
...Kata maaf memang mudah diucapkan tapi melupakan segalanya tak semudah membalikkan tangan. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
"Ibu!" pekik Jay dengan senyum bahagianya.
Dia lekas berlari ke arah Humaira. Wajahnya terlihat senang melihat kedatangan ibunya.
"Assalamualaikum, Putra Ibu," kata Humai pelan lalu berjongkok di hadapan anaknya.
Dia mengusap kepala Jay. Humai mampu melihat bagaimana putranya yang bahagia bermain bersama Syakir sepanjang hari. Lihatlah senyumannya, tak hentinya luntur sedikitpun saat ini.
"Waalaikumsalam, Bu. Kenapa Om Jeno gak mampir?" tanya Jay yang melihat mobil Jeno langsung pergi dari rumahnya.
Kepala Humai mengangguk. "Om Jeno lagi ada urusan. Mangkanya dia langsung pulang."
"Yah. Padahal Jay mau nunjukin mainan yang dibelikan Ayah Syakir buat kucing dari Om Jeno," kata Jay dengan ekspresi wajahnya yang sedih.
"Yaudah. Jay hubungi aja Om Jeno. Bagaimana?" ucap Humaira memberikan penawaran.
Mata anak itu langsung berbinar. Dia mengangguk seakan menyetujui perkataan ibunya. Dengan pelan Humai menyerahkan ponselnya itu pada putranya. Dirinya memang memiliki nomor ponsel dosen killernya itu untuk membahas desain penyerahan di teman Jeno yang ada di Korea.
"Jay pinjam dulu ya, Bu," pamitnya lalu membawa ponsel Humai ke dalam.
Humai yakin jika putranya akan pergi ke pengasuhnya. Jay tak pernah bermain ponsel. Dia akan meminta bantuan mbak-mbak yang menemaninya dan akan mengobrol disana.
Sepeninggal Jal, Humai lekas beranjak berdiri. Dia merasa kecanggungan mulai terasa saat Syakir berdiri di dekatnya.
Humaira berusaha menahan kegugupannya. Dia menelan ludahnya paksa lalu mendekati sosok Syakir duduk di atas rumput di dekat kucing kesayangan Jay.
"Makasih udah mau jagain Jay, Kak," jata Humai memulai pembicaraan.
"Untuk apa berterima kasih, Mai. Jay juga putraku. Aku juga punya kewajiban menjaga dan mendidiknya," kata Syakir yang membuat Humai menatap ke arahnya.
Wanita itu memandang Syakir penuh lekat. Seakan hatinya saat ini berada dalam ambang kebimbangan. Entahlah, dia masih tak percaya pada mantan suaminya itu.
__ADS_1
Seakan sikapnya di masa lalu, membuat Humai tak percaya dengan mudah pada orang lain. Dia juga tak percaya akan semua perasaan Syakir kepadanya atau Jay.
Karena Humai berpikir, bisa saja Syakir hanya merasa bersalah dan dia seperti mendapatkan beban karena keberadaan mereka berdua.
"Apa alasan Kakak kembali lagi?" celetuk Humai tiba-tiba.
"Maksud kamu, Mai?"
"Kenapa Kakak kembali lagi menemuiku dan Jay?" tanya Humai dengan jelas.
"Karena aku ingin meminta maaf, Mai. Aku juga ingin merasa bersalah sama kamu dan putra kita. Aku juga menyadari semua tindakanku selama ini salah besar sama kalian berdua. Aku ingin memperbaiki semuanya," lirih Syakir yang membuat Humaira menunduk.
Jujur butuh kekuatan besar dia bisa duduk sedekat ini dengan Syakir. Dirinya menahan keringat dingin di kedua telapak tangannya. Saat dia mulai gemetaran. Humai mencoba mengalihkan perhatiannya memikirkan Jay.
Dirinya benar-benar berjuang untuk duduk disini agar menyelesaikan semuanya. Dia tak mau memberikan harapan pada siapapun. Dia juga tak mau memberikan kepalsuan pada siapapun.
Baik itu Jeno ataupun Syakir, dia ingin menuntaskannya hari ini.
"Kakak hanya merasa bersalah pada kami berdua. Karena kesalahan itu menghantui, Kakak. Benar bukan?" ucap Humai dengan tersenyum kecil.
"Bukan, Mai. Aku benar-benar menyadari bahwa perasaanku memang mencintaimu sejak dulu. Bukan soal rasa bersalah tapi masalah hati ini, Mai."
Humaira mengeluarkan segala unek-uneknya. Dia tak mau ada kebohongan lagi dimanapun. Dirinya berani menolak Jeno dengan tegas untuk menyelamatkan hatinya.
