
...Terkadang naluri setiap manusia akan keluar tanpa diminta dan tanpa belajar ketika nafsu sudah menguasainya. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Humaira sebenarnya gugup. Dirinya juga berasal takut. Wanita itu tak memiliki pengalaman apapun dalam menyenangkan seorang suami. Dalam pernikahan pertamanya saja, mereka tan pernah melakukan ini.
Malam pertama, hubungan intim, tak pernah ada dalam hidup Syakir dan Humai selama pernikahan pertama mereka. Seakan racun mematikan dan paling menyakitkan yang ada dalam pernikahan pertama mereka dulu.
"Sayang, " Panggil Syakir yang membuat lamunan Humai terputus.
Wanita itu mendongak. Kedua mata mereka saling bertemu dan Syakir baru menyadari sesuatu. Sesuatu yang membuatnya lupa jika istrinya tak bisa melakukan ini.
Agh bukankah dulu dia memperkosa Humai. Bukankah dulu istrinya dalam keadaan tak sadarkan diri. Tentu hal itu membuat Humai saat ini merasa canggung dan malu.
"Maafkan aku, Kak, " Kata Humai yang membuat Syakir menggeleng.
Dia tentu memaklumi istrinya itu. Dengan pelan, Syakir mengangkat tangan istrinya. Bergantian, dirinya mendiring istrinya itu hingga terbaring di atas ranjang.
Ciuman itu kembali terjadi dengan begitu lembut. Syakir ingin membawa istrinya dalam balitan gairah yang sama. Bagaimanapun pikiran Humai tadi pecah dan tak fokus. Hingga kini Syakir ingin istrinya kembali memikirkan kegiatan mereka berdua.
"Kak Syakir! " Lirih Humai saat bibir Syakir mulai merambat ke lehernya dan menyesapnya.
Humai hanya mampu memejamkan matanya. Tangannya juga ada di atas kepala karena Syakir memegangnya disana. Dia tahu jika sudah begini, Syakir ingin tangannya tak bergerak.
"Terus panggil namaku, Sayang, " Kata Syakir yang mulai turun hingga wajahnya berhenti tepat di depan dia gunung yang begitu besar.
Ah, dulu tempat ini juga menjadi favorit Syakir saat mereka melakukan untuk pertama kali. Lalu sekarang, tempat ini bisa dia jelajahi dalam keadaan sadar dan dia bisa melakukannya dengan puas.
Bagaimanapun saat ini dengan dulu, kondisinya berbeda. Mereka melakukannya dulu dalam keadaan mabuk dan tak sadar. Lalu sekarang, keduanya sama-sama mau dan sadar.
Sadar bahwa kenikmatan ini jauhebih nikmat dan membuat keduanya lupa. Lupa jika hal itu sangat membuat keduanya nyaman.
Syakir akhirnya mulai membuka penutup gunung itu hingga terpampanglah produksi asi yang membuat putranya sangat pintar. Ah, istrinya itu benar-benar merawat asetnya dengan baik. Semuanya kembali seperti sedia kala dan begitu menarik.
Dengan pelan, Syakir mulai membuka mulutnya dan akhirnya menjadi hati kehausan. Pria itu melakukannya dengan lembut dan perlahan berubah menjadi lebih cepat dan kasar.
__ADS_1
Hal itu tentu membuat bibir Humai tak berhenti berteriak nama Syakir. Pria itu pandai membuat sesuatu dalam diri Humai naik mengikuti iramanya.
Tangan Syakir juga tak tinggal diam. Entah sejak kapan segitiga itu telah dilepas hingga keduanya sama-sama tak memakai apapun.
Tangan Syakir telah bergerak begitu nakalnya. Keluar masuk dan membuat Humai benar-benar kewalahan. Atas bawah, Syakir menggempurnya dan membuat Humai sudah beberapa kali mencapai puncaknya.
Ini belum inti cerita. Ini belum masuk ke dalam permainan inti. Namun, Syakir sudah pandai membuatnya melayang. Entah sudah berapa kali dia keluar tapi Syakir terus menggodanya.
"Kak Syakir, ohh! " Humai mencengkram sprei hingga tak beraturan.
Matanya menatap ke atas. Dirinya begitu menikmati pelepasan ini hingga membuat nafasnya mulai naik turun.
Sedangkan Syakir pria itu mengangkat kepalanya. Dia menatap istrinya yang mulai membuka mata hingga tatapan keduanya beradu pandang.
"Ayo ke intinya, Sayang. Aku sudah tak sabar merasakan milikmu, " Kata Syakir yang perlahan memposisikan dirinya tepat di depan lembah basah yang sudah sangat amat basah.
