
...Hari pertama mungkin berat tapi aku yakin bisa melewatinya jika rencana ini atas restu tuhan....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Sekembalinya Syakir dari kamar mandi. Pria itu sudah diseret oleh Sefira, adik perempuannya menuju ruang tamu. Disana sudah ada tempat kecil yang disiapkan untuk pengantin melakukan sesi foto.Â
Semua itu sudah dipersiapkan oleh Sefira. Gadis itu benar-benar bahagia kakaknya menikah dengan Humaira. Harapan yang dulu pernah ia lontarkan ternyata tanpa sengaja dikabulkan oleh tuhan. Keinginannya untuk memiliki ipar yang sangat menyayanginya akhirnya terwujud.
"Mau ngapain sih, Dek?" tanya Syakir dengan bibir menggerutu.
"Ya mau foto lah. Kakak, 'kan nikah, jadi harus foto!" seru Sefira tak mau kalah.
"Nggak. Kakak gak mau!" tolak Syakir menggeleng.
"Apa Kakak tak mau melihat Mama dan Papa bahagia?" seru Sefira dengan pelan. "Lihat!"Â
Sefira menunjuk ke arah ruang tamu. Disana ada Mama Ayna dan Papa Haidar yang duduk mengapit Humaira. Kedua orang tua itu sedang menyuapi cemilan ke mulut Humai meski wanita yang baru saja menjadi istrinya terlihat menggelengkan kepala menolak.
"Mama dan Papa, bahagia sekali. Apalagi mereka hendak memiliki cucu. Apa Kakak tega menghancurkan kebahagiaannya?" tanya Sefira dengan mata berkaca-kaca.Â
"Tapi aku tak percaya kalau itu anakku! Kalian ditipu oleh dia!" serunya mencoba menyadarkan Sefira.
Adik kandung Syakir itu menggeleng. Dia menunjuk dirinya sendiri dihadapan Syakir.
"Atas nama Tuhan, Sefira yang menjadi saksi dan bukti bagaimana sahabat Sefira itu. Kakak juga menjadi saksi setiap aku cerita tentangnya. Kalau Kakak masih menolak dia, aku tau bukan karena hatinya tapi wajahnya."Â
Syakir menatap adiknya tak percaya. Jujur dia tak ada rasa suka atau apapun pada Humai. Malahan dalam hatinya, dia marah dan ingin balas dendam. Dia ingin membuat Humai menyesal telah memilih menikah dengannya.
Dia ingin membuat wanita itu sadar bahwa telah menghancurkan harapan dan kebahagiaan Syakir. Dia sudah menghancurkan masa depan yang ada dalam bayangan pria itu. Semuanya hanya tinggal kenangan dan angan saja.Â
"Kamu tak tahu apa-apa, Sefira. Sampai kapanpun Kakak tak akan menyukai sahabatmu itu. Bahkan Kakak sangat membencinya!" kata Syakir penuh penekanan.
Sefira mengangguk. Dia menepuk pundak dan dada Syakir dengan pelan.
"Kita lihat saja. Siapa pemenang sebenarnya nanti. Humaira yang benar atau Kakak yang bodoh!" kata Sefira dengan berani. "Satu lagi, jangan pernah menyesal jika dia sudah pergi jauh dan tak akan pernah kembali lagi!"Â
Setelah mengatakan itu. Sefira lekas memanggil Mama Ayna, Papa Haidar dan Humaira. Dia meminta mereka mendekat karena Sefira ingin foto keluarga.Â
Sebenarnya ini bukan permintaan Sefira tapi Mama Ayna yang meminta. Dia ingin memajang foto itu di ruang tamu rumah besar ini dan mengatakan pada dunia bahwa putranya sudah menikah.Â
"Ayo, Kak. Atur sudah!" kata Sefira setelah membawa keluarga kecilnya di tempat dimana sudah dihias sebaik mungkin.Â
Syakir merasa malas tapi entah kenapa dia tak mau membuat mamanya kembali menangis. Selama ini Syakir adalah pria penurut. Dia juga sosok anak yang dekat dengan orang tuanya. Tapi itu dulu, sebelum kejadian jebakan itu terjadi.Â
Sekarang? Syakir sudah berubah. Pria itu berpikir dia menolak karena memang sangat membenci Humai. Dia tak percaya jika anak itu adalah anaknya. Ditambah Rachel yang sangat ia cintai, membuatnya buta mata dan hatinya.
"Kesini, Tuan!" kata seorang fotografer mengatur tata letak mereka.
Syakir dan Humai disandingkan. Lalu Mama Ayna dan Papa Haidar juga berdampingan. Sedangkan Sefira, gadis itu berdiri sendiri tapi dengan senyuman yang begitu lebar.
__ADS_1
"Pegang tangan istrinya, Tuan Syakir!" kata salah satu fotografer itu pada Syakir.
Dengan terpaksa, Syakir memegang tangan Humai. Tak ada keromantisan disana, hanya terlihat wajah Syakir yang kaku dan datar.
"Senyum, Tuan Syakir!" perintah fotografer yang lain.
"Satu…dua…tiga!"Â
Bersamaan flash kamera itu memenuhi kelimanya. Mereka menatap hasil itu dan melihat perbedaan disana. Jika Mama Ayna dan Papa Haidar terlihat sangat romantis tapi tidak dengan sepasang pengantin baru itu.Â
Wajah tak rela dan tertahan mampu tertangkap dan membuat hasilnya tak maksimal.Â
"Tolong lebih dekat lagi!" kata fotografer dengan pandangan sungkan pada Humai dan Syakir.
Sefira yang kesal akhirnya bergerak mendekat. Dia menarik lengan Humai dan Syakir dan mendekatkannya. Kemudian tanpa diduga, tangan Syakir dipaksa memegang pinggang Humai.
