Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Kembali Bertemu Dosen Killer


__ADS_3

...Percayalah memberikan kesempatan kedua untuk orang yang berdosa adalah suatu hal baik dan apa yang kita awali dengan hal baik maka percayalah semuanya akan berakhir dengan indah....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


"Kenapa cepat sekali?" tanya Syakir yang terkejut akan waktu yang dikatakan oleh mantan istrinya itu. 


Humaira terkekeh. Dia merasa lucu akan aksi Syakir. Bagaimana ekspresi wajah mantan suaminya itu yang menurut Humai sangat menggemaskan.


"Karena waktu terus berputar dan kita tak bisa menghentikannya," balas Humai yang membuat Syakir memikirkan sesuatu.  


Dua minggu bukan waktu yang lama untuk mereka yang ingin kembali menikah. Itu adalah waktu tercepat dan sangat singkat. Tapi semuanya bisa terjadi jika dirinya dan Humai benar-benar sudah siap. 


"Apa yang Kakak pikirkan?" tanya Humai menatap Syakir yang terlihat berpikir keras. 


Syakir mendongakkan kepalanya. Dia balas menatap wajah Humai yang seakan sedang menunggu tentang apa yang dia pikirkan.


"Apa kamu sudah siap menikah denganku dalam waktu dekat?" tanya Syakir dengan serius.


Ya dia tak mungkin menunda lagi. Apalagi diminta menunggu sampai Humai kembali dari Korea. Menurut Syakir itu adalah waktu yang cukup lama. Dia ingin segera memiliki Humai lagi. Dia ingin kembali membina rumah tangga dan tak mau kehilangan wanita yang dicintai dan putra kesayangannya. 


Humaira tahu apa maksud mantan suaminya ini. Dia menggenggam tangan Syakir dan mengusapnya dengan pelan.


"Aku siap, Kak. Bukankah hal baik tak baik untuk ditunda?" ucap Humaira yang membuat senyum Syakir terbit di kedua sudut bibirnya. 


"Kalau begitu. Aku akan mengabari Mama dan Papa. Aku akan meminta mereka untuk melamarmu untukku, Sayang," ujar Syakir final yang membuat Humaira mengangguk.


"Dan aku akan mengatakan niat baik Kakak pada Papa nanti," sahut Humai yang membuat Syakir berharap semoga semuanya berjalan dengan lancar.


"Semoga Papa memberikan restu," lirih Syakir yang mulai merasa ragu.


Ya, dia sadar akan apa yang dulu pernah dia lakukan pada Humai dan Jay. Dia mengakui kesalahannya di masa lalu bukanlah hal kecil. Namun, dia tentu banyak sekali kesalahan pada Humai. 


"Kenapa Kakak menjadi gelisah begini?" 


"Aku hanya takut Papa kamu tak merestui hubungan kita, Sayang," lirih Syakir yang membuat Humai tersenyum.


"Papa akan merestui jika kita mengawalinya dengan hal baik, Kak. Aku yakin Papa tak egois untuk kebahagiaan aku dan Jay." 


Syakir mencoba mengangguk. Dia berusaha membuang pikiran buruk. Dirinya berdoa semoga apa yang dikatakan oleh wanita di depannya ini adalah kebenaran. 


Dia berharap semoga Papa Hermansyah merestui hubungan mereka dan keduanya bisa segera kembali bersama.


🌴🌴🌴


Sedangkan di Jakarta. Lebih tepatnya di sebuah taman di dekat rumah Humaira. Terlihat sepasang manusia yang jarak usianya berbeda jauh itu tengah bermain disana.

__ADS_1


Lebih tepatnya Sefira yang sedang mengawasi anak dari kakak kandungnya itu bermain. Jay memang sudah tahu jika ibu dan ayahnya pergi berdua. Dengan bujukan Sefira juga, anak itu tak menangis dan rewel.


"Ante!" pekik Jay yang membuat Sefira menoleh.


Wanita yang tubuhnya dipenuhi keringat itu mulai mendekati keponakannya itu 


"Ada apa, Sayang?" 


"Bola punya Jay disana!" tunjuknya pada seberang jalan.


Sefira mengikuti arah tangan keponakannya dan dia baru menyadari sesuatu.


"Bagaimana bisa sejauh itu? Kamu memang memiliki kaki yang kuat yah!" gida Sefira yang membuat Jay menunjukkan senyuman lebarnya. 


"Jay minta tolong ya, Ante," ujar anak itu semanis mungkin.


Ah hal inilah yang membuat Sefira senang menjaga Jay. Anak itu tak seperti anak yang lainnya. Didikam sahabatnya benar-benar begitu berarti dan sukses. 


Jay menjadi anak yang penurut. Dia juga terbiasa akan kata minta tolong, meminta maaf dan berterima kasih. Hal itulah yang membuat Sefira nyaman dengan keponakannya ini. 


"Tunggu disini, oke. Jangan kemana-mana," kata Sefira yang melihat bahwa keadaan jalan lumayan ramai.


