Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Maafin Syakir, Ma!


__ADS_3

...Sebenci apapun seorang ibu pada anaknya. Dia adalah pemilik hati terlembut di dunia. Sejahat dan sebesar apapun kesalahan putranya, dia masih memiliki hati untuk memaafkannya....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Bukan hanya Syakir yang mematung tak percaya karena rasa keterkejutannya. Sepasang suami istri paruh baya yang baru saja masuk ke dalam rumah mantan menantunya juga tak kalah dibuat kaget. Tubuh mereka sama-sama berdiri tegang saat matanya menatap wajah yang sudah lama tak mereka lihat.


Wajah yang membuat kerinduan seorang ibu pada putranya, seorang ayah pada putra pertamanya dan seorang adik pada kakak kandungnya. Semua tentu menatap sosok itu dengan pandangan yang penuh sarat akan rasa rindu bercampur sesak. 


Mereka tak menyangka jika akan dipertemukan dalam keadaan seperti ini. Dalam kondisi yang tak pernah ada dalam bayangan. Kondisi yang menakjubkan untuk Keluarga Syakir.


Bayangan dimana Syakir yang menolak keberadaan Jay semasa dalam kandungan. Sosok yang menghina Humai dan memaki gadis itu mati-matian. Bahkan sampai mengancam akan membunuh anak kandungnya dulu ternyata kini telah ditebus dengan pemandangan yang benar-benar luar biasa.


“Kakek…Nenek,” pekik Jay dengan hebohnya.


Suara bocah itu tentu menyadarkan semua orang dari rasa terkejut dan tegang. Mereka seakan merasa dejavu dalam kondisi seperti ini.


Jay lekas beranjak berdiri. Dia berlari ke arah Mama Ayna dan memeluk kedua kaki wanita paruh baya yang sangat ia sayangi seperti menyayangi Mama Emili.


“Nenek mau bikin kejutan sama Jay, ‘yah?” kata anak itu dengan wajah yang tak bisa menutupi kebahagiaannya.


Pandangan Mama Ayna lekas menunduk. Dia menampilkan sebuah senyuman manis pada cucunya yang bahagia akan kedatangannya.


“Ya. Nenek ingin memberikan kejutan tapi…” jedanya lalu menatap ke arah Humaira yang menunduk. “Ternyata Nenek yang mendapat kejutan.”


Jay yang belum paham hanya menganggukkan kepalanya. Dia bahkan dengan nyaman melingkarkan tangannya di leher Mama Ayna saat wanita paruh baya itu hendak menggendongnya.


“Mama,” sapa Humai lalu mendekat.


Dia mencium punggung tangan kedua mantan mertuanya. Lalu berakhir dengan memeluk sahabatnya yang sejak tadi mencuri pandang ke arah Syakir. Humaira tahu sebenarnya Sefira sangat merindukan kakaknya itu. Namun, gadis itu masih merasa gengsi karena pertengkaran hebat di antara keduanya. 


“Fira aku…” jeda Humai yang tak tahu harus menceritakan dari mana.


Sefira menggeleng. Dia mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah sahabat satu-satunya itu.


“Terima kasih sudah membuatnya sadar dan berubah menjadi sosok yang lebih baik,” kata Sefira dengan suaranya yang sangat pelan.

__ADS_1


Bukannya senang, Humai lekas menggeleng. Entah kenapa dia tak suka saat mendengar jika sahabatnya mengira perubahan mantan suaminya itu karena dirinya.


“Bukan karena aku, Fir,” ucap Humaii dengan pelan. “Dia sendiri yang merubah sikapnya karena membuat masa lalu menjadi sebuah pelajaran.”


Entahlah, Humai tak mau Syakir dianggap buruk. Perubahannya dianggap karena dirinya atau anaknya. Humai ingin mengatakan pada keluarga suaminya jika Syakir berubah karena dirinya sendiri.


“Oh Jay lupa, Nek!” pekik anak itu saat mengingat sesuatu.


Dia lekas minta turun dari gendongan neneknya. Setelah itu dirinya berjalan ke arah Syakir dan menggandeng tangan ayah kandungnya.


“Ayah Jay udah dateng, Nek!” ucap anak itu dengan bahagia.


Dia menarik tangan Syakir dan membuatnya berdiri tepat berhadapan dengan mama kandungnya itu.


Syakir seakan kesusahan untuk bicara. Bahkan dia merasa tak pantas berdiri di hadapan mamanya itu. Dia sadar akan segala kesalahan yang sudah diperbuat selama ini.


