Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Double Restu


__ADS_3

...Jangan membalas orang yang tinggi dengan ketinggian. Mereka tak akan menyerah ketika kita melawannya dengan hal yang sama. Berusahalah tetap merendah meski mereka berniat menjatuhkan kita....


...~Sefira Giska Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Sefira terdiam cukup lama. Dia benar-benar terkejut sebenarnya dengan aksi saudara kekasihnya itu. Pertemuan pertama dengan kesan yang sangat luar biasa. Hal itulah yang kemudian membuat Sefira mulai berpikir. 


Alasan kenapa kekasihnya itu pisah tinggal dengan keluarganya. Bekerja sebagai dosen sedangkan rumahnya sangat amat besar dan ya isinya juga barang mahal semua. 


"Kalau dari cara berpakaianmu. Kami pikir… " 


"Jangan katakan apapun lagi! " Kata Mama Mei menatap semua saudaranya dengan tajam. 


"Kenapa, Mei? " Tanya seorang perempuan yang tiba-tiba berceletuk. 


Dia beranjak berdiri dan menatap Mei dengan pandangan tak suka. Hal itulah yang tiba-tiba membuat Sefira menatap sekeliling. 


"Kemana Kak Jeno?" Gumam Sefira dalam hati. 


"Apa karena kamu juga berasal dari keluarga yang bangkrut? Ups! " 


Sefira tentu memutar kepalanya. Dia menatap tak percaya ke arah saudara dari papa kekasihnya itu. Sefira tak menyangka jika mereka memiliki bibir yang sangat amat tajam. 


Dia lekas menatap ke arah Mama Mei. Mencoba meneliti ekspresi wanita itu. Namun, ternyata kepala Mama Mei mengangguk. 


"Ya. Aku hanya dari keluarga bangkrut yang nasibku diangkat oleh suamiku! Tapi kalian harus ingat, apa yang kupakai semuanya dari suamiku, bukan SUAMI ORANG! " 


Mama Mei menegaskan kata terakhirnya. Dia benar-benar tanpa takut. Namun, Sefira jujur hanya bisa diam. Bukan dia ingin ditindas tapi Sefira tak mau citra nama baiknya tercoreng di pertemuan pertama. 


"Ayo, Nak. Kita ke belakang! " Ajak Mama Mei yang kemudian meraih tangan Sefira dan membawanya menjauh dari ruang keluarga. 


Jujur Sefira hanya mampu mengikuti langkah ibu kekasihnya. Dia tak menolak atau melawan. Sefira seakan paham apa yang kini dirasakan oleh ibu kekasihnya. Dia tahu ucapan itu sangat tajam dan pasti menyakiti hati Mama Mei. 


"Tante… " 


"Panggil aku Mama, Nak. Sama seperti Jeno, " Ucap Mama Mei saat keduanya sampai di taman belakang. "Kemarilah, Fira. Duduk! " 

__ADS_1


Sefira mengangguk. Dia mengikuti langkah Mama Mei dan duduk tepat di samping wanita itu. Tak ada pembicaraan apapun. Seakan Sefira memberikan waktu untuk ibu kekasihnya itu menenangkan dirinya. 


"Maafkan Mama yah. Di pertemuan pertama kita. Ternyata kamu sudah dihina oleh saudara ipar Mama, " Ujar Mama Mei memulai. 


"Mama tak bisa mengontrol karena memang mereka seperti itu. Mama disini hanya bisa… " Jeda Mama Mei lalu menatap ke samping. 


Dia meraih tangan Sefira dan menggenggamnya. "Mama hanya bisa mengatakan maaf karena tingkah saudara ipar Mama yang ucapannya menyakitimu, Nak." 


Sefira tak menyangka jika hati Jeno yang lembut dan perhatian adalah keturunan mamanya. Matanya yang teduh, ucapannya yang lembut ternyata sama seperti Mama Mei. 


"Jangan dipikirkan, Ma, " Kata Sefira membalas. "Hal seperti itu sudah sering Fira rasakan. " 


Apa yang dikatakan oleh Sefira benar bukan? 


Dulu dirinya dan Humai sering mendapatkan cemoohan dari Rachel. Semua kata serapah, bullyan, lemparan kertas, Sefira dapatkan karena melindungi sahabatnya. 


Jadi hal kecil seperti ini tak membuat perasaan Sefira sakit hati. Hal kecil seperti ini bakal angin lalu untuk adik Syakir. Karena belajar dari masa lalu, yang pengalamannya jauh lebih sulit dan kejam. 


