Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Impian Reyn dan Momen Epict Humai


__ADS_3

...Terkadang rasa bahagia itu muncul bukan dari diri kita saja. Melainkan orang terdekat adalah orang yang akan menjadi faktor utama kita bisa bahagia dengan lepas. ...


...~Humaira Khema Shireen. ...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya apa yang menjadi penantian Reyn sudah di depan mata. Hari ini anak itu, anak ketiga dari pasangan Papa Hermansyah dan Mama Emili mengikuti lomba renang tingkat internasional.


Dia akan menjadi perwakilan dari Korea karena tingkat nasional kemarin dia adalah pemenangnya. Tak ada kebanggaan yang terkira dari seorang ibu hamil yang sudah mengandung di usia sembilan bulan itu.


Dia bahkan masih kekeh untuk melihat adiknya meski lewat layar lebar yang didirikan oleh Syakir di rumah. Acara yang akan disiarkan di seluruh televisi itu tentu tak akan dilewatkan oleh keluarga mereka.


Semua orang berkumpul di rumah tamu selain Rachel, Papa Hermansyah dan Mama Emili. Mereka bertiga pergi langsung menonton Reyn untuk menyemangati.


Sedangkan Humai, dia yang sadar jika hamil tua memilih menonton dari rumah. Dia meminta dibuatkan ala bioskop menonton di layar lebar. Dia ingin melihat perjuangan akhir adiknya.


Ini adalah titik habis Reyn. Jika dia berhasil, maka adiknya bisa pulang. Bisa pulang membawa medali yang diinginkan dirinya.


"Aku gugup, Kak, " Kata Humai dengan tangan berkeringat dingin.


Syakir yang duduk disampingnya dan mengusap perut membuncit itu perlahan menaikkan tangannya. Dia menggenggam tangan istrinya yang ternyata benar-benar dingin.


"Percayalah pada Reyn. Dia pasti bisa! " Kata Syakir menyemangati.


Meski dia hanya kakak ipar. Syakir sangat yakin pada kemampuan adik iparnya itu. Reyn berusaha dengan keras. Bahkan anak itu bekerja dan belajar tiap malam untuk berlatih.


"Iya, Kak. Aku juga percaya bahwa dia bisa meraih mimpinya, " Ucap Humai dengan serius.


Akhirnya semua orang mulai berdatangan. Bahkan Mama Ayna membawa mangkuk besar salad untuk dinikmati oleh mereka.


"Ayo dimakan! " Kata Mama Emili mengambilkan Humai dan Sefira salad.


Dua bumil itu mengangguk. Mereka juga merasa lapar. Maka dari keduanya menerima mangkuk yang diberikan oleh Mama Ayna dan segera melahapnya.


"Papa udah gak sabar lihat wajah Reyn. Papa bakalan kasih dia gift kalau dia menang! " Ucap Papa Haidar dengan antusias.


Orang tua Syakir yang tau perjuangan Reyn juga serius akan ucapannya. Mereka semua yang disana tahu bagaimana Reyn yang berlatih tiap malam. Tak mengenal lelah dan waktu.


Anak itu selalu mengatakan bahwa dia akan membuat mereka bangga. Membuat mereka bisa melihat impian Reyn yang terwujud.

__ADS_1


"Aku juga, Pa. Aku akan memberikan apa yang dia minta, " Celetuk Syakir yang dihadiahi anggukan kepala oleh papanya.


Semua orang akhirnya duduk dengan tenang. Menatap layar yang acaranya dimulai. Semua mata hanya fokus disana. Tak ada suara apapun seakan mereka benar-benar menunggu momen. Momen terbaik dari seorang Reyn.


...🌴🌴🌴...


"Ingat jangan gugup, Reyn! " Kata Coach Hyun pada Reyn.


Pria muda dengan tubuh atletia dan otot yang terlihat membentuk itu menarik nafasnya begitu dalam.


Dia sudah bersiap dan menunggu urutannya. Jantung anak itu berdegup kencang. Dia gugup, tak percaya dan masih kaget. Harapan yang selalu dia inginkan, impian yang selalu menjadi mimpi kini sudah di depan mata.


Ya, apa yang dia cita-citakan kini di depan matanya. Apa yang dia ingin wujudkan tinggal beberapa menit lagi di depan mata. Dia harus tenang. Rey harus bisa melawan kegugupannya ini.


"Ya, Coach, " Sahut Reyn mengangguk.


"Tenangkan pikiranmu. Jangan tegang. Sebentar lagi namamu akan dipanggil, " Ujar Coach Hyun memberitahu.


Mata Reyn menatap ke arah pintu dimana mereka akan keluar kesana. Suara MC mulai terdengar. Lomba juga sudah dimulai. Reyn menjadikan kesempatan ini untuk pemanasan tubuhnya.


