Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Jawaban Jeno


__ADS_3

...Dari sekian banyak perjuangan dan pengorbanan yang aku lakukan untukmu. Aku baru menyadari satu hal, jika apa yang kita harapkan tak selamanya sesuai dengan kemauan kita. Namun, takdir Tuhan tak akan pernah salah pada pemiliknya....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Jantung Sefira seakan berhenti berdetak. Dia benar-benar menatap papanya tak percaya. Pertanyaan yang papanya berikan adalah pertanyaan yang menjebak. Sefira mulai merasa khawatir.


Dia bahkan sampai menggenggam tangan Jeno yang masih diam sambil menatap Papa Haidar yang juga menatapnya. Pria muda itu masih diam dan itu tentu membuat Sefira khawatir.


Saat Sefira hendak bersuara. Tiba-tiba ibu jari Jeno mengusap tangannya yang digenggam. Lalu wajahnya menoleh dan tersenyum pada adik Syakir.


"Jangan dijawab kalau…" 


"Tenanglah, Sayang," kata Jeno dengan begitu yakin.


Keputusannya untuk berhadapan dengan kedua orang tua Sefira ini sudah benar. Lalu pertanyaan ini mau tak mau, siap tak siap harus dia jawab. Bukankah ini jalan menuju masa depan yang halal. Bukankah ini adalah masa dimana dia membuktikan bahwa dia bisa menjadi sosok yang akan meneruskan perjuangan papa Sefira.


Percayalah anak perempuan adalah anak paling berharga. Baktinya akan berubah menjadi milik suaminya ketika dia sudah menikah. Imam yang baik dan tanggung jawabnya akan pindah ke pundak suaminya. Hal itulah yang menyebabkan seorang ayah memikirkan seribu kali cara untuk mencari jodoh dan imam yang tepat untuk putrinya. 


Begitupun dengan Papa Haidar. Dia belum tahu keluarga Jeno, asal usul pria itu dan dari mana dia berasal. Namun, pria paruh baya itu ingin tahu bagaimana karakter Jeno terlebih dahulu.


Menurut orang tua Syakir. Harta itu nomor sekian. Namun, adab, sikap sopan santun dan agama adalah hal utama untuk mencari kriteria yang cocok mengganti tugasnya menjaga putri semata wayangnya.


"Om," panggil Jeno memulai sambil kembali menatap kedua orang tua kekasihnya. "Sebagai orang tua yang pernah menjadi anak. Om dan Tante sudah tahu, jika anak harus berbakti pada kedua orang tuanya."


Jeno memulai pembicaraan. Dia berbicara sambil menatap sosok Papa Haidar. Tak ada keraguan dari setiap ucapannya. Dirinya juga menatap ayah kekasihnya dengan lekat. 


"Untuk Jeno sendiri. Jika dihadapkan oleh dua pilihan antara orang tua dan Sefira. Untuk sekarang Jeno memilih kedua orang tua Jeno. Karena bagaimanapun Jeno harus berbakti pada mereka. Tapi…" 


Jeno menjeda ucapannya saat telapak tangan Sefira mulai dingin. Dia tahu jika kekasihnya pasti terkejut dengan jawabannya. 


"Aku tak mungkin menyerah secepat itu. Orang tuaku harus mengenal calon istriku terlebih dahulu. Bagaimana calon istriku sampai mereka memberikan restu." 

__ADS_1


"Jika orang tua Jeno tetap tak memberikan restu, Jeno tetap memperjuangkan Sefira sampai dapat." 


"Lalu jika masih tak diberikan restu?" 


"Maaf," kata Jeno sambil menunduk. "Mungkin hubungan kita tak berjodoh dan aku harus melepaskannya."


Jantung Sefira berhenti berdetak. Dia tak menyangka dengan ucapan Jeno. Bahkan wanita itu sampai mendongakkan kepalanya menatap Jeno yang sedang menatapnya juga.


"Aku tak mungkin memaksa untuk tetap menikah. Bagaimanapun restu orang tua adalah restu Tuhan. Mungkin aku memang mencintai Sefira tapi orang tuaku tetap yang utama untukku." 


"Aku tak mungkin mengambil jalan pintas. Menghamilinya agar mendapatkan restu. Sefira adalah wanita berharga yang harus aku halalkan terlebih dahulu." 


"Aku juga tak mungkin membawanya kabur. Aku ingin kami menikah atas dasar restu kedua keluarga," lanjut Jeno yang membuat Sefira benar-benar dibuat kagum akan pikiran Jeno.


Entahlah dia tak bisa mengatakan apapun. Menurutnya Jeno adalah pria dengan pemikiran yang matang dan luas. Pria yang bergerak cepat dan membuktikan apa yang dia katakan.


