
...Aku tak menyangka dunia rasanya selebar daun kelor. Dimanapun aku berada kenapa harus ada dia. ...
...~Sefira Giska Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya setelah membiarkan Sefira berkutat dengan alat riasnya. Membiarkan gadis itu mengacak-ngacak lemari dan dirinya. Berakhirlah drama panjang ini. Matanya perlahan menatap pantulan dirinya yang baru saja selesai dirias.
Make up tipis dengan warna lipstik yang nude dan tak mencolok sangat apa pada dirinya. Jangan lupakan, pakaian yang seperti masa gadis membuatnya benar-benar seperti anak muda ingin berkencan.
Jangan salahkan Sefira atau Humai. Tubuh ibu anak satu ini memang masih tetap sama. Tak perubahan pada dirinya setelah atau sebelum melahirkan. Tubuhnya masih sama seperti dulu. Namun, bedanya hanya beberapa titik bagian tubuh Humai yang berisi dan membuatnya semakin seksi.
"Kalau gini pangeran udah harus jemput tuan putri!" Kata Sefira dengan tersenyum bahagia.
"Ini beneran aku, Fir?" tanya Humai tak percaya.
Selama ini ibu satu anak ini memang jarang berdandan. Dia hanya akan memakai sunscreen dan lipstik untuk berangkat kuliah. Lalu keluar rumah, dia jarang keluar kecuali bersama Jay atau kedua sahabatnya.
Humai lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Mendesain, menemani putranya bermain atau kumpul bersama keluarga. Entah kenapa, menurutnya waktu yang selama ini ia buang tanpa mama dan papa. Membuatnya ingin mengganti semua itu dengan kebersamaan mereka yang tiada henti.
Humaira tak mau membuat satu kisah waktu pun terlewati. Dia ingin mama dan papanya ada di dalamnya bersama kenangan indah yang mereka lalui.
"Ya bener!" Seru Sefira dengan berkacak pinggang. "Kamu udah cantik, apalagi tambah putih, muka kamu mulus. Jadi di make up sedikit aja, kamu makin cantik banget, masya allah!" Seru Sefira yang heboh sendiri.
Sejak dulu wajah sahabatnya masih tetap sama. Polos dan tak pernah aneh-aneh. Tapi mungkin bedanya jika dulu Humai tak perawatan. Namun, sekarang perempuan itu melakukan perawatan agar jerawatnya bisa sembuh.
Bagaimanapun Humai tak mau kembali seperti masa lalunya. Tak dihargai karena penampilannya yang buruk.
Bukan dia tak menjadi dirinya sendiri. Tapi semua pendapat tentang penampilan adalah number one. Itu memang benar. Bukan demi dilihat orang lain. Tapi dilihat diri sendiri adalah suatu yang penting.
Penampilan sempurna dan terbaik menurut kita. Akan membuat kita baik juga di mata orang. Meski apapun itu, membeli sesuatu yang bagus dan indah untuk memperindah diri sendiri adalah suatu reward untuk kita pada diri kita.
__ADS_1
"Yaudah. Ayo turun! Entar lagi Kak Syakir pasti dateng. Aku mau ganti pakaian aja oke!" Kata Sefira sebelum dia pergi dari kamar sahabatnya.
Sepeninggal adik mantan suaminya itu. Humaira beranjak berdiri. Dia menatap sekali lagi penampilan dirinya di cermin. Meneliti semuanya dari rambut sampai bawah. Seakan ia takut ada kekurangan pada dirinya.
"Apa yang sedang aku lakukan?" Gumam Humai memukul kepalanya sendiri. "Untuk apa aku harus sesempurna ini dan sepanik ini? Bukankah ini hanya untuk bertemu dengan ayah dari anakku?" Ujarnya pada dirinya sendiri.
Humaira merasa dirinya sudah gila memang. Dirinya sendiri juga bertanya kenapa sebahagia ini. Namun, percayalah cinta itu masih tetap sama. Hanya saja tertutupi rasa takut. Takut jika sikap Syakir yang lama akan kembali lagi.
Kenangan mereka terlalu pahit dan membuat Humaira tak bisa sepenuhnya percaya pada Syakir.
"Ibu!" Teriak Jay yang mengejutkan Humai.
"Ya, Sayang?" Humai lekas melangkahkan kakinya.
