
...Jangan meremehkan keterdiaman seseorang. Bisa jadi diamnya menjadi tombak arus pergerakannya untuk mengetahui segalanya....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Kau hanya ingin harta kakakku saja demi memenuhi kebutuhanmu dan kebutuhan pacarmu itu."Â
"Kau!"Â
"Terkejut hee?" ujar Sefira dengan tersenyum licik.
Dia menjauh dengan menatap sosok Rachel yang gugup dan kebingungan. Ah ular ganas itu terlihat terkejut luar biasa.
"Ada saatnya ketika kelinci pandai melompat, dia akan jatuh dan terperosok jauh."Â
"Omong kosong!" seru Rachel mencoba berkilah. "Aku tak mengerti maksudmu, Fira!"Â
"Kau tentu tak mengerti, tapi…" jeda Sefira dengan melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau akan paham ketika berita ini sudah terdengar di telinga Kak Syakir."
Rachel menelan ludahnya paksa. Dia tak percaya jika Sefira mengetahui segala hal yang sudah dia lakukan. Wanita itu menatap tajam adik Syakir yang berdiri tanpa takut di depannya.Â
Apa akhir dari ceritanya ada di tangan Sefira? Apa gadis tengik itu akan membongkar segala kejahatannya?Â
Itu tak boleh terjadi. Dia harus menggagalkan rencana Sefira. Dia harus mencari bukti yang dimiliki gadis itu.Â
"Takut yah?" seru Sefira dengan tertawa.Â
Gadis itu bertepuk tangan. Ekspresi wanita ular yang sangat amat fenomenal sangat membuat hatinya bahagia. Tak ada lagi kesombongan disana. Tak ada ekspresi wajah tengil dalam diri Rachel.
Yang Sefira lihat sekarang adalah perempuan lemah dengan ketakutan dalam dirinya. Wanita yang mulai kebingungan saat kartu asnya dipegang oleh orang lain.
"Nggak!" sahut Rachel dengan menepis rasa takutnya. "Kau kira aku takut dengan ancamanmu?"Â
Rachel menunjuk wajah Sefira. Gadis itu berusaha menepis rasa takutnya dengan mengeluarkan ekspresi sombongnya lagi. Dia menutupi segala kegundahan hatinya dari hadapan Sefira.
Dia tak boleh terlihat lemah. Dia harus berani dan membuat Sefira tak bisa menakut-nakutinya. Rachel masih yakin jika gadis cupu di depannya ini hanya mengancamnya saja.Â
"Aku tak pernah takut denganmu atau ancamanmu itu. Aku yakin Syakir lebih percaya padaku daripada padamu!" kata Rachel dengan percaya diri.
"Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan dipercaya olehnya. Kau atau adik yang paling dia sayang!" ujar Sefira dengan senyum misterius.Â
"Aku yakin kau dan sahabat cupumu itu yang akan menangis. Menangis darah karena ditinggal oleh kekasihku!"
Kedua tangan Sefira terkepal. Namun, bukannya dia marah dan berjalan ke arah Rachel. Gadis itu memilih berjalan ke arah lemari pakaian di kamar yang ditempati oleh wanita ular tersebut.
Dengan sekali gerakan dia membuka pintu lemari tersebut. Terlihat gantungan pakaian dengan merk mahal milik wanita simpanan kakaknya tersusun dengan rapi. Ide gila telah hadir dalam otaknya. Dengan lihai tangannya bergerak menyentuh satu per satu pakaian itu.Â
"Mau apa kau!" seru Rachel dengan marah. "Jangan sentuh barangku, Gadis Gila!"Â
Sefira hanya tersenyum mengejek. Dengan sekali gerakan, dia menarik tatanan baju itu lalu dihamburkan ke lantai. Dia membuang semua baju Rachel sembarangan. Wajahnya tersenyum lebar saat teriakan bibir Rachel begitu melengking indah di telinganya.
"Dasar ******! Kau benar-benar." Rachel berteriak.
