
...Rasanya aku ingin tenggelam saat mata itu kembali bertemu pandang dengan mataku....
...~Sefira Giska Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
"Pak Jeno!" Pekik Humaira yang sama terkejut dengan keberadaan Jeno.Â
Sefira merasa gugup sekaligus salah tingkah. Entah kenapa menurutnya mata Jeno menatapnya dengan lekat dan berusaha menyelami pandangan matanya itu.Â
Humaira yang mulanya berdiri spontan ikut berjongkok. Dia membantu dosen killernya itu dan sahabatnya merapikan barang bawaan Jeno yang berantakan karena ulah mereka.Â
"Maafkan kami, Pak. Kami gak sengaja menabrak, Bapak!" Kata Humaira mewakili ucapan keduanya.
Jujur Sefira mendadak kaku. Dia bahkan seperti kehabisan kata-kata untuk diungkapkan atau dikatakan lagi.Â
"Gapapa, Mai. Saya juga yang teledor karena jalan sambil lihat HP," Kata Jeno mengakui kesalahannya juga.Â
Akhirnya buku-buku itu kembali rapi. Namun, karena tabrakan yang lumayan kuat membuat plastik yang menampung buku itu sobek.Â
"Ya. Kantungnya…" Kata Humaira yang menunjuk kantung yang tergeletak di lantai.Â
"Udah gakpapa. Sini!" Ujar Jeno lalu meraih buku yang ada di tangan Sefira dan Humai.
"Ada apa ini?" Tanya Syakir yang baru saja datang.Â
Kedua pria dengan wajah mirip tapi usia yang berbeda itu memilih berbalik dan kembali menyusul dia wanita kesayangan saat tak melihat keduanya di belakang mereka. Dan ternyata, kedua wanita itu berdiri di sini bersama seorang pria yang sangat mereka kenal.Â
"Om Jeno!" Pekik Jay yang bahagia dengan kemunculan sosok pria yang selama ini menjadi teman bermainnya sebelum ayahnya datang.Â
"Hai!" Sapa Syakir dengan ramah pada pria di depannya ini.Â
Jeno tersenyum. Dia menerima jabat tangan ayah kandung Jay dengan bibir tersenyum ramah.Â
"Kalian mau kemana?" Tanya Jeno yang baru menyadari sesuatu. "Kencan yah?"Â
"Iya, Om!" Celetuk Jay yang membuat Humaira dan Syakir Membelalakkan matanya.Â
"Jay tau apa soal kencan?" tanya Syakir yang tak tahan dengan kelakuan putranya ini.Â
Jay benar-benar pandai merekam sekitarnya. Dia juga pandai meniru ucapan orang lain. Maka dari itu, sejak dulu Humai selalu bilang untuk orang sekitar menjaga ucapannya agar Jay tak ikut-ikut.Â
"Dari Ante Fira!" Sahut Jay dengan polosnya.Â
Mati aku, gumam Sefira sambil menunduk.Â
__ADS_1
Ah rasanya Sefira ingin kabur sekarang. Rasanya ia ingin bersembunyi dari mereka ini. Kepolosan Jay ternyata membuat dirinya malu pada sosok pria yang baru dua kali ia temui.Â
Sefira yang merasa mati kutu hanya bisa cengar cengir. Dia mengusap leher bagian belakang yang mendadak kaku.Â
"Hehe bercanda doang, 'Kak," Bela Sefira saat kedua orang tua Jay itu menatap ke arahnya.Â
Sedangkan Jeno, pria itu tak diduga tersenyum tipis. Begitu tipis sekali sampai tak ada yang menyadari jika dia tersenyum karena ulah lucu wanita di depannya ini.Â
Entah kenapa menurutnya wanita yang baru dua kali ia temui ini, begitu unik dan baru baru. Biasanya wanita yang selalu bertemu dengannya cari perhatian atau mengejar dirinya. Namun, tidak dengan Sefira. Wanita itu begitu berbeda dengan wanita yang lain dan membuat Jeno merasa sesuatu yang tak dapat dia artikan dari dirinya sendiri.Â
"Toh meski gak bercanda, Kakak juga suka, 'kan?" Kata Sefira sambil pindah tempat dan melingkarkan tangannya di lengan kakak kandungnya itu.Â
Wajah imut itu membuat Syakir tak jadi marah. Dia sebenarnya kesal pada adiknya yang selalu meracuni otak putranya itu. Namun, kembali lagi. Syakir menyayangi keduanya. Dia tak bisa memilih siapapun. Sampai akhirnya untuk marah di hadapan orang lain pun ia tak bisa melakukannya.Â
"Yaudah. Lain kali harus hati-hati. Oke?"Â
"Siap, Bos!"Â
"Kau dari mana, Jen?" Tanya Syakir menatap pria yang dulu pernah menjadi rivalnya itu.Â
Meski usianya lebih muda tapi Jeno adalah orang yang sopan. Jeno yang ingin memanggilnya kakak atau tuan saja. Tak diizinkan oleh Syakir. Dia merasa menjadi pria tertua jika dipanggil seperti itu oleh Jeno.Â
"Habis beli buku," Jawab Jeno dengan menunjukkan buku yang ada dalam pelukannya.Â
"Gimana kalau kita makan dulu?" Tawar Syakir yang mengajak teman barunya itu.Â
"Boleh," Sahut Jeno yang semakin membuat Sefira lemas. "Tapi aku mau taruh bukuku dulu ke mobil. Boleh, 'kan?"Â
Syakir mengangguk.Â
"Kami tunggu di ramen," Kata Syakir agar Jeno bisa menemukannya.Â
"Oke."