Meski dia tak munafik cintanya masih ada pada Syakir tapi perasaan Humai memang seakan mati rasa. Dia belum sadar dan menyadari apakah perasaannya ini benar-benar mencintai Syakir atau hanya cinta masa lalu yang belum ia lupakan.
"Tapi aku bisa melihat cinta itu masih ada di matamu," lirih Syakir yang membuat Humaira mematung.
Dia tak percaya bahwa Syakir masih sama seperti dulu. Selalu mampu mengorek akan isi hatinya. Dirinya juga tak bisa menutupi apapun dari Syakir karena pria itu pandai membaca keadaannya.
"Ya. Cinta itu memang masih ada. Tapi aku tak bisa membedakan mana yang memang hatiku masih cinta atau karena aku takut anakku tak bahagia," ujar Humaira yang membuat Syakir menatapnya dengan pandangan tak percaya.
"Aku yakin Jay ingin kita kembali bersama, Kak? Benar, 'kan? Tapi aku takut tak bisa mengabulkannya. Aku hanya takut cintaku ini pals, cinta yang hanya ingin membahagiakan Jay atau karena ingin balas dendam karena perbuatan Kakak di masa lalu."
"Kau balaskan saja dendammu padaku, Mai! Pukul aku dan balaslah tapi jangan jauhkan aku dari putra kita," pinta Syakir yang pikirannya sudah kemana-mana.
"Aku tak mau sama denganmu, Kak," kata Humai dengan menggeleng. "Biarkan Kak Syakir saja yang kejam tapi aku tak mau mendapatkan predikat yang sama."
__ADS_1
Ah perkataan itu bak pisau tajam yang menyayat hatinya. Pedas tapi sangat menusuk di hati Humai.
"Aku tak membalas kejahatan dengan kejahatan. Biarkan saja semuanya berjalan semestinya tanpa adanya balas dendam," ucap Humai dengan bijaknya. "Aku juga tak akan menjauhkan Jay darimu, Kak. Sebanyak apapun kenangan buruk itu. Jay tetaplah anak kita berdua."
Humai berlapang dada. Bukan dia egois, bukan dia munafik. Memang perlakuan Syakir di masa lalu sangat amat fatal. Menghina, memaki, bahkan mengancam ingin membunuh anak yang masih dalam kandungannya.
Tapi Humai tetaplah seorang ibu dan manusia biasa. Dia hanya memikirkan tentang putranya. Tentang kebahagiaan anaknya daripada dirinya sendiri.
Jika banyak orang dan pembaca yang mengatakan Humai adalah wanita muna, maka cobalah jadi seorang ibu sejenak. Atau lihatlah di dunia nyata, wanita yang masih mau bertahan pada suaminya yang jahat, kejam dan tukang selingkuh.
Tanyakan pada mereka, apa alasan mereka bertahan. Maka dari sana, kau akan tahu bagaimana beratnya ada di posisi mereka.
Membuka hubungan baru memang mudah tapi menerima hubungan baru dan diterima oleh anak kita bukanlah hal mudah!
"Kamu janji, 'kan, Mai?"
"Kakak bisa memegang ucapanku. Aku tak akan mengingkarinya," kata Humai dengan bijak.
"Aku sudah memaafkanmu, Kak. Tapi melupakan semuanya tak semudah itu."
"Berikan aku waktu untuk menghapusnya, Mai," kata Syakir dengan penuh harap. "Berikan aku kesempatan untuk mengobati segala luka yang kuberikan!"
"Aku akan memberikan waktu untukmu, Kak," ucap Humai yang membuat Syakir menatapnya tak percaya.
"Kamu serius, Mai?" tanya Syakir dengan pandangannya yang masih penuh keraguan.
Ia berpikir mungkin Humai akan menolak kehadirannya tapi ternyata Tuhan sangat baik kepadanya.
"Ya. Aku akan memberikan waktu untuk Kakak membuktikan semuanya," ujar Humaira pada Syakir dengan yakin. "Jika Kakak gagal, maka harus siap menerima keputusanku untuk tak kembali padamu lagi, Kak."
"Ya. Aku siap, Mai," ujar Syakir dengan mantap. "Sampai kapan waktunya?"
"Sampai aku berangkat ke Korea untuk melakukan kerja sama fashion bulan depan!"
~Bersambung
Loh bukan Pak Jeno aja yang ditolak. Syakir juga bisa aja ditolak. Jadi ya banyak-banyak berdoa saja.
__ADS_1
Aku baca komentar kalian bener-bener pen ketawa pen sedih. Rasanya komen kalian bikin mood. Ada yang pro dan kontra haha.