
...Kebahagiaan itu tak diukur atas banyaknya uang yang mereka habiskan tapi kebahagiaan sederhana saja bisa diciptakan dengan begitu indahnya tanpa harus mengandalkan banyak materi. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Tak beberapa lama, pelayan mulai mengantar menu makanan yang dipesan oleh Reyn. Hampir semua menu Reyn pesan karena dirinya juga memesan apa yang menurutnya enak. Bukankah kebanyakan lidah orang Indonesia itu sama.
Jadi apa yang bisa dia makan akan dia berikan apda keluarganya.
"Ini buat Jay. Samgyetang hampir sama kek sup ayam di Indonesia," Kata Reyn yang menyodorkan mangkuk pada keponakannya.
Bagaimanapun dia tetap mengutamakan kebutuhan Jay. Reyn tahu keponakannya itu sedang kedinginan. Maka dari itu dia memesan makanan ini agar tubuh Jay menjadi hangat.
"Makasih, Om, " Kata Jay dengan senyuman di bibirnya.
"Sama-sama."
Humai tersenyum bangga pada putranya itu. Ajaran Jay semakin melekat dalam diri anak itu. Kata terima kasih, tolong dan minta maaf memang Humia ajarkan sebaik mungkin.
Dia ingin anaknya tetap rendah hati. Tetap mengatakan kalimat sakral itu mau di manapun dia berada.
Humai hanya ingin melatih sikap dan sifat anaknya dari kecil. Dia ingin Jay tahu bahwa kalimat itu sangat penting di lingkungannya nanti.
"Kalau Kakak bisa pilih apa aja. "
"Ini apa? " Tanya Humai menyentuh sebuah makanan seperti mie dengan diberikan ikan di atasnya.
"Ini Jajangmyeon. Mie khas Korea yang atasnya dikasih pasta kacang hitam. Coba aja, Kak. "
Sedangkan Syakir, Sefira dan Jeno yang pernah ke Korea tak mengalami kesulitan dalam makanan. Mereka pernah mencoba dan akhirnya sedikit banyak tahu dan membuat mereka kelas mengambil makanan apa yang akan dia makan.
Reyn memberikan sumpit pada kakaknya itu. Reyn benar-benar menjamu Humai dengan baik dan begitu perhatian pada kakaknya.
Humai perlahan mulai mencampurkan mie itu dengan saus hitamnya menggunakan sumpit. Jujur ini pertama kalinya dia makan begini dan dengan perlahan istri Syakir itu mulai membuka mulutnya dan menerima suapan mie itu dari tangannya sendiri.
Mata Humai terpejam. Menikmati rasa manis dan gurih yang membuat mulutnya terus ingin mengunyah. Memang aneh untuk mulut orang Indonesia apalagi yang pertama kali disini.
Tapi ini masih bisa diterima dan menurut Humai tetap enak. Hampir sama saja dengan mie di Indonesia dan mungkin yang berbeda hanya sausnya saja.
"Bagaimana, Sayang? " Tanya Syakir yang khawatir pada ekspresi istrinya itu.
__ADS_1
Dia sudah berniat akan mengajak istrinya mencari makanan Indonesia jika Humai tak mau atau belum terbiasa dengan makanan di sini.
"Enak kok. Ayo makan! "
Jawaban Humai membuat mereka yang m3ndengar bernafas lega. Akhirnya mereka mulai melanjutkan makannya. Mereka makan dengan diselingi obrolan. Obrolan keseharian Reyn di asrama dan apa saja yang dilakukan oleh Reyn ketika libur latihan dan sekolah.
"Berapa lama Kak Humai disini? " Tanya Reyn pada kakaknya itu.
Humai yang tengah menikmati mie itu menoleh. "Paling lambat kata Pak Jeno, 3 bulan tapi itu bisa mundur. "
"Fashion Show nya kapan? "
"Akhir bulan Desember, " Kata Humai menjelaskan.
"Sekarang Oktober. Jadi bener 3 bulan kalau pas yah," Ujar Reyn memberi tahu.
"Ya. Itu kalau gak ada halangan apapun, Reyn, " Kata Jeno menjawab.
"Setidaknya ada Kakak disini saat aku ikut lomba Nasional, " Ujar Reyn dengan bahagia.
Humai lekas menegakkan tubuhnya. Dia menatap adiknya dengan serius.