"Jangan dilepas!" seru Sefira menunjuk kakaknya dengan suara pelan. "Jangan lupa senyum, Kakak!"Â
Sefira akhirnya berbalik. Dia memasang senyuman lebar dan mengacungkan jempolnya pada para fotografer.
Saat para fotografer mengatur kameranya. Sebuah remasan di pinggang membuat Humai meringis. Lalu tanpa sengaja dia menatap ke samping hingga tatapannya bertemu pandang dengan tatapan Syakir.
"Oke. Satu…dua…tiga. Senyum!"Â
Flash kembali muncul dan akhirnya gambar itu tertangkap. Sefira berlari dengan cepat ke arah layar untuk melihat hasil potret barusan.
"Perfect!"Â
Tanpa mereka sadari, ketika semua orang ingin melihat foto itu. Syakir dengan kasar melepas remasan di pinggang Humai. Matanya menatap tajam dengan rahangnya yang tegas.
"Jangan terlalu bahagia dengan semua yang kulakukan ini," bisik Syakir yang membuat bulu kuduk Humai merinding. "Ini hanyalah paksaan dan setelah ini, kau akan tahu bagaimana kehidupan yang kau inginkan sebenarnya."Â
Syakir tetap menatap Humai dengan pandangan rendah. Bahkan dia langsung membuang wajahnya karena tak mau menatap wajah itu lagi. Wajah yang menurutnya merusak segala hal yang ia inginkan.Â
Wajah dari wanita yang merebut kasih sayang kedua orang tuanya. Wajah yang merusak masa depan indahnya. Semua itu sudah sirna dan itu karena Humaira dan anak yang dikandungnya.Â
 "Jangan pernah menatapku seperti itu, Wanita bodoh!" seru Syakir saat Humai menatapnya dengan lekat. "Aku sangat membencimu dan aku tak mau melihatmu lagi! Enyahlah dari duniaku bersama anak haram ini!"Â
Jantung Humai mencelos. Dia menunduk dan tanpa sadar langsung memegang perutnya. Wanita itu merasa sakit ketika kata-kata itu keluar dari bibir Syakir. Namun, Humai tak bisa melakukan apapun.
Saat ini Syakir telah menjadi suaminya. Dia tak bisa melawan balik dan memilih diam. Humai juga tak mau membuat kekacauan disini. Dia tak mau Syakir semakin membencinya saat kedua orang tuanya terus membelanya daripada putranya sendiri.Â
"Kau mau mengadu? Silahkan!" seru Syakir dengan pelan karena melihat kedua orang tuanya hendak ke arah mereka. "Tapi jangan salahkan aku, jika kau dan anakmu ini, akan mendapatkan sakit yang lebih dari ini dariku!"Â
Humai mendongak. Dia menatap wajah Syakir yang tak main-main.Â
"Aku tak menggertak. Jika kau tak percaya, buktikan saja dan tunggu apa yang akan aku lakukan padamu!"Â
"Bersambung
Tarik nafas buang. Banyak istigfar liat kelakuan suami dajjal. Aku aja yang bikin karakter Syakir, greget sendiri. Pen tak gigit, haha.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya
...🌴🌴🌴...
Oh iya mampir juga di karya temenku yah.
Biar makin penasaran, aku kasih cuplikan babnya disini.
Bab 9
"Apa?! sembilan puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan?!" Bella langsung membelalakan matanya.
Devan mengangguk.
"Ini tidak masuk akal!" tukas Bella yang langsung melemparkan map kembali ke atas meja.
"Tidak masuk akal atau kau memang tidak memiliki uang untuk membayarnya?" tanya Devan dengan menaikkan alisnya sebelah.
Bella meremas lututnya menahan rasa kesal. Namun, apa yang dikatakan oleh pria yang ada di hadapannya itu benar adanya.
"Setidaknya aku akan mencicilnya. Bukankah ini merupakan suatu kehormatan, aku datang dengan niat untuk bertanggung jawab. Kalau orang lain, sudah pasti dia akan kabur," tukas Bella dengan nada yang sinis.
"Siapapun yang berurusan denganku tidak akan bisa kulepaskan begitu saja. Sama halnya denganmu. Namun, aku berbesar hati padamu untuk memberikan tawaran yang menggiurkan." Devan mengambil map yang ada di atas meja dan kemudian membuka sebuah dokumen yang berisi perjanjian.
Bella pun mengambil kembali berkas tersebut. Sesaat kemudian keningnya mengernyit. "Bukankah ini lebih gila," batin gadis itu.
"Menikahlah denganku," ucap Devan seraya menyilangkan kedua tangannya di depan.
"Apa kau gila? Bukankah aku menabrak mobilmu? Apakah otakmu juga ikut rusak?!" tandas Bella dengan sarkasme.
"Nona, saya harap anda menjaga sikap!" tegas Joko, sang asisten.
"Bukankah ini tawaran yang langka? Banyak gadis yang berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Lagi pula ... Kau jangan sok jual mahal! Tampangmu sama seperti botol susu yang kau jual itu!" tukas Devan yang tak kalah kasar dari Bella.
Gadis itu menghela napasnya berat sembari mengigit bibir bawahnya. "Apa hakmu menghinaku?"
"Bukankah kau yang melakukannya terlebih dahulu?" timpal Devan santai.
"Baiklah. Aku akan membayar hutangku, tapi dengan cara mencicil," ujar Bella.
"Aku tidak menerima jenis cicilan atau pun kredit."
"Tapi aku tidak memiliki uang sebanyak itu," tukas Bella geram.
"Kalau begitu menikah saja denganku!"
"Aku tidak mau!" tolak Bella.
"Joko, telepon polisi dan jebloskan dia ke penjara!" titah Devan.
__ADS_1