sampai tidur di lantai. Dada Syakir sesak bukan main tapi mau bagaimana lagi. Sakit yang ia buat karena perbuatan dirinya sendiri.Â
"Izinkan aku tidur sebentar, Tuhan. Ini sangat menyakitkan dan berikan aku kesempatan untuk menemui mereka berdua," lirih Syakir dengan memejamkan matanya. "Aku tak berharap kembali tapi kumohon berikan aku kesempatan untuk meminta maaf."Â
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di tempat lain, terlihat wajah bahagia terus tercetak disana. Kehadiran Baby Jay tentu menjadi hiburan dan obat dari segala luka dalam hati Humaira.
Lahirnya bayi mungil itu mampu membuat Humai melupakan segala lukanya. Setiap hari dia tak pernah jauh dari anaknya. Humai merawat dan melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan pelayan.Â
Bahkan ketika malam hari, dimana Baby Jay selalu terbangun tak menyurutkan semangat Humai. Dia menemani anaknya tanpa bergantung pada orang lain.Â
Semua dia lakukan seorang diri. Tak mau menjadi gadis yang manja tapi dia harus bisa melakukannya. Dia berusaha membuat dirinya repot karena setiap kali lengah Humai selalu mengingat Syakir.Â
Ya, sebenci apapun Syakir padanya. Sejahat apapun pria itu padanya. Humaira tak pernah membenci balik. Cinta yang ia miliki untuk Syakir tentu sangat tulus. Wanita itu bahkan masih berharap sekali saja Syakir datang menemui mereka.Â
__ADS_1
Jangan dirinya tapi lihatlah Baby Jay saja. Cukup melihat dan menggendong anak mereka saja keinginana Humai. Jika dirinya dia tak peduli. Cinta itu bisa ditahan, cinta itu bisa dia pendam daripada menjadi luka semakin dalam.
"Ema," panggil seorang wanita yang hidupnya mulai berubah selama satu minggu ini.
Humaira yang tengah menggendong putranya lekas berbalik. Dia tersenyum pada dua perempuan yang baru saja masuk ke kamarnya.
"Baby Jay rewel, Nak?"Â
Humaira menggeleng. Dia berjalan mendekati dua wanita yang sangat ia sayangi itu. Semenjak kehadiran mereka hidupnya semakin berada di titik bahagia.
Orang tua dan mertuanya ini mencurahkan kasih sayang pada Humai dan Jay tanpa henti. Mereka bahkan ikut membantu merawat Jay dan memaksa Humai istirahat.
"Semuanya sudah siap?"Â
"Sudah, Ma. Pakaian Jay dan punyaku sudah kumasukkan ke dalam koper," kata Humai sambil menunjuk 3 buah koper yang sudah disusun di dekat pintu kamar.
"Bagus. Ayo kita keluar. Mobil kita sudah siap!" ajak Emili dengan menyentuh lengan anaknya.
Wanita itu benar-benar sembuh. Bahkan hampir selama seminggu ini, Emili tak mengkosumsi obat dari dokter. Dia benar-benar tak pernah marah lagi dan tak pernah berteriak.Â
Mereka bertiga akhirnya turun. Baby Jay berada dalam gendongan Emili. Sedangkan Mama Ayna dan Humaira menarik kopernya ke ruang tamu.
"Oh cucu, Opa. Sudah bangun, hm?" tanya Hermansyah mengambil alih menggendong cucu pertamanya.Â
"Jay gak pernah rewel ya, Pa. Dia anteng banget," kata Emili sambil membenarkan pakaian Jay.
Hermansyah mengangguk. Semua orang juga menyadari jika Jay tak serewel anak seumuran dia. Biasanya setiap malam mereka akan menangis ketika begadang tapi tidak dengan Jay.
Bayi mungil itu hanya diam dan bermain di atas ranjang ketika ia tak tidur. Entahlah tapi kadang dalam hati Humai dia berbisik, mungkin Jay tahu tak ada ayah di antara mereka dan membuatnya tak pernah menyusahkan orang lain.Â
"Ayo kita berangkat!"
Humaira berjalan mendekati pasangan suami istri yang sudah memiliki dua orang anak tapi masih sangat romantis. Dia memegang tangan Almeera dan tersenyum.
__ADS_1
"Makasih banyak atas kebaikannya selama ini, Mbak. Humai gak tahu mau bales gimana tapi yang pasti, Mbak sudah banyak sekali bantu Humai. Humai banyak berhutang budi sama Mbak Meera."Â
Almeera tersenyum. Dia mengusap air mata yang menetes dari mata Humai dan menggeleng.
"Setelah ada Jay, jangan pernah menangis lagi. Kebahagiaanmu sudah di depan mata," kata Almeera dengan lirih. "Kamu sudah memiliki mereka yang sayang sama kamu. Kini saatnya kamu mulai bahagia, Mai. Kamu harus belajar melupakan semuanya oke?"Â
Humaira mengangguk. Dia menyetujui perkataan Almeera. Dirinya tak boleh terus bersedih. Sekarang ada keluarga yang lengkap menemaninya dan ditambah hadirnya Jay semakin membuat kebahagiaannya lengkap.Â
"Aku berangkat ya, Mbak. Nanti main ke rumah," kata Humai penuh harap.
"Pasti. Besok aku akan ke rumahmu. Kita ke salon sahabatku, oke. Jangan menolak!"Â
"Tapi, Mbak. Jay masih kecil," kata Humai hendak menolak.
"Baiklah. Kalau begitu aku dan sahabatku akan ke rumahmu, oke. Kita akan melakukan perawatan di rumahmu, bagaimana?"Â
"Ide bagus. Papa setuju!" sela Hermansyah mengangguk. "Urusan Jay, ada Opa dan Omanya."Â
Almeera mengacungkan jempolnya. Sebenarnya ini adalah ide dari dirinya. Dia bertekad akan membuat Humaira menjadi wanita cantik. Dia akan membantu wanita itu berdandan dan perawatan.Â
"Papa…"Â
"Rawatlah dirimu, Nak. Rubahlah dirimu menjadi Humaira yang baru," kata Papa Hermansyah dengan ekspresi wajahnya yang yakin. "Buat dia sampai tak mengenalimu, Sayang."Â
Humai sangat tahu siapa yang dimaksud oleh papanya. Gadis itu akhirnya mengangguk. Mungkin kini saatnya dia berpijak dengan hal yang baru. Merubah takdir dan segala hujatan yang pernah ia terima menjadi batu loncatan untuk memperbaiki masa depannya.Â
"Oke. Humai mau, Pa. Humai tunggu di rumah besok, Kak," ujarnya pada Almeera. "Kita akan perawatan bersama."Â
"Bagus. Semangat berubah, Mai. Semangat membuktikan pada semua orang bahwa kamu bisa!"Â
~Bersambung
Nah kalau gini udah sama-sama berdamai, 'kan?
__ADS_1
Syakir mulai sadar dan Humai mulai berpijak ke batu loncatan yang baru.
Akhir segala duka mulai berakhir dan bab selanjutnya selamat datang dunia baru.