Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Suapan Pertama Kali


__ADS_3

...Kau tau hal seperti ini tak pernah ada dalam bayangan setelah aku menyakitimu. Namun, ternyata sekarang aku bisa merasakannya karena kebaikan Tuhan dan hatimu....


...~Guntur Syakir Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya perlahan mobil Syakir mulai meninggalkan rumah Papa Hermansyah. Suasana di dalam kendaraan roda empat tersebut terlihat sangat ramai dengan ocehan dari bibir bocah kecil berumur tiga tahun kurang tersebut.


Dia meminta ibunya untuk membuka bekal yang diberikan oleh Syakir. Ayah yang sangat ditunggu kedatangannya itu membuatkan sarapan khusus untuknya dan tentu disambut antusias oleh Jay.


Bibir pria kecil itu terus tersenyum. Hal itu tentu membuat Humaira ikut merasa kebahagiaan putranya. 


"Wah nasi goreng!" pekik Jay dengan mata berbinar.


Bukan hanya Jay. Humaira bahkan sampai tak percaya dengan kotak makan yang baru saja ia buka. Aroma khas nasi dengan bumbu yang sangat wangi menyebar memenuhi seluruh penjuru mobil.


Jangan lupakan tampilan yang begitu menggugah selera dan sangat lucu yang ditata begitu apik membuat hati Humaira bergetar. Bayangkan saja, nasi yang dicetak berbentuk love lalu dengan telur yang dicetak love juga di atasnya dengan niat. Serta ada mentimun yang menjadi penghias dengan sosis juga disana.


Sebuah karya kecil yang entah kenapa mampu membuat hati Humaira menjadi hangat. Dia merasa makanan ini dibuat dengan segenap jiwa oleh Syakir.


"Ibu ayo!" kata Jay yang sudah tak sabar untuk memakannya. 


Akhirnya Humaira mulai mengambil sendok yang disiapkan oleh Syakir disana. Kemudian dengan perlahan dia menyuapi putranya yang sangat antusias membuka mulut.


Saat suapan pertama itu masuk. Bersamaan dengan kendaraan Syakir yang berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Pria itu tentu tak menyia-nyiakan kesempatan ini. 


Dia menatap putranya yang makan dengan lahap dan membuat hati ayah dari satu anak itu bergetar. Bahkan tanpa sadar air mata Syakir menetes. Dia tak menyangka bisa merasakan keadaan seperti ini.


Keadaan dimana dia bisa berada dalam satu mobil dengan kedua kesayangannya. Keadaan dimana dia bisa bermain bersama dua orang yang ia cari selama ini. 


Padahal jika mengingat, Syakir dulu tak pernah membayangkan hal ini terjadi. Dia menyadari kesalahannya di masa lalu sangat fatal. Bagaimana jahatnya dia, kejamnya dia dan membuatnya tak pernah bermimpi mendapatkan maaf atau apalagi bisa bersama seperti ini.


Namun, lihatlah sekarang. Semua bisa terwujud atas nama Tuhan. Apa yang ia anggap mimpi bisa menjadi kenyataan. Segala doa yang dia untai, segala harapan yang disematkan dalam doa dan dzikir ternyata mampu Allah kabulkan. Hingga lagi-lagi membuat Syakir tak hentinya mengucapkan syukur. 


"Ayah!" panggil Jay yang menyadarkan Syakir.


Pria itu lekas menghapus air matanya dan tersenyum ke arah putranya. Sebelum itu dia menatap ke arah lampu lalu lintas yang mulai berganti warna hijau. 


"Ya?" sahut Syakir dengan mulai mengemudikan mobilnya. 


"Nasi goreng buatan Ayah enak. Jay suka," ujar anak itu dengan begitu polosnya.


Syakir tersenyum. Dia sesekali menatap ke arah putranya yang begitu lahap disuapi oleh mantan istrinya itu. 


Lalu perlahan, tatapan Syakir berpaling. Dia melihat Humaira belum menyuapkan apapun ke dalam mulutnya. Padahal saat ini sudah jam setengah delapan kurang.


"Kamu gak makan, Mai?" tanya Syakir yang mampu membuat Humai begitu tegang. 


Dia seakan susah untuk menjawab. Ludahnya seakan membuat suaranya bungkam karena terlalu terkejut dan gugup.


"Hmm nanti saja, Kak," sahut Humai pada akhirnya.


Jujur dirinya tak tahu harus mengatakan apapun lagi. Rasanya satu udara di tempat yang sama dengan mantan suaminya itu membuat sesuatu dalam hatinya memberontak. 

__ADS_1


Jika boleh jujur, aroma minyak wangi Syakir masih tetap sama. Aroma tubuh itu bahkan tetap sama dengan wangi yang selalu ia hirup saat keduanya masih berkumpul bersama. 


Entah kenapa aroma itu masih menjadi aroma paling favorit untuk Humai. Seakan wangi tubuh Syakir mampu membuatnya nyaman dan terasa tenang.  


Tak lama, kendaraan Syakir mulai tiba di kampus tempat Humaira berkuliah. Syakir memarkirkan mobilnya di tempat yang aman karena ia akan melakukan sesuatu.


"Minum, Nak?" tawar Humai karena melihat putranya zsjak tadi sangat lahap memakan bekal yang diberikan Syakir tanpa minum 


"Iya, Bu."


Saat Humai fokus dengan putranya. Syakir tiba-tiba mengambil bekal yang satunya lagi. Dia lalu membuka bekal itu karena ia yakin waktu Humaira akan habis untuk menyuapi putra mereka. 


Dengan inisiatif Syakir sendiri dia mulai menyendokkan sesendok nasi goreng lalu mengulurkan tepat di depan bibir Humai. 