Dia menggerakkan tubuhnya untuk mengalihkan pikirannya dari hal lain. Dia harus fokus. Dia harus mewujudkan impian dirinya untuk membanggakan orang tua dan terutama kakaknya, Humai.


Perlahan telinga Reyn mulai terdengar. Satu per satu nama mulai dipanggil. Reyn memejamkan matanya dan menarik nafasnya begitu dalam dengan tangan ditarik ke atas.


"Kamu sudah siap? " Kata Hyun dengan menepuk pundak Reyn.


Reyn membuka matanya. Dia menatap kedua mata Coach yang setia mengajarinya tanpa lelah.


Coach yang ia kenal selama pelatihan di asrama internasional. Coach yang dengan sabar membuatnya banyak belajar hal baru yang tak dia dapatkan di asrama miliknya.


"Siap, Coach! "


"Ayo keluar! "


Reyn akhirnya mulai melangkahkan kakinya. Kaki itu membawanya keluar menuju kolam besar yang akan menjadi penentu mimpinya. Mimpi besar yang dia ingin wujudkan setelah banyak perjuangan yang dia lakukan.


Akhirnya disinilah Reyn berdiri. Disinilah dia sudah siap dengan kacamata renang dan pakaian renangnya. Dia menggerakkan tangannya di barisan pria yang akan menjadi saingan dirinya.


Perlahan kepala itu dia angkat. Dia menatap ke arah barisan penonton disana. Dirinya berusaha mencari sosok yang dia inginkan. Sosok yang menjadi support terbaiknya. Orang yang menjadi faktor utama dia bisa ada di titik sini.

__ADS_1


Hingga pandangan Reyn berakhir pada sebuah lambaian tangan. Matanya berkaca-kaca menatap tiga orang yang dia kenal disana. Papa Hermansyah, Mama Emili dan Rachel. Wanita yang sudah menjadi kakaknya juga itu ikut disana. Mereka bahkan mengepalkan tangan ke atas mengatakan bahwa dirinya harus semangat.


"Aku harus bisa. Aku harus bisa menang! " Kata Reyn dalam hati.


"Persiapan! " Kata seorang pria yang berdiri di paling ujung.


Dia membawa pluit. Reyn sudah mengambil posisi di tepi kolam renang. Dia bahkan sudah memasang kacamata miliknya.


Dia begitu tenang. Matanya menatap ke arah air biru yang sudah menjadi temannya siang dan malam.


"1.. 2..3! "


Semua peserta lomba mulai menceburkan tubuhnya ke dalam kolam. Reyn, pria muda itu terlihat mulai menggerakkan tangan dan kakinya. Dia bergerak seperti ikan yang sangat cepat.


Tubuhnya begitu luwes memutar ke kanan dan ke kiri. Dia benar-benar sangat amat cepat. Hingga akhirnya tak butuh waktu lama tangannya mencari garis batas dan dia memunculkan kepalanya bersamaan suara pluit dibunyikan.


Reyn spontan lekas membalikkan tubuhnya. Nafasnya masih tak beraturan. Namun, dia membuka kacamatanya dan melihat ke papan lomba.


Air matanya menetes saat namanya terpampang di sana. Ya, kedudukan pertama. Dimenangkan oleh Reyn dan membuatnya mengepalkan tangannya dan memukul Air.


"Yeah! Aku bisa! " Kata Reyn dengan wajah bahagianya.


Tepuk tangan riuh tentu terdengar disana. Bahkan beberapa penonton yang membawa bendera Korea juga ikut berdiri dengan bahagia. Suara teriakan Korea dengan nama Reyn terdengar memenuhi dan membuat mata Reyn meneteskan air mata.


"I am winner! Yeah! "


...🌴🌴🌴...


"Ya. Reyn menang, Kak! Dia menang! " Heboh Humai sambil beranjak berdiri.


Dua bumil itu saling bertepuk tangan dengan bahagianya. Bahkan Humai sambil berjoget kesana kemari yang membuat semua orang geleng-geleng kepala.


Syakir yang melihatnya juga ikut tertawa. Wanita yang akan menjadi sosok ibu kedua kalinya tingkahnya masih bak anak kecil dan menggemaskan. Namun, tak lama.


"Eh. Ini air apa? " Tanya Syakir yang tak sengaja meletakkan tangannya ke samping.


Dia melihat sofa yang diduduki istrinya itu basah. Hal itu tentu membuat tatapan semua orang tertuju pada Humai. Mereka melihat ke bagian rok belakang Humai dan ya benar saja.


"Air ketuban? "

__ADS_1


~Bersambung


Hiyaa bahagianya doble ini mah yakan, menang lomba si Reyn sama otw launching Baby Syakir haha.


__ADS_2