Namun, pandangan Syakir tiba-tiba tertuju pada tangan temannya itu. Dia merasa Jeno sedang keberatan membawa buku itu dan membuat ayah satu anak itu melepaskan ikatan tangan adiknya.Â
"Eh mau apa, Kak?" Tanya Sefira pada kakaknya itu.Â
"Bantuin Jeno bawa bukunya ke mobil, Dek. Dia keberatan loh!" Kata Syakir pada adiknya.Â
"Gak perlu. Aku bisa… "Â
"Kamu kesusahan, Jen. Biarkan adikku yang akan membantu!"Â
Jika sudah begini Sefira tak bisa selamat atau berkilah lagi. Dia mau tak mau harus membantu dosen di depannya ini.Â
__ADS_1
"Ayo, Mai. Kita pergi dulu!"Â
Rasanya Humaira ingin meledakkan tawanya puas. Ketika matanya menatap wajah Sefira yang begitu canggung dan malu menjadi satu.Â
Dia merasa puas melihat ekspresi sahabatnya itu. Menurutnya Sefira berada di ujung tanduk.Â
"Mari, Pak Jeno. Kami duluan yah!"Â
Akhirnya sepeninggal Humaira, Jay dan Syakir. Dua manusia itu saling berdiri canggung. Terutama Sefira, dia mengusap belakang lehernya yang terasa canggung dan kaku.Â
"Sini saya bantu bawain, Pak!" Kata Sefira yang bingung harus memanggil apa.Â
Jeno yang mendengar panggilan itu merasa risih. Dia spontan menjauhkan bukunya lagi dari Sefira, saat gadis itu hendak membantunya.Â
"Eh… "Â
"Jangan panggil saya begitu," Sahut Jeno yang membuat jantung Sefira semakin tak karuan.Â
"Bukankah kita belum berkenalan?"Â
"Iya," Sahut Sefira yang tak tahu harus menjawab apa.Â
"Jeno," Kata dosen Humai itu sambil mengulurkan tangannya walau terasa berat.Â
Sefira yang begitu gugup akhirnya mulai mengulurkan tangannya juga. Hingga perlahan kedua tangan itu mulai menyatu dan saling bersalaman.Â
"Sefira," Sahutnya dengan tubuh yang hampir lemas.Â
Ah rasanya kulit keduanya yang bersentuhan membuat sesuatu dalam diri mereka semakin berdegup kencang. Seakan arti salaman di antara mereka membuat awal baru untuk masa depan keduanya.Â
"Panggil saya dengan nama saja boleh, " Kata Jeno yang semakin membuat Sefira tak sanggup berkata apa-apa lagi.Â
"Tapi rasanya kurang sopan…"
"Saya pemilik nama. Jadi saya berhak meminta siapapun memanggil nama saya, 'bukan?"Â
Sefira tak bisa menjawab lagi. Akhirnya dia hanya mengangguk.Â
"Baiklah. Mari saya bantu membawa bukunya, Jeno," Kata Sefira yang merasa kaku dengan panggilan pertamanya ini.Â
Jeno mengangguk. Dia memberikan sebagian bukunya yang langsung diterima oleh adik kandung Syakir.Â
"Terima kasih atas bantuannya, Sefira."
~Bersambung
__ADS_1
Yang dipanggil Fira, yang kesemsem aku. hahahha