Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Tanda Merah


__ADS_3

...Ketika puncak rindu terbayarkan akan sebuah pertemuan. Maka rasa itu akan terbayarkan dengan begitu indahnya. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Hari dimana seorang kakak akan menemui adiknya. Sosok bayi yang dulu bersamanya di waktu kecil. Sosok yang ikut merasakan masa lalu yang begitu buruk. Sosok yang sama dengannya, berjuang sejak awal, bermain dengan kenyataan bahwa dulu ibu mereka ingin mereka tak dekat.


Namun, sebuah hati sebagai seorang kakak dan adik tak ada yang bisa menahannya. Baik Humai ataupun Reyn, sebesar apapun Ibu Shadiva ingin menjauhkannya. Keduanya bisa memiliki cara untuk bersama, bermain berdua dan membuat kenangan indah untuk mereka.


Sampai akhirnya kenyataan datang. Kenyataan yang menghantam keduanya. Bukti fakta bahwa mereka bukan saudara kandung mencuat. Tapi hal itu tentu tak mempengaruhi hubungan keduanya.


Baik Humai maupun Reyn, keduanya sama-sama tulus dalam menyayangi satu dengan yang lain. Keduanya sama-sama saling menjaga hingga tak peduli apapun hubungan nyata dari darah keduanya.


Mau mereka kandung atau tiri, atau angkat. Tak akan merubah apapun. Tak akan ada yang berubah dari keduanya. Hubungan mereka bakalan tetap sama seperti sebelumnya. Saling menyayangi, menjaga dan merindukan satu dengan yang lain.


"Kamu beneran mau bawa ini semua, Sayang? " Tanya Syakir yang menatap oleh-oleh istrinya itu.


Ya hari ini, mereka bangun agak siang. Cuaca di luar yang sangat dingin membuat keduanya malas untuk jalan-jalan. Ditambah Jay, putra kecil mereka masih tertidur dari kemarin malam.


Sepertinya putranya itu mengalami kelelahan. Hingga dia bangun hanya untuk buang air kecil.


"Iya, Kak. Ini makanan dari Mama, " Kata Humai memberitahu.


Syakir geleng-geleng kepala. Percayalah ada 3 paper bagian berisi makanan dan buah tangan untuk adik iparnya itu.


Namun, Syakir hanya diam. Dia tak protes apapun karena tahu jika Reyn belum pernah pulang selama dia menuntut ilmu.


Adik iparnya itu benar-benar belajar dengan rajin. Bahkan Reyn bilang ingin ikut lomba kelas dunia dalam olahraga renang.


Oleh karena itu dia berusaha dengan keras. Terus berlatih tanpa waktu selalu menghubungi Syakir ketika dia mencoba menghubungi kakaknya tapi tk diangkat.


"Udah semua, Sayang? " Tanya Syakir sambil memasang jaket di tubuhnya.


"Bentar Kak, " Kata Humai sambil membenarkan jaket milik putranya itu.

__ADS_1


Humai memakaikan 5 lapis baju pada tubuh putranya. Dari baju kaos, sweater dan jaket. Semua Humai lakukan karena takut jika jalan-jalan mereka diluar terlalu lama.


Dia juga takut menghabiskan banyak waktu di luar dan membuat suasana yang dingin. Cuaca yang turun semakin membuat Jay bisa jatuh sakit.


Humai hanya ingin mengurangi resiko saja. Dia juga tak bisa melihat putranya sakit. Dirinya akan merasakan khawatir dan panik.


"Jadi entar lagi ketemu Om Reyn y, Bu? " Tanya Jay yang menatap ibunya dengan mata berbinar.


"Ya. Ntar lagi kita ketemu Om Reyn."


"Yeyy." Jay melompat kesana kemari.


Wajahnya tak bisa menutupi apapun. Ekspresi itu sangat amat bahagia. Jay sendiri, anak itu meski hanya berhubungan melalui telepon. Tapi hubungan antara keponakan dan omnya itu berjalan dengan baik.


Reyn sering membelikan mainan untuk Jay dan dipamerkan ke Indonesia. Apalagi ketika video call. Jay bisa menelpon lebih lama dengan Reyn. Bercerita apapun dan Reyn selalu menjadi pendengar setianya.


"Ayo kita berangkat! "


Akhirnya Humai, Jay dan Syakir mulai keluar dari kamar hotel mereka. Bersamaan dengan Jeno dan Sefira yang juga baru keluar.


