Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Kabar Rein


__ADS_3

...Ujian dalam sebuah pernikahan itu banyak jenisnya. Mulai dari yang ringan sampai hal berat. Namun, percayalah jika di setiap jalan yang Allah rencanakan pasti akan ada hikmah indah di akhir cerita....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya setelah dirawat selama dua hari di puskesmas. Hari ini Humaira diizinkan pulang. Perempuan yang tengah berbadan dua itu melakukan semuanya dengan mandiri.


Merapikan pakaiannya ke dalam tas, lalu membereskan segala peralatan miliknya. Humai tak mengeluh, meski dia tak diizinkan banyak gerak. Namun, jika bukan dirinya mau siapa lagi. Meski ada Syakir disana, dia tak mau meminta bantuan. 


Humai takut dianggap wanita manja dan berakhir dengan hinaan serta cacian yang pedas.


"Ayo, Kak!" ajak Humai setelah semua selesai dirapikan.


Tanpa menjawab, Syakir lekas beranjak dari duduknya. Dia keluar dari ruangan yang menjadi tempat rawat inap istrinya itu tanpa menawarkan bantuan pada Humai.


Gadis itu hanya bisa menunduk. Humai tahu dia menjadi sorotan oleh banyak orang saat ini.


"Cepet masuk!" kata Syakir dengan ketus.


Humai meletakkan tasnya di kursi tengah. Lalu dia segera duduk di samping Syakir yang mulai melajukan mobilnya meninggalkan puskesmas. 


Tak ada pembicaraan apapun. Pria itu fokus dengan jalanan di depannya. Sedangkan Humai, gadis itu hanya meletakkan tangannya di atas perutnya dan mengelusnya dengan gerakan kecil. 


Kamu anak hebat, Sayang. Kamu mau berjuang sama Ibu, ujar Humai dalam hati. 


Saat kendaraan itu mulai memasuki gang dan berhenti tepat di depan rumah mereka. Syakir menarik tangan Humai saat istrinya itu hendak keluar.


"Ada ap…" 


"Jangan cari perhatian pada sahabatku! Jangan pura-pura baik pada mereka. Aku tau kau hanya ingin cari muka saja. Kau mengerti?" 


Jantung Humai terasa sakit. Namun, dia tetap menganggukkan kepalanya menuruti semua perkataan Syakir.


Keduanya lekas turun dan Almeera tentu menyambut Humai dengan suka cita. Dia bahkan membantu menggandeng tangan gadis muda itu dan mengantarkannya ke dalam kamar.


Sedangkan Bara, pria itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Apalagi saat melihat bagaimana cueknya Syakir kepada wanita yang berstatus sebagai istrinya. Semakin membuat ayah dua anak itu tak tahan.  


"Jangan sampai kau menyesal," kata Bara tiba-tiba yang duduk di samping sahabatnya.

__ADS_1


Syakir tengah menyandarkan punggungnya di sofa yang ada di ruang tamu. Matanya terpejam dan seakan tak menggubris perkataannya.


"Kali ini kau boleh tak mendengarkanku tapi jika nanti dia sudah pergi membawa anakmu. Aku pastikan kau baru tahu bagaimana artinya mereka berdua." 


Setelah mengatakan itu, Bara segera menyusul Almeera dan Humai. Dia meninggalkan Syakir sendirian agar bisa berpikir dengan kata-katanya sebelum kejadian buruk menimpanya.


Bara hanya tak mau sahabatnya merasakan penyesalan. Penyesalan yang teramat dalam sepertinya dirinya. Walau ia sudah dimaafkan, kejadian yang pernah dia lakukan seakan bak kaset rusak. Selalu berputar dan membuat Bara merasa dihantui.


Mungkin kejadian itu terlewati dengan baik, tertimpa oleh kenangan yang baru mereka rajut kembali. Namun, kenangan itu tak akan pernah hilang dalam pikiran. 


Bara selalu berusaha meyakini bahwa apa yang pernah ia lakukan. Tak boleh ada kejadian kedua atau ketiga kalinya. Dia benar-benar berusaha berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 


"Sudah sehat?" tanya Bara dengan ramah pada Humai yang sedang menyandarkan punggungnya.


"Sudah, Kak. Terima kasih sudah membantuku selama kalian ada disini," ujar Humai dengan tulus kepada pasangan suami istri di depannya.


