Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Ketahuan Selingkuh


__ADS_3

...Percayalah jika apa yang terjadi di dunia ini adalah atas izin dari Tuhan. Meski itu menyakitkan atau tidak, pasti ada hikmah dibalik semua yang terjadi kepadaku....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Suasana mencekam tentu sangat terasa di depan ruang operasi. Seluruh keluarga Almeera sedang berkumpul disana. Mereka semua saling menguntai doa untuk keselamatan Humaira yang sedang berjuang bersama anaknya. 


Di antara mereka, terdapat seorang remaja yang sangat amat merasa bersalah. Dia menyadari kesalahannya tadi. Jika ia tak berlari dan menghindari kakaknya maka semua ini tak ada terjadi. Jika ia mau mendengar penjelasan kakaknya, maka keselamatan kakaknya tak akan terancam seperti saat ini. 


"Tenanglah, Rein. Kak Humai pasti baik-baik saja. Mereka berdua pasti selamat," kata Almeera mencoba menghibur Rein yang sejak tadi menangis memikirkan nasib kakaknya.


"Aku takut, Mbak. Aku tak mau kehilangan Kak Humai lagi meski aku tau jika dia bukan kakak kandungku," lirih Rein pelan sambil menundukkan kepalanya. 


Almeera dengan pelan mengusap kepala Rein. Dia seperti melihat sisi Abraham pada adik Humaira. Umur keduanya yang sama membuat Almeera sudah menganggap Rein seperti anaknya sendiri. 


"Berdoa sama Tuhan. Minta pada-Nya agar Kak Humai dan putranya selamat."


Rein mengangguk. Dia lekas beranjak berdiri dan berpamitan menuju mushola yang ada di rumah sakit. Rein benar-benar menuruti perkataan Almeera. Dia tahu jika hanya menangis tak akan membantu apapun. Setidaknya jika ia bersimpuh di hadapan Tuhan dalam sholatnya, Rein bisa mengatakan segala keresahan dalam hatinya. 


"Mama, Tante Humai pasti baik-baik aja, 'kan, Ma?" Tanya Bia yang sama takutnya. 


Anak perempuan itu juga melihat bagaimana Humaira yang jatuh dalam keadaan telungkup. Dia juga mendengar suara ringisan dan erangan yang keluar dari bibir ibu hamil tersebut. Tentu rasa takut menjalar dalam pikiran Bia. Anak itu pasti mengalami ketakutan dalam dirinya saat melihat itu.


"Iya, Sayang. Tante Humai pasti baik-baik aja. Bia harus banyak berdoa juga sama Tuhan. Minta biar Tante Humai selamat." 


Percayalah Almeera yang orangnya begitu kuat memegang kepercayaan pada Tuhan. Tak hentinya sejak tadi untuk berdoa. Dia sendiri juga merasa takut pada sosok yang dianggap adiknya sendiri. 


Keselamatan Humai saat ini ada di tangannya. Jika terjadi sesuatu padanya, Almeera juga yang akan merasa kecewa pada dirinya sendiri. 


Tak lama pintu operasi terbuka. Muncul seorang perawat yang terlihat terburu-buru keluar dari sana. Tentu hal itu membuat Almeera dan Bara mendekat dan mencoba menahan suster tersebut.


"Ada apa, Suster?" Tanya Almeera saat melihat wajah suster tersebut.

__ADS_1


"Mohon maaf, Bu. Saya diminta mengambil darah," katanya mulai pamit dan mencoba menerobos dari kerumunan yang Almeera dan Bara lakukan.


"Mas," lirih Almeera memeluk suaminya dari samping.


"Mereka pasti butuh darah, Sayang. Tenanglah. Percaya kalau Humai pasti selamat," kata Bara sambil mengusap punggung istrinya yang berkeringat dingin.


Tak ada yang bisa keduanya lakukan selain menunggu. Mereka juga berharap semoga Keluarga Syakir segera datang kesini. Almeera yakin jika mertua Humaira sangat menyayangi Humai dengan tulus. 


"Ayo duduk. Kamu juga harus ingat anak kita, Sayang. Jangan terlalu capek oke," bujuk Bara penuh perhatian dan mengelus perut istrinya dengan sayang. 


...🌴🌴🌴...


Di Malang.


Terlihat seorang pria yang mulai mengendarai mobilnya. Baru kali ini pria itu keluar dari rumah untuk mencari udara segar. Syakir, pria itu juga baru mengingat sosok kekasihnya. 


Sudah berapa minggu keduanya tak bertemu dan bertukar kabar. Syakir jadi memikirkan apa kabar dengan Rachel sekarang. Kenapa gadis itu seakan menjauh darinya. Kenapa gadisnya itu seakan tak ada waktu sedikitpun untuk Syakir. 


Nomornya tetap tak aktif. Hal itu tentu membuat Syakir khawatir. Akhirnya dia segera meletakkan ponselnya di kursi samping kemudi dan tanpa kata dia segera menuju apartemen Rachel.