"Fira tak tersinggung kok, " Lanjutnya yang membuat Mama Mei tersenyum begitu tulus. 


Dia mengangkat tangannya dan mengusap pipi Sefira dengan lembut.


"Jeno pergi dari rumah saat hinaan satu per satu datang padanya. Dia dibandingkan oleh keponakannya yang lain." 


"Jeno tak pernah melawan tapi dia memiliki luka batin yang dalam. Hal itulah yang terkadang membuatnya jadi pria pendiam dan jutek, " Lanjut Mama Mei yang membongkar semuanya. 


"Mama dan Papa sebenarnya tak mau Jeno pergi. Ini rumah Jeno, ini rumah yang diwariskan Papanya untuk Jeno. Tapi dia mengatakan bahwa Jeno ingin beli rumah sendiri, " Kata Mama Mei sambil mengusap air matanya yang menetes tanpa permisi. "Mama gagal membuatnya bahagia di rumah ini. Jadi… " 


"Mama harap kamu bisa bahagiain Jeno di rumah kalian nanti yah," Ujar Mama Mei penuh harap. 


Sefira tersenyum. Dari perkataan Mama Mei saja. Tanpa alasan, hubungan mereka sudah mendapatkan lampu hijau. Hal itu tentu menjadi awal yang bagus. sefira tak peduli pada yang lain. Namun, yang terpenting menurutnya adalah orang tua Jeno dan Jeno cinta dan sayang padanya. 


"Itu pasti, Ma. Sefira janji akan bakalan selalu ada untuk Jeno dan bahagiain dia " 


Kedua wanita dengan usia berbeda itu saling menatap. Mereka sama-sama tersenyum seakan sedang menikmati kebersamaan keduanya. Sampai tak lama, sebuah suara datang dari arah pintu penghubung rumah dan taman, yang membuat Mama Mei serta Sefira menoleh. 


"Jeno cariin ternyata Mama disini, " Ujar Jeno yang datang dengan seorang pria paruh baya yang membuat Sefira beranjak berdiri. 

__ADS_1


"Ya. Mama dan Fira ingin mencari udara segar, " Kata Mama Mei yang membuat Jeno langsung menatap ke arah kekasihnya. 


"Kamu baik-baik saja, hm?" Tanya Jeno sambil meraih pinggang Sefira dan membuat gadis itu membulatkan matanya. 


"Kak? " Tegur Sefira mencoba lepas dari lilitan tangan kekasihnya itu. 


"Papa dan Mama sudah tahu, 'kan? " Tanya Jeno dengan ekspresi tenangnya. 


Sefira menoleh. Dia melihat kedua orang tua Jeno tersenyum gemas ke arah mereka. 


"Papa sudah tahu kalau anak Papa ini sedang jatuh cinta, " Kata pria paruh baya yang usianya tak beda jauh dari Papa Haidar. "Tapi kenapa Papa tak asing dengan wajahmu yah? " 


Sefira terdiam. Dia mengerutkan keningnya seakan mencoba menunggu perkataan apa yang akan dikatakan oleh papa kekasihnya itu. 


"Kamu mengingatkan Papa pada seseorang, " Kata Papa Jeno pada Sefira. 


Adik Syakir hanya tersenyum. Kemudian setelah dia bisa melepaskan tangan Jeno dari pinggangnya. Sefira lekas mendekat. Kemudian dirinya meriah tangan Papa kekasihnya dan mencium punggung tangannya. 


"Halo, Pa. " 


"Hai, Nak. Kamu memang seperti yang Jeno katakan! " 


"Apa yang Kak Jeno katakan, Pa? " Tanya Sefira yang penasaran. 


Dia melirik ke arah kekasihnya yang menggelengkan kepalanya ke arah papanya. 


"Dia minta Papa untuk melamarkan seorang perempuan cantik dan sopan. Jeno bilang tak mau keduluan. Jadi, Sefira sudah siap untuk dilamar?" 


"Eh!"


Sefira mengedipkan matanya lucu. Dia menatap terkejut ke arah Papa dari kekasihnya itu. Ternyata sikap tak Disangka-sangka dan mengejutkan Jeno berasal dari papanya itu  


"Bagaimana, Nak? " 


Sefira seakan menahan nafas. Namun, dia juga sudah memiliki jawaban. 


"Fira bersedia, Pa. Fira menerima dan menunggu lamaran Kak Jeno ke rumah. " 

__ADS_1


~Bersambung


Yah yah ini mah halalin barengan aja enak. Entar kondangannya poin sama koin hahhaa. ngelunjak aku hahhaa.


__ADS_2