Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Saksi Bisu Kamar Mandi


__ADS_3

...Terkadang kebahagiaan itu bisa didapatkan dengan hal sederhana. Tak perlu mahal tapi berkumpul bersama dalam keadaan sehat itu sudah merupakan kebahagiaan yang tak terkira. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Humaira begitu menikmati pijatan ini. Hampir setengah jam berlalu, perlahan pijatan ini mulai merambat ke pahanya. Mulanya dia biasa saja. Humaira belum curiga apapun.


Namun, semakin lama tangan itu semakin naik dan berhenti tepat di depan inti tubuhnya yang polos. Saat Humaira baru saja membuka matanya, bersamaan dengan itu jari jemari Syakir masuk dan membuat Humai membelalakkan kedua matanya.


"Kak Syakir! " Pekik Humai dengan pandangannya yang terkejut.


"Maafkan aku, Sayang. Tapi… " Kata Syakir yang perlahan bergeser hingga membuat air di bathup ikut bergerak dan berjatuhan.


Jarak keduanya mulai semakin dekat. Kedua tangan Syakir mulai terulur dan mengangkat pinggang istrinya itu sampai Humai duduk di atas pangkuannya.


Bathup ini lumayan besar hingga cukup untuk dibuat mandi bersama. Dengan pelan, Syakir memegang pinggang istrinya sampai tubuhnya menyandar di sandaran bathup.


Keduanya kini berhadapan dengan pandangan saling tatap. Dengan Humai yang duduk di pangkuan Syakir dan inti tubuh keduanya saling bertemu satu dengan yang lain.


"Kak ini… " Humai merasa tak nyaman.


Namun, lidahnya terasa keluh saat ingin mengatakan sesuatu sekarang. Dirinya juga bisa merasakan jika milik suaminya itu mulai membesar. Sesuatu itu mulia tegang dan membuat Humai menelan ludahnya begitu susah payah.


"Sayang… "


"Aku menginginkanmu lagi, " Kata Syakir dengan jujur.


Sebelum Humai protes. Bibirnya langsung diserbu oleh bibir Syakir. Suaminya itu menyesap bibirnya dengan rakus. Seakan bibir miliknya ini akan habis dan hilang.


Humai tentu kalah akan gairahnya. Dirinya juga kewalahan melayani nafsu suaminya itu. Namun, perlahan ciuman Syakir mulai melembut.


Syakir tentu bisa merasakan gerakan bibir istrinya yang kewalahan dengan serangannya. Dia ingin Humai tetap nyaman dan membuatnya melambatkan pergerakannya.


Akhirnya suasana itu mulai saling membawa keduanya dalam terjangan sesuatu yang membuat keduanya ingin merasakan hal lebih. Apalagi ketika tangan Syakir terangkat dan mulai memegang kedua gunung kembar yang begitu ia sukai.


Tempat dimana hal dia sukainya sekarang. Hal baru yang selalu membuatnya ingin memegangnya setiap kali keduanya berhubungan.


Ciuman mereka tentu semakin panas. Apalagi gerakan tangan Syakir juga semakin membuat Humai blingsatan. Hingga akhirnya kedua mata mereka kini beradu pandang.


Kabut gairah dalam mata keduanya tak bisa dibohongi lagi. Dengan pelan Humai, mulai mengangkat tubuhnya sedikit. Dia membiarkan Syakir mulai memegang miliknya dan perlahan dia masukkan ke inti tubuhnya dengan pelan.

__ADS_1


"Kak! " Pekik Humai sampai tubuhnya melengkung ke belakang.


Sensi air hangat dan bagaimana milik suaminya yang memenuhi inti tubuhnya tentu membuat Humai merasa melayang. Bibirnya tak bisa mengatakan apapun lagi karena ini sangat membuatnya gila.


Humai mulai bergerak. Berpegangan di pundak Syakir. Keduanya mulai berkicau layaknya menunggang kuda. Baik Syakir maupun Humai tak saling mengalah.


Seakan pijatan suaminya tadi membuat Humai sedikit lebih kuat untuk memompa layaknya penari handal.


Baik Syakir dan Humai saling bergerak. Saling mengejar kenikmatan di antara keduanya sampai akhirnya, pelepasan itu akhirnya keduanya dapatkan. Ya, Syakir juga keluar dalam waktu yang cepat dan membuat nafas keduanya terengah-engah.


Humai mendekatkan wajahnya hingga keduanya saling bersentuhan. Bibir keduanya saling tersenyum dan mata mereka saling menatap. Seakan pelepasan tadi adalah sesuatu yang membuat hati keduanya merasa lega dan juga puas.


"Terima kasih, Sayang, " Ucap Syakir yang begitu menghargai usaha istrinya itu.


