
...Jika kebanyakan orang mengatakan orang baik adalah orang munafik. Maka belajarlah menjadi salah satunya agar kau tau bagaimana manfaat menjadi mereka....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Seorang perempuan tengah memejamkan matanya tenang di atas kursi yang ada di balkon kamar. Dirinya sedang terdiam sendirian seakan menikmati angin malam yang menyapanya.
Dirinya sedikit lebih tenang saat mertuanya mengatakan bahwa mereka mengajak Jay menginap di hotel karena ingin menghabiskan waktu bersama. Entah itu hanya alasan karena Sefira mungkin mengatakan apa yang terjadi di rumah atau memang itu hanya sebuah kebetulan.
Namun, apapun alasannya. Humaira merasa lebih baik putranya tak melihat keadaannya yang seperti ini. Dia benar-benar kacau dengan permasalahan ini.Â
Semua alasan yang selalu terbayang dalam pikirannya. Semua alasan yang selalu ia cari kenapa Rachel bersikap keterlaluan padanya. Ternyata mampu terjawab hari ini. Dia bisa menyimpulkan benang merah yang terjadi diantara mereka berdua.Â
"Kenapa Papa tak menceritakannya padaku?" gumamnya pada dirinya sendiri.
Humaira tak peduli apapun. Meski udara di balkon kamar terasa dingin. Dia tetap asyik dengan ketenangan ini. Bunyi jangkrik yang menjadi irama temannya membuatnya seakan lebih menenangkan dirinya disini.Â
Sampai akhirnya, saat Humaira hampir saja terpejam. Sebuah pergerakan pada tubuhnya membuatnya spontan terbangun dan memukul pelaku tersebut.
"Hey, Sayang. Tenanglah!" kata Syakir yang ternyata memegang selimut di tangannya.
Humaira membelalakkan matanya. Dia menatap mantan suaminya itu berada.
"Bagaimana Kakak bisa masuk?" tanya Humai dengan pandangan tak percaya.
Syakir tak menjawab. Dia malah memilih duduk di samping mantan istrinya itu dan menatapnya dengan lekat.Â
"Jangan lihatin Humai terus," ujarnya dengan salah tingkah.
Humaira baru ingat bahwa dirinya belum mandi sejak kepulangannya dengan Sefira tadi. Dirinya juga masih berpakaian yang sama dengan muka kucel dan membuatnya tak percaya diri.Â
"Kenapa?" tanya Syakir berniat menggoda.Â
Â
__ADS_1
Jujur melihat ekspresi wajah mantan istrinya membuat Syakir sadar jika Humaira sejak tadi menangis. Mata yang bengkak, hidung dan wajah yang memerah menandakan bahwa Humaira sedang tak baik-baik saja.
Dan Syakir, tentu tahu alasannya. Dia juga berada disini karena sang adik, Sefira mengabari dirinya tentang pertengkaran antara Humai dengan papanya. Dirinya diceritakan langsung oleh Sefira apa yang sebenarnya terjadi dan membuatnya datang kesini tanpa harus pulang dari restoran.
"Aku belum mandi," cicit Humai sambil menutup wajahnya agar Syakir tak bisa menatapnya lagi.Â
Perlahan tangan Syakir terulur. Dia meraih lengan mantan istrinya itu dan dibukanya agar ia bisa melihat wajah Humai dengan leluasa.Â
"Kamu selalu cantik dimataku," ucap Syakir yang mengundang nata Humai memutar malas.
Gombalan seperti ini bukan sekali dua kali untuk cassanova model Syakir. Mode dia yang seperti inilah selalu membuat Humai ketar ketir sejak dulu.
Pandangan pertama yang membuatnya jatuh cinta pada Syakir ketika pria itu dalam mode cassanova. Pesonanya, tatapan matanya yang tajam. Lalu jangan lupakan penampilannya begitu menarik perhatian Humai.
"Gak ngefek gombalan kayak gitu," cibir Humai sambil terkekeh.
Syakir tersenyum. Akhirnya dia bisa melihat senyuman mantan istrinya lagi. Mudah memang membuat Humai bisa melupakan kesedihannya. Namun, Syakir juga yakin jika mantan istrinya ini adalah perempuan yang pandai menutupi keadaan hatinya.Â
"Jangan nangis lagi yah," kata Syakir tiba-tiba yang membuat senyum Humai surut.Â
"Berikan aku alasan kenapa aku tak boleh menangis? Padahal aku yakin kamu tahu alasan kenapa aku menangis malam ini," kata Humai dengan pelan tetapi menusuk jiwa Syakir.