Pasangan suami istri itu mengatakan untuk ikut memang. Sefira juga merindukan bocah kecil yang dulu bermain dengannya ketika bersama Humai.


Entah tanpa sadar atau Humai merasa khawatir hingga menanyakan hal itu. Dia melihat sahabatnya itu berjalan sedikit mengangkang. Lalu jalannya juga terlihat seperti tidak nyaman dan begitu pelan.


"Eh itu?" Sefira garuk-garuk kepala.


Dia bingung harus menjawab apa. Apalagi sahabatnya itu terlihat begitu penasaran saat mereka masuk ke dalam lift.


"Kamu sakit? " Tanya Humai yang belum peka.


Sedangkan Syakir. Pria itu menahan tawanya. Rasanya dia ingin tertawa keras sekarang. Apalagi melihat wajah adiknya yang terlihat salah tingkat dengan pipi bersemu merah. Dan penyebab utama dari jalan adiknya yang aneh, hanya bisa menunduk malu.


"Ternyata kau ganas juga, Jen! " Bisik Syakir yang memang kedua pria itu bersebelahan.


Jeno mendongak. Dia menyikut perut kakak iparnya itu karena beraninya Syakir menggodanya di saat seperti ini.

__ADS_1


"Kalau kamu sakit. Kamu tidur di kamar hotel aja gapapa. Aku khawatir sama kamu, Fir, " Kata Humai dengan jujur.


Ya dia tak mau egois. Toh mereka masih memiliki banyak waktu di Korea. Mereka bisa menemui Reyn kapanpun itu.


"Nggak, Mai. Aku mau ikut. Aku takut diem di kamar terus, " Kata Sefira sambil melingkarkan tangannya di lengan sahabatnya itu.


"Takut kenapa? " Tanya Humai dengan bingung.


"Takut ada harimau yang siap menerkam terus, " Ucap Sefira berbisik dengan pelan agar tak didengar oleh Syakir dan Jeno.


"Eh! " Humai mulai konek.


Dia menatap sahabatnya itu sekilas dan kemudian pandangannya turun. Bibirnya hampir saja terbuka saat matanya melihat bekas merah di sana.


Ya, ternyata bisa-bisanya dia tak paham. Bisa-bisanya dia bertanya hal yang seharusnya dia sangat tahu akibatnya. Ternyata sahabatnya sudah di unboxing. Akhirnya sahabatnya itu bisa merasakan kebersamaan dengan Jeno.


"Yaudah. Kamu ikut aja. Soal harimau, kamu tinggal usir aja kalau dia nakal? " Sindir Humai yang membuat mata Sefira membuatnya.


Ah memang sahabatnya ini benar-benar. Humai selalu mengatakan dengan hal receh. Padahal Sefira yakin jika sahabatnya itu tau maksudnya.


Akhirnya mereka melakukan perjalanan ke sekolah Reyn dengan jalan kaki. Ya, jarak yang ditempuh memang sangat dekat. Hanya beberapa meter dari hotel yang menjadi tempat tinggal mereka.


"Beneran gak bawa supir ini? " Tanya Syakir lagi mengulangi.


Dia tak mau membuat istrinya dan adiknya kecapekan. Bagaimanapun Syakir bisa melihat dan tahu apa yang terjadi pada adiknya itu. Dia tak mau egois. Dia tak mau membuat istri atau adiknya kedinginan dan kelelahan.


"Beneran, " Jawab Humai dan Sefira bersama.


"Aku ingin berkeringat. Disini sepertinya dari kemarin gak ada keringat sama sekali, Kak. Terlalu dingin cuacanya untukku, " Kata Humai menjelaskan.


Akhirnya Syakir tak memaksa. Dia segera menggendong putranya dan berjalan berdampingan dengan Jeno. Sedangkan istrinya itu berjalan di depannya dengan sang adik.


Kedua perempuan itu ingin tahu bagaimana suasana pagi di Korea. Bagaimana kebiasaan mereka yang suka jalan kaki juga. Menikmati indahnya suasana Negara Ginseng yang begitu luar biasa dengan ditemani turun salju kecil yang tak terlalu banyak.


"Yaudah. Ayo kita jalan. Reyn pasti udah nunggu disana. "

__ADS_1


~Bersambung


Hihi bekas merah gak tuh. Bang Jen ganas juga dan yah insya Allah novel ini tamat pertengahan bulan yah. Kalau bisa crazy update ya gak sampai tengah bulan.


__ADS_2