"Beneran? "
Mata Humai berkaca-kaca. Akhirnya mimpi adiknya dan mimpi almarhum Mama Shadiva terwujud. Akhirnya mereka akan melihat Reyn berenang dengan baik dan berlomba dengan peserta yang lain.
"Kakak pasti datang. Kakak akan melihatmu dari atas bangku penonton, " Ujar Humai mengusap kepala Reyn dengan sayang.
Reyn mengangguk. Dia juga berjanji akan berlatih lebih giat lagi. Kali ini dia akan ditemani oleh keluarganya. Dia akan dilihat langsung oleh kakak yang menjadi saksi bukti bagaimana perjuangannya dulu ketika bersama mamanya.
"Terima kasih, Kak. "
...🌴🌴🌴...
Di Indonesia.
Terlihat sepasang orang tua tengah menyusul anaknya yang lain. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan menuju ke salah satu kamar rawat anak angkatnya itu.
Mereka sudah mengambil keputusan. Ya, Papa Hermansyah dan Mama Emili akan membawa Rachel pulang. Merawat anak itu di rumah dengan kasih sayang yang full.
Rumah sebesar itu akan dihuni tiga orang. Mungkin ini akan menjadi awal yang baik untuk Rachel sebelum Humai dan keluarga kecilnya pulang ke Malang.
__ADS_1
"Mama, Papa! " Pekik Rachel saat pintu kamarnya dibuka.
Mama Emili tersenyum. Putrinya itu ternyata susah berganti pakaian. Rachel telah dipakaikan sebuah dress bunga selutut yang membuat penampilannya terlihat lebih fresh dan cantik.
Wajah gadis itu juga tak seperti dulu lagi. Jika dulu ekspresi angkuh dan sombongnya keluar tapi sekarang wajah lembut dan terus tersenyum yang terlihat.
Hal itu tentu membuat Papa Hermansyah merasa senang. Dia berharap ini menjadi awal yang baik. Awal yang membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi. Memulai semuanya dari awal lagi
"Ayo kita pulang! " Ajak Mama Emili dengan memegang tangan putrinya itu.
Sebagai seorang mantan pasien RSJ. Mama Emili jadi banyak tahu tentang hal kesehatan mental. Dia bahkan bisa tahu apa yang sebenarnya dialami dan dirasakan oleh anak angkatnya ini.
"Ini beneran, Ma? " Tanya Rachel yang masih tak percaya.
Jujur dia tak pernah berekspektasi tinggi. Akan tinggal kembali dengan orang tua angkatnya. Hidup bersama orang yang pernah dia jahati di masa lalu.
"Ya. Kamu akan tinggal bersama Mama dan Papa selama di Malang. "
"Selama di Malang? "
"Ya, Sayang. Setelah kamu benar-benar siap. Mama sama Papa akan mengajakmu ke Jakarta. Kita akan tinggal disana. "
Rachel tak bisa mengatakan apapun kecuali rasa bahagia yang membuncah di hatinya. Dia menganggukkan kepalanya sejak tadi. Seakan dirinya tak tahu harus mengatakan apa. Rasa bahagia dan senang kini berbunga di hatinya.
"Terima kasih banyak, Dokter. Sudah setia menjaga dan mengurus putri saya disini," Kata Papa Hermansyah berjabat tangan dengan dokter yang menangani Rachel sejak awal.
"Sama-sama, Pak. Selamat akhirnya usaha Anda juga berhasil, " Ujar Dokter yang bangga melihat usaha Papa Hermansyah dan Mama Emili yang selalu menemani Rachel disini.
"Ayo kita pulang, Sayang! " Ajak Mama Emili yang membuat Rachel melambaikan tangannya pada dokter dan suster yang merawatnya.
Papa Hermansyah hanya akan membawa dua suster saja untuk teman Rachel. Dia tak akan membuat istrinya bekerja keras sendiri. Bagaimanapun Mama Emili juga butuh istirahat yang banyak.
Dia tak boleh kecapekan dan membuat Papa Hermansyah akan ketakutan dan khawatir lagi.
"Kita langsung pulang, Pa? " Tanya Mama Emili saat mereka mulai masuk ke dalam mobil dengan diikuti suster yang duduk di kursi belakang.
"Kita belanja dulu, Ma. Kita beli keperluan Rachel. "
~Bersambung
Beberapa makanan di atas dari belajar di drakor yang kutontom sih. Maklum penulisnya belum sampai di Korea haha.
__ADS_1
BTW Bang Syakir tamat pertengahan bulam ya guys. Gakpapa kan?