Jay mengangguk. Dia lekas duduk di atas rumput dan menunggu Sefira yang mulai berjalan ke tepi jalan. Gadis itu sebenarnya tak biasa menyebrang. Dirinya saja masih bergantung dengan Humai jika ingin menyebrang jalan.


"Kenapa ramai sekali," gumam Sefira yang mulai merasa panas akan sinar matahari.


Akhirnya gadis itu mulai menyeberang jalan. Namun, tentu saja untuk pertama kalinya Sefira mencoba. Dari arah kanan terlihat sebuah sepeda motor yang berkendara dengan cepat dan membuat langkah kaki Sefira berhenti.


Saat kaki Sefira terasa berat dan dia hanya bisa mematung. Sebuah tarikan di lengannya membuat tubuhnya tertarik hingga dia terbentur di sebuah benda empuk. 


Bukan itu saja, matanya yang terpejam membuat Sefira tak tahu apa yang terjadi. Namun, tak lama hidungnya mulai mencium aroma minyak wangi. 


Harum yang beberapa hari lalu menusuk dari hidungnya. Harum milik pria yang menghantui tidurnya beberapa hari ini.


"Kamu baik-baik saja, Fira?"


Jantungnya berdegup kencang. Sefira bahkan sampai membuka kedua matanya dengan cepat dan membuatnya melihat apa yang saat ini terjadi pada mereka. 


Sefira merasa hampir pingsan saat tubuhnya ada dalam pelukan Jeno. Ya, pria itulah yang menyelamatkannya dan sekarang memeluknya dengan posesif.


"Fira!" 


"Ah, ya," sahut Sefira yang mulai kembali kesadarannya.


Dia melepaskan pelukan Jeno. Dirinya menyugar rambutnya ke belakang saat jantungnya yang terus berdegup semakin kencang.


"Terima kasih banyak. Aku baik-baik saja," kata Sefira setelah menetralkan kegugupannya.

__ADS_1


Jeno menatap sekeliling. Hingga tak lama pandangannya tertuju pada Jay yang tengah bermain rumput di taman.


"Kamu ngapain disini?" tanya Jeno pada Sefira.


"Aku ingin mengambil bola Jay yang ada disana!" ujarnya yang membuat tatapan Jeno mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Sefira. 


Jeni mengangguk. Dia sekali lagi melihat kondisi Sefira yang membuat gadis itu kembali gugup. 


"Kembalilah pada Jay. Biarkan aku yang akan mengambilkan bolanya," kata Jeno dengan tulus.


Rasanya perasaan Sefira tak menentu. Sikap baik Jeno dan wajah tampannya benar-benar membuatnya gila. Wajah dan ekspresi wajahnya yang jarang tersenyum selalu menghantui alam mimpinya dan hal itu terjadi setelah kebersamaan mereka di tempat bermain.


Sefira lekas menuruti perintah Jeno. Dia kembali pada posisi keponakannya dan Jeno mengambil bola milik Jay. 


"Ini," kata Jeno yang membuat perhatian Jay tertarik.


"Om Jeno!" 


"Hai, Sayang. Apa kabar?" tanya Jeno yang mulai duduk di atas rumput.


"Eh. Celana kamu?" kata Sefira yang tercengang akan aksi Jeno. 


Pria itu masih berpakaian formal dan dia duduk di rumput. Hal itulah yang tentu membuat adik Syakir terkejut. 


"Aku sudah selesai mengajar, Fira. Jadi tenanglah. Semuanya baik-baik," balas Jenon yang tahu kekhawatiran wanita di depannya. 


Jay perlahan pindah ke pangkuan Jeno. Dia bersikap manja pada pria itu dan membuat Jeno tahu jika ada sesuatu yang diinginkan bocah kecil itu. 


"Jay mau apa hm?" 


Bocah kecil itu tersenyum. Om Jeno miliknya ingin selalu tahu apa yang dia inginkan. 


"Jay ditinggal sama Ibu dan Ayah. Kata Ante Fira kalau Ibu..mmm." Jay menepis tangan Sefira yang menutup mulutnya. 


Hal itu tentu membuat Jeno curiga jika pasti ada ucapan jahil dari gadis di depannya ini.


"Ayo kita pulang, Jay!" ajak Sefira mencoba mengalihkan perhatian Jay.


"Gak mau!" ucap Jay menggeleng. "Jay mau ajak Om Jenk beli es krim." 


Anak itu benar-benar terpancing. Dia lupa dengan perkataannya lagi dan mulai menatap ke arah Jeno.


"Ya, Om. Boleh gak, anter Jay beli es krim?" 


Jika mode manis begini siapapun tak akan menolak sekalipun itu Jeno, dosen killer yang dingin. 


"Ayo. Kita beli yang banyak, Bos Kecil!" 

__ADS_1


~Bersambung


Hhahaha mau kapal ini juga berlayar gak? Kisah mereka jadi satu aja kali ya enak. Gimana?


__ADS_2