Wajahnya memerah. Dia benar-benar marah menatap Sefira yang dengan santai mengeluarkan semua bajunya.Â
__ADS_1
Tak ada lagi bedanya barang branded atau baju murahan. Semuanya berhamburan di lantai lalu dengan sengaja diinjak oleh Sefira dengan wajah pura-pura terkejut.
"Oh sorry. Baju dari kakakku jadi hancur bukan?" kata Sefira tanpa dosa.
Semua kekacauan dan teriakan Rachel tentu membuat Syakir yang ada di kamarnya segera keluar. Pria itu berjalan ke arah kamar kekasihnya dengan cepat. Saat dia baru membuka pintu kamar. Wajahnya dibuat bingung sekaligus kaget dengan aksi adik dan kekasihnya.
"Ada apa ini?" tanya Syakir pada keduanya.
Sefira hanya melipat kedua tangannya di depan dadanya. Berbeda dengan Rachel yang langsung cari muka dengan berjalan ke arah kekasihnya dengan memasang wajah sedih.Â
"Sefira membuang bajuku, Sayang. Dia mengacak-acak lemariku," adu Rachel menunjuk Sefira yang masih bertahan berdiri diatas tumpukan baju yang sudah berhamburan.Â
Syakir hanya menatap adiknya dengan perasaan kacau. Disisi lain dia mengerti perasaan adiknya tapi dia juga tak mengerti kenapa Sefira menjadi wanita bar-bar seperti ini.Â
"Kenapa? Mau marah juga? Apa mau membela wanita kesayanganmu itu?" kata Sefira tanpa embel-embel kakak lagi.
"Apa maumu, Giska? Kakak benar-benar tak tahu kalau kau semakin berani seperti ini," ujar Syakir melihat tingkah laku adiknya.Â
Dengan santai Sefira berjalan melewati baju-baju itu. Bukan mendekati sosok kakak dan adiknya. Melainkan dia berjalan ke arah meja rias yang ada di sana.Â
Sefira menatap banyaknya deretan skincare dan make up mahal berjejer rapi disana. Matanya berkaca-kaca saat mengingat jika semua ini pemberian kakak kandungnya. Semua kemewahan yang wanita ular itu dapatkan dari kerja keras kakaknya.Â
Tanpa Syakir tahu, jika kerja kerasnya di salah gunakan. Jika keringat yang ia teteskan untuk menghasilkan uang untuk menghidupi pasangan gila yang mengkhianatinya.Â
"Aku hanya ingin kau membawa wanita ular ini keluar dari sini!"Â
Prang.
Sefira menepis semua skincare itu dengan tangannya. Tak ada yang bersisa. Semua hancur berkeping-keping di lantai keramik tanpa bersisa.Â
"Giska!" teriak Syakir marah.Â
"Jangan berteriak padaku!" teriak Sefira tak mau kalah.Â
Matanya memerah menahan tangis. Dia benar-benar kecewa pada kakaknya. Entah apa yang sudah dilakukan oleh wanita ular itu hingga kakaknya begitu bucin dan membelanya.Â
Dengan kuat dia mengambil koper milik Rachel dan melemparkannya di hadapan kaki Syakir dan Rachel.
"Bereskan semua pakaianmu dan keluar dari rumah ini!" usir Sefira dengan menunjuk pintu kamar agar Rachel segera angkat kaki.
"Sayang. Adikmu mengusirku!" rengek Rachel dengan memegang lengan Syakir.Â
Tak ada jawaban dari bibir Syakir tapi mata pria itu menatap mata adiknya yang juga sedang menatapnya. Syakir bisa melihat adiknya yang menahan tangis. Dia sangat tahu jika hati Sefira terluka karenanya.Â
Adiknya adalah sosok wanita lembut. Namun, dia bisa berubah menjadi garang ketika perasaannya dihancurkan atau ada yang mengusiknya.Â
"Aku tak akan bilang kedua kalinya. Jika kau tak segera membereskan semuanya…" jeda Sefira menunjuk semua pakaian Rachel yang berhamburan di lantai. "Aku akan membakarnya di depan matamu."Â
Sefira serius dengan ucapannya. Dia tak main-main. Wajahnya tak menunjukkan candaan. Dia benar-benar ingin wanita ular itu angkat kaki dari rumah kakak iparnya. Dia tak sudi Rachel ada disini dan semakin menjadi benalu pada kakaknya.