Dia tahu mantan istrinya ini sedang merasakan kekecewaan yang mendalam. Dia merasa semua yang terjadi mungkin ada sangkut pautnya dengan dirinya.Â
"Karena air matamu terlalu berharga untuk menangisi mereka," kata Syakir dengan serius. "Bahkan aku saja tak pantas mendapatkannya."Â
Syakir lebih mendekatkan duduknya. Dia mengangkat tangannya dan mengusap bekas air mata yang masih ada di kedua pipi Humai. Pria itu bahkan dengan sengaja menarik kedua sudut bibir Humai ke atas.
"Terus tersenyum yah. Apapun yang terjadi pasti akan ada penyelesaiannya," ujar Syakir dengan kepala mengangguk dan itu membuat Humaira tanpa sadar menganggukkan kepalanya juga.Â
Apa yang dikatakan oleh mantan suaminya memang benar. Apa yang terjadi di dunia, apa yang menjadi sebuah masalah pasti ada alasan di baliknya. Pasti ada jalan yang tepat untuk menyelesaikan semua masalah itu sampai selesai.
"Dan Kak Syakir, harus berada disini untuk menguatkan aku," pinta Humai yang membuat perasaan Syakir menghangat.
Dia merasa diprioritaskan. Dia merasa Humai tak lagi malu-malu mengungkapkan perasaannya. Syakir bahkan merasa jika Humai saat ini lebih terbuka.Â
__ADS_1
Hingga akhirnya perhatian keduanya beralih saat mendengar suara mobil. Humai dan Syakir saling tatap kemudian tak lama Humai berjalan menuju ujung balkon.Â
Dari tempatnya berdiri, Humai bisa melihat Papanya yang tengah memeluk mamanya itu dengan erat. Bahkan dengan romantis pria itu mencium dahi istrinya itu dengan sayang.
"Apa Papa pergi ke Malang malam ini juga?" gumamnya pada dirinya sendiri.
Ada lerasaan sedih saat melihat mamanya mengusap air mata di kedua matanya. Humai yakin mamanya itu sedang bersedih. Namun, mau bagaimana lagi.Â
Rachel juga butuh sosok papanya. Rachel juga tanpa sadar menjadi sosok yang merupakan tanggung jawab papanya.
Humaira yang fokus akan pemandangan dibawah. Sampai hal itu membuatnya tak sadar jika Syakir sudah berdiri di belakangnya. Dengan pelan pria itu memeluk Humai dari belakang.
Dia yang butuh pelukan tentu membiarkan Syakir memeluknya. Bahkan dengan pelan, ibu satu anak itu memutar tubuhnya dan akhirnya dia memeluk tubuh Syakir dengan erat.Â
"Janji untuk yang terakhir kalinya kamu menangis. Tapi setelah itu kamu harus melewati semuanya dengan tersenyum," kata Syakir yang tak lama mulai terdengar isakan dan tubuh gemetar dari sosok yang ia peluk tersebut.Â
Tak ada yang mampu pria itu lakukan. Dia membiarkan Humai melampiaskan segalanya dengan menangis kencang. Dirinya tahu menjadi Humai bukan hal mudah.
Dia adalah korban keluarga broken home. Kehidupannya dengan Shadiva dan suaminya, membuat Humai menjadi anak yang mendapatkan kasih sayang tak adil. Dia yang selalu dibandingkan dan dituntut sempurna tentu bisa merasakan apa yang Rachel rasakan.Â
Namun, perbedaannya disini Humai mampu mengatasinya dengan baik. Membawanya ke hal positif dan membuatnya menjadi orang yang selalu berhati-hati dalam berucap.Â
Dia juga lebih menunjukkan dirinya menjadi sosok yang lebih baik. Meski dia tahu perjuangannya selalu salah di mata Shadiva.Â
"Kak," lirih Humai setelah dirinya mulai tenang.
"Ya?" jawab Syakir dengan pelan.
Perlahan pelukan itu terlepas. Humaira mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah Syakir dengan jelas.
"Antarkan aku ke Malang. Aku juga ingin melihat keadaan Rachel."Â
~Bersambung
Syakir orang sedih tetep cari kesempatan. Emang otak cassanova kalau lagi bucin ya begini, haha.
__ADS_1