
...Ternyata rasa kehilangan itu semakin besar saat apa yang sering dia lakukan tak bisa aku rasakan lagi....
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
"Kamu itu ternyata bukan anak dari Ayah Seno dan Ibu Shadiva, Mai."Â
Humaira merasa dirinya sesak nafas. Kabar yang baru saja dia dengar seakan membuat telinganya mendadak tuli. Dia terkejut sekaligus tak percaya. Apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu benar-benar gila.Â
"Gak mungkin, Fir. Jangan bicara sembarangan," seru Humaira tak terima.Â
"Tapi ini faktanya, Mai," ujar Sefira dengan tatapan yang meyakinkan.Â
Humaira tentu bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah Sefira dari layar ponselnya. Sahabatnya itu tentu begitu serius sekarang. Tak ada wajah bercanda di sana karena apa yang Sefira katakan semuanya benar.Â
"Maaf. Aku dan Mama lancang mencari tahu tentangmu. Setelah kejadian jebakan dari Rachel ternyata lambat laun membawa kami ke kabar yang mengejutkan ini," kata Sefira dengan tatapan rasa bersalah.Â
"Jadi kamu…"Â
"Ya. Mata-mata Mama dan Papa mendapatkan informasi itu. Informasi jika kedua orang tuamu masih hidup."Â
Humaira masih tak percaya. Dia menundukkan pandangannya karena bingung harus melakukan apa. Apakah dia harus percaya dengan cerita Sefira atau dia hidup dengan bayang-bayang yang entah benar atau tidak.Â
"Jika Ayah Seno dan Ibu Shadiva bukan orang tuaku. Maka siapa orang tua kandungku, Fir?" tanya Humaira dengan menatap sahabatnya itu.
Ibu hamil itu terlihat begitu pasrah akan jalan hidupnya. Dia mau mengelak pun sepertinya percuma. Semua yang sudah dia lewati, sikap ibu Shadiva padanya, membuatnya mulai paham akan apa yang selama ini dia hadapi.
Setiap tatapan mata ibunya yang menatap dirinya benci, seringkali membuat Humai berpikir kesalahan apa yang pernah dia lakukan. Ternyata inilah jawaban untuknya.
Jawaban dari setiap banyaknya pertanyaan di masa lalu. Setiap ujian yang dia dapatkan ternyata karena dirinya ternyata bukan anak kandung orang tua yang ia anggap orang tua kandungnya sendiri.
"Kamu yakin ingin bertemu orang tuamu?" tanya Sefira menatap Humaira dengan tatapan lekatnya.Â
"Sangat yakin."Â
"Maka tunggulah mereka disana. Orang tuamu akan terbang ke Jakarta untuk menemuimu, Mai."Â
...🌴🌴🌴...
Di sebuah kamar. Terlihat seorang pria tengah bermain game di layar laptop miliknya. Sudah beberapa hari ini dia hanya mendekam di dalam rumah.
Syakir menghabiskan waktunya di dalam kamar hanya untuk bermain game. Jika dia merasa lelah, maka dirinya akan tidur. Jika dia lapar, dia akan turun dan meminta makan pada pelayan yang diperintahkan menjaga dan membersihkan rumah ini. Jika dia bosan, dia akan menonton televisi sendirian.Â
Hari-hari itu tentu dijalani oleh Syakir dengan hampa dan kosong. Bahkan dia merasa hidupnya seakan mengikuti arus. Namun, entah kenapa pria itu mulai merasa ada yang kosong dari hidupnya.
__ADS_1
Ada sesuatu yang hilang dan membuatnya merasa rindu. Entah apa itu tapi Syakir tak mau menebaknya.
"Dimana dia sekarang?" gumam Syakir yang saat ini duduk di lantai tepat di dekat kolam ikan.
Syakir benar-benar tak peduli dengan tanggapan pelayannya. Dia memilih duduk disini karena bayangan wajah Humai ketika memberi makan ikan tiba-tiba terbayang di wajahnya.Â
Ingatan itu seakan berputar dan membuat Syakir seakan melihat sosok Humaira disana. Senyuman gadis itu setiap kali hendak memberikan makan ikan.
"Kakak gak mau ikut ngasih makan ikan?" ajak Humaira sambil membawa pakan ikan yang ada di timba di tangannyaÂ
Syakir yang saat itu duduk di ruang tamu. Menatap Humaira dengan sekilas. Lalu dia kembali fokus dengan layar laptopnya tanpa berniat menjawab.Â
"Yaudah. Humai kasih makan ikan dulu yah," ujarnya dengan semangat meski tak dipedulikan oleh Syakir.
Bayangan itu seakan nyata di mata Syakir. Apalagi ketika melihat senyuman Humai yang nyata sambil melambaikan tangannya membuat Syakir entah tanpa sadar mengulurkan tangan.Â
Dirinya seakan ingin menggapai tangan Humai sampai bayangan itu tiba-tiba hilang.