Syakir yakin kekasihnya pasti ada disana. Syakir juga sadar jika pasti Rachel marah kepadanya karena tak menuruti keinginannya saat di rumah sakit. 


Awalnya dia memang menolak permintaan kekasihnya. Namun, setelah tanda tangan perceraian itu, Syakir menjadi sadar bahwa ia masih butuh orang tuanya.


Bukan perihal harta, tapi kehadiran mereka di sekeliling Syakir sangat membantu dan membuatnya bangkit dari segala keresahan ini. Ya, Syakir memang sadar bahwa dirinya berbeda dari yang dulu.


Syakir mulai sering memikirkan Humai. Segala kenangan yang sering gadis cupu itu lakukan selalu berputar dan seperti dejavu dalam pikiran Syakir. Namun, menyesali semuanya tak mampu membuat Humaira kembali. 


Maka dari itu, disinilah Syakir berada. Di depan pintu apartemen Rachel yang tertutup rapat. Pria itu benar-benar tak habis pikir dengan kekasihnya. Takut terjadi sesuatu pada Rachel akhirnya Syakir menuju tempat dimana perempuan yang selalu ia lihat di meja tempat informasi apartemen.


"Kumohon berikan pintu kamar kekasihku. Aku khawatir kepadanya!" Seru Syakir dengan marah. 


"Tapi maaf, Tuan. Kunci kamar hanya boleh diberikan atas izin pemiliknya," balas wanita itu dengan takut. 

__ADS_1


Syakir mengepalkan tangannya. Dia menarik nafasnya begitu dalam saat emosi mulai melingkupi pikirannya.


"Apa kau ingin apartemen ini kubeli semuanya, hah? Apa kau tak tahu keluargaku?" Ancam Syakir yang sangat membuatnya yakin jika perempuan itu pasti takut. "Aku juga bisa menendangmu dari pekerjaanmu ini dan aku pastikan tak akan ada yang mau menerimamu lagi dimanapun!" 


"Jangan, Tuan. Jangan kumohon!" Pekik wanita itu gemetar ketakutan. 


"Mana kuncinya?" Tanya Syakir dengan menatap wanita itu tajam 


Akhirnya dengan berat. Dia memberikan kunci kamar Rachel dan membuat Syakir mengacungkan jempolnya.


"Selama kau menurut maka pekerjaanmu akan aman." 


Setelah mengatakan itu akhirnya Syakir kembali ke lantai dimana kamar Rachel berada. Dia segera membuka pintu itu dengan card yang ia punya hingga akhirnya kakak Sefira bisa masuk ke dalam sana. 


Suasana terlihat begitu sunyi. Syakir semakin masuk dan mulai mencari saklar lampu karena ruangan disana temaram. Tak lama, ruangan itu mulai terlihat terang benderang. Namun, tiba-tiba pandangan Syakir tertuju pada lantai yang hendak ia lewati untuk ke kamar Rachel. 


Rahangnya mengeras dengan tangan terkepal. Dia melihat ada sepasang baju pria dan wanita yang tergeletak di sana. Kali ini kemarahan Syakir semakin meluap. Dia segera berjalan dengan pelan menuju kamar paling ujung dimana kamar Rachel berada.


Samar-samar Syakir mendengar suara Rachel. Dia merasa jijik saat ternyata suara laknat itu terdengar begitu erotis. Dirinya tak akan mundur lagi.


Ia akan memergoki kekasihnya itu atas perbuatannya yang menjijikkan. Namun, saat dia hendak masuk. Suara pembicaraan keduanya mengejutkan Syakir dan membuat tubuhnya mematung. 


"Syakir tak sehebat dirimu, Sayang. Aghhh!" pekik Rachel terdengar begitu seksi. "Miliknya bahkan tak mau berdiri meski aku menggodanya. Sepertinya milik Syakir impoten!" hina Rachel dengan jahatnya.


"Berbeda dengan milikmu," sambung Rachel dengan suara tumbukan mereka yang terdengar memenuhi telinga Syakir. "Milikmu besar dan penuh. Aku sangat menyukainya." 


Rahang Syakir semakin keras. Dia mengepalkan tangannya tak terima atas hinaan Rachel. Saat dia hendak masuk, tiba-tiba sebuah suara yang sangat dia kenali terdengar. Suara seorang pria yang sangat ia percayai dan ia berikan kepercayaan besar ternyata sosok yang menusuknya dari belakang.


"Aku selalu berada di atas Syakir Bodoh itu, Sayang. Kepercayaan orang tuanya saja diberikan padaku karena dia tak becus dalam bekerja. Benar-benar hidup Syakir merepotkan!" 


~Bersambung


Kira-kira sudah ada pemikiran, siapa kira-kira kekasih Rachel selama ini hayoo? Ada yang bisa nebak?

__ADS_1


__ADS_2