Tentu Syakir perlahan mengusap miliknya yang besar. Ah dirinya benar-benar sudah tak sabar untuk merasakan milik istrinya itu.
"Kamu siap? " Tanya Syakir terlebih dahulu.
"Lakukan, Kak. Aku siap! "
Bersamaan dengan itu. Perlahan tangan Syakir mengangkat kedua kaki istrinya. Dii melihat inti tubuh istrinya yang sudah begitu menggairahkan. Dengan pelan, Syakir menyentuhnya lebih dulu.
Sebelum akhirnya dengan pelan, tangannya mulai menuntun miliknya untuk masuk. Saat pertama kali Syakir mulai memasukkannya. Basah, sempit dan juga sulit. Ah hal itulah yang dirasakan oleh milik Syakir.
Pria itu bahkan sampai menunduk dan menciun bibir istrinya agar Humaira menjadi rilex.
"Kak! " Pekik Humai saat Syakir memaksa masuk.
Meski sudah memiliki anak satu atau bisa dibilang Humai bukan anak gadis lagi. Namun, miliknya sama seperti gadis. Sempit dan juga terus membuat miliknya dicengkram kuat yang membuat Syakir memejamkan matanya. Menikmati setiap gerakan yang dibuat istrinya saat berkedut.
"Sakit, Kak? " Lirih Humai saat milik Syakir mulai masuk setengahnya.
Entah milik Syakir yang semakin besar atau milik istrinya yang memang hanya satu kali ia melakukannya. Membuat Humaira masih merasa sakit.
"Tahan ya, Sayang! " Bisik Syakir dan akhirnya dia memompa masuk dan membuat kedua kaki Humai lekas melingkar kuat di pinggang Syakir dan bersamaan jeritan dari bibir Humai yang begitu kencang.
__ADS_1
"Oh, Kak! "
"Sayang! "
Keduanya sama-sama berteriak. Akhirnya milik Syakir telah masuk dengan sempurna. Pria itu benar-benar merasakan kenyamanan. Dia merasakan amiliknya dihisap lebih masuk dan membuat pria itu mulai hilang akal.
Syakir sudah tak tahan. Akhirnya dia mulai bergerak. Dirinya melakukannya dengan pelan. Bergerak dengan begitu seksinya dan membuat keduanya mulai nyaman.
Humai hanya mampu pasrah. Dia bahkan mengalungkan tangannya dileher Syakir dan bibir keduanya saling bertemu.
Gerakan itu semakin lama semakin cepat. Badan Humai bahkan bergerak tak beraturan dan bibir keduanya sama-sama mengeluarkan kata laknat.
Hal itu semakin membuat percintaan mereka terlihat begitu panas dan juga sangat seksi. Namun, tak ada yang mau mengalah. Keduanya sama-sama memompa dan membuat Humai lagi-lagi mendapatkan pelepasannya dulu.
Nafas Humai naik turun tapi Syakir tak memberikan istirahat. Tanpa melepaskan miliknya. Dia memiringkan tubuh Humai. Lalu dirinya tidur di samping istrinya dan mulai memompanya dari samping.
Ah posisi ini semakin membuat miliknya terasa dijepit. Lalu Humai hanya mampu memegang sprei dan menerima serangan dari belakang.
"Kak… oh, plis, Sayang! " Pekik Humai semakin begitu manja.
Syakir benar-benar tak memberikan ampun. Saat istrinya kembali mendapatkan pelepasan. Bukannya memberikan istirahat. Syakir malah terbangun. Dia memberikan jeda untik melepas miliknya dari mili sangat istri.
Humai masih mengatur nafasnya. Namun, tak lama tangannya ditarik oleh sang suami. Tubuhnya disandarkan di kaca pembatas balkon. Dirinya membelakangi Syakir dan membuat wajah Humai menatap langit malam dengan begitu indahnya.
"Kamu lelah, Sayang? " Bisik Syakir yang memasukkan jarinya ke inti tubuh Humai dan bergerak keluar masuk.
Posisi keduanya memang Humai membelakangi Syakir dan Syakir membuka kedua kaki Humai dan sedikit membungkukan tubuhnya agar tangannya bisa keluar masuk dengan mudah.
"Nggak, Kak, " Lirih Humai menjawab.
Syakir tersenyum begitu lebar. Dia mulai bersikap dengan posisinya dan akhirnya, Syakir kembali memasukkam miliknya dengan kasar dan membuat Humai menjerit.
"Bertahanlah sampai pagi, Sayang. Aku tak akan melepaskanmu! "
~Bersambung
Bang Syakir tahan woyy. Astaga dia bener-bener kalap haha. Jan lupa cari pak suami oke haha.
__ADS_1