Sejujurnya ada perasaan iri dalam hatinya. Melihat bagaimana Bara dan Almeera selalu memandang penuh cinta di antara keduanya. Bagaimana keduanya saling menghargai antara satu dengan yang lain.


Sangat berbeda sekali dengan dirinya, 'bukan! 


Namun, Humaira tak pernah menyesali jalan hidupnya. Dia selalu berusaha berpikiran positif jika apa yang dia dapatkan sekarang adalah jalan menuju kedewasaan. 


Bagaimana Tuhan menyiapkan segala hal indah untuk umat-umatnya.


"Pikirkan apa yang pernah aku katakan, Hum. Pikirkan anakmu karena apa yang kamu rasakan akan mengalir dalam diri calon buah hatimu ini," kata Almeera sambil mengelus perut Humaira.


"Iya, Mbak. Aku akan ingat apa yang Mbak katakan." 


"Yaudah. Kami keluar dulu yah. Kamu istirahat saja."


Setelah membantu Humaira berbaring. Almeera dan Bara segera keluar dari kamar gadis muda itu. Mereka memiliki rencana untuk jalan-jalan hari ini bersama kedua anaknya. Maka dari itu, Bia dan Abraham yang sudah melihat orang tuanya siap segera menghampiri mereka.


"Ayo, Ma!" Bia menggandeng dengan wajah tak sabaran.


Hari ini adalah hari wahana bagi kedua anak itu. Mereka kali ini akan menuju jatim park 1 yang berisi banyaknya permainan dengan bermacam-macam model.


Dari yang ekstrim sampai yang biasa saja semuanya ada disana. Dari yang menguji adrenalin sampai membuat para pengunjungnya mual-mual pun ada. 


"Om Syakir gak ikut?" celetuk Bia saat sahabat papanya itu beranjak berdiri saat melihat mereka mendekat.

__ADS_1


"Om Syakir harus jagain Tante Humai, Sayang. Nanti aja hari minggu, kita CFD an bareng," ujar Bara dengan cepat.


Syakir segera menoleh ke arah sahabatnya. Dia mengernyitkan alisnya seakan tak tahu akan rencana bapak dua anak tersebut. 


"Jangan sampai kau menolak! Jika iya, aku akan mencabut kerja sama kita." 


Syakir mengepalkan kedua tangannya. Namun, balik lagi ia tak bisa melawan Bara. Kerja sama mereka tentu sangat amat menguntungkan keduanya. 


"Iya. Om Syakir disini dulu sekarang. Nanti kalau Tante udah sembuh, Om bakalan anter Bia yah," ucap Syakir menghibur.


"Siap, Om." 


"Kami berangkat dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." 


...🌴🌴🌴...


Humaira akhirnya bisa bernafas lega. Dia bisa berbaring di ranjang kamar yang sangat dirindukan. Humai yang masih merasa lemas ingin beristirahat. Saat dia hendak berbaring, bunyi ponsel yang ia letakkan di atas ranjangnya dari kemarin membuat Humai lekas meraihnya.


"Apa ini nomor Mama?" gumam Humai lalu lekas mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal.


"Assalamualaikum, Anak Mama dan Cucu Mama," pekik Mama Ayna dengan nada bicara bahagia. "Apa kabar?" 


Humai tersenyum dengan air mata berkaca-kaca. Lihatnya suara mertuanya itu. Suara yang sangat meneduhkan hati. Bahkan dirinya tak dianggap sebagai menantu melainkan anak perempuannya.


"Waalaikumsalam, Ma. Alhamdulillah Humai baik," sahutnya setelah menenangkan emosi dirinya. "Mama juga baik, 'kan?" 


"Pasti. Mama selalu baik setelah kehadiran kalian berdua di keluarga Mama," ujar Mama Ayna terdengar bangga. "Mama hubungi kamu karena Mama punya kabar gembira." 


"Apa itu, Ma?" sahutnya dengan perasaan tak sabar.


"Kemarin saat kita melakukan pemeriksaan keseluruhan pada Rein. Kata dokter, jari jemarinya bergerak. Dokter bahkan mengatakan pasti tak lama lagi Rein bakalan sadar dari komanya." 


~Bersambung


Setelah Rein sadar dari koma, maka Humai… (Lanjutkan sendiri gengs, kalian pasti tahu kan?)


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya. Kalau ada typo komen guys yah.

__ADS_1


__ADS_2