"Mai!" teriak Syakir tanpa sadar saat dia merasa kehilangan.
Teriakan itu tentu membuat pelayan yang sedang membereskan rumah tiba-tiba menoleh. Kepala pelayan yang dekat dengan Syakir lekas mendekati anak dari majikannya.Â
"Tuan ada apa?"Â
"Apa Tuan membutuhkan sesuatu?"Â
"Tidak, Bi," sahut Syakir dengan mulai beranjak berdiri. "Aku mau ke kamar, yah. Kalau makan siang sudah siap. Bangunkan aku, Bi!"Â
"Baik, Tuan."Â
Saat Syakir hendak masuk. Tiba-tiba terlihat sebuah mobil berhenti di depan rumah Humai. Pria itu mengurungkan niatnya dan malah menunggu siapa yang sedang berkunjung di rumahnya.
Tak lama, pintu mobil mulai terbuka dan muncullah tiga orang yang sangat dia kenali keluar.
"Mama, Papa," ucap Syakir dengan pelan.Â
Namun, tiba-tiba matanya tertuju pada pria yang berjalan di samping papanya. Pria yang sangat familiar di matanya. Seseorang yang merupakan pengacara kepercayaan papanya itu.
"Selamat pagi, Tuan Syakir," sapa pengacara Papanya dengan sopan.
"Pagi, Pak," sahut Syakir sambil menerima uluran tangan itu.Â
"Apa kami mengganggu waktu Anda, Tuan?".
"Oh tidak," sahut Syakir dengan menggeleng. "Silahkan masuk!"Â
__ADS_1
Syakir memberikan ruang tiga tamunya itu memasuki ruang tamu. Namun, saat mamanya yang hendak melewatinya. Pria itu segera memegang tangan Mama Ayna dengan lembut.
"Ma. Maafkan, Syakir," lirihnya dengan pelan.
Bukannya menjawab. Mama Ayna malah melepaskan tangan anaknya dari pergelangan tangannya itu. Lalu tanpa menoleh, dia segera berjalan mengikuti suaminya dan duduk di samping Papa Haidar.Â
Syakir tak bisa mengatakan apapun. Akhirnya dia memilih menyusul duduk di sofa single di hadapan pengacara dan kedua orang tuanya.
"Sebenarnya kedatangan saya kesini hendak mengantarkan ini, Tuan," kata Pengacara papanya itu dengan mulai mengeluarkan berkas dari dalam tasnya.
Syakir masih melihat semua pergerakan itu. Dia meneliti apa saja yang dikeluarkan oleh orang kepercayaan papanya.Â
"Apa ini?" tanya Syakir saat dia menerima berkas pemberian pengacaranya itu.
Pria itu menunduk. Dia mulai membolak balikkan amplop coklat itu sampai sebuah logo pengadilan agama terlihat disana.Â
"Ini…" jeda Syakir dengan lidah terasa keluh.
Dia merasa tangannya berat untuk membuka amplop di tangannya ini. Bahkan dia mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat ekspresi kedua orang tuanya.
"Bukalah, Tuan," ucap pengacara itu dengan tegas.
Syakir lekas membukanya. Dia lalu mengeluarkan isi yang ada di dalamnya. Ketakutan itu membuat tangannya berkeringat dingin. Sampai akhirnya berkas yang ada di dalamnya mulai terlihat, Syakir semakin merasa sesak nafas.
"Jadi ini…"Â
"Ya. Ini surat perceraian Anda," ujar pengacara itu menjawab. "Pengajuan Anda dan Nona Humai diterima dengan cepat, Tuan. Apalagi bukti yang ada membuat perceraian ini cepat ditangani."
Syakir memejamkan matanya sejenak. Dia merasa resah di dasar hatinya. Seakan ada sesuatu yang tak rela dalam dirinya.Â
"Anda tanda tangani surat itu segera, Tuan. Agar kalian segera resmi bercerai!"Â
~Bersambung
Hiyaaaa dah tanda tangani, Bang. Dah kelar juga suratnya.
Jangan lupa mampir ke karya temanku yah.
Roy Xavier, Seorang pria dewasa berusia 36 tahun, yang biasa di panggil sekertaris Roy, Seorang sekertaris sang tuan muda Sean Agipratama, pemilik perusahaan SA Group, dengan parasnya yang tampan dan gagah, Roy tak pernah kekurangan pujian dari para kaum wanita, memiliki sifat yang dingin dan kaku yang tak pernah tersentuh oleh siapapun.
Siapa sangka, jika pria dingin itu malah terpikat oleh wanita yang menjadi rivalnya, Yolanda Jackson. Tapi yang lebih menyakitkan saat ia telah mencintai wanita tomboy itu adalah, ketika wanita yang ia cintai sudah memiliki pria yang ia cintai.
Akankan sekertaris Roy bisa meluluhkan hati wanita yang ia cintai dan bisa mendapatkan wanita itu?
__ADS_1