Pria yang tak banyak mengumbar janji dan pria yang menepati janji. Banyak kejutan dalam diri Jeno dan itu tenti membuat Sefira semakin jatuh dalam pesonanya. 


Pesona Jeno yang benar-benar luar biasa. Pesona pria yang mampu membuatnya berani membuka hati untuk seorang pria selain papa dan kakaknya. 


Dia menatap kedua orang tua Sefira bergantian.


"Lalu bagaimana jika suatu saat nanti ketika kamu sudah menikah dengan Sefira dan ada masalah lalu orang tuamu ikut campur. Siapa yang akan kamu bela dan kamu tegasi?" 


"Aku akan membela istriku, Om. Ketika kami sudah menikah maka tandanya tanggung jawab istriku adalah tanggung jawabku. Jika istriku salah maka itu juga berasal dari didikanku. Jika orang tuaku ikut campur. Maka aku tetap mendengarkan tapi aku ambil ilmunya. Aku tak akan memojokkan istriku karena ucapan orang tuaku. Aku akan melihat siapa yang salah dan siapa yang benar." 


"Aku tetap akan berusaha adil. Surgaku memang ada ditelapak kaki ibuku tapi surga istriku ada di telapak kakiku. Jika aku menghormati ibuku tapi aku menyakiti hati istriku. Itu sama saja percuma."


"Aku tetap harus berbuat adil pada mereka berdua. Aku harus hormat pada ibuku dan aku harus menghargai istriku. Karena istriku, yang akan menjadi temanku sepanjang hidup."


Sefira benar-benar dibuat terpanah akan jawaban Jeno. Dia dibuat tercengang akan jawaban yang sangat luar biasa menurutnya. 


Percayalah di dunia ini terkadang para suami lebih memilih ibunya daripada istrinya sendiri. Banyak pemikiran para suami yang lebih mementingkan ibu daripada istrinya. 

__ADS_1


Padahal dalam agama, antara ibu dan istri. Dua duanya harus berjalan beriringan. Jika suami salah memilih maka percayalah akan ada salah satu yang tersakiti. 


Tanpa sadar air mata menetes di sudut mata Sefira. Dia tak tahu harus mengatakan apa. Namun, yang pasti hatinya mengucapkan rasa syukur yang besar. 


"Jeno," ucap Papa Haidar setelah Jeno selesai menjelaskan kepadanya. 


Pria paruh baya itu juga dibuat terpanah. Kedua orang tua Syakir dan Sefira tak ada yang menyela atau apapun. Keduanya menunggu Jeno selesai menjelaskan semuanya. Mereka ingin mendengar argumen pria muda yang berani melamar putri mereka.


Mereka ingin melihat bagaimana pemikiran pria muda yang mengajak putri mereka menjalani kehidupan baru. Putri yang sangat mereka jaga, yang sangat mereka didik sebaik mungkin tentu membuat keduanya begitu hati-hati dalam memilih. 


Bagaimanapun Sefira nanti akan menjadi tanggung jawab suaminya. Mereka ingin anak perempuannya mendapatkan pria baik-baik. Pria yang mengerti agama dan mampu mengajarkannya. 


"Kamu serius dengan ucapanmu itu?" tanya Papa Haidar untuk yang terakhir.


"Aku serius, Om." 


"Jika kamu melanggar?" tanya Papa Haidar dengan tegas.


"Maka Jeno akan menuruti semua yang Om minta." 


"Meski Om meminta kembalikan putri Om lagi?" 


Jeno mendongak. Tanpa ragu dia menganggukkan kepalanya. Namun, dalam hati pria itu, tak sedikitpun ia akan melepaskan Sefira. Di tak akan menyerah dan tak akan pernah melanggar janjinya.


"Kalau begitu…" jeda Papa Zelia sambil menatap Jeno dan Sefira bergantian. 


Adik Syakir itu sudah menunggu dengan tangan berkeringat dingin. Dia sendiri juga tak tahu apa yang ayahnya akan berikan. Dia hanya berharap semoga papanya memberikan keputusan yang terbaik.


"Om dan Tante memberikan restu untuk hubungan kalian. Segera bawa keluargamu pada kami dan tentukan tanggal pernikahan kalian." 


~Bersambung


Semoga bab ini membuka pikiran kita semua yah. Suami baik memang patuh pada ibunya tapi bukan menjadi alasan menyakiti hati istri demi sang ibu.

__ADS_1


Istri dan Ibu itu berbeda tapi mereka juga harus berjalan beriringan.


__ADS_2