Humai mengangguk. Dia juga mulai merasakan lelah pada kedua kakinya. Namun, meski begitu. Tak ada yang ingin melepaskan milik keduanya. Seakan mereka masih menikmati pelepasan mereka yang begitu luar biasa.


...🌴🌴🌴...


Jika di dalam ruangan saling berebut oksigen karena lelah. Tidak dengan di lantai pertama. Semua orang terlihat mulai memenuhi meja makan. Para pelayan tentu tengah menata menu makanan sarapan di hadapan Papa Hermansyah, Mama Emili dan cucunya.


"Kemana Ayah dan Ibu? Jay mau ke kamar mereka," Kata Jay yang sedang tadi sudah ingin bertemu ibunya.


Kebiasaan yang tertanam pada diri Jay tentu membuatnya tak bisa jauh dari ibunya. Humai yang selalu membangunkannya, selalu menjenguknya setiap pagi tentu merasa kehilangan saat ibunya tak melakukan itu padanya.


Jay berlari lebih dulu dan membuat ayah kandung Humai menahan tangan istrinya.


"Biarkan, Sayang. Pintu mereka pasti terkunci dan Jay gak bakal bisa masuk, " Kata Papa Hermansyah pada istrinya.


"Tapi, Pa… "


"Percayalah padaku! " Katanya dan membuat Mama Emili mengangguk.


Dia akhirnya hanya melihat dan mengikuti cucunya naik ke tangga dengan selamat. Setelah memastikan Jay berhasil sampai di ujung tangga, dia perlahan kembali ke meja makan.


Jay tentu menaiki tangga satu per satu dengan cepat Dia mulai berlari ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Dirinya lekas mengetuk pintu itu dengan tak sabaran.


Bocah kecil itu sudah merindukan ibunya. Dia juga merengek sejak tadi karena menyadari bahwa dirinya terbangun bukan di ranjang ibunya.


"Ibu… ibu! " Teriak Jay dengan tak sabaran..


Tangan bocah itu terus mengetuk dengan tak sabaran. Matanya mulai berkaca-kaca. Bocah umur tiga tahun tentu sudah rindu dengan ibunya.

__ADS_1


"Ibu! " Ujar Jay dengan suara yang menahan tangis.


Akhirnya air mata itu kini keluar. Akhirnya anak itu mulai menangis dan tak lama, gagang pintu itu bergerak dan terbukalah pintu.


"Ibu! "


"Hey, Boy, " Panggil Syakir yang mengangkat tubuh putranya dan membawanya masuk.


"Ibu kemana? "


"Ada apa, Sayang. Ibu disini, " Kata Humai yang suaranya berasal dari ruang ganti.


Tentu hal itu membuat Jay meminta turun dari gendongan ayahnya. Dia segera berlari menyusul ibunya dan melihat Humai tengah menyisir rambutnya itu.


"Ibu! "


"Jay Sayang." Humai lekas memeluk anaknya itu.


Dia tahu kebiasaan putranya dan membuatnya menggerutu pada Syakir agar pria itu melepaskannya di dalam kamar mandi. Kebiasaan Jay membuat Humai tak mau terlalu lama mandi dan berdiam diri di kamar.


Putranya akan mencarinya ketika bangun tidur dan membuatnya rewel jika tak melihatnya. Namun, benar saja bukan. Lihatlah putranya sekarang, Jay meminta Humai menggendongnya.


"Maafin Ibu yah. Ibu dan Ayah telat bangun, " Kata Humai menenangkan putranya.


Jay yang masih menangis mengangguk. Tangannya melingkar di leher ibunya dan membuat Humai mulai bergerak keluar dari dalam kamar ganti.


Kakinya masih merasa lemas tapi dia menguatkan agar tetap bisa berjalan. Dirinya keluar dan langsung disambut oleh Syakir yang juga habis menata rambutnya.


"Sayang biarkan aku yang menggendongnya, " Kata Syakir yang khawatir.


"Gakpapa, Kak. Ayo kita turun. Pasti Jay belum makan, " pinta Humai yang membuat Syakir tak bisa mengatakan apapun.


Akhirnya pria itu hanya bisa menurut. Dia mengikuti istrinya dari belakang karena takut Humai jatuh.


Mereka lekas menuruni tangga dan berjalan ke lantai pertama. Keduanya tentu langsung ke meja makan dan melihat kedua orang tuanya menunggu.


"Yang namanya manten baru mah. Sampai rambutnya basah gitu, Pa, " Sindir Mama Emili yang membuat putri dan menantunya malu.


"Biasa, Ma. Sampai mereka lupa karena ada bocah kecil yang menunggu dengan tak sabaran. "


~Bersambung

__ADS_1


Hahhaa Bang Syakir otaknya omes. Kepalanya minta digeplak biar sadar hihi.


__ADS_2