Tentu hal itu membuat Humai terkejut. Bahkan Jay yang duduk di pangkuan ibunya juga menatap ke arah ayah ibunya bergantian. 


"Aku bisa sendiri…" 


"Buka mulutmu, Mai. Waktumu sebentar lagi habis untuk menyuapi putra kita," kata Syakir yang membuat Humai menatap ke arah mantan suaminya itu.


Kata yang dulu pernah dihina habis-habisan oleh mantan suaminya. Kata yang dulu pernah dihinakan kepadanya tentang anak mereka ternyata kini mendapatkan pengakuan.


Sebuah kata yang sangat bermakna untuk Humai. Sebuah kata yang dulu mengatakan anak haram, bukan anaknya kita ditepis langsung hanya dengan kata putra kita


Sederhana bukan? Tapi artinya sangat luar biasa.


"Kak…" 


"A'!" kata Syakir memperagakan mulutnya yang terbuka.


"Ayo, Bu. Buka mulut, Ibu!" kata Jay yang ikut merayu.


Tak ada jalan lain. Putranya melihat semua yang Syakir lakukan. Mau tak mau, akhirnya Humai perlahan membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari mulut Syakir. 


"Ini enak sekali," gumam Humai dalam hati saat bumbu nasi goreng bercampur nasi itu mengenai organ perasanya.


"Gak enak, Mai?" tanya Syakir saat melihat Humai memejamkan matanya. 


"Eh. Enak kok, Kak," balas Humai dengan cepat.


"Ayo buka lagi!" kata Syakir menyodorkan sesendok nasi goreng lagi. 


"Biar aku makan sendiri, Kak. Kakak…" 


"Kamu suapi Jay saja. Lihat! Dia juga masih mau makan. Bener gak?" tanya Syakir pada putranya.


Kepala mungil itu mengangguk. "Ayo, Bu. Jay masih mau." 


Akhirnya Humai tak bisa membantah lagi. Dia mulai menyuapi putranya sampai habis dan dirinya juga menerima suapan dari Syakir berulang kali. Kedua pria dengan wajah mirip itu benar-benar bekerja sama dengan baik.


Bahkan sampai nasi goreng Humai habis tepat dengan jarum jam yang menunjukkan pukul setengah delapan kurang lima menit, membuat gadis itu mulai turun dari sana. Perutnya sudah kenyang. Dia benar-benar tanpa sadar menghabiskan bekal dari Syakir. 


Humai juga membantu putranya duduk dengan tenang di samping Syakir lalu menutup pintu mobil itu.

__ADS_1


"Ibu berangkat ya, Jay," pamit Humai pada putranya.


"Hati-hati ya, Bu!" pekik Jay dengan memberikan kecupan jauh.


"Pasti," balas Humai lalu mengapa Syakri gang ternyata sedang menatapnya juga. "Makasih udah anter Humai, Kak. Humai pamit dulu. Assalamualaikum." 


"Waalaikumsalam."


Jay dan Syakir melambaikan tangannya pada Humai yang juga melambai ke arah mereka. Entah kenapa pemandangan ini sangat menyenangkan dan membuat mereka seperti keluarga kecil yang bahagia. 


Terutama untuk anak kecil yang berada di antara Syakir dan Humai. Jay, tokoh utama yang paling bahagia disini.


"Makasih udah bantuin Ayah. Sebagai gantinya. Jay mau apa?"


"Es krim!" 


"Oke. Berangkat, Pahlawan. Kita akan makan es krim sepuasnya!"


~Bersambung


Ini mah awal kebaperan dimulai. gigit bantal gue bayangin Humai disuapin Bang Syakir.


btw mampir juga ke karya temenku ye.



Cuplikan Bab.


Aku padamu, juragan Aris


Aris terus menemani Ayu dan tak meninggalkan gadis itu sendirian, Aris merasa sedih melihat luka di wajah dan tubuh Ayu.


"seharusnya, aku mengantar mu pulang ya Ay, hingga tak akan terjadi hal seperti ini, rasa bersalah ini begitu besar karena kecerobohan ku kamu sampai seperti ini," kata Aris yang frustasi.


Ayu membuka matanya, dia pun melihat Aris, saat ingat kejadian buruk tadi, Ayu langsung histeris.


"pergi, jangan menyentuhku, pergi!!" teriak Ayu ketakutan.


Aris langsung memeluk Ayu, "tenang Ayu, ini Aris, jangan berontak lagi, lihat aku Ayu, lihat aku!" kata Aris sedikit berteriak agar gadis itu sadar.


Ayu yang menoleh dan melihat wajah Aris, langsung memeluknya, "tuan, tolong singkirkan pria-pria itu, aku merasa jijik dengan tubuhku, tolong...." tangis Ayu begitu pilu.


Aris pun memanggil dokter agar memeriksa gadis itu, setelah dokter visit dan memeriksa kondisi Ayu.


dokter memberikan saran pada Aris, agar Ayu di pindahkan ke rumah sakit yang bisa menangani tentang trauma.


Aris tak setuju, dia akan memanggil ahli hipnoterapi untuk membuang kenangan kelam itu.


Aris tak mau kehilangan senyum dan keceriaan Ayu, pasalnya dia adalah hidup pak Mun.


dokter pun mengerti dan memperbolehkan, dan luka di tubuh Ayu mungkin akan meninggalkan bekas nantinya.


Eko datang bersama Ambar saat melihat Aris baru keluar dari ruangan Ayu dengan pucat.

__ADS_1


"bagaimana kondisi ayu bos?" tanya Eko yang membawa makanan.


"kondisinya sangat buruk, dia akan berteriak dan melukai dirinya sendiri lagi, dia berusaha untuk menghilangkan bekas yang telah di sentuh oleh pria biadab itu," jawab Aris dingin.


__ADS_2