"Sayang!" rengek Rachel semakin manja.
"Ayo kita keluar. Aku bantu bereskan semuanya," kata Syakir menarik tangan Rachel.
Saat Syakir hendak melangkah. Sefira lekas mengangkat tangannya dan membuat pergerakan pasangan kekasih itu berhenti.Â
__ADS_1
"Berani membantunya. Jangan salahkan aku jika berita perselingkuhan kalian akan tersebar di seluruh internet dan hak waris atas namamu, aku pastikan akan dipindah oleh mama dan papa pada calon anak yang Humai kandung!"Â
~Bersambung
Ada yang puas belum? hahaha. Aku mah puas banget.
Btw mampir juga di novel temenku guys.
Adip terlonjak kaget, kenapa Jingga yang terlihat manis dan saat diam terasa sulit dijangkau, sekarang sangat centil dan menyebalkan.Â
“Sejak kapan kamu bangun?” jawab Adip balik bertanya.Â
“Selalu deh, kalau aku tanya nggak pernah dijawab dan selalu menghindar. Aku istrimu bukan sih?” tanya Jingga sewot.Â
Adip memang selalu menghindari pertanyaan Jingga yang menurutnya tidak perlu dibahas.Â
“Ngobrolnya nanti lagi, sudah ashar, sebentar lagi petang, cepat mandi dan ambil wudzu, akan susah jika kita ke sumber air malam- malam, bahaya. Terus kalau udah wudzu usahakan jangan batal sampai Isya!” ucap Adip lagi menasehati.Â
“Ish... di sini nggak ada kamar mandi, aku nggak usah mandilah!” jawab Jingga sekarang sudah mulai meninggalkan penyakit perfecsionistnya tentang kebersihan.Â
“Dasar jorok! Mandi lah!”Â
Mendengar kata itu, Jingga jadi ingat waktu ke pantai.Â
“He... aku jorok ya?” tanya Jingga malu.
“Iya...!” jawab Adip terus terang.Â
“Apa itu juga penyebab kau tak pernah mau menatapku dan dekat- dekat denganku? Aku bau kah?” tanya Jingga.Â
Mendengar itu Adip menelan ludahnya, siapa bilang Adip tak pernah menatap Jingga, Adip kan justru selalu mencuri pandang ke Jingga.Â
“Sudah cepat bangun! Ayo makanya mandi, bawa baju basahan dan gantimu!” jawab Adip lagi, selalu mengacuhkan pertanyaan Jingga dan mengalihkan topik.
“Apa kita akan mandi bersama di tempat terbuka?” tanya Jingga kemudian.Â
“Tidak! Kau mandi tetap memakai baju dan aku kita bergantian! Cepat!” jawab Adip tegas.
"Ish!" desis Jingga manyun.
Mereka berdua kemudian ke air, bersih- bersih setelah itu sholat bersama dan masak untuk makan malam.
Meski ada bisikan dari ke Adip memberitahu bahwa Jingga istrinya, dan seharusnya Adip bisa leluasa dengan Jingga, tapi Adip selalu melawan.
Adip tetap ingin bertemu Baba Jingga dulu, melakukan pernikahan mereka sebagai mana mestinya. Pernikahan mereka masih abu- abu, terpaksa terjadi karena adat.
“Sepertinya Amer tidak pulang malam ini!” tutur Adip menyalakan lentera dari bambu yang hampir mati karena tertiup angin.Â
Setelah sholat isya mereka berdua duduk di depan gubuk menikmati langit yang ditemani rembulan. Sangat indah.Â
"Berarti kita hanya berdua malam ini?" tanya Jingga dengan mata berbinar dan mata centilnya.
Adip hanya menelan ludahnya mendadak keringetan, kenapa Jingga selalu menggodanya.
__ADS_1