Bahkan mama dan adiknya yang tak mau menemui dirinya, Syakir menerima tanpa membantah. Dirinya sangat tahu bahwa dosanya buka sekecil semut. Kesalahannya bukan selebar daun kelor. Namun, masa lalunya sangat buruk dan fatal.


“Ayah, kenapa diam?” tanya Jay yang bingung menatap sosok papanya. “Ayo cium tangan Nenek.”


Syakir menunduk. Dia menatap wajah putranya yang menunggu dirinya. Dia tahu apa yang diinginkan putranya itu kepadanya.


“Mama,” panggil Syakir dengan lembut.


Suara itu seakan alunan merdu yang selama ini dia rindukan. Suara putra pertamanya yang selalu ia banggakan. Syakir dengan pelan mengambil tangan Mama Ayna. Berharap semoga ibu kandungnya itu tak menolak.


“Assalamualaikum, Ma.” Syakir mencium punggung tangan Mama Ayna.


Air mata di kedua mata Syakir mengalir dengan lancarnya. Akhirnya dengan gemetaran dia bisa mencium tangan ibunya lagi. Merasakan kehangatan kulit mamanya, wangi kulit Mama Ayna yang begitu candu untuknya.


Syakir tak lekas melepasnya. Bahkan dengan keberanian yang tinggi. Dia mengulurkan tangan yang satunya lagi lalu menciumi tangan mamanya sampai basah.


“Maafkan Syakir, Ma.”


Pecah sudah air mata Mama Ayna. Sebuah kata sederhana yang penuh akan makna meluncur dengan bebas dari bibir putranya.


Putra yang sangat dirindukan. Putra yang selalu ia khawatirkan keberadaannya. Putra pertama yang selalu ia banggakan dan ia doakan agar masa depannya baik dan cerah.

__ADS_1


“Syakir menyesal, Ma. Syakir berjanji tak akan mengulanginya lagi,” lirihnya dengan air mata yang mengalir. 


Jay yang melihat papanya menangis lekas memeluk kedua kakinya.


“Ayah. Ayah kenapa menangis?” tanya Jay mengulang perkataan ibunya yang selalu ditanyakan kepadanya jika ia menangis.


Mama Ayna dan semua orang tersadar akan kehadiran Jay. Sefira saja yang sampai menutup mulutnya karena tak kuat dengan kondisi kakaknya yang meminta maaf pada mamanya membuat dia menangis dengan hebat. 


Baru kali ini dia melihat kakaknya itu rapuh. Baru kali ini Fira melihat kakaknya lemah dan tak berdaya.


“Berhentilah menangis, Syakir,” bisik Mama Ayna pada putranya. 


Syakir perlahan melepaskan tangannya. Dia menghapus air matanya lalu menggendong putranya itu yang juga hendak menangis. 


“Ayah hanya rindu dengan Nenek,” kata Syakir mengalihkan perhatian putranya.


Jay menghapus air mata ayahnya. Bahkan dengan sayang, dia mencium pipi Syakir yang semakin membuat semua keluarga Syakir terbelalak tak percaya.


“Nenek disini. Jadi Ayah gak boleh nangis,” kata Jay dengan melingkarkan tangannya di leher ayahnya.


“Iya. Ayah gak bakal nangis lagi. Apalagi ada Jay disini.”


“Jay sayang, Ayah,” ujarnya yang semakin membuat Mama Ayna dan Sefira terkejut bukan main. 


"Ayah juga sayang, Jay.”


Perasaan ibu anak dua itu tentu ikut terharu, bahagia, sedih, senang dan tak percaya. Akhirnya mimpinya selama ini menjadi kenyataan. 


Dia yang selalu berdoa akan kehidupan cucu pertamanya. Dia yang selalu berharap semoga suatu saat nanti cucunya diberikan kesempatan merasakan kasih sayang ayahnya sekali saja. Kini terwujud di depan matanya.


Ya Allah. Ternyata kau mengabulkan segala doaku. Cucuku sudah mendapatkan kebahagiaan yang utuh. Kini semuanya kuserahkan kepadamu, batin Mama Ayna penuh syukur. 


~Bersambung


Janji gak nangis ya kan. Huhu.


Kesel aslinya bikin part gini. Nyesek sendiri.

__ADS_1


OH IYA FOLLOW INSTAGRAM AUTHOR YAH


@myname_jblack


__ADS_2