Dia meraih tasnya lalu melingkarkan ke lehernya. Setelah itu ibu satu anak itu membuka pintu kamar dan muncullah sosok putranya berdiri disana dengan style yang hampir mirip dengannya.
Celana jeans pendek dengan kaos dan jaket. Humai ingat sekali baju itu dibeli ketika Jay berumur satu tahun. Saat itu dia melihat baju itu yang sangat keren dan tak sabar untuk membelinya. Meski dia mengakui jika baju itu masih bisa dipakai satu tahun kemudian.
"Ayah udah dateng, Bu. Ayo turun!"
"Ayo, Bu!"
Akhirnya Humai tak bisa menolak lagi. Dia mengikuti tarikan tangan putranya pada tangan kanannya. Saat hampir sampai di tangga, keduanya berjalan bergandengan tangan dan bersebelahan. Ibu dan anak itu terlihat semakin cocok dan so sweet saat penampilannya sama seperti ini.
...🌴🌴🌴...
"Iya, Om. Syakir hanya ingin mengajak mereka ke mall saja. Mungkin menghabiskan koin di timezone dan makan bersama," Kata Syakir pada Papa Hermansyah yang menemaninya di ruang tamu.
Jujur perasaan pria itu sebelas duabelas belas dengan Humai. Gugup dan takut. Dia merasa menjadi anak muda lagi. Dia merasa puber kedua di umurnya yang hampir empat puluh tahun. Dia merasa hidupnya seperti anak muda yang mengejar cinta dengan semangat menggebu.
"Baiklah. Aku titip mereka berdua," Kata Papa Hermansyah yang langsung mendapat anggukan kepala dari Syakir.
__ADS_1
"Nah itu mereka!" Kata Papa Hermansyah yang tak sengaja menatap ke arah tangga.
Tentu hal itu membuat Syakir ikut beranjak berdiri. Dia menatap keduanya tanpa kedip. Ah lebih tepatnya menatap wanita yang pernah ia tiduri dengan paksa. Menatap wanita yang sudah memberinya kesempatan untuk membuktikan bahwa dia benar-benar serius ingin kembali.
Syakir akan membuktikan bahwa perkataannya serius. Syakir akan membuktikan bahwa cintanya itu tulus dan dia berniat untuk kembali membangun rumah tangga dengan Humai. Bukan demi putranya, bukan demi kebahagiaan Jay. Namun, semua yang ia lakukan demi cintanya pada Humaira Khema Shireen.
"Ayah!" Pekik Jay yang membuat Syakir memutuskan keterpanahaannya karena kecantikan Humai yang tak pernah luntur.
Syakir bisa melihat wajah mantan istrinya semakin cantik bersinar. Dan dia tahu dan baru menyadari jika cantik Humai selama ini terpendam. Wanita itu bukan hanya cantik fisik melainkan hatinya juga.
Orang tua Jay itu saling bingung. Keduanya merasa gugup dan tak tahu harus menyapa bagaimana.
"Emm Giska belum selesai?" Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari bibir Syakir.
Sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa Humaira saat ini benar-benar luar biasa. Tapi pikirannya agak tak sinkron dan takut jika Humai risih kepadanya.
"Aku datang?" Teriak Giska dengan bahagia.
Gadis muda itu lekas memeluk kakaknya dengan erat. Dia tersenyum saat melihat tingkah dua manusia ini yang malu-malu.
"Cie yang tingkahnya kayak bocah puber uhuy. Malu-malu ni yee!" Goda Sefira yang semakin membuat pipi Humai bersemu merah. "Wah lihat pipinya kan, kan?"
Humaira semakin menundukkan kepalanya. Dia seperti pencuri kepergok melakukan aksinya sekarang. Temannya ini memang gila. Sefira selalu bisa mencairkan suasana yang kamu dimanapun.
"Uhuy, Mau. Ummmm!" Sefira memukul tangan kakaknya yang menutupi mulutnya.
Dia mendelikkan matanya ke arah Syakit saat pria itu tak mau melepaskan tangannya.
"Diem. Kalau godain Humai lagi. Aku tinggal!"
"Ihh gak terima yah?" Tanya Sefira saat tangan itu terlepas. "Baiklah hari ini aku bakalan jadi pengawal yang baik. Aku bakalan jadi obat nyamuk pendiam demi kalian berdua!"
__ADS_1
~Bersambung
Nasib kita sama Fir. Jadi penonton keuwuwan mereka berdua entar lagi. Hahahah